![]() |
| Pilgub Jabar |
Sebenarnya, kalau PDIP berencana
menaikkan pasangan Dedi Mulyadi dan Dedi Mizwar, ini bisa jadi musuh serius
buat Ridwan Kamil.
Saya bukan orang yang suka pada
Dedi Mizwar. Saya anggap Demiz bukan tipe orang yang bisa bekerja dalam iklim
birokrasi. Dia lebih mumpuni bekerja di dunia entertain. Dan sebagai birokrat,
dia lebih banyak berakting daripada bekerja..
Tapi survey terus menerus
menempatkannya sebagai orang nomer dua yang populer sesudah RK. Dan ini tidak
bisa diabaikan..
Seperti kita tahu, model pemilih
kita lebih banyak memilih pemimpin berdasarkan emosional, bukan rasional.
Mereka memilih berdasarkan kesukaan, bukan kinerja.
Dan ini dipahami betul oleh RK
yang lebih banyak menonjolkan “siapa dirinya” daripada “apa yang
dikerjakannya”. Karena itu RK sering banget bermain di media sosial dengan
gaya-gaya anak muda, keluarga bahagia dan -sudah pasti- muslim.
Untuk melawan model begini, tidak
bisa dihadapi dengan menonjolkan kinerja. Karena ciri masyarakat kita masih
subjektif, belum objektif.
Dan Demiz adalah lawan yang
sepadan. Dia artis, dikenal banyak orang, dan -jangan lupa- Aher jadi
Gubernur kemarin juga banyak dipengaruhi oleh popularitas Demiz.
Sedangkan Dedi Mulyadi sendiri,
meski kinerjanya bagus, tapi dia lebih butuh banyak effort untuk maju di Pilgub
karena namanya masih belum cukup kuat di masyarakat perkotaan yang biasanya
jadi target survey.
Meski begitu, jangan meremehkan
Demul. Golkar memegang 19 kursi di Jabar di bawah PDIP, itu berkat kerja keras
dia dan loyalitas pendukungnya. Karena dia jugalah, nama Jokowi waktu 2014 lalu
anjlok di Jabar. Golkar waktu itu masih ada di kubu lawan.
Demul menjadi bupati 2 periode
dan menjadi ketua DPD Golkar, itu membuktikan kemampuan politiknya yang mumpuni
dan matang..
Dan penggabungan antara kinerja
bagus plus popularitas itu penting banget, khususnya di Jabar. Meski kerja
bagus, kalau gak kepilih, mau gimana coba?
Dan menjadi tidak penting apakah
Demiz yang Gubernur atau Demul yang Gubernur ketika mereka berpasangan. Karena
keduanya punya kelemahan dan kekuatan yang saling mengisi. Inilah yang saya
bilang musuh serius buat RK..
baca: KISRUH DI GOLKAR
Siapapun yang jadi Gubernur, yang
pasti Dedi Mulyadi yang bekerja dan Dedi Mizwar yang berdoa.... Klop, kan?
“Terus, kenapa kok RK tidak
disandingkan dengan Dedi Mulyadi saja?”.
Malah lebih sulit, karena
keduanya punya tipikal dan ambisius yang sama. Bisa jadi matahari kembar kalau
mereka disandingkan, seperti masa pemerintahan SBY-JK dulu. Akhirnya berebut
cari simpati dan kerjapun terbengkalai..
Ibarat pasangan suami istri yang
sama-sama pinter, sama-sama pekerja, sama-sama ambisius disatukan dalam
perkawinan, pasti banyak berantakannya.
Demiz sendiri termasuk barisan
sakit hati karena disingkirkan begitu saja okeh Gerindra-PKS yang sebelumnya
mencalonkannya. Begitu juga Demul yang patah hati melihat Golkar -partai yang
dibelanya selama ini- malah mencalonkan orang di luar partai yang hanya
mencari kendaraan politik saja..
Kedua orang sakit hati ini, jika
digabungkan akan menjadi pekerja keras karena ingin membuktikan kepiawaian
dirinya. Disinilah pintarnya PDIP jika berencana menggabungkan mereka berdua,
Jabar nemang masih berkutat di
ketiga tokoh ini, karena belum ada calon lain yang namanya lebih kuat dari
mereka.
Melihat Pilgub Jabar memang jauh
lebih menarik daripada daerah lainnya selain DKI.
Kenapa? Karena ini masih
berhubungan dengan Pilpres 2019, dimana pemilih terbanyak masih di pegang
Jabar. Dan -sekali lagi- 2014 Jokowi kalah telak di Jabar. Jangan sampai
terjadi lagi..
Saya masih belum tahu, siapa
pasangan yang dicalonkan Gerindra & PKS nanti? Jangan kaget, ketika salah
satu partai itu malah merapat ke satu calon pasangan..
Saya gak minum kopi kali ini,
tapi sedang menyeruput teh botol pake sedotan. Dan seperti iklannya, begitu
juga situasi di Jabar, “Siapapun Gubernurnya, Jokowilah yang harus jadi
Presidennya”.
Seruputtt...
