Sabtu, 18 Juli 2020

KITA BIKIN RAME!

Otto Hasibuan
Jakarta - "Boleh saya bantu, bang Denny?". Tanya seseorang yang saya kenal baik. Dia mengamati perkembangan kasus pembocoran data Telkomsel yang hanya berhenti pada tertangkapnya seorang CS, outsourcing pula.

Saya terbuka pada hal apapun. Karena di kasus Telkomsel ini, sebenarnya ada lubang besar tentang bagaimana perusahaan besar itu menjaga data kita yang seharusnya rahasia. Ini bukan hanya kasus saya pribadi, tapi sudah jadi masalah nasional, karena di Telkomsel itu ada 160 juta orang pelanggan.

Pertanyaan yang harus dijawab Telkomsel, apakah mungkin seorang outsourcing bisa membuka data pelanggan tanpa otoritas yang lebih tinggi?

Dan dari sana, perjalanan menemukan saya dengan seorang pakar hukum perdata, seorang pengacara senior, Profesor DR Otto Hasibuan SH. Beliau bisa dibilang legend di kalangan pengacara. Juga Ketua Pembina Peradi, Perhimpunan Advokat Indonesia.

Berbincang dengan Prof Otto, membuka jalan pikiran saya. Saya banyak belajar tentang hukum dan seluk beluknya. Bahasa hukum yang sulit bisa diterjemahkan dengan sederhana olehnya.

Dan di akhir perbincangan, Prof Otto Hasibuan menjabat tangan saya.

"Saya bersedia mewakili anda sebagai kuasa hukum untuk menggugat Telkomsel. Kasus anda bisa menjadi pintu masuk untuk sesuatu yang lebih besar lagi.." katanya tersenyum.

Saya dan pengacara sekaligus sahabat saya, Muannas Al Aidid, tersenyum senang. Panglima besar sudah turun lapangan. Pertempuran kali ini bukan hanya terjadi antara Daud dan Goliath, karena Otto Hasibuan bisa dibilang Goliath juga di kalangan pengacara

Apapun hasilnya, ini bagus untuk pelajaran bahwa kita - selemah apapun - punya hak untuk menuntut keterbukaan informasi. Jangan sebuah masalah besar terus dikecil-kecilkan dengan perkara kriminal biasa.

Siapa tahu akhirnya bisa terungkap bahwa ada sindikat penjual data disana yang melibatkan otoritas tertinggi ? Belum bisa dibuktikan memang, dan kita akan cari tahu seterang-terangnya, sejelas-jelasnya

Saya jadi teringat perkataan pakde Jokowi waktu awal memimpin dan ingin membongkar mafia-mafia di negeri ini.

"Kita bikin rame !" Kata beliau.

Seruput kopinya dulu, kawan. Perjalanan masih panjang.

Senin, 13 Juli 2020

Perang Besar Akan Dimulai

Virus
Jakarta - Membersihkan kadrun di dalam perusahaan, apalagi perusahaan besar, tidak bisa hanya teriak-teriak di sosmed.

Sosmed hanya berdampak sosial, dan getarannya cuman sedikit saja, habis itu hilang. Bahkan bagi mereka tidak akan terasa.

Bukan juga dgn boikot cabut kartu. Hilang satu dua pelanggan, tidak akan berpengaruh. Apalagi main tagar dan bintang satu di aplikasi. Mereka ketawa ngakak dengan permainan anak-anak seperti itu.

Mereka sudah begitu lama disana, sudah mengakar dan beranak pinak. Bahkan mereka membangun perkumpulan karyawan yang bisa menekan Direksi terpilih. Atau memainkan isu lewat majelis agama yg sudah lama mereka bangun disana.

Siapapun kepalanya disana, tidak akan mampu membersihkan mereka, karena banyak faktor, dan faktor utama adalah takut jabatannya hilang.

Cara yang benar adalah usik sarangnya dgn bermain secara hukum, lewat gugatan. Gugatan yang benar bisa menghajar mereka habis-habisan, sehingga kepalanya akan teriak kesakitan. Dan ketika dia kesakitan, dia akan menggigit kemana-mana, termasuk ke dalam.

Internal mereka akan dibersihkan. Banyak orang yang diduga terlibat akan dibuang.

Itulah yang kadrun takutkan. Dampak sistemik. Ibarat virus yang tidak bisa diobati hanya dengan obat demam, kita harus masuk ke dalam aliran darahnya dan mencari sumber utamanya.

Jika sumber utama ditemukan dan dimusnahkan, maka tubuh perusahaan akan membangun antibodi sendiri. Dan antibodi itu akan melawan virus2 yang bersarang.

Jadi, jangan berfikir apa yg akan saya lakukan itu menghancurkan perusahaan itu. Saya justru ingin menyelamatkannya supaya kepercayaan masyarakat menguat.

Ini perang besar. Lawannya kuat dan berdana besar. Guncangannya keras dan menakutkan.

Tapi ini juga tegang sekaligus mengasyikkan..

Dari peristiwa inilah, saya akan tahu, siapa teman dan siapa sesungguhnya lawan..

Seruput kopinya, kawan..

ADU STRATEGI

Bermain Catur
Jakarta - Saya sudah menduga, bahwa kasus melawan "Big Company" tidak semudah kelihatannya.. Mereka punya jaringan orang2 top dan dana besar untuk melindungi kepentingan besarnya. Dan strategi mereka keren sekali, sehingga banyak orang silau.
Salah satu strategi adalah dgn membangun narasi seolah2 mereka sudah membongkar jaringan didalam. Dan keluarlah tersangkanya, yang ternyata jabatannya cuman coro doang.
Dengan begitu, mereka memposisikan sebagai korban, dan karena mereka dan saya sesama korban, jadi cukup minta maaf saja, "Maaf ya Den, atas ketidaknyamannya.." Mereka anggap masalah selesai.
Strategi kedua, dengan memunculkan orang/kelompok seolah2 menuntut mereka belasan triliun rupiah dengan mengatasnamakan saya. Dan narasi yang dibangun adalah, "Ah, Denny ternyata cuman cari uang". Dibunuhlah karakterku, supaya yang tadinya mendukung menjadi benci.
Nah strategi ketiga, mereka akan memunculkan "angka nego" dgn saya ke publik. Tujuannya, ya apalagi merusak nama supaya opini terbentuk bahwa saya hanya mencari uang.
Lalu strategi keempat, akan bongkar2 keburukan saya di masa lalu, supaya kembali lagi tercipta opini negatif publik ke saya.
Dan semua itu akan mereka lakukan dalam rangka menghalangi saya mengajukan gugatan sebenarnya. Melepaskan tanggung jawab mereka yang sudah sangat merugikan. Dan supaya tidak muncul orang2 seperti saya yang akan mengajukan gugatan yang sama.
Begitulah cara Big Company menyelesaikan masalahnya. Tidak ada empati, bagi mereka semua hanya bagian dari industri. Saya dan kita semua hanyalah "nomor" bagi mereka, bukan lagi manusia.
Penting bagi mereka jika saya dibungkam. Supaya tidak ada kasus "Goliath kalah melawan Daud". Kalau Daud menang, wah rusak reputasi besar mereka. Saham bisa anjlok karena kepercayaan hancur.
Padahal, apa yang saya lakukan dgn menggugat nanti, justru akan memperkuat posisi mereka sebagai perusahaan yang perduli pada masalah sistem internalnya. Efek jera lewat gugatan itu penting, supaya mereka tidak bisa seenaknya lepas tangan dari masalah serius di dalam sistem keamanan data mereka.
Sungguh, ini permainan catur yang menarik bagi saya. Langkah harus cermat, jangan sampai salah. Dan tekanan2 yg lebih besar akan saya hadapi, lebih kuat dari yang pernah terjadi.
Tapi biarlah. Apa yang terjadi biarlah terjadi. Setidak2nya saya sudah berusaha melawan kesombongan sebuah korporat besar. Dan jika saya kalah, tetap saja menjadi sebuah kebanggaan karena saya pernah melakukan langkah besar yang berarti.
Sebentar lagi, pasti banyak tokoh2 besar yang akan menelpon saya, dan bilang, "Denny, kamu mundur saja.."
Ah, biar saya beri mereka secangkir kopi..
Bagi saya, ini hanya permainan catur saja. Hanya lawannya saja yang berbeda..

KISAH DALAM SECANGKIR KOPI

Secangkir Kopi
Jakarta - Setiap kali membaca kisah kepahlawanan dari buku-buku sejarah, gua dulu selalu membayangkan seperti mereka. Rasanya menyenangkan..
Baru gua paham sekarang, bahwa untuk menjadi sedikit saja seperti mereka, butuh perjuangan yang sangat besar, baik mental maupun fisik yang kuat. Nafas harus panjang, strategi harus cerdas.
Dan yang paling utama dari semua itu adalah kemampuan untuk memahami bahwa apa yang lu lakukan, bukan untuk diri lu sendiri, bukan juga buat keluarga lu, apalagi untuk kekayaan.
Tetapi untuk mengubah sesuatu yang rusak menjadi lebih baik. Membangun tatanan dari puing-puing yang berserakan.
Perjuangan itu bersifat spiritual, bukan lagi material. Dan kelak ketika kita pergi, ruhnya akan tetap menyebar dan mengkader ruh-ruh lain untuk menaikkan tingkatannya ke level yang berbeda, sesuai masanya.
Itulah kenapa gua sekarang lebih menyenangi proses daripada hasil, karena hasil urusan Tuhan. Proseslah yang menjadikan manusia kaya..
Hidup hanya sekali. Mari kita jadikan berarti. Karena manusia, bagi manusia lainnya, adalah sebuah inspirasi.

Sabtu, 11 Juli 2020

GUGAT TELKOMSEL !

Denny Siregar dan Muannas Aidid
Jakarta - Saya senang ketika Polisi akhirnya bisa membekuk pelaku di dalam Telkomsel yang memasok data ke akun Opposite..

Terimakasih atas gerak cepatnya, Polri. Ini lumayan melegakan, karena dengan begitu kita tahu bahwa memang ada "orang dalam" yang bermain disana menjual data..

Hanya saya heran. Kok bisa ya pembobol itu pangkatnya cuman outsourcing doang?

Tertangkapnya si "outsourcing" itu menguatkan dugaan, bahwa ada kelemahan yang berbahaya di sistem data Telkomsel.

Padahal sebelumnya, Telkomsel sudah mengelak bahwa sistem mereka sangat aman. Bahkan sudah mendapat sertifikasi ISO 27001 untuk keamanan informasi. Yang ngawasin badan independen dan profesional pulak..

Lah, kalau dgn sertifikasi ISO itu yang bobol cuman sekelas outsourcing doang, bayangkan, betapa bahayanya semua sistem Telkomsel. Mengerikan. Kita semua terancam. Data kita bisa diakses ama coro-coro di perusahaan besar.

Telkomsel itu perusahaan multinasional, dengan aset ratusan triliun rupiah, tapi yang bobol data bahkan bukan "orang penting" disana. Apakah ini permainan? Pengalihan? Atau hanya mencari kambing hitam?

Karena itu, sesudah clear bahwa ada masalah di sistem internal Telkomsel, saya mau menaikkan level permainan. Saya ingin MENGGUGAT Telkomsel. Gugatan ini sangat penting, supaya Telkomsel tidak bisa sembarangan dengan data 160 juta pelanggannya.

Saya sudah menjadi korban. Rumah saya sudah diteror oleh bermacam-macam orang.

Jangan sampai, keluarga anda juga yang menjadi korban. Sudah cukup. Telkomsel harus bertanggung jawab dengan ini semua. Jangan cuman bisa ngeles atau diam saja. Gugat Telkomsel! Seruput kopinya gak ketinggalan..

Jumat, 10 Juli 2020

MEDAN TEMPUR PEMIKIRAN..

Lawan Pemikiran Radikal
Jakarta - "Lu gak takut, bang?". Tanya seorang teman yg heran kenapa sejak 2011 aku konsisten bersuara keras, menghantam pemikiran kelompok radikal yang menguasai media sosial. "Gak takut ?" Tanyaku. "Justru gua sebenarnya penakut.."

Tapi ketakutanku bukan karena takut nanti dipersekusi atau diintimadasi mereka. Ketakutan terbesarku adalah ketika aku tidak bersuara, maka negeri ini kelak bisa menjadi Suriah ketika kelompok radikal ini menguasai negara. Dan jika itu terjadi, anak2ku kelak akan menuntutku, "Kenapa papa tidak berjuang disaat papa mampu?".

Ketakutanku terbesar adalah ketika aku tidak mampu berdiri dgn kepala tegak di depan anak2ku. Itulah arti menjadi seorang ayah bagiku, menjadi tauladan di depan anak2ku.

Dan semakin kesini, musuh2ku semakin kuat dan semakin besar. Mereka yang sejak belasan tahun sudah menguasai banyak posisi penting di pemerintahan dan perusahaan negara, mereka yang punya akses dan dana, mereka yang sudah mempunyai massa.

Pernah, beberapa bulan lalu, aku dihubungi seseorang yg memberikan foto2 penangkapan seorang teroris lengkap dengan senjata rakitannya. Dia heran, karena si teroris itu mengaku sedang berlatih keras utk menghilangkan nyawaku. "Apa pentingnya seorang Denny ?" Tanyanya.

Ternyata jawaban si teroris, karena aku dan pemikiran2ku menghalangi strategi besar mereka utk mendirikan negara khilafah.

Dari situlah aku sadar, bahwa pemikiran itu seperti pedang. Ia mampu menjadi senjata tajam dalam bentuk pertarungan propaganda dan pembentukan opini. Dan media sosial adalah medan tempurnya.

Lalu, ketika mereka tidak mampu membunuh narasi2 dan pemikiranku, juga tidak mampu mengintimidasiku dgn kata "penggal" "halal darahnya" dan segala macam tekanan lainnya, mereka memainkan hukum utk memasukkanku ke penjara.

Gagal. Karena mereka terlalu bodoh untuk itu. Laporan mereka hanya berdasarkan nafsu bukan alat bukti yg cukup. Tapi mereka berkoar kalau aku dilindungi rezim yg mereka lawan. Dan karena tidak mampu "membunuhku", mereka menyerang keluargaku. Mereka mencari titik lemahku..

Penyebaran data pribadi itu sangat jahat dan hanya dilakukan para pecundang, yang kalah bertarung di pemikiran. Dan si provider besar itu harus bertanggung jawab penuh, karena dari sanalah sumber data berasal. Itulah kenapa aku merasa, lawanku semakin kesini bukan semakin kecil, justru seperti main game bertemu raja-rajanya.

Tegang, sekaligus mengasyikkan..

Mungkin inilah waktu-waktu terpenting dalam perjalanan hidupku. Aku tidak suka diremehkan, justru semakin ditekan, diriku semakin berdansa ditengah masalah. Seperti bermain catur, langkah mana yang harus dilakukan untuk menyerang dan bertahan.

Bahkan membunuh fisikku tidak akan menghentikan apa yg sudah dilakukan. Karena pemikiran itu abadi, jejaknya membekas di hati, dalam dan membangunkan api untuk semakin berkobar.

Mereka tidak tahu, dengan siapa mereka berperang. Biar kutunjukkan. Kalah menang itu bukan tujuan. Karena jejak perjuangan itu tidak akan pernah menghilang..

Seruput kopinya untuk jiwa-jiwa yang merdeka dan para pencari arti dalam perjalanan..

Rabu, 08 Juli 2020

Satu Waktu Indonesia Akan Dikuasai Oleh Taliban

Konflik Afghanistan
Jakarta - Dalam sebuah Webinar yang diselenggarakan Taruna Merah Putih, kebetulan saya didaulat menjadi pembicara..

Dan poin dari pembicaraan itu, saya menyerukan kepada anak-anak muda, kaum terpelajar, untuk jangan diam. Berserulah, kuasai ruang-ruang media sosial tanpa rasa takut, dari narasi-narasi radikalisme yang menyebar disana.

Jujur saya geram, melihat betapa sekeliling kita sekarang ini, sudah banyak dikuasai oleh kelompok2 radikal itu. Di dunia pendidikan, mereka bahkan sudah bercokol lama disana. Sistem pemerintahan kita yang mengacu pada otonomi daerah, membuat kelompok2 itu semakin berkuasa.

Dengan menyandera pemerintah daerah yg oportunis melalui agama, mereka membangun kekuatan mereka. Lihat saja di sekolah negeri, banyak anak sekolah yang bahkan masih SD, sudah diwajibkan berjilbab, bahkan bercadar. Belum lagi buku-buku pelajaran agama, yang diterbitkan dgn penafsiran agama versi mereka.

Situasi ini sangat berbahaya, karena sedikit sekali perlawanan terhadap mereka. Banyak kaum terpelajar yang diam, karena takut digeruduk pake massa. Tidak ada perlindungan terhadap mereka, sehingga mereka takut bersuara.

Seharusnya kita belajar dari Afghanistan..

Tahun 1996, Afghanistan dikuasai oleh kelompok agama yang fanatik bernama Taliban. Kelompok ini sebenarnya masuk sudah sejak lama dan menguasai banyak elemen pemerintahan di Afghanistan, tapi karena mereka berbaju agama, pemerintah tidak berani menyentuh mereka atau bahkan berkompromi dengan mereka.

Karena dibiarkan, pelan-pelan gerakan kelompok ini semakin besar. Rakyat yang bodoh dan awam, menjadi bersimpati pada Taliban. Dan pada saat yang tepat, mereka melakukan kudeta dan mulailah pemerintahan yang menjadi neraka bagi banyak orang moderat disana.

Ahmed Rashid, pengarang buku best seller berjudul "Taliban" bahkan menulis, "Kemenangan Taliban di Afghanistan adalah kekalahan kaum terpelajar yang lebih memilih diam. Dan ketika Taliban berkuasa, maka kaum terpelajarlah yang mereka buru pertama, karena mereka musuh potensial.."

Dan benar saja, gelombang eksodus kaum terpelajar yang dulu diam itu, terjadi. Mereka lari, takut dibantai. Cerita-cerita apa yang terjadi pada mereka, mengerikan. Ada yang diterjunkan dr gedung tinggi, karena dituduh LGBT. Ada yang dipenggal, hanya karena dia berfikir. Bahkan ada yang hidungnya di mutilasi seperti kasus Bibi Aisha, karena berontak terhadap kekejaman suaminya yang anggota Taliban.

Dan situasi itu berjalan 5 tahun lamanya, sampai akhirnya Afghanistan berhasil mengusir Taliban. Tapi yang terjadi adalah kemunduran peradaban dan ekonomi negara yang sudah menjadi puing-puing. Membangunnya kembali butuh waktu lama dengan psikologis masyarakatnya yang masih trauma.

Apakah kita ingin Indonesia kelak seperti Afghanistan ketika dikuasai Taliban ?

Saya tentu tidak, dan berani mempertaruhkan apa yang saya punya untuk hanya sekedar bersuara, menggerakkan api dalam dada kaum muda. Tanggung jawab saya sebagai seorang ayah kepada anak saya, supaya dia kelak bisa hidup dalam damai dibawah naungan Pancasila.

Dan untuk itu saya rela disomasi berkali-kali oleh mereka, dan bahkan seujung kuku lagi bisa masuk penjara. Itu harga yang harus dibayar memang, untuk perjuangan. Biar kelak ketika aku sudah tiada, anakku akan berkata dengan bangga, "Papa sudah berbuat banyak. Istirahatlah. Biar aku yang meneruskan.."

Dunia itu adalah ladang jihad. Berjihadlah. Setidaknya hidup kita punya arti, bukan hanya sibuk dengan tumpukan materi. Dan kelak ketika kita bertemu di akhirat nanti, akan kusediakan secangkir kopi untuk mereka yang berjuang, sambil cerita-cerita pengalaman kita di dunia ini..

Seruput dulu kopinya kawan..

CYBER TERORIS

Cuitan Twitter Opposite
Jakarta - Pada waktu membeli nomer, kita dipaksa untuk memasukkan data diri kita, mulai NIK sampai KK. Dan nomer yang tidak teregistrasi pun akan hangus..

Tapi ternyata sistem kita sangat rentan, sehingga data diri kita bisa diambil oleh orang lain. Ini sangat berbahaya..

Bayangkan, akhirnya mereka tahu dimana rumah kita, siapa keluarga kita, apa kebiasaan kita. Dan itu ada bisa ada ditangan orang berbahaya, seperti teroris. Nyawa kita bisa terancam karena data kita telanjang.

Saya sih gak takut, karena keluarga sudah siap segalanya. Tapi bisa jadi itu terjadi pada kalian, pada istri kalian, anak-anak kalian, bahkan orangtua. Mereka bisa mengancam karena pegang data pribadi.

Karena itu, saya rencana mau menggugat Telkomsel dan Kominfo karena data saya bisa disebarkan ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Biarkan saya jadi contoh.

Kita jadi rentan. Ini bisa dibilang Cyber Teroris.

Hak kita sebagai warga negara harus dapat perlindungan. Dan negara harus bertanggung jawab terhadap keamanan warganya.

Telkomsel kelihatan sudah banyak kadrunnya. Entah provider lainnya.. Seruput kopinya. Perjuangan masih panjang. Kita bongkar siapa di dalamnya.

Jumat, 12 Juni 2020

Sisi Lain Seorang Jokowi

Foto Jokowi, Prabowo dan Panglima TNI
Jakarta - Melihat gambar ini, dimana Prabowo tampak sangat hormat pada Jokowi dan itu ditunjukkannya di depan publik, saya tersentuh..

Prabowo ternyata mampu menempatkan dirinya, dimana ia berada. Meski secara garis keturunan, kekayaan maupun pengalaman, ia jauh diatas Jokowi, tapi ia tetap mampu bersikap dengan elegan.

Saya sempat punya pertanyaan di kepala, "Pakde ini punya aji apa sih, sampe orang bisa segan padanya?".

Pertanyaan saya terjawab, ketika bertemu dan ngobrol dengan seorang tokoh, seorang Jenderal besar yang punya koneksi dekat ke Jokowi. Dia bercerita, bagaimana Jokowi sering mengundang banyak tokoh, termasuk dirinya, untuk sekedar makan siang di istana. "Lu tau gak, apa menu makan siang Jokowi?" Dia bertanya serius. Jelas saya gak tau, wong gak pernah diundang.

Dia meneruskan, "Tiap gua diundang makan siang, menu makannya Jokowi pasti sayur lodeh, tempe ma tahu. Itu terus. Gua yang biasa makan mewah di rumah, suka gak minat diundang maksi ke istana. Gak enak.." sang tokoh itupun ketawa ngakak.

"Sialnya lagi, si itu (dia nyebut nama seorang tokoh) selalu kabur kalau diundang maksi. Dia mending cari nasi padang.." kamipun tertawa bersama.

Tapi disinilah saya melihat, bahwa rasa hormat itu timbul karena kesederhanaan seorang Jokowi. Ini yang tidak bisa dilawan, karena mereka disekitarnya merasakan aura itu.

Bahkan ada seorang tokoh lagi, seorang pengusaha kaya yang ada disekitar istana, pernah bicara, "Jokowi itu tidak pernah mencuri dengan memanfaatkan jabatannya. Itu yang membuat saya juga jadi tidak mencuri. Kalau dia mencuri, saya pasti akan mencuri lebih besar dari dia.."

Dari perbincangan dengan para tokoh-tokoh itu, saya jadi mengenal sosok Jokowi diluar dari penglihatan publik kebanyakan. Mereka hormat karena yang dihormati pun layak menerima kehormatan. Dan semua itu muncul spontan tanpa kepura-puraan ataupun karena ada kepentingan.

Begitulah pemimpin. Ia memberi contoh, bukan sekadar bicara manis dengan kemunafikan. Karena kemunafikan pasti mengundang kemunafikan lainnya.

Sesudah Prabowo dekat dengan Jokowi karena pekerjaannya, ia pun merasakan hal yang sama. Dan gestur tubuhnya tidak bisa disembunyikan.

Entah kapan lagi kita akan bertemu sosok unik seperti Jokowi ini. Mungkin seratus tahun lagi. Tapi biarlah saya nikmati kebersamaan saya sebagai rakyat dengan Presiden saya sekarang ini.

Duh, siang ini secangkir kopi tampaknya niat sekali. Seruput.

Selasa, 09 Juni 2020

JUBIR CORONA YANG CUANTIK

dr Reisa Broto Asmoro
Jakarta - "Program-program Jokowi banyak yang bagus. Komunikasinya yang buruk!".

Begitu protes saya waktu diundang diacara MetroTV. Sejak lama itu jadi masalah memang, banyak program Jokowi yang tidak mampu dikomunikasikan dengan baik oleh orang-orangnya, sehingga muncul orang-orang yang mencoba menjelaskannya pada awam.

Dan karena terlalu sering menjelaskan, akhirnya tuduhanpun datang, mulai kata "penjilat" sampe "buzzeRp" kenyang kami makan.

Bukan hanya komunikasinya, bahkan komunikatornya juga ga bikin orang betah. Gak tau kenapa, hanya untuk mencari jubir yang good looking, smart dan komunikatif aja susahnya minta ampun.

Lebih jago SBY dulu munculkan Andi Mallarangeng, yang bahkan bunda Dorce aja tergila-gila padanya. Atau KPK dengan Febri Diansyah yang sangat cool. Yang muncul malah bang Fajroel Rahman yang lebih sering tiktokan. Ambyarr!!

Dan ketika Gugus Tugas akhirnya menugaskan dr Reisa Broto Asmoro, sebagai jubir baru untuk masalah Covid, ya telat sih. Harusnya dari awal-awal. Bukan Menkes yang ngomong depan kamera, atau pak Yuri, harusnya seperti dr Reisa ini yang ada di garis depan..

Kan betah lihatnya... Tuh, kan jadi lupa seruput kopi saking beningnya..

Jumat, 05 Juni 2020

Injil Berbahasa Minang

Berita LGBT di Sumbar
Jakarta - Mau ngakak baca berita Gubernur Sumbar surati Menkominfo, supaya hapus aplikasi Injil berbahasa minang..

Awalnya gua kira hoax, eh ternyata beneran sesudah ada media online yang mengangkatnya. Lucu juga. Padahal kalau mau ketik "alkitab bahasa minang" di Playstore, muncul deh alkitab bahasa-bahasa lain selain Minang. Ada yang melayu Ambon, ada yang Minahasa dan lain-lain.

Lah, terus kenapa kalau ada Alkitab bahasa Minang? Takut orang Minang murtad dan pindah agama ke Kristen? Kalau gitu, protes juga dong, minta Menkominfo hapus "Arabic Bible" juga karena bahasanya mirip Alquran.

Harusnya pak Gubernur ini bangga, bahwa bahasa Minang dikenal dan dimasukkan dalam aplikasi Injil. Siapa tahu orang Kristen jadi tertarik untuk belajar bahasa Minang. Itu kan promosi budaya Minang? Mikir ko terbalik sih..

Karena lucu dan aneh itu, saya jadi tertarik untuk liat latar belakang Gubernur Sumbar ini. Eh, ternyata dari PKS, sodara2. Hihi, ya gak heran. PKS emang gitu, suka yang bukan bukan..

Yang menarik juga, Sumbar tahun ini ada Pilkada. Meski tidak mungkin mencalonkan lagi karena sudah 2 periode, tapi pak Gub sedang sibuk mencalonkan jagoannya. Apa mau giring sentimen agama lagi nih, pak, supaya bisa dapat suara banyak? Gayanya kok ya itu itu aja, gada perkembangan..

Mbok ya berita dari Sumbar itu tentang prestasi Sumbar kek, atau Sumbar go internasional kek. Bikin bangga. Masak Gubernur ngurusin kelas aplikasi segala..

Tapi ngomong-ngomong, kok jadi laper ya? Apa karena teringat nasi padang? Aduhh.. bahaya. Mau seruput kopi juga dah malam..

Mending baca-baca berita kalau Sumbar itu ternyata banyak LGBTnya ya. Mereka ternyata bukannya jadi murtad, tapi jadi melambai.

Lebih keren mana kira-kira? Ah, pak Gub pak Gub..

Kamis, 04 Juni 2020

Benny Tjokro, Manusia 9 Triliun Rupiah

Benny Tjokro
Jakarta - Seharian ini saya membaca tentang kasus Jiwasraya. Hari ini tadi sidang perdananya. Kerugian Jiwasraya dihitung total Rp. 17 triliun. Besar, bok..

Yang menarik dari kasus Jiwasraya ini sebenarnya bukan karena kasus ini dibilang korupsi, tetapi karena permainannya yang canggih, rumit, khas kejahatan white collar crime. Pelakunya super pintar. Bukan model suap kayak yang ditangkap2 KPK kemaren itu.

Tersangka utamanya Benny Tjokro. Dia ternyata cucu dari pengusaha Batik Keris. Jadi memang sudah kaya dari sananya, dan jago banget main saham. Benny lah yang mengatur duit dari banyak orang termasuk Jiwasraya, supaya bisa dapet cuan besar. Itu teorinya, prakteknya Benny doang yang kaya, kliennya seperti Jiwasraya hancur berantakan.

Kalau kalian pernah nonton film WallStreet, Benny ini mirip dgn tokoh Gordon Gekko, yang dibintangi Michael Douglas. Gekko punya prinsip, "Greed is good" serakah itu bagus.

Karena rumitnya permainan saham si Benny, sulit sekali menangkapnya. Dia membuat permainannya seolah2 legal. Dia tidak pakai namanya sendiri untuk merampok Jiwasraya, tapi pakai nama2 anak buahnya. Gile bener..

Kenapa disebut korupsi oleh Kejagung ? Ya, karena ada unsur korupsinya. Terutama dari pihak Direktur Jiwasraya yang kongkalikong kayak kingkong dgn Benny. Biasalah, mereka tarok duit Jiwasraya ke Benny dan mereka dapat komisi untuk memperkaya diri

Tapi sejatinya, ini permainan goreng saham yang canggih.

Sederhananya gini, Benny mengatur Jiwasraya untuk taro duit di beberapa perusahaan, yang punya koneksi dgn Benny. Caranya tentu dengan beli saham perusahaan itu. Saham dibeli Jiwasraya di angka Rp. 1.000 misalnya, dan dijanjikan akan naik sampai sejuta per lembar.

Tapi ternyata, kemudian saham jatuh sampai Rp. 50. Ambyarr. Jiwasraya tetap pegang saham perusahaan, tapi nilai belinya jauh berkurang. Kemarin beli Rp. 1000. sekarang nilainya cuman gocap. Itu harga satu lembar saham. Yang dibeli Jiwasraya lewat Benny Tjokro ada berjuta-juta lembar saham..

Beginilah mainan Benny sampai dia dikabarkan punya aset senilai 9 triliun rupiah, dan masuk dalam jajaran orang kaya di Indonesia.

Apa gak ada yang ngawasin transaksi ini?

Harusnya ada, yaitu Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Ini yang diherankan oleh Kejaksaan, kok OJK diam aja? Apa karenaaaa...... ah, kita lihat aja.

Kita harus angkat topi untuk Kejaksaan kali ini, karena berhasil menangkap Benny Tjokro yang licin kayak belut di aer itu. Kejaksaan gak perlu kayak KPK yang dulu, yang nangkep cuman Rp. 30 juta doang, tapi pencitraannya aduh makkk..

Itu baru gambar besarnya. Saya lagi ngikutin kasus per kasus, gimana caranya Benny memainkan saham2 itu. Pasti asik. Seperti nonton film.WallStreet tapi based on true story. Uahhh.... Mau ngopi dulu ahh.. Besok malam lebih detail kita bahas di TimeLine..

Minggu, 31 Mei 2020

SECANGKIR KOPI PAHIT

Kesuksesan
Jakarta - Enaknya jadi penulis gini, saya punya kekayaan baru.. Bukan materi, karena saya tidak punya banyak. Apalagi sampai 2 triliun rupiah. Kekayaan saya adalah pengalaman ketemu dgn banyak orang dan banyak karakter.

Pernah saya diundang ngopi salah satu orang terkaya di Indonesia. Hanya untuk ngobrol tentang situasi Indonesia. Saya diundang ke kantornya. Gara2 diundang orang terkaya itu, saya harus beli baju dan celana baru, supaya gak malu2in saat ketemu.

Sesudah ketemu, akhirnya nyesel. Ternyata salah kostum. Penampilan beliau jauh lebih sederhana. Bicaranya merendah, humble, dan selalu banyak bertanya hal yang tidak diketahuinya. Dia tidak pernah bicara berapa hartanya, media seperti Forbes lah yang membuka dia itu siapa..

Ada juga seorang purnawirawan Jenderal yang sukses berbisnis. Seorang konglomerat. Sangat humble. Bahkan saya dipeluknya seperti ayah dengan anaknya, padahal saya itu itu siapa. Remah rengginang didalam kotak biskuit ternama.

Dari bertemu dengan mereka2 itulah saya akhirnya paham pemeo, bahwa langit tidak pernah bicara bahwa dirinya tinggi. Oranglah yang membicarakan ketinggiannya.

Saya akhirnya paham benar perbedaan antara mereka yang benar2 kaya dan mereka yang mengaku kaya. Yang benar2 kaya sibuk membaktikan hidupnya, yang ngaku2 kaya sibuk menjual dirinya.

Mungkin sejak itu, saya berhenti bicara materi. Karena langit tidak berbatas akhirnya.

Dan disanalah saya akhirnya paham, bahwa kekayaan terbesar manusia sejatinya hanyalah rasa cukup. Tanpa rasa cukup, kita akan miskin selamanya meski materi berlimpah.

Semua apa yang saya alami dan saya temui, membuat mata menjadi tidak silau ketika melihat kemewahan dan membuat rasionalitas pun berjalan.

Hidup itu sesungguhnya perjalanan. Dan kadang kita duduk sebentar, sekadar mampir ngopi dan menyerap banyak pengalaman yang membentuk kita sekarang.

Nikmatnya...

 

PARA PENJUAL KESUKSESAN

Kopi
Jakarta - Saya itu mungkin termasuk orang yang kenyang ketipu MLM, Money Game sampai seminar berbayar..

Maklumlah, dulu sebagai anak muda yang pengen kaya dgn cepat, jadi program2 instan pun saya ikuti. Dan sbg orang yang "terbius mimpi" saya selalu marah, kalau ada orang yg menyadarkan, "Hei, dia itu nipu lho..".

Seperti orang mabok, saya gak mau dibangunkan..

Apa aja yang saya ikuti ya ? Banyak, mulai beli rumah tanpa hutang sampe jualan dgn metode skema ponzi pun saya jalankan. Wah kenyang lah pokoknya..

Dari semua pengalaman itu, saya akhirnya bisa mengenali pola yang sama dari para "salesman" itu yaitu mereka selalu menjual kesuksesan sebagai jualan.

Dan gambaran kesuksesan itu gak tanggung2, mulai dari foto jalan2 keluar negeri, punya mobil mewah smp foto pernah ngobrol dgn tokoh terkenal. Di belakang hari saya tahu, bahwa bahkan utk jalan2 keluar negeri spy dapat foto dan spy org percaya saja, mereka bisa berhutang banyak ke orang.

Dan itu efektif banget buat orang "muda, lugu dan bodoh" spt saya waktu itu. Mata kita silau dan kita jadi bermimpi spt imajinasi yg mereka tawarkan. Persis spt kerbau dicucuk hidungnya, kita mau2 aja keluarin duit yang mrk namakan sbg "investasi" yang setiap level harganya semakin naik aja..

Baru saya tahu lama2, bahwa mereka membranding diri mereka juga tidak murah. Mereka bayar wartawan2 media utk mengangkat nama mereka dgn kisah2 sukses mereka. Mereka punya tim utk mencitrakan diri dan dana..

Bahkan mereka jg minta tokoh2 dikenal untuk endorse. Supaya kita makin mabuk, "Tuh, orang terkenal itu aja percaya ma dia. Pasti dia gak nipu.." Itu membangun fanatisme dr pengikut supaya menjadi benteng mrk saat dibongkar trik2nya.

Apa yang saya pelajari dari sana ?

Banyak. Bahwa apa yang tampak oleh mata, belum tentu situasi yang sebenarnya. Itu seperti screensaver dgn pemandangan indah, yg kalau digoyang dikit mousenya, ambyar gambarnya.

Saya akhirnya semakin waspada dgn sesuatu yg bersifat terlalu sempurna. Too good to be true, kata orang bijak. Karena biasanya model seperti itu hanya menutupi kebusukan yang mereka rencanakan.

Makanya ketika ada orang yg ngomong kemana2, bahkan ada di setiap media, bahwa dia punya puluhan perusahaan, punya emas 1 ton di Bank, dan bahkan punya kuasa utk menggelapkan negara maju spt Singapore, tambah lagi Bill Gates pun kagum padanya, saya langsung ngakak..

Apalagi dia ahli dari segala ahli. Mulai hipnosis, pengamat teroris, economics sampai dokterpun harus kalah ma dia ketika ngomong pandemi. Makin terkincit2 lah saya.

Seperti deja vu, membayangkan dulu waktu muda sering ketipu dengan model spt itu. Dengan segala kemampuan itu, dia masih saja menjual seminar berbayar kemana2.

Sama persis ketika saya bertanya dengan polosnya kepada motivator "beli rumah tanpa hutang". Saya nanya, "kalau segitu gampangnya beli rumah, kenapa bapak gak sibuk investasi di perumahan, malah sibuk di seminar ?" Dan saya diusir keluar..

Pada akhirnya hanya asap yang bisa membumbung keatas dan menghilang. Sedangkan mereka yang benar2 kaya dan ahli adalah akar, semakin terbenam ketanah memperkuat pondasinya.

Kisah ini saya ceritakan sebagai konsep berbagi saja. Hati2, ada bebek dibalik kuali..

Mari kita seruput kopi sambil melihat dimana berakhirnya semua ini. Apa seperti kisah Dimas Kanjeng atau Abu Tours yang terkenal itu ?

Ah, mungkin juga cuman mirip kisah dukun cilik Ponari.

Seruput..

USTAD ABU JANDA

Abu Janda dan Denny Siregar
Jakarta - Tahun 2016, peluncuran buku pertama "Tuhan dalam secangkir kopi.."
Ketika sedang jadi pembicara, tiba-tiba datang seseorang yang mukanya ngeselin. Dia mengenalkan dirinya dengan nama Permadi Arya. Saya mengenalnya di facebook dgn nama panggilan "Ustad Abu Janda".

Abu Janda ini jago parodi. Nama panggungnya aja diambil dari nama teroris Indonesia di Suriah bernama Abu Jandal al Sulaihi yg dulu mengancam negeri ini.

Dia kasih gelar ustad dibelakang namanya juga sebagai bagian dari parodi, dgn pesan "gelar ustad ga harus dianggap suci, dia juga manusia biasa yg bisa salah".

Sejak lama saya berlomba mendapat label dari para kadrun dengan si Permadi. Label "syiah, kafir, liberal, PKI" kenyang kami dibuatnya. Cuman saya menang, karena ada marga siregar, saya dicap Kristen HKBP oleh mereka. Disini si Permadi gak akan pernah bisa mengalahkan gelar jenius itu karena dia urang sunda..

Dengar2 dia mau dipenggal kepalanya karena memparodikan Bahar. Saya tahu, dia pasti ketawa karena itu ancaman yg kesekian ratus kalinya. Urat kemaluannya sudah putus, sehingga rasa takutnya sudah ga bisa ngaceng lagi.

Oh ya, mukanya emang ngeselin. Jangankan kadrun, gua aja yang kenal berasa pengen nampol. Tapi yg gua tau, si Abu Janda ini faseh bahasa Inggris dan Mandarin karena lama tinggal di Singapura.

Meskipun terlihat konyol, tapi gaya bertarung Abu Janda dgn model parodi ini efektif. Dia bagian menghancurkan karakter2 yg dibangun lawan yang ditakuti untuk dijadikan "Hello Kitty". Saya urusannya menyerang dengan peluru tajam lewat tulisan.

Kami berteman, meskipun kadang saya sering negur dia ketika kami tinggal berdua, karena dia kalau habis cebok gak siram.

Lama juga gak ketemu dia. Semoga lu baik2 aja dan bisa memberi inspirasi spy muncul "abu janda abu janda" baru, untuk membela negeri ini.

Sini gua kasih secangkir kopi, di.. Seruput..

 

KISAH SEORANG TRILYUNER

Pemilik PO Sumber Alam
Jakarta - Jadi ceritanya gini... Beberapa bulan lalu seorang trilyuner yang bahkan Bill Gates pun kagum padanya, berbicara berbusa-busa tentang kemampuan dia mengubah bus mangkrak TransJakarta menjadi bus listrik. Dia hanya minta satu bus saja untuk percobaan.

Saya sempat heran, kok trilyuner minta? Beli donggg..

Eh, si trilyuner ditantang secara halus oleh pemilik PO bus Sumber Alam yang cuman miliarder doang. Dikasi gratis, satu aja busnya buat percobaan.

Si trilyuner dgn gagah menerima tantangan itu dan komen, "busnya sudah saya ambil.." dan pendukungnya sorak sorai..

3 minggu kemudian...

Pemilik bos Sumber Alam klarifikasi kalau yang diambil bukan busnya yang sudah dikasi gratis..

Lucu emang video ini. Sampe sekarang juga gak jelas gimana kabar bus mangkrak jadi bus listrik project si trilyuner itu? Apa masih nabung untuk beli bus bekas dulu?

Wallahualam..

Saya sih gada maksud apa-apa cerita ini. Gak kenal dan tidak punya kepentingan apa-apa sama trilyuner itu. Video ini untuk teman saya yang sangat memuja trilyuner tersebut. Tonton sampe abis ya..

Saya pesan aja ma dia, "bro, sesuatu yang terlalu sempurna terlihat dari luar, biasanya menyembunyikan cacat yang paling merusak di dalamnya.."

Oke, bro.. Seruput kopinya. Paling dapat somasi lagi habis ini.. udah langganan.

Artikel Terpopuler