Jumat, 23 Juli 2021

HATI-HATI, MEREKA MULAI MAINKAN DEMO LAGI

HATI-HATI, MEREKA MULAI MAINKAN DEMO LAGI
Ilustrasi Demo
Saya sudah mendengar desas desus untuk menurunkan Jokowi disaat pandemi ini, sudah lama..

Sejak awal pandemi dan mereka memaksa lockdown, saya sudah memprediksi bahwa seruan lockdown itu hanya jebakan saja. Lockdown akan membuat ekonomi kita terjerat dan yang kena dampak langsungnya adalah rakyat kecil. Dan rakyat kecil yang lapar ini akan digerakkan untuk melakukan demo besar yang ujungnya adalah keributan.

Pemaksaan lockdown itu bukan karena mereka peduli kesehatan. Bukan. Tapi hanya strategi utk bisa memainkan langkah politiknya. Mereka tau, kalau masalah banyak yang mati kena Covid, rakyat tidak akan bisa diajak bergerak. Tapi kalau sudah urusan perut, hmm.. sulut saja apinya. Kebakar semua.

Catat aja, partai mana yang diawal-awal sibuk dengan teriakan lockdown. Itulah ularnya..

Dan disaat PPKM darurat ini, mereka mulai lagi memainkan genderangnya. Ramai ajakan untuk turun ke jalan menolak PPKM darurat. Mereka nanti akan menyamar jadi mahasiswa, driver ojol, jadi pedagang kaki lima, jadi rakyat kecil yang lapar dan butuh makan. Tapi mereka itu sebenarnya adalah gabungan dari HTI, FPI, oposisi dan pengangguran yang suka keributan karena dibayar seperti kelompok Anarko.

Perhatikan pola mereka. Demonya akan berlangsung di Jakarta. Tapi pesertanya biasanya bukan orang Jakarta, tapi orang yang dimobilisasi dari kantung-kantung radikalis di daerah Jabar.

Jadi hati2 para pedagang kecil, jangan mau dimanfaatkan nama kalian oleh mereka. PPKM akan dilonggarkan tanggal 26 Juli nanti, dan sudah bisa gerak mencari uang lagi meski belum sesempurna waktu belum ada pandemi.

Sebarkan berita ini kepada orang terdekat, di wa grup keluarga,  supaya jangan mau diprovokasi untuk turun ke jalan menolak perpanjangan PPKM darurat. Percayalah, dibalik demo penolakan itu, mereka sudah menyiapkan agenda licik yang sebenarnya, yaitu "Turunkan Jokowi.."

Seruput kopinya..

Selasa, 13 Juli 2021

Surat Untuk Pak Jokowi

PPKM
PPKM
Malam ini saya gak bisa tidur.. Baru saja saya membaca ada rencana pemerintah ingin memperpanjang masa PPKM darurat menjadi 6 minggu. Dan rencana itu sedang digodok, kemungkinan akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Saya setiap hari aktif di medsos. Dan disana, selain berita kematian, saya juga sering membaca teriakan2 kawan yang sudah tercekik lehernya karena ekonomi mereka sudah hancur parah. Beras habis, listrik gak mampu bayar, tidak ada kerjaan, gak bisa jualan, ngaspal gada penumpang dan banyak lagi yang sulit saya ceritakan.

Belum lagi kalau saya baca DM saya. Banyak banget yang minta bantuan bahkan untuk makan. Trenyuh rasanya hati ini. Tapi harus bagaimana, saya bukan Superman.

Dan saya khawatir malam ini, betul-betul khawatir. Kalau PPKM darurat dilaksanakan 6 minggu lagi, rakyat kecil bisa gak tahan. Rakyat kecil lho ya, bukan rakyat kelas menengah apalagi kaya yang tiap bulan masih gajian. Rakyat kecil ini bekerja di sektor informal yang pendapatannya harian. Tiap hari pendapatan mereka berkurang. Dan adanya PPKM yang mirip lockdown ini, benar2 menghajar mereka sampai pingsan..

Pak Jokowi, malam ini saya meminta jika bapak bisa membaca tulisan ini, tolong PPKM darurat tidak diperpanjang. Kasihan orang2 kecil, pak. Mereka harus makan. Anak2nya kelaparan. Sudah berbulan2 mereka sabar dan nerima, jangan ditambah lagi penderitaan mereka. Memperpanjang PPKM darurat sama saja dengan membunuh mereka pelan-pelan.

Jangan terlalu didengarkan kelas menengah dan kaya yang sibuk teriak tentang ketakutan. Perut lapar itu bisa menakutkan, pak. Ketika ribuan perut lapar turun ke jalan, negara ini bisa chaos. Apa kepikir kalau ada yang ingin menunggangi situasi ini, pak ? Mereka yang terus mendesakkan supaya PPKM darurat diperpanjang, tapi punya maksud dibelakang supaya orang lapar berontak dan melawan.

Sudahlah, pak Jokowi. Sudahlah, pak. Beri nafas mereka yang sudah setahun lebih berkelahi dgn situasi. Covid tidak menakutkan buat mereka, tapi perut tidak mungkin tidak terisi. Longgarkanlah ikatan ini. Sesak sudah dada, pak.

6 minggu bukan waktu sebentar, pak. Banyak yang sudah tidak tahan lagi. Termasuk mereka yang terus menerus di garda depan membela kebijakan bapak mati-matian.

Pikirkanlah lagi, pak. Jangan sampai satu keputusan, berdampak serius ke depan. Semoga kita semua baik-baik saja dan tidak gampang termakan hasutan..

Salam secangkir kopi pahit ini.

Bantu sebarkan supaya tulisan ini sampai ke gedung istana, tempat para pembuat kebijakan yang mungkin tidak mengerti situasi di lapangan karena terlindungi oleh dinginnya AC ruangan..

Dokter Sakit Jiwa & Kadrun Jiwanya Sakit

dr Louis ditangkap
dr Louis ditangkap
Di sekitarku banyak banget yang gak percaya adanya Covid..
Lebih seram lagi, mereka menganggap Covid itu adalah konspirasi elit global. Dan lebih gila lagi, mereka anggap vaksin itu ditanami mikrochip supaya bisa memantau semua kegiatan mereka.

Saya cuman ketawa-ketawa aja kalo dengar teori2 konspirasi mereka. Yang lucunya, banyak dari mereka yang dulu juga percaya kalo Dimas Kanjeng bisa gandakan uang, Ningsih Tinampi bisa ngusir jin, Ratna Sarumpaet digebukin orang dan Sugik Nur adalah ustad !

Mereka percaya hal-hal seperti itu, tapi gak percaya kalau Covid itu wabah, mirip dgn wabah flu Spanyol di tahun 1918 yang merenggut nyawa 100 juta orang.

Saya sih gak perduli ya dengan orang yang tidak percaya Covid. Itu hak mereka sesuai dgn level kualitas pemikiran mereka. Tapi kalau ketidakpercayaan mereka itu mereka propagandakan dan membuat kebingungan banyak orang awam, itu beda masalah. Itu provokasi namanya. Dan provokator, disaat negara sedang perang dgn pandemi seperti ini, wajib ditangkap.

Jadi ditangkapnya dokter Lois, ahli kecantikan yang juga ngaku ahli virus sedunia, itu berita bagus. Kenapa ? Karena ada gelar dokter yang melekat padanya. Gelar itu bukan main-main, karena ada tanggung jawab moral padanya. Dan ketika dia bersuara, dia mewakili label didepan namanya. Bahaya. Dia membuat awam yang bukan dokter jadi bingung, mana yang benar ?

Sebenarnya, mudah melihat apakah dia benar2 dokter atau benar2 ustad. Jangan lihat gelarnya, tapi lihat kualitas ucapannya. Seorang ustad, namanya pengajar, pasti mengerti bagaimana bersikap karena penuh dgn ilmu agama. Tapi kalau ada ustad yang misuh2 jancuk, matamu picek, wah itu jelas bukan ustad. Mau dikasih gelar Gus ataupun Kyai, perilakunya jelas menunjukkan dia gak pantas.

Begitu juga si dokter Lois. Saya ketawa kalau baca status2nya, seolah hanya dialah dokter yang hebat sedunia. Bahkan mau bubarkan IDI segala. Dia bahkan halu bilang kalau Covid itu disebarkan lewat pesawat udara. Gila, kan ? Dari sini saja kita tahu kalo dia tidak ilmiah, lha kok banyak banget yang percaya hanya karena ada gelar dokter di depan namanya ??

Untung dia segera ditangkap. Kalau tidak, pemerintah akan sibuk hanya untuk melayani dokter dengan gangguan jiwa. Dan kalau tidak ditangkap, provokasinya itu akan mengganggu penanganan di lapangan.

Tapi dari kasus dokter Lois, saya lebih ketawa lagi. Dia itu sepertinya keturunan Tionghoa dan Kristen, lha kok yang percaya ma dia lebih banyak kadrunnya yang biasanya lidahnya enteng bicara kopar kapir itu ??

Tapi ya memang begitulah mereka. Wong Rocky Gerung yang atheis dan bilang kitab suci adalah fiksi itu dinobatkan sebagai ustad. Gak penting buat kadrun, yang penting orang2 itu berseberangan ma pemerintah, maka dia wajib dipuja-puja, kalau perlu dibuatkan patung segala dan disembah..

Benar juga kata Rasulullah Saw sebelum beliau wafat, "Umatku akan banyak di akhir jaman, tapi mereka seperti buih di lautan.."

Buih yang tidak pake logika, seperti kerbau dicucuk hidungnya, bodoh dan bebal juga egois tingkat dewa. Mereka akan tersapu ombak besar di akhir zaman, terkurung oleh kebodohan mereka sendiri yang gampang ditipu orang..

Seruput kopinya..

Senin, 28 Juni 2021

Pemuja Khilafah di Sekitar Kita

Pemuja Khilafah di Sekitar Kita
M. Rosyid, Dosen ITS
Beredar di timeline saya, sebuah berita dengan judul "Rezim manfaatkan Covid-19 sebagai senjata pembunuh massal untuk kepentingan politik".

Dan dibawahnya ada foto seorang Guru Besar dari Universitas negeri di Surabaya ITS, Daniel M Rosyid. Ternyata dia yang menyatakannya. Ah, kayaknya saya tahu wajah dan nama orang ini.

Nama Daniel M Rosyid muncul ketika pemerintah Jokowi mengumumkan HTI sebagai organisasi terlarang di Indonesia tahun 2017. Ketika HTI digebuk itu, bermunculan lah pentolan-pentolannya yang ternyata adalah kaum intelektual di perguruan-perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Daniel M Rosyid kala itu membela HTI dengan bilang kalau pembubaran organisasi itu adalah upaya utk membungkam kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat. Pernyataannya viral dan ITS didesak untuk memecat Daniel M Rosyid.

Daniel M Rosyid bersama 2 orang dosen lainnya, lalu dipanggil rektor untuk klarifikasi, "Apakah kalian bagian dari HTI??" Mereka kabarnya membantah dan akhirnya menandatangani pernyataan bahwa mereka bukan bagian dari HTI.

Tapi lucunya, meski tidak mengaku bahwa dirinya bagian dari HTI, di sebuah media Daniel M Rosyid -Guru Besar ITS itu- mengaku sebagai pendukung Khilafah.

Aneh, ya?

Jadi saya gak heran dengan pernyataan Daniel M Rosyid itu. Sejak lama dia memang terlihat anti dengan pemerintahan ini, meski juga cari duitnya di instansi pemerintah. Gak konsisten. Kalau gak suka, mending berhenti aja dan berbuat seperti para anti riba yang akhirnya keluar dari bank dan wirausaha.

Orang-orang seperti ini banyak banget di instansi pemerintahan, akibat dari pembiaran di pemerintahan masa lalu. Mereka adalah kaum intelektual, terpelajar dan sudah melalui proses pengkaderan sejak mahasiswa dan disebar ke banyak instansi pemerintah utk menjabat disana. Dan kampuslah tempat pengkaderan itu. Karena itu, jabatan seperti dosen, guru besar bahkan rektor di kampus adalah posisi strategis sebagai perekrutan.

Saya sih setuju, kalau misalnya tes Wawasan Kebangsaan seperti yang sudah dilakukan di KPK diberikan juga ke dosen-dosen di kampus negeri. Penting itu, untuk menjaga para mahasiswa di negeri ini supaya bersih dari paham radikal dan Khilafah. Jika mereka ada di pemerintahan, sejatinya mereka harus satu barisan dengan kebijakan pemerintah, bukan malah jadi penentang utama.

Itu seperti duri dalam daging..

Gak mudah memberantas paham Khilafah ini, karena yang terpapar bukan hanya masyarakat kelas bawah, bahkan sudah masuk ke posisi selevel Guru Besar di Universitas-universitas negeri kita. Mereka seperti ular, yang menunggu kapan saat yang tepat untuk mematuk dan menyebarkan bisa.. Seruput kopinya..

Jumat, 04 Juni 2021

Kenapa KPK Harus Dibersihkan?

foto Tempo, Ketua KPK dan Jokowi
Foto Tempo, Ketua KPK dan Jokowi
"Pak Jokowi kecewa sekali dengan KPK.."

Begitu seorang teman cerita di warung kopi siang tadi. Saya sendiri lagi penasaran dengan langkah-langkah yang dianggap melemahkan KPK. Dan berita ini terus digoreng oleh mereka yang tidak puas ada pembenahan di dalam KPK.

"Kenapa?", Tanya saya.

Dia cerita. "Anggaran KPK itu besar sekali. Sekitar 1 triliun rupiah setiap tahun. Tetapi tidak membuat korupsi berhenti. Yang ditangkap cuman teri, tapi sinetronnya berseri-seri. Ada yang salah dengan KPK selama ini.

KPK itu singkatannya Komisi Pemberantasan Korupsi. Yang dimaksud "Pemberantasan" itu ada dua, yaitu pencegahan dan penangkapan. Tapi yang selama ini dilakukan hanya penangkapan saja. Kenapa? Karena penangkapan itu seksi, diliput berita dan dijadikan panggung oleh orang-orang KPK yang sedang cari nama.

Ada juga yang cari makan disana atas nama penangkapan. Mereka memeras orang dan perusahaan yang terduga korupsi. Baru terduga saja, belum terbukti, tapi udah keluar duit miliaran rupiah. Siapa yang gak takut ma KPK? Mereka dulu dianggap malaikat. Siapapun yang dituding KPK, otomatis orang itu jadi tersangka.."

Ah, baru dapat saya jawabannya. Dulu saya bertanya, kenapa pak Agus Rahardjo yang tidak punya background hukum sama sekali malah bisa jadi Ketua KPK?.

Agus Rahardjo adalah pendiri Lembaga Kebijakan dan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah atau disingkat LKPP. Dia berhasil mereformasi pelayanan publik dengan sistem e-catalogue. Sistem yang dibangun Agus Rahardjo ini dapat pujian dari Ahok, waktu masih jadi Gubernur DKI. Dengan sistem itu, tidak ada lagi pembelian barang di pemerintahan yang bersifat individu. Semua by sistem sehingga gampang dikontrol dan meminimalisasi korupsi pengadaan barang dan jasa.

Jadi itu maksudnya pak Jokowi menunjuk Agus Rahardjo jadi ketua KPK. Supaya mereformasi sistem KPK seperti yang dilakukannya di pemerintahan. Jokowi ingin KPK fokus pada "Pencegahan" korupsi, bukan hanya penangkapan.

Tapi, ya itu, orang-orang lama di KPK gak mau kehilangan zona nyaman mereka. Mereka tetap sibuk menangkap teri, karena ada pendapatan disana. Kalau ada sistem, kan gak bisa "Cari makan lagi". Orang-orang itu ada di Wadah Pegawai KPK. Siapapun ketua KPK, harus tunduk pada serikat pekerja disana. Karyawan yang atur bossnya. Ngeri, kan?.

Itulah kenapa ada revisi UU KPK. Itulah kenapa ada TWK. Supaya bisa memberantas korupsi, internal KPK harus bersih dulu dari pelaku koruptor. Gimana bisa korupsi diberantas, kalo penegak hukumnya korupsi. Sudah terlalu lama KPK dijadikan sarang pemerasan, sarang politik, sarang ideologi dsbnya.

Itulah gunanya Firli Bahuri. Dia jadi buldozer terdepan untuk membersihkan KPK yang sudah terlalu lama kotor selama ini. Membersihkan tikus harus dengan tangan besi. Hanya polisi yang bisa melawan mantan polisi.

KPK ke depan, diharapkan bisa membangun sistem pencegahan korupsi. Sehingga orang mau korup gak bisa, karena sistem menghalangi mereka. Bukan cuman ditangkapin doang. Yang ditangkap 1 orang, yang masih bisa korup 1000 orang, sama aja boong.

Jadi mengerti saya. Keren juga caranya. Ah, pakde. Pantas engkau jadi Presiden dua periode. Caramu aduhai sekali. Semua bidak ditaruh ditempatnya, dan pada saat yang tepat, SKAK MAT ! Selesai semua..

Itulah yang dia sebut ingin memperkuat KPK. KPK bukan diperlemah, justru hendak dikembalikan ke jalur yang sebenarnya. Jadi pengen angkat secangkir kopi.. seruputtt.

Minggu, 23 Mei 2021

Ganjar Pranowo Mengulang Kisah Jokowi

Ganjar Pranowo Mengulang Kisah Jokowi
Foto Puan Maharani dan Ganjar Pranowo
"Jokowi tidak akan jadi Capres!". Begitu perkataan tegas almarhum Taufik Kiemas, tokoh besar PDIP di tahun 2013. Disaat itu Jokowi baru saja jadi Gubernur Jakarta dan muncul desas desus bahwa dialah calon terkuat untuk menjadi Capres 2014, karena suara Megawati setiap survey selalu dibawah Prabowo.

Memang bukan sesuatu yang umum waktu itu, seorang kader partai jadi Capres, karena Capres itu wilayahnya ketua partai. Apalagi di PDIP, dimana seorang capres haruslah dari trah Soekarno. Jokowi bukan, dia hanya orang biasa yang ideologinya sangat Soekarno, bukan biologisnya.

Tapi mau gimanapun PDIP menghalangi Jokowi, namanya terus naik. Dalam setiap survey, nama Jokowi selalu unggul dibandingkan Prabowo. Ini yang bikin elit PDIP gelisah luar biasa. Seperti buah simalakama, gak nyalonin Jokowi bisa2 PDIP kalah, nyalonin Jokowi trus gimana perasaan bu Mega?.

Untunglah di detik2 terakhir bu Mega sangat rasional dan berbesar hati. Jokowi dicalonkan jadi Capres 2014 dan terbukti menang. Dua periode malah. PDIP akhirnya sadar, bahwa zaman sudah berubah. Orang melihat figur atau sosok, bukan lagi partai. Jokowi menyelamatkan PDIP dari kekalahan, seandainya mereka dulu memaksakan Megawati maju perang.

Situasi yang hampir mirip terjadi lagi..

Tiba-tiba terdengar kabar kalau PDIP dibawah kendali Puan Maharani, mencoba menyingkirkan Ganjar Pranowo Gubernur Jateng dari kemungkinan menjadi Capres 2024. Ganjar tiba-tiba dimusuhi, bahkan tidak diundang di acara Puan di Jateng. Dalam surat undangan itu semua perwakilan dan kepala daerah di Jateng diundang ke acara, kecuali Gubernur.

Ada apa?

"Ganjar terlalu ambisi jadi Presiden.." kata Bambang Pacul, ketua pemenangan PDIP yang juga ketua DPD PDIP Jateng. Alasan lain yang lebih lucu dinyatakan Bambang, "Ganjar terlalu sering main medsos, bahkan mau aja diundang jadi host di Youtube.."

Ini alasan kocak sebenarnya, lah kenapa emang kalo Gubernur menjalin komunikasi dengan rakyatnya lewat medsos? Inikan memang jaman digital? Yang salah itu, kalo seorang Gubernur gaptek gak ngerti teknologi. PDIP langsung terasa jadoelnya dengan pernyataan itu. Berasa sebagai partai di jaman purba di kalangan milenial yang hidupnya ada di internet.

Bambang Pacul seperti mengulang kesalahan almarhum Taufik Kiemas. Semakin dihalangi, malah nama Ganjar Pranowo semakin melejit. Sebelum diributkan saja, survey terakhir dari SMRC nama Ganjar ada diatas Prabowo dan Anies Baswedan. Nama Puan jauh dibawah. Halo, ini kenyataan pahit memang tapi harus ditelan. Puan belum laku dijual, jangan dipaksakan..

Tapi saya kok jadi senyum-senyum sendiri baca pola berulang yang hampir tidak disadari. Siapapun yang digencet PDIP, ndilalah malah jadi Presiden.

Bu Mega memecat SBY, SBY malah jadi Presiden. Almarhum Taufik Kiemas menghambat Jokowi, Jokowi malah jadi Presiden..

Jangan-jangan ketika Ganjar disingkirkan Puan, Ganjar malah yang jadi Presiden?

Kalau saya jadi pemimpin partai selain PDIP, saya sih senang Ganjar Pranowo dihajar di internalnya. Karena buat saya emas tetap emas meski dia dibuang ke tempat sampah. Lebih baik saya lamar dia, dan saya memposisikan diri jadi Cawapresnya. Biar PDIP nanti manyun karena gada barang yang bagus untuk ditawarkan..

Takdir Tuhan gak bisa ditentang manusia. Kalau Tuhan memang merencanakan seseorang jadi pemimpin, mau dibuang-buang juga tetap akan jadi.

Ada juga yang nafsu banget pengen jadi Presiden. Uang ada. Nama ada. Kendaraan ada. Jaringan ada. Tapi berkali-kali nyapres, gagal maning gagal maning..

Ahhh jadi pengen seruput kopi..

 

Jumat, 14 Mei 2021

Sebatang Rokok Menjelang Tidur

Ilustrasi Kekayaan
Ilustrasi Kekayaan
Jadi teringat seorang teman..
Teman ini kalau cerita bisnis gada yang kecil. Harus ada judul miliarnya lah. Itu untungnya doang, belum nilai bisnis sebenarnya. Saya sempat tergoda dan ikut dia, "Hehe siapa tau dia benar.."

Dan mulailah petualangan mencari uang. Yang dicari memang uang, karena buat kami dulu uang adalah segalanya. Uang adalah tujuan, yang lain cuman kendaraan saja.

Ada yang goal dan hidup berlimpah ruah. Namanya anak muda pegang uang banyak, ya tersesatlah. Sudah sombong, kerjaannya pamer materi kemana2. Butuh pengakuan, karena nilai diri diukur dari banyaknya materi. Ya gimana lagi ? Cuman itu caranya biar diakui.

Karena terlalu berani, jatuh juga kita. Sakit rasanya dan butuh proses survival sekian lama. Dari plus jadi minus. Tetapi ternyata saat minus itu, muncul pemikiran baru. Bahwa uang memang banyak, tapi jiwa sejatinya kosong. Ada yang hilang di sudut terdalam diriku, yang aku juga ga tau apa.

Dari minus itulah, baru kutemukan passionku. Aku suka dengan apa yang kulakukan. Kesukaan ini menjadikan apa yang kukerjakan jadi seperti bermain. Gada beban kerja disana, yang ada selalu ingin hari cepat berlalu biar segera bisa memulai kesukaanku.

Karena suka dan terus konsisten dibidang itu, aku jadi profesional. Dan profesionalitas itu terbayar dengan uang. Ah, ini ternyata yang dulu hilang. Eksistensi diri. Aku diakui bukan karena materi, tapi karena apa yang kuberi. Uang ternyata bukan tujuan. Ia hanya dampak dari apa yang kukerjakan dengan rasa kesukaan.

Satu waktu bertemu lagi dengan temanku ini. Dan dia tetap pada mimpi yang sama, tidak berubah sama sekali. Bicara miliaran rupiah, tapi minta ketemunya di restoran fast food yang bayar sendiri2. Dia terjebak dalam mimpi indahnya, tanpa pernah bisa keluar dan menemukan jati diri. Dia bingung dengan dirinya, dan obatnya hanya mimpi.

Dari situ aku belajar, hidup itu sejatinya tentang pencarian siapa diri kita. Jika sudah menemukannya, setiap waktu pasti akan berisi. Ada yang hidup senang dgn angka, ada yang senang dengan bertani dan aku hidup dgn kreasi.

Udah lewat mimpi punya mobil Supercar itu, karena toh seperti cewe cantik, kalo udah bersama terus lama2 rasanya sama aja. Yang beda cuman gengsinya. Dan gengsi tidak pernah ada wujudnya, hanya nilainya saja yang makin lama makin bertambah..

Aku sekarang membantu temanku menemukan dirinya kembali. Menyadarkannya bahwa usaha itu seperti naik tangga, kita mulai dari anak tangga terbawah. Karena kalau tiba2 ingin loncat langsung ke anak tangga ke lima, jatuhnya sakit sekali. Tidak ada yang instan, semua butuh pengorbanan. Justru prosesnya itulah yang menjadikan kita kaya.

"Kekayaan terbesar itu sejatinya adalah rasa cukup.." begitu kata Imam Ali. Tanpa ada rasa cukup, hidup akan penuh dengan konsep mengukur dan diukur. Ketika bertemu yg lebih kaya, kita rendah diri dan ketika ketemu yg lebih susah, kita berbangga diri. Disitulah kita kehilangan jati diri..

Udah malam. Udah gak lagi seruput kopi. Tapi sebatang rokok bolehlah, sebelum tidur sampe pagi..

Bisnis Monyet

Ilustrasi Binsis Monyet
Ilustrasi Bisnis Monyet
Oh, ternyata ada yang belum paham istilah "monkey business" atau bisnis monyet..

Oke, saya coba sederhanakan ya. Istilah monkey business ini berawal dari sebuah cerita legenda..

Di sebuah desa yang banyak monyetnya, tiba2 ada seorg pengusaha kaya yang ingin beli monyet. Dia kasih pengumuman, "Saya mau beli monyet harga 100 rupiah/ekor.." Orang desa bingung, lha ngapain beli ? Kan di desa ini banyak monyetnya ? Tapi karena tergiur duit, mereka tangkepin tuh monyet dan ditukar 100 rupiah/ekor. Penduduk desa kaya.

Tapi lama2 monyet di desa itu habis. Karena langka, si pengusaha bikin pengumuman baru, "Karena langka, harga monyet saya naikkan jadi seribu rupiah/ekor.." Habis bicara begitu, si pengusaha pergi.

Orang2 pun makin ngiler, "Gila, harga monyet jadi seribu. Gua bisa kaya, nih !!" Begitu pikir mereka. Tapi cari monyet susah banget.

Mendadak ada yang dekatin para penduduk desa. Dia ini sebenarnya asisten si pengusaha. Dia bisikin ke telinga orang2, "Gua punya banyak monyet nih. Mau gak lu beli harga 500 rupiah/ekor ? Entar lu jual ke pengusaha seribu. Lu kan dapet untung 500 rupiah/ ekor ?"

"Mau, mau.." Kata penduduk desa. Mereka pun beli monyet dari si asisten seharga 500 rupiah, padahal itu monyet yang dulu dikumpulkan si pengusaha dan mereka jual 100 rupiah/ekor.

Sesudah monyet habis dijual, si asisten pun ngilang. Penduduk desa nungguin si pengusaha yang mau beli monyet yang tidak pernah datang. Sampe akhirnya mereka sadar, mereka tertipu dan rugi 400 rupiah/ekor. Maunya untung, jadinya buntung.

Itulah asal mula cerita "monkey business". Bisnis isu yang memakan korban mereka yang gelap mata. Ini bisnis udah tua banget umurnya.

Kejadian paling fenomenal ada di tahun 1636, di Belanda, ketika bunga tulip dianggap bisnis yang bisa bikin kaya instan. Banyak orang hancur hidupnya karena invest di tulip ini.

Mereka beli tulip diharga tinggi, karena terpengaruh isu tulip kelak harganya selangit. Udah gitu, mereka ga pernah pegang bunga tulipnya. Yang mereka pegang cuman kertas berisi pernyataan, "Anda pemilik sekian buah bunga tulip seharga sekian gulden.."

Peristiwa ini selalu jadi acuan ketika ada bubble, atau bola pecah, dari bisnis yg dipromokan setinggi langit tapi nilainya ternyata gak ada.

Ada yang untung dari bisnis ini ? Banyak juga. Mereka yang beli monyet diharga tengah dan exit ketika udah dapet cuan lumayan. Mereka ini pintar, ikut gelombang isu tapi gak serakah. Mereka tahu, bahwa ketika bola semakin besar saat diiisi angin terus menerus, pasti kelak akan pecah juga.

Yang rugi ? Jauh lebih banyak dan akhirnya menerima dengan pasrah, "Sudah takdir, mungkin gak untung di bisnis ini.." Biasanya cuman ikut2an dan supaya gak dibilang, "gak gaul lu ah.."

Seruput kopinya?

Jualan Monyet Ala Elon Musk

Jualan Monyet Ala Elon Musk
Bitcoin
Saya ditanya seseorang tentang investasi di mata uang digital atau ngetop dengan nama kerennya Cryptocurrency..

Dia cerita kalau dia bingung mau usaha apa, dan mau menginvestasikan sisa uangnya ke Crypto. Saya bilang, "Jangan.." Dia nanya, "Kenapa ? Apa Crypto jelek ?"

Bukan, kata saya. Tidak ada bisnis yang jelek. Yang jelek cuman kemampuan dirimu, ketika kamu tidak paham peta bisnis itu. Bisnis itu punya nyawa, dan kamu harus taruh jiwamu didalamnya.

Sejak awal saya sudah peringatkan, hati2 main di Crypto. Apalagi buat pemula. Uang digital itu tidak punya bisnis yang jelas. Naik turunnya nilai uang bukan karena kinerja usaha, tapi karena isu saja. Mirip monkey business yang dimainkan secara global.

Sebagai contoh Bitcoin. Awalnya banyak yang meragukan Bitcoin, sampe Elon Musk masuk kesana. Elon Musk - lewat perusahaan Tesla - beli Bitcoin. Gak tanggung2, Tesla beli dengan nilai total 21 triliun rupiah. Bitcoin yang tadinya lesu, langsung bergairah. Nilainya meroket tinggi, karena akhirnya jadi barang langka. Apalagi Elon Musk janji nanti Bitcoin bisa jadi uang pembayaran utk beli mobil Tesla.

Media2 mengabarkan berita ini. Ahli2 keuangan bicara ini. Dan timbullah panic buying. Harga bitcoin semakin meroket. Tinggi banget sampe gak rasional lagi. Tau berapa keuntungan Tesla dari Bitcoin itu ? 1,4 triliun rupiah dalam beberapa bulan. Darimana keuntungan Tesla ? Ya, dia jual bitcoin yang tadinya dia beli seharga misalnya 100 rupiah, dengan harga baru 1 juta rupiah. Cuan gede, kan ?

Inilah bisnis isu. Pasar dipengaruhi oleh isu. Bahwa nanti kamu akan untung ribuan persen kalau beli bitcoin, padahal yang ditawarkan nilai belinya sudah tinggi banget. "Elon Musk aja invest, masa kamu ngga ? Payah lu, gak gaol.." begitu sering kudengar.

Ya, buat Elon Musk bitcoin itu maenan doang. Hartanya dia 2.600 triliun. Invest 21 triliun utk beli bitcoin cuman kurang dari 1 persen duitnya. Mau hilang juga, dia gak perduli. Nah elu, duit cuman beberapa lembar mau semua dimasukin ke crypto ? Ambyarrr..

Dan di mata uang Crypto ini Elon Musk jadi Dewanya. Omongan dia berpengaruh terhadap naik turunnya nilai mata uang. Dan dia sadar itu, maka dia mainkan isunya supaya Tesla bisa dapat keuntungan bukan cuman dr penjualan mobil aja.

Baru aja Elon Musk bilang, "Maaf, Tesla gak bisa dibeli pake Bitcoin karena bla bla.." Pasar langsung negatif. Harga bitcoin anjlok sampe 17 persen. Orang rame2 jual meski rugi. Elon punya mainan baru, Doge coin. Harganya dijatuhkan dulu, biar nanti bisa dibeli dengan harga rendah. Nanti dia borong lagi, bikin isu lagi, biar harganya meroket ngalahin Bitcoin.

Banyak banget yang untung dari mainan isu ini. Bahkan dikabarkan petinggi Goldman Sachs, cuan besar sampe dia pensiun dini saking kayanya. Nah, berita banyak orang kaya inilah yang bikin orang ijo matanya. Pengen kaya secepat mereka.

Padahal diluar kisah sukses beberapa orang itu, ada kisah hancurnya jutaan orang karena rugi, mereka kadung beli di harga tinggi karena terpengaruh isu, eh harganya turun drastis.

Siapa yang untung di Crypto ? Ya, mereka yang profesional di bidangnya. Siapa yang ancur ? Ya, yang cuman ikut2an, gak paham model bisnisnya, asal taro uang karena gengsi dan trend, buta peta dan pengen cepat kaya. Inilah pemain terbesar di dunia mata uang digital. Para kambing yang dimangsa oleh serigala..

Karena gada usahanya, maka beberapa orang menganggap uang digital yang dimainkan sekarang ini adalah judi, sebab tidak ada yang bisa menebak isu apa yang dimainkan. Pokoknya beli di harga rendah, dan Bismillah, siapa tau nanti naik tinggi. Kalau emang hancur, ya mau apalagi ? Sudah takdir.

Saranku kawan, kalau mau bisnis, lihat dulu passionmu apa. Bisnis itu seperti menikah. Pasangannya harus tepat dan sejiwa. Kalau ngga, rumah tangga jadi neraka.

Orang keuangan selalu bilang, bisnis itu sebenarnya bukan masalah dapat untung berapa, tapi bagaimana meminimalkan resiko usaha. Semakin minimal resikonya, semakin besar untung yang didapatkan..

Seruput kopinya ? Hati-hati ya.

Senin, 10 Mei 2021

Tengku Zul dan Ribuan Bidadarinya

Tengku Zulkarnaen
Foto Tengku Zulkarnaen
Beda dengan banyak orang, saya termasuk yang sedih dengan meninggalnya Tengku Zul..

Saya sering menggodanya dengan kata "ayah naen". Itu karena ada twit seseorang yang kenal dengan dia, dan dia sering dipanggil begitu. Mungkin karena nama anaknya Naen.

Saya juga sering menggodanya dengan kata "pemain organ tunggal". Dengar-dengar, memang itulah profesinya dulu sebelum dikenal sebagai "ustad".

Tengku Zul ketika digodain jarang baperan. Meski dia dan saya ada di posisi berbeda, kami tidak pernah memblokir sesama. Buat saya, menggoda Tengku Zul adalah keasikan tersendiri. Begitu juga dengan dia.

Orangnya kocak sebenarnya. Dan pemahaman agamanya masih materialistik. Buktinya dia masih saja berfikir ada ribuan bidadari yang akan menyambutnya bak pahlawan ketika dia di surga nanti. Dia tidak pernah berfikir bahwa mungkin saja itu bahasa metafora, tidak menggambarkan secara fisik tapi simbol belaka..

Sekarang dia sudah meninggal.

Mungkin karena penyakit bawaan yang sudah lama diderita, dan terpicu oleh Covid sehingga tidak bertahan lama.

Selamat jalan, Tengku Zul. Semoga baik-baik saja disana. Saya kehilangan teman bertukar sapa. Gak tau kenapa, saya menganggap anda itu teman saya. Meski cara berteman kita aneh, tapi itulah yang sebenarnya..

Semoga cita-citamu disambut bidadari bisa terlaksana. Saya masih seruput kopi dulu, menunggu waktu yang tersisa. Seruput.

Sabtu, 08 Mei 2021

Pasukan Burung Hantu

pasukan Burung Hantu Polri
Pasukan Burung Hantu Polri
Ini cerita lama. Sekitar tahun 2018an deh kayaknya.. Lagi asyik ngopi sendirian, tiba-tiba disamperin orang2 besar dengan kulit rada hitam karena terbakar matahari. "Aduh, ada apa lagi ini ? " Pikirku. Maklumlah, banyak banget yang ngancam waktu itu. Dan saya udah diingatkan banyak orang supaya hati-hati.

Meja saya pun dikelilingi oleh mereka. Tatapan mereka dingin dan bikin mental jatuh sesaat. "Bang Denny ya ? Denny Siregar, benar ?" Tanya seorang dari mereka. Mau ngaku, salah. Gak ngaku kok ya keblinger. Udah deh, pasrah aja.

"Iya.." Jawab saya lemah. Habis gua..

"Eh, benar dia Denny Siregar.." Yang nanya tiba2 sumringah. Yang lainpun ketawa. Duh, langsung nyesss. Ternyata mereka gak punya niat buruk. Legaaa rasanya.

Akhirnya kami nongkrong bersama. Dan body gua yang paling kecil. Mereka gede-gede, bok. Mereka pesan kopi dan mulai cerita-cerita.

Ternyata itu teman2 dari Densus. Ah, keren. Dan insting reporter saya bekerja. Saya banyak nanya ke mereka tentang banyak kejadian terorisme di negeri ini, dan mereka bercerita dengan asyiknya.

Dan, seperti sudah kebiasaan personel mereka, cerutupun dikeluarkan. Rupanya cerutu bagi Densus adalah lambang persahabatan. Kalau kita ditawari, berarti kita sudah dianggap sahabat.

Saya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan mereka, pasukan burung hantu itu. Saya tahu, mereka sibuk sekali di lapangan. Begitu banyak kejadian yang bisa dicegah, karena mereka turun di lapangan.

Seperti kejadian di Condet kemaren, ketika Densus menyita bom2 mother of satan. Wah kalau gak dihadang, bayangkan apa yang terjadi di negeri kita ?

Pasukan hitam2 itu ketika dilapangan selalu memakai penutup muka. Mereka tidak boleh terkenal, karena berbahaya buat keluarga mereka. Ketika berhasil mereka tidak dipuji. Ketika gagal, merekalah yang pertama kali dimaki..

Selamat bekerja, teman2. Semoga selamat ketika dilapangan. Salam hormat buat kalian.

Semoga satu waktu, ketika longgar, kita bisa ngopi lagi bersama sambil cerita bagaimana menyelamatkan negara kita tercinta..

Seruputt..

Ketika Umat Muslim ke Gereja

Gus Miftah
Gus Miftah
Saya dulu sering banget diundang ke Gereja.. Dan oke oke saja, gada masalah. Bahkan iman saya juga gak berubah. Pihak pengundang tahu saya beragama Islam. Tapi mereka juga asik2 aja.

Justru ketika diundang itulah saya menyampaikan misi persahabatan saya.

Saya selalu bilang disana, "Jangan melihat Islam dari wajah2 teroris itu, atau wajah ormas2 radikal itu, tapi lihatlah dari wajah Islam moderat seperti saya yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka.."

Apakah begitu penting saya harus memenuhi undangan pihak Gereja ? Sangat penting. Karena saya tidak ingin ada kesalahpahaman antar umat beragama hanya karena ulah segelintir manusia.

Dengan bersahabat itulah kita melindungi banyak umat muslim di daerah yang mereka minoritas, supaya tidak terjadi gesekan yang dilakukan oknum2 beragama Islam di daerah lain, hanya karena mereka merasa mayoritas.

Bersahabat dgn umat berbeda agama itu penting. Begitu juga yang berbeda suku dan ras. Siapa sih kita yang merasa lebih tinggi dari manusia lainnya ? Wong sama2 berasal dari sperma aja bertingkah..

Karena itu saya senang ketika melihat Gus Miftah dihujat ketika ia menyampaikan salam persahabatan di sebuah Gereja. Perlu ribuan hujatan supaya gambarnya viral. Dengan gambar viral itu, pesan tersebar lebih luas dan orang akan melihat keindahan persahabatan disana..

Yang takut ketika umat berbeda agama datang mengunjungi tetangganya adalah mereka yang ingin negeri ini pecah. Mereka tidak paham persahabatan, bahkan tidak paham agama..

Sekali sekalilah datang ke Gereja, Vihara, Kelenteng ataupun rumah ibadah agama yang berbeda lainnya. Disana kalian akan melihat kebesaran Tuhan yang menciptakan manusia dengan perbedaannya dan kita diperintahkan untuk belajar dari itu semua.

Seperti secangkir kopi. Dia tidak mungkin terasa nikmat kalau gada proses yang menjadikannya kaya kan ?

Ah, jadi pengen seruput kopi jadinya..

Artikel Terpopuler