![]() |
| Pribumi |
Sebenarnya malas ngomongin
masalah Pribumi lagi. Tapi tiba-tiba saya teringat satu hal mendasar yang
mengharuskan saya menulis tentang ini lagi.
Diluar dari konteks siapa
sebenarnya pribumi di Indonesia ini, dan cara mengeles AB yang menggambarkan
pribumi dalam masa kolonial Belanda, saya mencoba menelaah lagi kapan asal
muasal kata-kata pribumi itu menjadi begitu penting...
Dan ternyata jawabannya ada di
kerusuhan sentimen anti Cina..
Dari tulisan Prof Sumanto al
Qurtuby tentang "sentimen anti cina di Indonesia", saya mendapat
gambaran perang terbesar sentimen Cina pada tahun 1740 dikenal dengan
Chineezenmoord ("Pembantaian orang-orang Cina”) di Batavia (kini Jakarta).
baca: Pak Din & Ilusi Naga
Pada saat itu 10 ribu jiwa orang
Cina yang melayang.
Para sejawaran menduga bahwa
dalang kerusuhan anti Cina ini adalah VOC.
VOC merasa tersaingi secara
politik dan ekonomi oleh orang Cina yang kebetulan menguasai syahbandar atau
pelabuhan. Mereka juga menguasai perdagangan dan sebagian menjadi elit politik
di tanah Jawa.
Sesudah kerusuhan itu, VOC
mengeluarkan passenstelsel, atau surat jalan khusus utk warga Cina. VOC juga
mengeluarkan peraturan yang bernama wijkenstelsel yang mengharuskan warga Cina
hanya boleh berdiam di sebuah wilayah khusus yang kini disebut sebagai Pecinan.
Dan siapa musuh dari Cina itu?
Jelas, Pribumi. Sebuah status sosial paling rendah yang diberikan VOC kepada
warga lokal, yang berarti kelas pekerja. Dan politik devide et impera VOC itu
juga yang diadopsi di masa orde baru..
Kerusuhan-kerusuhan anti Cina di
Medan, Solo dan banyak kota lainnya adalah bagian dari politik orde baru untuk
melanggengkan kekuasaan mereka. Yang terakhir tahun 1998, ketika orde baru
terpaksa harus mengakhiri kekuasaannya.
Saat kerusuhan tahun 1998 itu,
kuat sekali aura anti Cina berkobar, ditandai dengan ditulisnya pintu-pintu ruko dan
rumah dengan tulisan "Milik Pribumi".
Dan inilah yang dimainkan
sekarang, sentimen anti Cina dengan tema baru "Kebangkitan Pribumi".
Masih ditambah dengan kata "Muslim" untuk semakin memperkuat tema..
Siapa yang bermain disana?
Banyak, mulai dari orba yang
ingin bangkit kembali juga ormas Islam radikal yang ingin mendirikan khilafah
atau terpojok karena Perppu pembubaran ormas.
Diharapkan dengan naiknya
kebanggaan sebagai pribumi, akan menaikkan tensi sentimen anti Cina yang
sebelumnya sudah mereka gambarkan dengan kata-kata "aseng", "9
naga" dan lain-lain.
Pribumi sendiri digambarkan
sebagai orang yang kalah dalam sisi ekonomi dan menuntut perubahan singkat
dalam penguasaan ekonomi - dan politik.
AB sendiri mungkin hanya sebagai
pion saja, untuk memainkan isu Pribumi sebagai "titipan pesan". Dan
karena ia terikat kuat dengan kelompok radikal dan dana orba yang menyokong
kampanyenya, maka mau tidak mau pesan itu harus disampaikan..
Jadi, kata "Pribumi"
yang keluar itu bukan hanya sebagai kecelakaan saja, melainkan berupa agenda
seting yang sedang dijalankan untuk membangun aura permusuhan sebagai sebuah
tema kerusuhan yang kelak akan dijalankan.
Dan kita lihat, sesudah
pernyataan Pribumi itu keluar, keluar juga logo "Kami Pribumi" yang
beredar di media sosial dan grup whatsapp, yang menandakan ada konsentrasi
kekuatan atas nama kebanggaan kelompok.
Sulit menyingkirkan bahwa kata
"Pribumi" ini tidak dikaitkan dengan Pilpres 2019 yang sudah dekat
ini nanti. Kata "Pribumi" ini menjadi satu keping puzzle yang akan
ditudingkan kepada pemerintahan Jokowi yang sudah mendapat banyak tuduhan
sebagai PKI, agen Tiongkok, didanai asing dan aseng, juga tenaga kerja Cina
yang masuk ke Indonesia..
Isu anti Cina itu efektif, karena
ada kelompok yang memainkan iramanya.
Meskipun dalam kegiatan ekonomi,
mereka gak anti-anti banget sama keturunan Cina bahkan malah berkawan
dengannya, tetapi harus ada tema yang dibangun untuk bisa mengambil kembali
"periuk nasi" yang hilang karena kebijakan Jokowi..
Seruput dulu, kawan... Situasi
akan makin panas ke depan...
