Rabu, 04 Desember 2019

Benarkah Nabi Muhammad Kecilnya Dekil?

Kisah Nabi
Kisah Nabi
Jakarta - Diberanda saya ramai perdebatan tentang ceramah seorang ulama NU, Gus Muwafiq, yang bercerita tentang masa kecil Nabi Muhammad SAW..
Gus Muwafiq adalah ulama yang tinggal di Sleman, Jogyakarta. Dalam ceramahnya yang viral, ia menyebutkan dulu masa kecilnya Nabi Muhammad SAW itu dekil. Dan perkataan ini kemudian dianggap menghina Islam oleh kelompok 212, bahkan dilaporkan oleh FPI.
Bukannya marah, saya malah tertarik menggali informasi tentang masa kecilnya Nabi Muhammad Saw. Banyak memang hikayat yang menggambarkan Nabi lahir dengan cahaya mengelilingi tubuhnya dan semua bentuk pengagungan lainnya.
Saya coba garis bawahi pada kata pengagungan. Sebagai manusia yang diyakini suci, tentu harus ada bahasa pemujaan dan pengagungan terhadap sosok seorang Nabi.
Sama seperti ketika kita memuji istri yang cantik, "Cantikmu seperti mawar yang tertetesi embun pagi..". Apakah memang rupa istri seperti itu? Ya jelas tidak, itu bahasa sastra dengan konsep melebihkan sebagai bentuk penggambaran.
Jadi kalau disebut Nabi lahir dengan cahaya, tentu bukan cahaya sinar seperti yang kita tahu selama ini. Itu bahasa pengagungan terhadap aura kebijaksanaan yang memancar, yang tentu baru diketahui oleh para pujangga berdasar kisah-kisah dari para para penceritanya. Bahasa sastra.
Masa kecil Nabi sendiri tentu tidak beda dengan anak kecil lainnya di masa itu, masa arab barbar jahiliyah. Bukan manusia super yang bisa mengalahkan musuhnya dengan sekali hentakan dan halilintar mirip Gundala.
Bahkan ada cerita Nabi Muhammad SAW kecilnya menggembala kambing dengan upah beberapa dinar. Itu ada di hadis Bukhari, seperti kata Guru Besar UIN Jogja, Alvin Nur Choironi.
Jadi ya secara fisik manusia, biasa aja seperti anak kecil penggembala kambing lainnya. Kan gak mungkin penggembala kambing tubuhnya bercahaya kemana-mana.
Gimana sih anak kecil di negara tandus di tanah Arab pada masa dahulu? Ya, ukuran kita pastilah menyebutnya dekil, karena bersentuhan dengan debu setiap hari.
Gak salah kan, kalau Gus Muwafiq menggambarkan sesuatu sesuai konteksnya, pada masa itu? Gus Muwafiq hanya ingin kita memisahkan antara fakta sejarah dengan bahasa sastra..
Yang menganggap Gus Muwafiq menghina Nabi tentu tidak paham ini, setidak pahamnya dia dengan bahasa-bahasa sastra.
Banyak bahasa sastra digunakan dalam penggambaran sesuatu pada masa itu untuk memudahkan penjelasan. Seperti penggambaran surga, bidadari, malaikat dan hal-hal yang tidak ada di dunia ini. Cara paling rasional adalah menggambarkan dengan bahasa perumpamaan sampai sastra.
Tapi apakah "dekilnya" Nabi Muhammad SAW pada fisiknya adalah fakta bahwa beliau juga pernah sesat seperti yang dikatakan ngustad Evi Effendie yang dulu viral itu?
Bedakan antara fisik dan spirit atau ruh. Meski fisiknya sama dengan manusia biasa, tapi yang membedakan para Nabi dan kita adalah ruhnya yang suci, yang tidak terlihat kasat mata. Dari situlah lahirnya kebijaksanaan, kehormatan, kecerdasan sampai kemampuan untuk berkomunikasi langsung dengan Tuhan.
Memang masalah umat saat ini adalah kemampuan literasi, sehingga hanya sibuk meyakini tanpa dibarengi kemampuan memahami lebih. Dan ketika diberikan fakta sejarah, mereka sibuk berkata penistaan agama.
Itu mirip-mirip Neno Warisman yang melantunkan doa perang pada masa lalu dan coba-coba dicucokkan pada masa kampanye Pilpres. Gak nyambung, mak..
Eh, kemana dia ya? Kok ngilang? Jangan-jangan sedang mengurung diri karena patah arang. Dia yang berjuang habis-habisan, Mulan Jameela yang dapat peluang.. Seruputttt...

Sabtu, 30 November 2019

DOKTER ERROR, NEGARA TEKOR

Dokter Terawan
Menkes
Jakarta - Disebuah rumah sakit terkenal, saya memeriksakan anak yang katanya didalam hidungnya sakit..
Seorang dokter lelaki muda sesudah meriksa dengan biaya periksa yang lumayan bikin kantung perih berkata, "Dia kena penyakit X. Harus dibedah hidungnya.."
Kaget? Pasti. Siapa sih orangtua yang tidak shock melihat anaknya yang masih kecil harus berhadapan dengan meja operasi. "Kira-kira berapa dok biayanya ?" Tanyaku agak gemetar. Rumah sakit ini terkenal dan pasti mahal. "Sekian puluh juta. Ada asuransi?" Tanyanya.
Ouch. Benar dugaanku. Dan aku pamit pulang. Sebagai kepala rumah tangga, mumet pun datang. Kebayang repotnya mengurus ini itu. Belum lagi waktu terbuang karena pasti nginap beberapa hari disana. Anak kecil gak bisa ditinggal.
Iseng telepon seorang teman yang dokter di rumah sakit pemerintah yang terkenal murah. Dia bilang, "Coba ke dokter ini. Dia dokter di RS ini juga. Praktek rumahnya di alamat ini.."
Aku ikuti kata temanku. Aku butuh second opinion, atau pendapat dokter kedua.
Sesudah ngantri agak lama, akhirnya giliran kami masuk ke ruang dokter yang sudah senior. Sederhana sekali ruangannya, beda dgn ruangan dokter muda di RS terkenal itu. Proses pendaftarannya pun masih manual, pake kartu warna warni dengan suster yang juga sudah berusia 60-an.
"Ah, ini sih biasa. Anak kecil rentan kalau kena debu. Infeksi biasa. Kasih obat ini aja.." Kata dokter senior itu. Biaya periksa 75 rebu rupiah dan obatnya sesudah kutebus sekitar 200rebu rupiah kurang sedikit.
Dan benar, besoknya sudah ada perubahan. Dua hari kemudian anakku sembuh. Untung tidak jadi operasi yang makan biaya puluhan juta rupiah itu.
Kalau gak ada duit, memang manusia cenderung kreatif. Beda kalau ada fasilitas sekarang seperti BPJS, yang pasien cenderung ngangguk aja apa kata dokter. Dan dokternya senang main bedah-bedahan, karena bayarannnya lumayan.
Modus dokter beginilah yang disoroti dokter Terawan, Menteri Kesehatan. Dokter sekarang banyak main operasi supaya dapat uang banyak.
Untuk operasi sesar saja, kata Dokter Terawan, BPJS menanggung 260 triliun rupiah. Sedangkan untuk operasi jantung, tahun 2018 beban biaya 10 triliun rupiah.
Jadi, gimana BPJS gak tekor??
BPJS dibangun sebagai konsep gotong royong supaya yang tidak mampu bisa disubsidi yang mampu. Tapi itu tidak akan berguna jika dokternya tetap mata duitan.
Mungkin banyak dokter yang lupa, bahwa profesi ini adalah profesi pengabdian, bukan profesi mencari uang. Bayaran terbesarnya adalah pahala, bukan material. Kalau pengen kaya, kenapa gak jadi pengusaha saja?
Saya kebayang dokter-dokter senior yang mengabdikan dirinya, ada yang mengobati di perahu, ada yang cuman bayar 10 ribu rupiah saja. Mereka tampak miskin di dunia, sesungguhnya mereka adalah orang yang kaya kelak di akhir masa.
Sungguh, sulit negeri ini akan maju, jika orang pintar belum bisa mengubah cara berfikirnya..
Seruput kopi dulu, ah...

Rabu, 27 November 2019

AGNES MONICA, MARIA OZAWA & NETIZEN DI DESA GALIA

Galia
Galia
Jakarta - Saya buka fesbuk lagi karena ada berita Ir. Ciputra meninggal dunia. Tokoh properti yang dikenal dengan panggilan Om Cip ini meninggal di usia 88 tahun. Karyanya dimana-mana di seluruh Indonesia. Dan ia bagian dari sejarah pembangunan Indonesia.
Tapi, MasyaAllah, beranda malah penuh dengan debat tentang pernyataan Agnes Monica. Statusnya sadis-sadis lagi antara pro dan kontra tentang pernyataan "Tidak berdarah Indonesia".
Gada yang inget kalau Om Cip meninggal. Malah seperti dianggap gak ada. Lewat ya lewat aja, minggir ini ada urusan yang lebih penting !
Saya juga gak paham kenapa pernyataan Agnes gitu aja meski sampe harus berantem segala sampe lupa kalau harus masak dirumah?
Saya mau nulis tentang "dua anak SMP di Batam dikeluarkan dari sekolah karena tidak mau hornat bendera aja" jadi batal. Bukannya apa-apa, ntar debat tentang Agnes pindah ke komen, karena itu topik hot hot melotot.
Mungkin benar kata seorang teman, kenapa Tuhan menciptakan sepasang kaki dan sepasang tangan? Itu supaya kita bisa memukul dan menendang. Karena dna kita sejak jaman penjajahan adalah berantem, jadi dimanapun, topik apapun, selalu harus ada "gelud"nya.
Itulah mungkin kenapa dulu Belanda kabur dari Indonesia. Capek liat kita masalahin hal yang sederhana, sampe harus unfriend segala.
Sedangkan mereka mikirnya gimana bangun bendungan raksasa, kita lebih sibuk berantem antara bubur yang diaduk dan gak diaduk. Orang Belanda makan ya makan aja, mau diaduk mau gak diaduk terserah elu. Yang penting sendoknya dikembaliin, jangan dibawa pulang.
Dan situasi berantem itu makin hot kalau tokoh Nyai blewer dan Abang cincin besar turun komen juga. Mereka menikmati situasinya. Harus ada kontroversialnya negeri ini, kalau adem ayem itu mencurigakan.
Kita jd mirip desa Galia di komik Asterix, yang menikmati aroma perkelahian sebagai bagian dari budaya. Dan nanti di akhir komik, selalu Padli Zonix yang diikat ke pohon sedangkan yang lain menikmati babi panggang.
Padahal ada Maria Ozawa yang dukung timnas Indonesia, tapi itu kurang menarik perhatian. Mungkin karena udah terlalu old school, sedangkan pilihan baru setiap hari ada. Tumben gada yang sibuk "woiii bagi link wooiii", karena semua sudah punya.
"Maria Ozawa?? Wahh, lu pasti anak 90-an.." Malu kan, secara umur kita masih di angka 20-an.
Inilah kenapa saya kalau keluar negeri selalu dengan bangga bilang, "Saya Indonesia", meskipun darah ada Bataknya, juga ada sedikit darah Asgard dan pernah tinggal di Gotham City.
Karena negeri yang kucinta inilah yang selalu menawarkan cerita dengan bumbu tajam sehingga terasa di lidah. Kalau di luar negeri itu meski cantik tapi membosankan. Mereka terlalu tenang dan tidak ada gerakan seperti gedebong pisang.
Saya selalu bilang pada teman di luar, "Melihat negeri kalian yang cantik saya seperti membayangkan Luna Maya. Sedap dipandang doang, karena untuk dimiliki diluar jangkauan.."
Hari ini titik berantem masih di Agnes Monica. Besok pasti beda. Mungkin tentang Ferdianan Hutahaean yang tiba-tiba memperlihatkan saldo ATMnya, yang isinya mengharukan. Pas dibuka di ATM, tulisannya "Anda belum beruntung, silahkan coba lagi.."
Dan kita ribut lagi. Kalau kata anak Medan, "Entah apa apa yang kelen apakan pun sampe apa semua.."
Seruput kopi ah...

Jumat, 15 November 2019

AKUILAH, TERORIS DISINI BERAGAMA ISLAM

Terorisme
Densus tangkap Teroris
DennySiregar.id, Jakarta - Saya pernah punya teman keteknya bau banget.. Tapi gada yang mau mengingatkan. "Sungkan.." kata mereka. Akhirnya, karena pusing setiap dekat dia, saya tegur ketika lagi berduaan, "Pake deodoran dong, kasian yang lain jadi kebauan.."
Eh, dia tersinggung. Saya dimusuhi dan dijauhi. Padahal apa yang kukatakan benar dan itu nasihat baik, ternyata bagi dia itu seperti mempermalukannya.
Denial atau menyangkal. Itulah yang dia lakukan. Dia tidak merasa bahwa dirinya bermasalah, sehingga tidak pernah mau memperbaiki dirinya.
Inilah yang terjadi pada beberapa penganut agama Islam di negeri ini, dan mungkin di banyak negara.
Banyaknya teroris yang meledakkan dirinya, jelas-jelas mereka menganut agama Islam, terlihat dari rekam jejak mereka. Tapi banyak yang menyangkal dengan kata, "Mereka tidak beragama.."
Bahkan seorang Busyro Muqoddas, Ketua PP Muhammadiyah dan mantan Ketua KPK pengganti Antasari Azhar, dengan sengit membantah dan tidak mau dikaitkan dengan Islam.
Ia bahkan berhalusinasi bahwa teroris di Medan itu aktornya negara. Dan ia menyerang pemerintah karena selalu mengaitkan teroris dengan simbol agama. "Guru ngaji itu simbol agama.." katanya protes, saat Densus 88 mengkonfirmasi seorang guru ngaji sebagai otak bom Medan.
Kenapa menyangkal? Jelas-jelas teroris di Medan rajin datang ke pengajian, celananya cingkrang dan istrinya bercadar. Itu sudah simbol di mereka yang menganut agama Islam.
Seharusnya kita yang beragama Islam mulai instropeksi, ada yang salah dengan situasi ini. Dan mulai berbenah, diawali dengan menyisir para penceramah radikal di masjid dan pengajian, bukannya sibuk cari alasan sana sini.
Akuilah, bahwa banyak teroris disini itu beragama Islam. Tidak perlu dibilang mereka tidak beragama segala. Orang juga tahu kok, yang salah bukan agamanya, tetapi oknum yang menjalankan agama. Kenapa mesti malu?
Anggap itu sebagai pelajaran, supaya para ulama, para kyai, para habaib di negeri ini mulai mengatur barisan kembali supaya nama Islam tidak tercoreng disini. Selalu menyangkal, menunjukkan kita bodoh. Tidak pernah belajar apapun dari situasi yang terjadi.
Saya sendiri tidak merasa malu. Bahkan sejak beberapa tahun lalu memerangi oknum yang menyalahgunakan nama agama yang saya anut. Kalau bukan orang Islam sendiri yang memperbaikinya, lalu siapa lagi?
Entar kalau yang Kristen, Hindu atau Budha menyinggungnya, ngambek lagi. Trus demo bersilid-silid, nuding penista agama. Kapan dewasanya?
Seperti teman yang bau ketek itu, akhirnya menjadi bahan omongan disana sini dan ia dijauhi, karena tidak mau mendengar nasihat orang lain. Padahal nasihat itu biasanya datang dari orang dekat, kalau orang jauh pasti gak mau negur, cuman meludah saja.
Ayo dewasa, supaya kita sama-sama bisa mencari solusinya. Tinggal mengakui, apa susahnya? Jangan usia doang yang tua, kelakuan kayak ABG yang pertama kali datang bulan.
Akhirnya jadi bahan ejekan dan bahan sindiran oleh agama lain. Lebih malu-maluin kan?
Ya sudah, kalau tetap gak mau, anggap saja teroris itu tidak beragama. Berarti orang yang tidak beragama, dia athletis. Karena kalau beragama, dia pasti tesis..
Puas? Seruput koncinya.

Rabu, 06 November 2019

DEMO MAHASISWA TURUNKAN ANIES BASWEDAN

Demo
Aksi Demo
DennySiregar.id, Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa mengadakan rapat karena ada isu mendesak.
"Kita harus turun ke jalan! Ada yang ingin mainkan anggaran. Uang rakyat dipakai untuk kegiatan gak berguna. Kita harus membela rakyat supaya uang pajak mereka gak sia-sia!!". Teriak Ketua salah satu BEM. Sorak sorai menggema diseluruh ruangan.
Besoknya ribuan mahasiswa turun ke jalan membawa berbagai macam spanduk. "Anies, kamu tidak becus jadi Gubernur!" begitu bunyi salah satu spanduknya. Ada lagi spanduk, "Selamatkan uang rakyat!!".
"Masak bolpen aja sampe 123 miliar!!" Teriak seorang mahasiswa. "Untuk apa lem aibon 126 miliar ???". Teriak orator dari atas mobil dengan speaker besar.
Mereka kemudian mengepung balai kota DKI, meminta Anies keluar atau perwakilan dari mereka masuk ke dalam. Tetapi Anies tetap ada di dalam. Dan mahasiswa pun mulai gelisah, menggoyang-goyangkan pagar.
Semakin siang kerumunan semakin besar dan mulai ada kerusuhan. "Anies turun. Anies turun.." begitu nyanyian mahasiswa kompak. Mereka benar-benar gemas karena uang rakyat dipermainkan lewat anggaran yang nilainya tidak masuk akal.
Polisi mengepung mahasiswa dan mulai mengaktifkan water canon. Mahasiswa semburat apalagi gas airmata mulai dikeluarkan. Terjadi bentrokan di jalan.
Begitu seorang kakek bercerita pada cucunya kelak di tahun 2085, menceritakan situasi dirinya saat menjadi mahasiswa yang ikut turun ke jalan.
"Itu cerita beneran kek?" Tanya cucunya. Si kakek bangga, "Iya dong, cu. Kakek ada dibarisan terdepan.." katanya menepuk dada.
"Tapi, kek.." kata si cucu. "Di buku sejarah, demo besar hanya ada waktu Jokowi sama Ahok jadi pejabat aja. Gada itu demo mahasiswa waktu Anies Baswedan jadi Gubernur??"
Si kakek marah, "Cucu sialan!! Sana minggat. Diceritain ma kakek gak percaya. Dasar anak cebong!!!!".
Si cucu minggat sambil mencuri seruput kopi kakeknya yang sudah dingin.

Jumat, 01 November 2019

SURAT UNTUK ADEK-ADEKKU DI PSI

Partai Solidaritas Indonesia
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
DennySiregar.id, Jakarta - Saya ingat sekali waktu Pemilu legislatif diundang oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Saya didaulat untuk bicara dipanggung. Saya setuju, dengan satu syarat tidak ingin memuji mereka.
Dan di panggung saya bicara dengan nada keras, "Saya akan mendukung PSI bukan karena suka, tetapi justru saya ingin membuktikan bahwa kursi DPR akan membantai kalian, menjadikan kalian lemah seperti banyak aktivis seperti kalian sebelumnya.
Dan saya akan puas dgn mencaci kalian, menyerang kalian karena karena sudah berbohong kepada rakyat dengan janji-janji kalian!".
PSI memang tidak lolos ke Senayan karena suaranya tidak mencukupi. Tetapi di beberapa kota besar, mereka ada. Di Jakarta sendiri bahkan mereka menempatkan 8 kadernya menjadi anggota dewan.
Baru saja duduk, PSI Jakarta langsung bekerja. Mereka membongkar rancangan APBD DKI Jakarta yang dibuat dengan seenak udelnya. Ada buzzer dibayar 5 milyar rupiah. Ada lem aibon 82 miliar rupiah. Ada bolpen 124 miliar rupiah.
Tanpa ragu, adek2 PSI di Jakarta, yang bahkan ada yang berumur 23 tahun, harus melawan pembuat anggaran. Tradisi Ahok mencoret anggaran fiktif diteruskan.
Lawan adek-adek ini bukan saja dari eksekutif, tetapi juga dari dalam ruang DPR yang didominasi orang-orang tua dan lama. Wakil Ketua Komisi A DPRD DKI dari Gerindra, Inggard Joshua, menegur PSI Jakarta karena membongkar temuan itu lewat media sosial.
"Anda orang baru.." katanya. Seolah mengingatkan PSI bahwa gaya mereka merusak budaya diam dan kongkalikong selama ini antara eksekutif dan legislatif. PSI menjadi musuh bersama karena tidak bisa diajak bersenang-senang seperti mereka dulu kala.
Dan saya yakin, tekanan di dalam yang tidak diungkap ke publik pada PSI Jakarta pasti lebih keras. "Masih bayi sudah sok semua.." begitu pasti ejekan mereka.
Jangan menyerah, adek-adekku di PSI. Lawan mereka. Biar mereka belajar bahwa generasi baru dalam politik sudah muncul dan akan menyapu mereka. Bersuaralah keras, jangan hanya diam. Yang kalian lawan itu bukan lagi serigala, tetapi sampai predator di jaman purbakala.
Jadikan Jakarta dan kota lain sebagai etalase kalian, bahwa di 2024 nanti kalian layak duduk di Senayan. Semua tekanan itu akan menguji kalian, apakah memang kalian bermental pejuang atau pecundang?.
"Mental itu terbuat dari baja, maka selayaknya kalian tempa.." begitu kata saya mengakhiri pidato di panggung.
Dan tempaan pertama sudah datang dengan kerasnya. Awalnya memang sakit. Tapi yakinlah, sesudah kalian terbiasa, kalian akan berdansa dengan cantiknya..
Salam seruput kopi dari kami yang menunggu gebrakan selanjutnya..

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan Panjang Melawan Radikalisme

Radikalisme
Kasus Ahmadiyah Cikeusik
DennySiregar.id, Jakarta - Tahun 2011, terjadi penyerangan di rumah jamaah Ahmadiyah oleh sekumpulan orang di Cikeusik Banten.
Tiga orang jamaah Ahmadiyah tewas. Mirisnya, proses pembunuhan mereka direkam lewat video handphone dan diupload di media sosial. Tubuh yang sudah mati masih dilempar batu besar oleh para "binatang" yang sudah kehilangan akal.
Dan yang lebih miris lagi, polisi yang ada disitu hanya jadi penonton tanpa usaha membubarkan mereka apalagi menyelamatkan korban.
Pertama kali menonton video itu, hati saya tersentak. Begitu kejinya sekelompok orang yang menganggap diri mereka pembela agama dan menuduh Ahmadiyah kafir, melakukan perbuatan yang mungkin diatas level kekafiran.
"Ada apa bangsaku ?" Pikirku sedih waktu itu.
Dan itu salah satu momen penting, bisa juga sebagai titik balik, untuk bicara tentang bahaya radikalisme disekitar kita. Kutinggalkan tulisan tentang spiritualitas dan berjuang mengingatkan bahaya ini ke siapa saja yang mau menerima.
Tahun 2019, sesudah pengumuman Kabinet, terlihat hasil itu mencapai puncak ketika Jokowi menempatkan para Menterinya dengan agenda radikalisme yang utama. Aku lega, butuh waktu yang panjang dan sekian banyak ancaman hanya karena sekadar berbicara.
Dulu orang takut menyinggung umat beragama. Sekarang semua bahu membahu membersihkan oknum didalam agamanya, dan mulai kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Saya mengenal banyak teman di media sosial ini yang sejak lama bersuara mengingatkan pemerintah untuk turun tangan. Tanpa kenal lelah. Kami mungkin tidak pernah bertemu muka, tetapi kami saling mengenal ketika menyebut nama..
Saya menyebut mereka para pejuang media sosial, bukan lagi penggiat. Karena saya tahu mereka mempertaruhkan semua kenyamanan di dunia nyata mereka, untuk terus bersuara di dunia maya.
Sampai sekarang, saya terus mengingat para pembunuh jemaah Ahmadiyah itu yang hanya dihukum beberapa bulan saja. Betapa murahnya nyawa manusia di dunia.
Tapi saya yakin, Tuhan akan memperhitungkan semuanya. Saya membayangkan, para pembunuh atas nama agama itu, selalu ditemani mimpi buruknya setiap saat. Mereka tidak akan pernah lepas dari apa yang pernah mereka perbuat.
Sambil seruput kopi pagi ini, saya sedang mempertimbangkan untuk mundur pelan2 dari media sosial yang sudah menjadi pedang saya selama 8 tahun ini
"Tugas sudah selesai..." Kata seorang teman. Dan saya berdoa untuk arwah2 para korban yang mungkin sedang tersenyum di alam sana, karena nyawa mereka hilang tanpa sia-sia.
Seruput..

Jumat, 25 Oktober 2019

Surat Untuk Sahabat-sahabat NU

Banser
Banser
DennySiregar.id, Jakarta - Selama beberapa tahun ini, saya selalu disamping Nahdlatul Ulama berjuang bersama menghadapi kelompok radikal, utamanya di media sosial.
Bedanya, NU punya massa yang sangat besar. Mulai dari Pemuda Anshor dan Banser sampai Fatayat NU bergerak di lapangan sampai harus berbenturan dengan mereka dimana-mana.
Saya sejak dulu yakin, tanpa NU, negara ini sejak lama habis. Hanya NU yang bisa menghadang gerakan mereka ketika bahkan aparat negara belum sadar bahwa ada kelompok radikal berbaju agama sedang menyusup dan berusaha membangun kekuatan.
NU punya slogan yang bikin merinding, "hubbul wathon minal iman", cinta tanah air sebagian dari iman. Inilah doktrin terpenting yang dibangun lewat syair "yaa lal wathan" ciptaan KH Wahab Hasbullah dan selalu dikumandangkan teman2 Anshor dan Banser di lapangan.
Saya kagum dan hormat dengan kalian. Dengan besarnya massa kalian, ada yang bilang 40 juta, ada yang bilang 60 juta anggota, NU tetap menjadi organisasi massa yang rendah hati. Setiap ngobrol dengan kalian, saya menemukan suasana Indonesia di hati. Ketawa, bercanda, sambil saling cela tanpa menyakiti.
Agama dimata kalian, sesuatu yang sakral, sehingga tidak boleh dihina dalam bentuk kekerasan terhadap umat agama lain. Itulah kenapa dibanyak tempat, saya selalu terharu ketika umat agama lain juga terlihat bergandeng tangan dengan NU. Mereka seperti saya, sangat menghormati NU.
Dan pada waktu Pilpres, kita mempunyai slogan yang sama, ini bukan tentang Prabowo dan Jokowi. Tetapi ini tentang NKRI. Jangan sampai kelompok radikal itu menguasai negeri ini dengan ada di pemerintahan. Garis kita tegas dan akan kita perjuangkan sampai mati.
Karena itu, saya yakin, kita tidak akan merendahkan diri dengan jabatan dunia apalagi sampai menjual diri dengan kata, "kita sudah membela negara kenapa tidak diberikan tempat di pemerintahan?".
Bagi saya, itu narasi yang melecehkan. Dan dibangun pihak lawan dengan propaganda yang massif untuk membenturkan. Urusan jabatan itu amanah, bukan peluang.
Urusan membela tanah air adalah urusan dengan Tuhan dalam memperoleh kemuliaan dan kelak akan kita bawa sebagai pertanggung-jawaban. Tidak ada yang utama selain itu. Tidak ada apapun yang sebanding didunia ini, jika diukur dengan itu..
NU, saya dan banyak teman lain di nusantara, akan terus berjuang supaya negara ini tegak, sebagai bentuk menjaga warisan dari para kakek nenek kita yang sudah bertaruh nyawa. Dan akan tetap seperti itu sampai nyawa kita kembali ke pencipta.
Saya kangen kumpul lagi dengan teman-teman Ansor dan Banser dengan candaan, seruput kopi dan kepal kepul sampe mantul, bicara tentang banyak hal.
Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah ketika kita duduk bersama. Kita sama. Karena kita Indonesia. Salam kangen, sahabat-sahabatku di NU yang tercinta.. Seruput kopinya..

Rabu, 23 Oktober 2019

SUSI PUDJIASTUTI HILANG

Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti
DennySiregar.id, Jakarta - Sebenarnya sejak awal saya sudah menduga bahwa bu Susi Pudjiastuti tidak akan lagi masuk kabinet, hanya perasaan suka saya padanya yang mencoba menjauhkan bayangan itu.
Kenapa saya suka? Mungkin lebih karena kepribadian bu Susi yang bebas dan merdeka. Dia adalah satu-satunya Menteri yang tidak perlu jaim dengan penampilan. Lah, ngapain harus jaim? Dia pengusaha sukses jauh sebelum jadi Menteri.
Dan bu Susi yang pertama kali mendobrak dengan menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan asing. Ia menjadikan penenggelaman itu sebagai show pribadinya.
Bu Susi memang punya tim PR yang ciamik. Berita itu heboh dan muncul slogan baru, "Tenggelamkan!".
Ia juga ahli memainkan twitternya. Dikelolanya sendiri akun pribadinya, sehingga rakyat semakin dekat padanya.
Tetapi apakah yang terjadi di perikanan sama cantiknya dengan apa yang dilihat masyarakat luas?
Suara keluhan datang dari Kamar Dagang Industri atau Kadin yang mengeluhkan lambatnya ijin operasi kapal sehingga nelayan tidak bisa maksimal beroperasi. Bagi nelayan itu kerugian besar, karena mereka lebih sibuk mengurus administrasi daripada mendapat keuntungan di lautan.
Selain itu, keluhan datang dari nelayan yang susah menjual ikannya. Disisi berbeda, pabrik pengolahan perikanan mengeluh kekurangan bahan baku.
Dalam artian sederhana, secara pembangunan infrastruktur di sektor perikanan, Susi dinilai gagal sehingga terjadi gap antara satu daerah dengan daerah lainnya. Daerah yang banyak ikan ga bisa jual ikan, daerah yang kurang ikan makin tidak sejahtera.
Ketimpangan itu membuat pendapatan kita dari sektor ikan tidak optimal. Padahal, di sektor inilah salah satu kekayaan Indonesia.
Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa Susi tidak bisa bekerjasama dengan LBP sebagai Menko. LBP minta Susi setop penenggelaman kapal dan fokus pada peningkatan kesejahteraan nelayan, tapi Susi masih tetap asyik disana.
Dan inilah yang jadi kelemahan Susi, karena lebih suka memainkan PR bagi dirinya daripada bekerja lebih luas mensejahterakan sektornya.
Dan puncaknya adalah ketika Susi membatalkan reklamasi teluk Benoa. Kebijakan ini dilakukan Susi saat masa transisi, dimana Jokowi sudah mengeluarkan larangan untuk membuat kebijakan apapun. Susi dinilai membangkang dan ini tidak baik bagi koordinasi yang membutuhkan kerjasama tim.
Intinya, Susi sukses di fase pertama dalam menangani pencurian, tapi gagal di fase berikutnya dalam masalah kesejahteraan. Ditambah koordinasi yang kurang karena Susi terlalu independen, merah di rapor Susi terlalu banyak.
Jadi akhirnya saya harus bisa memisahkan kesukaan saya pada pribadi Susi dengan catatan hasil kinerjanya. Susi itu Menteri yang Instagrammable, tapi penilaian hasil kerja berbeda.
Meskipun begitu, saya tetap kehilangan pribadinya yang ceria yang menjadi hiburan ditengah kesibukan. Sudah tidak ada lagi foto Susi ditengah laut sendirian, ataupun ia dengan sebatang rokok ditangan, ataupun ketika ia sedang nongkrong dengan tato di kakinya yang kelihatan.
Saya kehilangan Susi secara pribadi...
Bu Susi, salam cinta dari saya yang mengagumi kepribadian anda. Seruput kopinya..

Salam Hormat Untuk Bapak Tito Karnavian

Tito Karnavian
DennySiregar.id, Jakarta - Sejak dilantiknya Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri, saya mendadak jadi fans beliau.
Tidak lama sesudah beliau menjabat, gelombang demo langsung mengujinya. Demo besar yang ingin menjatuhkan Ahok dengan tudingan "penista" agama pada bulan November, menjadi ujian pertamanya.
Meski sempat rusuh, tetapi demo itu berhasil diredam. Dan baru demo kedua dengan nama 212, yang diklaim umat Monas sebanyak 8 juta orang itu, langsung mandul gondal gandul. Saya sempat berdiri dan bertepuk tangan panjang untuk beliau.
"Luar biasa.." Itulah pujian terendah untuk dirinya.
Tito Karnavian mantan KaDensus 88 itu, mampu menjadi dirijen handal membuktikan kapabilitas dirinya sebagai penjaga negeri. Pengalaman memburu teroris selama belasan tahun, menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat ditakuti oleh kelompok radikal karena ia selalu selangkah di depan mereka.
Bahkan saking pusingnya, Rizieq Shihab sampe kabur gak pulang-pulang ke rumah. Dia kalah main "poker" dihadapan Tito. Meski teorisme tetap ada, di tangan Tito Karnavian dan jajarannya, Indonesia masih tetap terjaga sampai sekarang dan kita masih bisa menikmati secangkir kopi dengan tenang.
Tito Karnavian adalah "Guardian Angel" yang ada pada posisi yang tepat dan waktu yang tepat. Dan tampaknya Jokowi pun sayang padanya karena Tito adalah rekan yang bisa dipercayainya.
Hari ini terdengar kabar bahwa Kapolri diberhentikan oleh Jokowi. Saya sedih sekaligus senang mendengarnya. Prediksi saya, beliau akan menjadi salah satu Menteri mungkin di Polhukam, karena keahlian beliau masih dibutuhkan negeri ini.
Semoga Kapolri masih dijabat oleh mereka yang pernah bertugas di Densus 88, karena fokus kita masih pada terorisme dan radikalisme. Hanya Densus 88 yang punya penciuman yang tajam dalam mendeteksi mereka.
Untuk pak Tito Karnavian, terimakasih pak atas semua dedikasinya.
Dengan rasa hormat setinggi-tingginya, saya ingin memberikan secangkir kopi untuk bapak. Ini bukan secangkir kopi biasa, tetapi secangkir kopi penuh cinta.
Seruput, bapak... Kapolri terbaik yang pernah ada. Dari anak bangsa yang mencintai negeri ini dengan segenap hati.

Fachrul Razi, Calon Menteri Agama yang Ahli Militer

Fachrul Razi
Fachrul Razi
DennySiregar.id, Jakarta - Saya sempat kaget juga melihat berita bahwa Fachrul Razi, senator Aceh, dicalonkan jadi Menteri Agama.
Si senator ini yang dulu melaporkan saya ke polisi karena merasa saya menghina rakyat Aceh. "Wah, kalau orang ini jadi Menteri Agama, kacau.." Pikir saya. Ya gimana gak kacau, wong doi tidak bisa membedakan antara kritik pada parlemen Aceh dengan menghina rakyat Aceh. Bisa kacau Departemen Agama dipimpinnya..
Tapi kabar baru datang, katanya bukan Fachrul Razi yang botak itu. Rambutnya lebat, kata seorang teman. Saya pun teringat seorang Jenderal TNI Purnawirawan Fachrul Razi, Ketua tim Bravo 5, salah satu organ terkuat Jokowi saat Pilpres.
Jenderal Fachrul Razi adalah inisiator yang mengumpulkan para Purnawirawan Jenderal saat kampanye Jokowi. Strategi Fachrul Razi ini sangat efektif menepis isu kalau Purnawirawan TNI semua ada dibelakang Prabowo.
Fachrul Razi dulu adalah mantan Wakil Panglima TNI saat era Gus Dur. Karena jabatan Wakil dihapus, akhirnya Fachrul Razi pun tersingkir.
Nah, yang menarik, Fachrul Razi ini dikenal sebagai ahli strategi militer. Dia juga dikenal sebagai salah satu arsitek militer di kabinet Jokowi.
Pertanyaannya, ada apa seorang ahli strategi militer dicalonkan jadi Menteri Agama? Apa hubungannya militer dengan agama?
Saya sempat bingung beberapa saat sebelum menyadari bahwa agenda utama Jokowi dalam pemerintahan keduanya adalah RADIKALISME. Dan bicara radikalisme di Indonesia, tentu juga harus bicara agama karena agama itu menjadi bungkusnya.
Ada kemungkinan besar, Jokowi ingin membersihkan unsur-unsur radikalisme di tubuh departemen agama yang sudah kronis.
Departemen ini memang salah satu sarang tempat berkembang biaknya virus zombie itu dan untuk membersihkannya harus dengan penanganan dan strategi khusus, bukan lagi dengan pendekatan persuasif tetapi harus dengan cara "keras".
Keras yang dimaksud disini tentu bukan untuk memukul, tetapi bagaimana mengkanalisasi kelompok radikal itu, sehingga ruang mereka akan menjadi sangat sempit.
"Wah, menarik kalau gini.." Pikir saya. Saya pasti akan menantikan dan sangat mendukung gebrakan out of the box yang dicanangkan Jokowi. Penusukan Wiranto ternyata sangat membekas sehingga perlu ada strategi khusus untuk melawan mereka.
Semoga Jenderal Fachrul Razi menjadi Menteri Agama dan kita akan melihat perang strategi melawan radikalisme. Perang yang sama yang dilakukan Jokowi di tubuh Perguruan Tinggi yang sudah dilakukannya sebelumnya. Seruput kopi dulu, Pakde. Saya jadi semangat kalo gini..

Senin, 21 Oktober 2019

Gerindra Bisa Jadi Duri Dalam Daging

Prabowo-Sandi
Prabowo-Sandi
DennySiregar.id, Jakarta - Kabar yang sudah bisa dipastikan kebenarannya adalah Gerindra akan mendapat kursi dalam kabinet.
Ini bagian dari komitmen Jokowi untuk menyatukan semua perbedaan dalam satu lingkup kekuasaan. Tujuannya supaya sama-sama berfikir untuk kemajuan Indonesia ke depan.
Pertanyaannya, apakah Gerindra dengan perolehan suara terbesar ketiga akan menjadi partner yang baik atau justru menjadi duri dalam daging pemerintahan ?
Mungkin kasus gabungnya PAN dalam kabinet Jokowi di periode pertama lalu bisa menjadi acuan. PAN pada Pilpres 2014 adalah lawan politik Jokowi. Tetapi ketika Jokowi menang, PAN merapat supaya mendapat kursi di kabinet. Jokowi meluluskannya.
Mendekati Pilpres 2019, PAN berulah. Mereka ternyata tidak bisa menempatkan diri sebagai bagian dari koalisi. Mereka punya kesetiaan tersendiri sebagai oposisi. Dan pada akhirnya, mereka menjadi duri dalam daging sampai mereka keluar dan benar-benar bergabung bersama oposisi.
Situasi yang sama bisa saja terjadi pada Gerindra.
Mental oposisi akan sulit hilang dari diri Gerindra. Apalagi mereka punya perasaan bahwa diri mereka pernah menjadi oposisi terbesar dalam melawan koalisi pemerintahan. Perasaan ini akan sulit hilang, apalagi model orang2nya sama dengan mereka yang ada di Pilpres 2019. Nyinyir tanpa solusi.
Bisa bayangkan ketika orang-orang model Fadli Zon dan Andre Rosadie yang sulit berfikir positif dan terbuka, duduk bersama dengan mereka yang selalu berfikir ke depan. Tentu akan ada tumbukan pemikiran.
Kenapa ? Ini karena konsep pemikiran elit2 politik kita masih terkonsentrasi pada kekuasaan, bukan pada kerjasama. Jadi yang diributkan nanti hanyalah masalah "siapa yang berkuasa" bukan "apa yang bisa kita lakukan bersama"?
Jokowi mungkin punya harapan sempurna supaya semua elemen bisa bekerjasama untuk kemajuan bersama. Tapi realitas politik akan membuatnya tersadar, bahwa hal itu akan sulit dilakukan. Yang dia lakukan kemudian adalah kembali mereshuffle kabinetnya dan itu akan membuat perbedaan kembali meruncing lebih tajam.
Butuh waktu lama dan generasi baru untuk mewujudkan harapan seorang Jokowi. Sementara ini kita nikmati saja dulu kekurangan kedewasaan elit2 politik kita.
Ibaratnya, mengubah Gerindra menjadi koalisi yang sempurna dan bisa bekerja bersama, sama sulitnya seperti mengubah Rocky Gerung menjadi seorang sufi yang bicara tentang ilmu kerendahan hati.
Lebih mudah mengubah Johnny Sins dari seorang dokter menjadi astronot, meski kalau dia buka baju bentuknya sama aja.
Seruput kopi dulu ahhhh....

Artikel Terpopuler