Selasa, 13 Agustus 2019

ENZO ALLIE & RADIKALISME DI TUBUH TNI

Enzo Allie
Enzo
DennySiregar.id, Jakarta - Saya senang membaca riuh rendah para pendukung khilafah waktu TNI menetapkan Enzo Allie tetap menjadi taruna di Akademi Militer.
Ada perasaan menang ketika mereka merasa "salah seorang dari mereka" ternyata berhasil masuk ke lingkaran TNI. Ada rasa kebanggaan disana yang dituangkan dalam status dan gema takbir di komen-komen mereka.
Kayaknya itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka yaitu selalu merasa menang, padahal sejatinya selalu kalah. Kelak ketika mereka sadar mereka juga mulai memaki-maki.
Enzo Allie yang dianggap bagian dari kelompok radikal karena jejak digitalnya sedang membawa bendera hitam, sudah masuk dalam lingkup pelatihan militer yang sangat keras. Bukan hanya keras dalam pelatihan fisik, tetapi sudah pasti pendalaman ideologi.
Pola pikirnya yang masih gamang terhadap khilafah akan dihancurkan dan disusun ulang untuk mencintai negeri. TNI kali ini tidak main-main, apalagi mereka sudah sadar bahwa 3 persen dari anggota mereka dikabarkan sudah terpapar radikalisme.
Sejak awal saya sudah menulis, bahwa radikalisme ditubuh TNI bukan terjadi saat mereka masih menjadi taruna. Ketika menjadi taruna, ideologi mereka sudah pasti NKRI karena itu merupakan syarat saat perekrutan.
Justru radikalisme di tubuh TNI masuk saat mereka sudah menjadi anggota dan bahkan sudah punya pangkat.
Darimana virus itu mereka dapatkan? Dari terbukanya ruang pendidikan agama yang didapatkan anggota TNI di pengajian, di ceramah dan di para "ustad" yang datang mengajarkan agama padahal dia agen khilafah.
Dan kita tidak bisa menyalahkan TNI ketika paparan radikalisme itu sudah masuk ke mereka.
Bayangkan, dulu siapa yang bisa menolak ketika datang seorang "ustad" yang memberikan siraman rohani ? Pasti disambut baik, karena toh agama itu baik. Tidak sadar bahwa ternyata diantara para "ustad" itu ada yang agen khilafah.
Disanalah proses terjadinya paparan virus radikalisme, bukan disaat mereka menjadi taruna.
Dan semakin tinggi pangkat mereka, ketika bersentuhan dengan politik, para anggota yang sudah mendapat pendidikan khusus ini sangat mungkin berfikir bahwa kelompok radikal bisa mereka jadikan kuda tunggangan untuk masa depan yang lebih cerah.
Jadi jangan kaget ketika kita melihat video lama mantan Jenderal yang bicara tentang khilafah. Bisa saja ia bukan terpapar radikal, tetapi memanfaatkan kelompok radikal untuk kepentingan politik mereka.
Dan saat ini TNI sedang bersih-bersih di dalam tubuhnya, termasuk ruang ruang ceramah agama. Bisa dibayangkan jika terhadap anggotanya saja mereka bersih-bersih, apalagi terhadap taruna yang baru masuk pendidikan.
Sejatinya, mempertahankan Enzo Allie tetap dalam tubuh TNI adalah sebuah kemenangan. Dengan begitu, Enzo yang masih remaja lebih mudah dibentuk ideologinya. Dan pendukung khilafah jadi gigit jari karena salah satu calon terbaik mereka, tidak bisa mereka pengaruhi lagi
Empat tahun pendidikan bukan waktu sebentar. Dan selama 4 tahun itu, dunia luar para taruna akan dibatasi. Mereka hanya tahunya mengabdi pada negeri, dan ideologi ini terus menerus ditanamkan pada benak Enzo Allie sampai ia akhirnya paham bahwa ia pernah berbuat salah ketika menjadi pengusung khilafah.
"Keep your friend close and your enemy closer.." adalah strategi perang terdahsyat yang pernah ditemukan seorang Jenderal perang terhebat pada masanya.
Perang itu pakai strategi, bukan pake emosi. Itulah kenapa saya suka minum kopi. Jadi tidak baperan dan sibuk teriak sana sini.
Kalau baperan, mending minum tuak aja lagi..

Jumat, 09 Agustus 2019

MEMAHAMI RADIKALISME

Radikalisme
Radikalisme
DennySiregar.id, Jakarta - Saya membagi radikalisme itu dalam empat tingkatan.
Tingkatan paling tinggi adalah produsen.
Produsen ini adalah pencipta, penggerak termasuk penyandang dana gerakan radikal.
Ini kelompok kecil yang menciptakan model khilafah untuk kepentingan ekonomi dengan bahasa ideologi. Mereka sudah punya tujuan besar dan jangka panjang dengan dana yang tidak terbatas. Produsen ini bukan hanya perorangan, bisa juga negara. Tujuannya untuk membangun negara khilafah bisa macam-macam, mulai dari penguasaan sumber daya alam sampai jualan senjata.
Tingkatan menengah adalah distributor.
Pendistribusian konsep khilafah ini menarik. Mereka menggunakan banyak elemen mulai "ustad" "ulama" bahkan sampai lembaga donasi dan NGO seperti White Helmet di Suriah. Mereka melakukan perekrutan, pengkaderan sampai penempatan orang-orang mereka yang sudah masuk pada level menengah atau disebut sebagai agen. Distributor ini berfungsi sebagai pihak yang menghubungkan antara Produsen dan agen.
Dibawah distributor ada agen.
Agen-agen ini biasanya kader matang yang sudah mendapatkan pelatihan dan juga pendanaan. Biasanya bajunya agamis dan mentasbihkan diri sebagai tokoh agama. Mereka inilah yang bergerak di lapangan. Infiltrasi kepada lembaga negara termasuk TNI melalui agen-agen ini dan dilakukan lewat pengajian, jumatan dan hal-hal yang berbau keagamaan.
Agen ini biasanya ideologis. Sudah sulit diubah pemikirannya karena merekalah pembawa pesan di lapangan. Tujuan mereka merekrut dan menjual produk agama sebanyak-banyaknya melalui komunitas sekaligus menciptakan jaringan-jaringan di masyarakat, bisa melalui ormas-ormas.
Tingkatan paling bawah dan "paling banyak" adalah konsumen.
Mereka adalah orang-orang awam yang tertarik dengan konsep khilafah melalui propaganda di tempat-tempat ceramah. Pengetahuan mereka tentang agama biasanya minim, karena itu menjadi sangat fanatik.
Saya sebenarnya lebih suka menyebut konsumen dalam konsep ini sebagai korban. Mereka inilah yang disebut sebagai orang yang "terpapar".
Ideologinya terbatas dari ilmu yang mereka dapat dari "ustad"nya atau orang yang digelari "ulama" atau "habib". Ada yang sekedar ikut-ikutan trend, gagah-gagahan dan ada yang juga yang niat awalnya ingin memulai hidup lebih baik dengan konsep "hijrah".
Dalam melawan radikalisme, saya selalu mengajak banyak pihak untuk merangkul para korban ini dan memberikan mereka pemahaman yang benar. Mereka hanya dimanfaatkan oleh pihak tertentu saja karena kekurangan pengetahuan.
Banyak dari mereka yang sebenarnya sudah kembali kepada NKRI melalui gerakan ustad dan ulama yang cinta negeri, juga melalui program deradikalisasi. Mereka punya kesempatan yang sama hanya butuh waktu pendewasaan dalam memahami agama. Kelak dengan pendekatan yang tepat dan pergaulan yang luas, para konsumen ini akan kembali ke masyarakat biasa.
Sebagian lagi malah menjadi militan karena menjauhkan diri dari pergaulan. Mereka inilah yang potensial menjadi pengantin bom bunuh diri.
Membasmi radikalisme akan berhasil jika kita semua memahami tingkatan-tingkatan ini.
Kita hantam habis-habisan tiga tingkat diatas konsumen dan simbol-simbol mereka, dan merangkul para konsumen atau korban supaya tidak menjadi bagian dari radikalisme.
Kalau kita menghantam semua, maka kelak negeri ini akan pecah berantakan karena itu sama saja dengan memerangi saudara sebangsa sendiri.
Semoga paham, teman. Seruput kopinya..

HIJRAH, SENJATA PEMUSNAH MASSAL

Hijrah
Hijrah, Senjataq Pemusnah Massal
DennySiregar.id, Jakarta - Sejak lama saya mengamati konsep "hijrah" yang dilakukan para pendukung khilafah..
Hijrah itu dalam artian sebenarnya adalah perpindahan atau migrasi Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah. Tetapi pada masa kini, hijrah bisa diartikan sebagai dari yang "kurang baik" menjadi "lebih baik".
Hebatnya para pendukung khilafah ini -baik HTI, FPI maupun organisasi agama lain- mereka punya strategi dengan merangkul kelompok masyarakat terbuang, seperti para preman, anggota genk motor, anak punk dan banyak lagi. Mereka berdakwah, mengajak anak-anak muda ini kembali kepada Tuhan.
Selain itu mereka juga mengadakan kegiatan amal seperti program menghilangkan tatto, sunatan massal sampai rukyiah atau pengobatan bagi mereka yang kerasukan. Dan kegiatan itu dilaksanakan secara massif dan serentak, tanpa bayaran.
Lho, tanpa bayaran?
Ya, tanpa bayaran. "Bayarannya dari Allah Subbhana Wa Ta'ala.." begitu kata mereka dengan penuh keyakinan. Dan ternyata kegiatan positif itupun mengundang donasi darimana-mana sehingga mereka bisa hidup dan berkembang.
Di puncak elitenya, mereka merangkul para artis-artis yang sudah redup masanya dan bingung mencari pendapatan untuk keluarga. Artis-artis ini kemudian diajak mempopulerkan konsep hijrah, sekaligus mengkapitalisasi aksesoris yang disponsori oleh brand-brand busana muslim ternama.
Kegiatan yang sudah berlangsung puluhan tahun ini sukses merekrut ribuan anak muda di seluruh Indonesia dalam satu konsep "umat".
Nah, keumatan ini juga akhirnya di kapitalisasi dalam berbagai acara, mulai acara ceramah sampai politik. Jadi anda bisa bayangkan, seorang ustad yang dulu bukan siapa-siapa, akhirnya menjadi besar dan punya jadwal "manggung" sampai tiga tahun penuh berkat jaringan ini.
Jadwal manggung ini berarti ekonomi, dan jika si ustad -juga artis- ini keluar dari barisan mereka, maka runtuh juga ekonomi mereka.
Begitulah secara garis besar model doktrinisasi khilafah -atau sekarang mereka perhalus dengan negara bersyariah- yang mereka lakukan. Ngeri, kan?
Kenapa mereka bisa lakukan itu?
Karena mereka mengambil peluang besar hal-hal yang selama ini tidak diperhatikan negara bahkan oleh ormas Islam besar di negeri ini. Demokrasi memunculkan residu atau sesuatu yang terbuang.
Residu inilah yang dikumpulkan oleh kelompok mereka dan dimanfaatkan untuk tujuan mereka juga.
Dan melihat pola yang sama di Timur Tengah, pemberontakan muncul dari kelas terpinggirkan seperti ini yang terabaikan bahkan tidak dilirik sama sekali oleh kelas menengah mapan.
Dari penjelasan itu, kita bisa melihat bahwa "rangkulan" ternyata bisa menjadi senjata pemusnah massal yang akan menghancurkan negara ini.
Mereka bukan hanya merangkul, tetapi sekaligus membisikkan bahwa negara telah gagal merawat para kaum terbuang dan khilafahlah yang akan merawat mereka kelak. "Mari hijrah.." bisik mereka.
Semakin banyak yang kita buang dan tidak kita rangkul, semakin banyak yang akan menjadi pengikut para pendukung khilafah.
Kita membuang mereka yang kita anggap "bukan bagian dari kita" dan mereka memungutnya menjadikan "bagian dari mereka".
Tanpa kita sadari, kitalah sebenarnya yang menciptakan mereka. Kita bagian dari masyarakat paranoid yang tidak ingin bersentuhan dengan mereka.
Dan kita akan membuang lagi seorang Enzo Allie, hanya karena pernah menjadi bagian dari mereka. Lalu mereka rangkul seorang Enzo Allie, dan mereka bentuk sebagai bagian dari mereka.
Kita bahkan tidak belajar dari lawan, bahwa merangkul seharusnya menjadi senjata utama kita. Kita bahkan tidak memberi kesempatan mereka "hijrah" menjadi bagian dari kita.
Kita yang paranoid dan merasa lebih "benar" dari mereka. Seruput kopinya.

ENZO ALLIE

Enzo Allie
Enzo Allie
DennySiregar.id, Jakarta - Dua tahun lalu, beberapa minggu setelah HTI dibubarkan, saya dan para petinggi Banser NU menghadap seorang Menteri.
Kami dulu khawatir, kemana para kader dan simpatisan HTI yang sudah dibubarkan itu? Kalau tidak ditangani dengan tepat, mereka yang jumlahnya ribuan itu bisa direkrut oleh ormas lain yang lebih militan. Bahkan sangat mungkin menjadi "pengantin" bom bunuh diri.
Dan Banser siap merekrut mereka. Istilah kami waktu itu, di Banser kan. Mereka diajak ikut pelatihan Banser yang keras itu, bahkan akan diberikan keanggotaan.
Apakah Banser takut ketika kader-kader HTI itu masuk anggota maka Banser kelak akan berubah menjadi HTI? Oh, tidak Ferguso. Banser jauh lebih kuat dari itu.
NKRI sudah mendarah daging di anggota Banser. Justru dengan banyaknya teman yang cinta NKRI, diharapkan si kader dan simpatisan HTI yang tidak mengenal Pancasila, akan lebih mengenal bahkan mencintainya.
Enzo Allie itu hanya satu diantara ribuan simpatisan muda HTI yang sebenarnya tidak ideologis. Dia ada karena propaganda kuat HTI di banyak media. Mereka berbeda dengan elit-elit HTI yang sudah sulit diubah. Mereka beda dengan anggota ISIS yang lari ke Suriah.
Lalu, apakah kita harus menghancurkan cita-cita seorang Enzo Allie hanya karena dia pernah memegang bendera hitam, yang jika ditanya detail juga dia hanya mengenal sejarah bendera hitam itu dari HTI saja? Apakah kita harus membuangnya, memusuhinya, dan menciptakan satu musuh lagi hanya karena kita tidak mau merangkulnya?
Ketika kita membuang Enzo Allie, maka ia akan mendendam pada negara. Dan dari dendam itu bukan tidak mungkin ia kelak akan menjadi salah satu teroris yang berbahaya. Daripada menciptakan dendam yang tidak berkesudahan, kenapa tidak merangkulnya, mengenalkannya jalan yang benar lalu mengarahkannya?
Dan TNI adalah organisasi yang tepat. Hanya butuh pengawasan khusus kepada remaja seperti Enzo Allie sebelum ia sadar bahwa negeri ini layak dicintai daripada dimusuhi.
Jika ibunya adalah seorang pendukung Prabowo, so what? Apakah kita juga harus membenci pendukung Prabowo selamanya? Biarkan benci itu milik dia, jangan pindah ke kita. Karena jika kita sama-sama pembenci, apa bedanya kita dengan dia?
Maaf, jika kita berbeda pandangan kali ini..
Meski begitu, TNI harus berterimakasih pada netizen yang sudah membongkar kelemahan perekrutan di TNI. Dari kasus Enzo Allie ini semoga TNI bisa lebih waspada dan mempersiapkan benteng yang lebih kokoh lagi dalam menciptakan pasukan yang cinta NKRI. Salam seruput kopi.

Minggu, 04 Agustus 2019

SAMA BABI TAKUT, SAMA BUKU CEMBERUT

Brigade Muslim Indonesia
Brigade Muslim Indonesia
DennySiregar.id, Jakarta - Entah ada apa dengan Makassar. Mendadak ormas-ormas berbaju agama merasa menjadi polisi syariat dengan menyambangi toko-toko yang tidak sesuai dengan pandangan mereka.
Sebelumnya viral waktu restoran yang menjual daging babi, dipaksa tutup. Yang menutup adalah mereka yang menamakan diri sebagai Aliansi Penjaga Moral Makassar. Kalau lihat dari nama ormasnya, tentu mereka beralasan kalau penutupan itu atas nama "moral". Entah moral siapa dan dari sudut pandang mana..
Setelah berhasil menutup restoran babi, kembali salah satu ormas dengan judul "Brigade Muslim" menyisir buku yang mereka anggap terlarang dan berhaluan marxisme dan komunisme. Gak tanggung-tanggung, mereka menyita buku di salah satu jaringan toko buku besar Gramedia.
Dan hebatnya, ormas-ormas ini berhasil melakukan aksinya tanpa perlawanan sedikitpun.
Tanpa perlawanan? Ya, jelas. Pihak pengelola Mall tempat mereka menutup restoran babi pasrah, pihak Gramedia Makassar juga pasrah. Ya, daripada ribut, biarin aja lah..
Inilah yang mengherankan. Disaat gencar-gencarnya perang terhadap radikalisme, sama sekali tidak ada perlawanan dari masyarakat untuk sekadar melaporkan tindakan yang tidak menyenangkan itu ke polisi.
Para pemilik usaha seperti takut akan kelangsungan bisnisnya kalau nanti jadi rame. Akhirnya mereka membiarkan tindakan ormas yang semena-mena.
Itulah permasalahan terbesar kita. Ketika kaum yang menamakan diri mereka silent majority, bukannya bangkit dan memanfaatkan hukum untuk melawan mereka. Tetapi malah diam dan pasrah, sehingga kelompok seperti itu malah semakin menjadi-jadi.
Kenapa tidak lapor ke polisi ? Apa takut polisi malah berpihak pada mereka?
Ini harus menjadi PR besar polisi Republik Indonesia bagaimana bisa menjamin keamanan orang untuk berusaha, atau mereka yang selalu ditindas atas nama agama.
Pengalaman saya, jika kita takut menghadapi kelompok seperti itu, mereka bukannya bersimpati tetapi justru semakin ganas dan sewenang-wenang. Kesuksesan satu akan dijadikan jalan untuk meraih kesuksesan berikutnya. Dan tanpa sadar, mereka sudah membesar dan memakan semua yang mereka lihat.
Pemberantasan radikalisme di negeri ini banyak yang masih sekadar retorika. Tapi dalam kenyataannya, ormas-ormas itu semakin berani karena tidak ada tindakan hukum pada mereka.
Pemberantasan radikalisme itu harus dimulai dari kepolisian. Berikan jaminan keamanan kepada mereka yang merasa ditindas, dengan menyebarkan nomor khusus yang bisa dihubungi sehingga orang tidak takut melapor lagi.
Dan ketika ada yang melapor, lindungi mereka, jangan malah kompromi dengan kelompok yang merasa menjadi polisi kedua di negeri ini.
Disini kewibawaan aparat dipertaruhkan. Ormas seperti itu, dikasih kaki minta tangan, dikasi tangan minta kepala. Dan kelak mereka akan minta nyawa.
Kalau kita tidak melawan sekarang, percayalah, Indonesia kelak hanya akan tinggal nama.
Seruput kopinya.

Kamis, 01 Agustus 2019

TAKUT SAMA BABI

Babi
Babi
DennySiregar.id, Jakarta - Saya tinggal di Bali selama 2 tahun.. Hampir tiap hari saya lihat teman-teman kantor makan babi. Mulai dari lawar sampai babi panggang. Bukan hanya tulisan "babi" doang yang dipajang, bahkan kepala babinya utuh dihidang di dalam kotak kaca tembus pandang, sehingga kadang-kadang saya suka mengira si babi sedang senyum-senyum senang.
Apakah saya merasa jijik? Tidak. Mereka makan, saya ngopi menemani.
Saya memang tidak makan babi. Dari semua perbuatan haram yang pernah saya lakukan waktu masa jahiliyah dulu, makan babi tidak masuk dalam hitungan. Bukan makan babi aja sih, makan kodok juga gak pernah. Mungkin karena doktrin sejak kecil dan saya tidak pernah mau bertanya kenapa. Ya gak suka gak suka aja.
Sama seperti teman dari Malaysia yang saya tawarin makan bebek, dia langsung lidahnya keluar seperti mau muntah. Padahal uenakk. Tapi yang namanya gak suka, masak harus saya paksa?
Waktu membaca tentang penutupan restoran babi di Makasar, saya jadi ketawa sendiri.
Lha, ngapain sih ? Wong mereka lagi jualan apa yang orang suka kok dilarang. Masak hanya gara-gara kita tidak suka, semua orang dilarang suka. Lagian itu kan di Mall. Babinya gak dipajang sekepala-kepalanya lagi kayak di Bali. Jualannya masih sopan.
Trus salahnya dimana?
Salahnya ternyata ada pada arogansi. Ketidakmampuan menahan diri ketika merasa mayoritas dan kuat, sehingga semua harus sesuai kehendak, itulah yang terjadi. Jadi sebenarnya ini bukan masalah babi, tetapi babi itu simbol yang harus diperangi.
Entar kalau gada babi, ya patung. Gada patung, ya orang ibadah. Pokoknya apapun yang mereka gak enak di hati, semua diusili.
Kadang geli sendiri melihat mereka ini. Katanya imannya kuat, sama babi kok ya kejat-kejat. Kan gak mungkin orang muslim makan disana. Yang makan disana, ya yang makan babi. Simple, kan?
Banyak mereka yang mengaku muslim tapi manja. Puasa puasa sendiri, lihat orang makan minta dihormati. Ibadah ibadah sendiri, lihat orang lain ibadah, sakit hati. Jijik jijik sendiri, usaha orang dipersekusi.
Kalau di sekeliling kita gada godaan yang hebat, lha gimana keimanan bisa menguat?
"Makan babi haram !!"
Tapi pas datang orang ngasih amplop supaya urusan jadi lancar, langsung senyum lebar dengan gigi ompong di depan sambil berkata, "MasyaAllah, memang rejeki itu yang ngatur Tuhan.."
Mau seruput kopi, kok sudah malam.
Pasti kadal gurun sudah pada keluar..

Minggu, 28 Juli 2019

AGAMA MIE INSTAN

Agama
Cara Pandang
DennySiregar.id, Jakarta - Waktu nulis tentang logika "Poligami" dan "72 Bidadari", seperti biasa ada komen yang ruwet..
Tapi lucunya kali ini bukan cuman kadal gurun aja yang gak terima, tapi ada yang Kristen juga. Mereka sibuk mempermasalahkan hal-hal yang mereka anggap tidak sesuai dengan Kitab mereka.
Saya ketawa. Ya jelas antara Injil dan Alquran secara redaksi pasti beda. Rentang turunnya aja sekitar 600 tahunan. Penyampainya juga beda, kultur masyarakat dan daerah yang disampaikan juga beda, tingkat pendidikan mereka juga beda.
Ada yang komen gini, "Ah di Kitab kami tidak ada tuh, surga disampaikan dengan model kenikmatan wanita.." Ya iyalah. Beda masyarakat Yahudi pada masa itu, beda pula masyarakat Arab pada waktu itu. Konsep kenikmatannya juga pasti beda. Kalau sama malah lucu. Berarti tingkat pemahaman seluruh manusia dulu sama dan setara.
Malah aneh jadinya, wong sekarang aja tingkat pemahaman orang yg di kota sama yang di dusun saja sudah jelas beda sehingga cara menyampaikan sesuatu juga beda.
Mencoba membandingkan redaksi antara Injil dan Alquran secara apple to apple, tanpa melihat konteks atau waktu berlakunya, jelas menyalahi logika. Sudah salah melogikakan sesuatu, mengolok-olok pula.
Inilah yang sejak lama jadi biang keributan, terutama ketika saya mengikuti page debat Islam Kristen tahun 2011an lalu. Yang debat gagal paham semua, mencoba membandingkan redaksional kedua kitab tanpa melihat konteksnya. Akhirnya berantem di redaksinya, dan kehilangan esensinya.
Kegagalan logika juga tampak jelas ketika hanya gara2 penafsiran yang salah pada sebagian orang dalam agamanya, dijadikan kesalahan semua pemeluk agama. Bahkan sumber agama itupun dibilangnya salah.
Permasalahan umat beragama sejak lama adalah sibuk mengurusi kitab lain, hanya karena merasa kitabnya lah yang paling benar. Padahal kebenaran di sebuah kitab, belum tentu penganut kitabnya benar. Mengolok-olok ajaran orang lain, tanpa mencoba memahaminya, jelas salah besar. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sombong dan merasa pintar padahal otaknya dangkal.
Tapi lucunya, yang sibuk debat agama, kalau ada link pemersatu bangsa, secara mendadak redaksi mereka pun sama. "Bagi linknya dong.." tidak membutuhkan penafsiran yang berbeda. Semua sama. Sama2 lidahnya menjulur, wajah memerah dan tangan mengepal siap mengocok apa saja yang ada.
Dibutuhkan keterbukaan diri dalam memahami ajaran yang berbeda. Saya sudah terbiasa mendengar pemahaman dalam ajaran yang berbeda, dengan merendahkan diri sehingga ilmu masuk dengan banyaknya.
Itulah kenapa saya lebih senang menulis untuk menyampaikan, daripada berdebat untuk mencari pembenaran.
Seperti secangkir kopi. Mau kopi tubruk, Cappucino, Coffee Latte, tentu mempunyai konsep kenikmatan yang berbeda. Kesamaanya adalah ketika air kopi itu menyentuh lidah, langsung terdengar suara kepuasan atas kenikmatan sesuai yang takaran yang diinginkan.
Seruput.

72 BIDADARI YANG SEKSI

Bidadari
72 Bidadari
DennySiregar.id, Jakarta -  "Pa, gimana caranya buat adek kecil?". Bayangkan pertanyaan itu disampaikan oleh anakmu yang berusia 6-7 tahun. Gimana jawabnya ?
Pasti gagap karena itu ranahnya orang dewasa. Biasanya orang tua langsung mengeluarkan senjata andalannya, "Ah, anak kecil mau tahu aja. Sana belajar yang benar.." dengan wajah cemberut menunjukkan otoritasnya
Kenapa bisa begitu? Karena ketidakmampuan orang tua menggunakan bahasa anak kecil dalam menerangkan. Tidak gampang berbahasa anak kecil bagi orang tua, begitu juga sebaliknya. Ada perbedaan jenjang keilmuan disini sehingga cara menerangkannya berbeda.
Nah, bayangkan ini terjadi ribuan tahun lalu, ketika Rasul ditugaskan di tanah Arab yang orangnya bodoh total, barbar dan jahiliyah. Salah satu gambaran konsep jahiliyah adalah orang Arab dulu suka menguburkan anak perempuannya hidup hidup karena malu. Kalau masalah penggal kepala disana sudah jamak.
Membahasakan kebaikan dan reward apa yang akan mereka dapat ketika berbuat baik, itu bukan tugas mudah. Ya seperti dialog anak kecil dan orang tua tadi. Pertanyaan pasti datang, "Untuk apa saya berbuat baik?" "Lha, trus kalau gua baik, dapat apa ?"
Itu pertanyaan2 yang datang kepada Rasul dan mereka harus menerangkannya dengan bahasa sesuai ilmu sang penanya, bukan sesuai ilmu Rasul yang sudah sejak dari ruhnya mendapat bekal ilmu.
Maka keluarlah analogi-analogi, bahasa pendekatan, ilustrasi atau gambaran sederhana supaya si penanya mengerti. Kalau menerangkan ke anak pasti pake model mainan, karena itu yang mereka suka. Begitu juga kepada orang arab jaman dulu, menjelaskannya pakai bahasa dengan contoh yang mereka kenal dan mereka suka.
Apa yang mereka suka dulu? Ya kesenangan dunia mereka, yaitu wanita. Karena nikmat bagi mereka dulu hanya seks dan seks saja. Pada masa itu, wanita memang hanya jadi "budak" tanpa dibolehkan punya keinginan.
Karena itulah penggambaran reward atau surga, selalu ada bumbu "wanita"nya. Bidadari saja digambarkan sebagai wanita, padahal tidak ada yg tahu bagaimana bentuk bidadari itu. Masih ditambah dengan kulitnya putih mulus dan matanya bulat, karena itulah yang disukai orang Arab jaman jahiliyah.
Jadi, paham kan kenapa ada hadis 72 bidadari?
Itu hanya ilustrasi, bahasa pendekatan supaya mudah dimengerti sesuai tingkat pengetahuan penanya. Dan karena mereka suka dengan penggambaran itu, merekapun mau berbuat baik.
Tentu bagi manusia sekarang itu jadi bahan tertawaan. Tapi bagi zaman dulu itu efektif sekali. Sekarang ini sudah ada bahasa logika untuk mengerti kenapa manusia harus berbuat baik tanpa iming2, karena pikiran manusia sudah maju.
Masak jaman sekarang harus terus diiming2 kengacengan yang haqiqi mulu ?
Sedangkan gambaran surga atau kenikmatan yang akan didapat manusia tentu jauh dari sekedar seks. Lagian lucu aja di akhirat atau dunia non materi masih ada jasad. Jasad itu kan materi. Jadi disini, bagi manusia berpengetahuan tentu akan akan jadi pertentangan berpikir.
Jadi manusia yang pintar tentunya tidak lagi bertanya, "trus kalau lelaki dapat bidadari, yang wanita dapat apa ?" Memangnya ada gender ketika manusia sudah dalam bentuk aslinya, yaitu ruh ?
Siapa yang masih percaya kalau surga isinya seks mulu ? Yaitu manusia jaman now dengan pemikiran seperti arab masa jahiliyah. Karena akal mereka tidak sampai untuk melogikakan sesuatu, akhirnya mereka sibuk mewujudkan kenikmatan dalam bentuk kenikmatan yang ada di dunia ini.
Semoga paham ya temanku yang entunya bediri mulu. Beragamalah supaya kamu jadi manusia, bukan karena ingin sanggama.
Seruput kopinya kalau udah mengerti.

ENAKNYA POLIGAMI

Poligami
Poligami
DennySiregar.id, Jakarta - Malam minggu gini enaknya emang bahas Poligami. Itu karena ada teman yang nanya, "Bang, kenapa poligami dibolehkan dalam Islam ?"
Saya harus sedikit mengoreksi, kalau poligami atau menikah dengan lebih dari satu wanita itu sudah ada jauh sebelum Islam ada. Dan ketika Nabi Muhammad Saw datang menyebarkan Islam, perkawinan lebih dari satu istri itu tidak dilarang, tetapi diatur. Diatur tentu dengan syarat ketat, yaitu adil.
Nah, konsep adil ini sebenarnya untuk memuliakan wanita pada masa itu, catat ya pada masa itu, dimana wanita hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu, produsen anak bahkan sebagai status sosial, semakin banyak selir berarti semakin kaya.
Kita harus pahami bahwa dulu di Arab mereka hidup dengan konsep klan. Kalau pengen tahu seperti apa "klan" ya nonton Game of Thrones.
"Nah, Nabi Muhammad kan berpoligami juga, apa untuk membangun klan juga ?"
Sebelum kesana, harus saya ingatkan dulu bahwa Nabi melakukan monogami selama 25 tahun dengan istri pertama beliau bunda Khadijah. Ketika Nabi berusia 50 tahun, istri tercinta beliau meninggal dunia. Nah, tolong garis tebali dulu ini.
Dua tahun sesudah istri tercinta beliau meninggal, baru Nabi menikahi beberapa wanita lagi sampai beliau meninggal dunia. Dan catat, yang dinikahi Nabi itu sebagian besar adalah janda berusia 40 sampai 65 tahun dengan beberapa anak. Catat, janda ya yang ditinggalkan suaminya karena situasi perang.
Ada juga yang dinikahi beliau untuk memerdekakannya dari budak dan ada yang dinikahi untuk menyatukan kedua klan. Jadi selalu ada alasan strategis berdasarkan kondisi waktu itu, diluar daripada nafsu karena melihat cewe bahenol yang bikin jantung empot-empotan.
"Jadi poligami itu boleh bang dalam Islam ?"
Ya boleh saja tidak ada yang melarang. Istilah kekiniannya "halal", tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Dan syarat utama adalah berlaku "adil".
"Trus, kalau Nabi monogami selama 25 tahun, kenapa kok umatnya malah sibuk nyari istri ketika istri pertama masih ada ?"
Ya itulah. Lucunya mereka bilang itu "sunnah" lagi. Sunnah itu berarti mengikuti segala perilaku dan perkataan Nabi. Jadi seharusnya jika mereka ingin melakukan sesuai yang dilakukan Nabi, ya tunggu istri pertama meninggal.
Mau ngga ? Tentu gak mau, apalagi meninggalnya bisa lama banget. Jangan2 si suami udah meninggal duluan sebelum istri pertama. Bahaya kan ?
Jadi ini sebenarnya hanya masalah kengacungan yang haqiqi, yang dibungkus dengan sunnah supaya semua urusan lancar jaya..
"Emm.. pertanyaan terakhir, abang gak mau poligami??".
Pertanyaan terakhir ini agak aneh, karena penuh dengan emoticon marah. Ku cek dari siapa? Astaghfirullahhhh dari rumah !! Alarm bahaya meraung-raung memekakkan telinga.
"MALAM INI TIDUR DI SOFA ! BESOK CUCI PIRING SEMINGGU!!". Iya mah, iya... Aduhhh pengen seruput kopi jadi gak tega.

Sabtu, 27 Juli 2019

SEMALAM BERSAMA GANJAR

Ganjar Pranowo
Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng
DennySiregar.id, Jakarta - ”Bro, ikut ketemu pak Ganjar yuk..". Ajak seorang teman. Wah, kebetulan. Sudah lama saya kepengen ketemu tokoh yang satu ini. Tapi waktu selalu tidak bersahabat. Dua kali saya undang di acara talkshow seruput kopi, selalu batal di menit terakhir karena memang urusan beliau banyak sekali.
Akhirnya malam itu kami meluncur ke sebuah tempat di Selatan kota Jakarta. Kebetulan pak Ganjar lagi ada di ibukota. Dan kami menunggu dia datang sambil seruput dua ruput kopi bersama anak buahnya. Satu dua tamu datang dari Semarang, kami persilahkan mereka ketemu duluan karena dari jauh. Kami sih asyik asyik aja ngobrol ngalor ngidul tentang dunia politik sekarang.
"Mas, silahkan.. Bapak sudah selesai.."
Ah, akhirnya. Sudah hampir jam 12 malam. Gile juga ni orang, kapan tidurnya nemuin tamu sedemikian banyak?
Akhirnya pak Ganjar turun dari atas kamarnya ke ruang tamu. Pakai kaos hitam dan begitu santai. Senyumnya lebar dan matanya suka berkerling nakal. Pertanda mudanya dulu bandel dan agak jail.
Ternyata kami gak usah kenalan. Dia kenal kami semua lewat tulisan. Tidak ada ice breaking, semua mengalir lancar. Dan seperti layaknya pemimpin, dia mendominasi pembicaraan.
Selama 2 jam pertemuan, luruh semua citra pemimpin daerah yang selama ini selalu lekat dengan jaim, sok kuasa dan kaku. Ganjar Pranowo lebih seperti teman nongkrong di warkop dekat kampus.
Kami ketawa-ketawa, sebenarnya kami mentertawakan banyak keadaan. Dia ternyata lebih nyinyir sebenarnya karena lucu saja melihat perilaku banyak politikus yang sangat beda antara kosmetik di media sosial dan di dunia nyata.
Ganjar termasuk pemimpin yang mencoba menaikkan citra dirinya melalui dunia medsos. Tapi menurut saya dia kurang natural. Ternyata malam itu saya baru dapat jawabannya, karena dia memang lebih senang tampil apa adanya. Tapi karena dia pemimpin daerah dan public figure, dia harus memoles dirinya.
Mirip dengan seorang cewe yang sudah cantik ketika apa adanya, mencoba dandan dengan kosmetik, tapi yang terlihat malah jadi sedikit berlebihan.
Ganjar Pranowo lebih asik jika menampilkan dirinya sendiri, apa adanya. Dari kepalanya tertuang banyak ide tentang bagaimana menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi maju.
Saya menawarkan ide bagaimana jika Jateng mencoba membangun konsep Provinsi Digital? Ini narasi yang menarik ketika Pemprov Jabar sudah mencoba membangun citra sebagai Provinsi halal.
Tidak terasa sudah hampir setengah dua malam. Banyak yang masih ingin kita tertawakan, karena kami lebih banyak ketawanya daripada ngobrolnya. Jadi tahu tipikal-tipikal seperti apa para pemimpin daerah yang notabene adalah temannya juga.
Tapi karena sopan dan kami tahu bahwa besok pagi dia ada pertemuan dengan Presiden, kami pamit pulang.
Dia mengantar kami sampai depan pintu. Hangat. Seperti seorang teman lama mengantar sobat-sobatnya pulang. Dan sampai depan pintu pun kami masih ketawa-ketawa guyon.
Di perjalanan pulang, saya berfikir panjang. Ganjar Pranowo sebenarnya adalah calon pemimpin masa depan. Gayanya pasti disukai emak-emak dan milenial. Ganteng, ramah dan tidak palsu.
Sayangnya, sulit baginya untuk lebih besar dari dirinya yang sekarang. Karena partainya belum tentu merestui dia lebih tinggi dari jabatan dia sekarang. Disini Anies Baswedan dan Ridwan Kamil punya keuntungan karena mereka independen, bisa tampil secantik-cantiknya tanpa risau ada yang merasa tersaingi dgn penampilannya.
Ah, tapi semua kemungkinan pasti sama besarnya dengan ketidakmungkinan. Toh, Jokowi juga bisa menjabat lebih tinggi meski ia ada di suatu organisasi.
Sudah lewat tengah malam. Mata sudah sepet dan lidah sudah merindukan secangkir kopi nasgitel, panas legi dan kuentell...
Seruput.

Jumat, 19 Juli 2019

TOLONG JANGAN GANGGU ANIES LAGI KERJA

Anies Baswedan
Anies Baswedan Naik MRT
DennySiregar.id - Saya kesal juga ngeliat mereka yang gak suka sama pak Anies Baswedan, nyinyir dan protes mulu kerjanya..
Apa-apa yang dia kerjakan dikomentari. Apa-apa yang dia kerjakan diketawai. Ada apa sih dengan kalian ? Apa kalian gak bisa diam aja melihat dia kerja ?
Kalian kira gampang apa menata Jakarta yang segitu luasnya dengan penduduk yang banyak maunya ? Susah tau. Kalian enak, cuman maenan hape aja, terus ketawa-ketawa..
Coba kalian jadi Gubernur, apa bisa kalian lakukan seperti pak Anies Baswedan yang sampe mandi keringat keluarkan IMB untuk bangunan di pulau reklamasi ? Pasti kalian gak akan bisa. Iya, kan ? Cape tau. Mana seribu IMB lagi, kan banyak tanda tangannya..
Kalian juga gak akan kuat waktu Jakarta terima penghargaan sebagai kota ketiga terbaik di dunia. Memang gak cape apa terima penghargaan terus terusan ? Udah gitu yang dipuji2 Ahok lagi. Dimana empati kalian ??
Apalagi polusi Jakarta semakin parah. Coba kalian pikir, gimana solusinya ? Berat tau mikir berbulan-bulan untuk menentukan alat pengukur polusi apa yang harus dibeli, anggarannya darimana. Kalian enak ketawa-ketawa doang.
Apalagi habis dilantik terus harus berpikir keras patung apa yang harus dibuat di bundaran HI.
Sesudah dibangun patung bambu, harus berpikir lebih keras setahun lagi gimana cara bongkarnya. Kalian sanggup berpikir gitu ? Gak akan sanggup. Itu hanya pak Anies yang mampu berpikir seperti itu..
Lah terus kalian bilang pak Anies Gubernur penata kata. Emang kalian kira menata kata itu gampang ?? Sulit tau. Harus benar tertata kata-kata yang bagus supaya bisa diterima orang banyak.
Seperti "rumah sewa" jadi "rumah dp 0 rupiah". Lah, itu mikirnya aja lamaaa. Gak gampang bikin kata-kata itu.
Terus menemukan kata "naturalisasi" sebagai pengganti kata "normalisasi" sungai, itu butuh bertapa berminggu-minggu untuk bisa dapat kata sebagus itu tau. Apalagi banjirnya gak bisa diajak bicara untuk menemukan solusi yang tepat. Banjir kok sombong amat..
Pokoknya, biarkan pak Anies studi banding dulu. Toh baru dua tahun menjabat. Jangan ngomong seenaknya kerja, kerja, kerja. Lha sebelum kerja kan harus mikir, mikir, mikir...
Itulah kenapa balai kota harus ditutup gorden. Sepet tau liat wajah kalian yang sinis mulu. Kayak kecakepan. Dasar 44 persen. Nyadar diri apa..
Udah. Gua pokoknya sekarang mau muji-muji pak Anies, Gubernur rasa Presiden.
Senang liat beliau selalu tersenyum ramah. Apalagi kalau pas di jalan raya, ribuan warga pasti menyerbu dia, minta selfie rebutan seperti bintang bollywood ternama, sambil teriak-teriak, "Ahok.. ahok.."
Lho, kok pada teriak Ahok, bang ?
Mungkin warga lupa. Biasalah warga lebay, lagian toh sama2 huruf pertama ada A nya.. Gitu aja kok jadi masalah..
Ya kan, pak ? Seruput dulu kopinya..

Artikel Terpopuler