Rabu, 13 Januari 2021

PEMIMPIN PERANG DI GARIS DEPAN

Jokowi Vaksin
Jokowi Vaksin
Jakarta, DennySiregar.id -
Percaya ngga, kalau situasi tetap seperti sekarang, masyarakat terus ketakutan, gak mau keluar rumah dan bekerja, Indonesia akan bangkrut di tahun 2021?.

Pengangguran sudah bertambah 10 juta orang. Tiap hari ratusan usaha kecil tutup karena pengetatan. Usaha besar yang pekerjakan ribuan orang menunggu ambruk. Kas pemerintah udah mulai cekak, karena raturan triliun rupiah harus diedarkan untuk konsumsi bukan produksi. Pendapatan negara anjlok ke level terbawah.

Karena itu pandemi ini dinyatakan sebagai perang. Dan perang butuh senjata, yaitu vaksin sebagai baju jirah. Ketika z``warga divaksin, maka kepercayaan dan keberanian kembali bekerja akan pulih. Ekonomi akan normal kembali. Orang2 bisa aktivitas kembali. Dan negara selamat dari kehancuran.

Dan sebagai Presiden, Panglima tertinggi, Jokowi memimpin paling depan. Memakai baju perang pertama dengan segala resikonya. Memompa semangat dengan bahasa, "Hei, rakyat Indonesia, bangkitlah. Jangan mau kalah dengan pandemi, kita perangi bersama ketakutan..".

Dia gak sibuk konpers. Gak repot dengan retorika di media sosial. Langsung duduk, disuntik dan disiarkan ke seluruh negeri. Action speaks louder than words. Dia bertindak, bukan meracau.

Itulah sejatinya pemimpin. Dia ada di depan, bukan main perintah dari belakang. Gak perduli dengan sindiran2 sinis banyak orang. Buat Jokowi, pemimpin yang baik adalah yang menginspirasi.

Kalau Panglima tertinggi sudah turun lapangan, saya yakin, ke depan negeri ini akan maju karena kita punya tauladan. Kita butuh orang yang menggerakkan, bukan penghianat yang sibuk tebar ketakutan. Karena negeri ini harus bergerak, kalau tidak hancur dalam kegelapan.

Ayo, pak Jokowi.. Pimpin kami dalam perang melawan pandemi ini. Saya nunggu giliran dipanggil, sambil seruput secangkir kopi. Saya siap jika negara dibutuhkan..

Kata arek Suroboyo, "Wani, thok !!" Kalau bukan kita yang berani, harus siapa lagi?

Semoga apa yang kita lakukan disampaikan pak SBY kepada Tuhan. Gimana, pak SBY? Apa Tuhan sudah mulai suka?. Seruputtt..

Minggu, 03 Januari 2021

Gerindra Omong Doang!

Gerindra Omong Doang!
Foto Fadli Zon
Jakarta, DennySiregar.id -
Mendadak si partai Gerindra bersuara lewat Wakil Ketua Umumnya, Rahayu Saraswati keponakan Prabowo.

"Gerindra mendukung Jokowi yang dengan tegas menindak kelompok intoleran pemecah belah.."

Saya ketawa dong, sekeras-kerasnya. Apalagi setiap lihat twit Fadli Zon, yang seperti jadi Jubir FPI selama ini. Ini mbak Saras baru bangun tidur kali ya?.

Baca Juga:

FPI, Preman Pasar Berjubah Agama

ORANG HEBAT DI BALIK JOKOWI

Padahal Gerindra dipimpin oleh tentara, tapi nyatanya mengurus internal saja gak bisa. Kalo Gerindra komit dengan Jokowi, pecat dong Fadli Zon yang dengan jelas-jelas berpihak pada FPI.

Berani, Gerindra? Berani, pak Prabowo?.

Haha, ngga akan berani. Pasti ngelesnya, "Di dalam partai kami biasa berbeda pendapat.."

Berbeda pendapat atau main dua kaki, Gerindra? Takut kehilangan suara dari kelompok intoleran itu karena kemaren mereka sudah mencaci maki Prabowo karena mau jadi Menteri?.

Baca Juga:

Mereka Bilang Jokowi Lemah, Mereka Salah Besar

ISIS COMPANY 

Si kerempeng Presiden saya sekarang, jauh lebih tegas dan berani dari mantan tentara. Dia kalo mau bubarin FPI, habis tuh ormas seupil-upilnya.

Lha, Prabowo mecat Fadli Zon yang mihak FPI aja gak bisa, kok bisa-bisanya bikin statemen mendukung pemerintah berantas pemecah belah? Pemecah belahnya ada di dalam partainya sendiri.

Untung gua gak salah pilih. Kalo kemaren salah, bisa makan rawon gua sebulan. Hitam hitam deh.

FPI, Preman Pasar Berjubah Agama

Bendera HTI dan FPI
Bendera HTI dan FPI
Jakarta,  DennySiregar.id -
FPI itu sebenarnya bukan ormas yang isinya orang berpendidikan dan berfikir strategis. Mereka selalu dijadikan "attack dog" karena kemampuannya menggunakan massa sebagai alat penekan.

Pendapatan utama FPI selain dari para bohir yang berlatar belakang politikus dan pengusaha busuk yang memakai FPI untuk kepentingan mereka, juga dari jasa keamanan dari klub malam dan parkir-parkir.

Baca Juga:  

ORANG HEBAT DI BALIK JOKOWI

Mereka Bilang Jokowi Lemah, Mereka Salah Besar 

FPI gak ada bedanya dengan ormas-ormas preman yang kuasai pasar, hanya mereka pake jubah agama. Itulah kenapa mereka cepat berkembang karena masih banyak orang awam yang menganggap jubah itu suci sehingga layak diikuti.

Palingan yang lumayan pintar di dalam FPI hanya Munarman. Munarman ini jaringan internasionalnya lumayan, karena dia pernah jadi pengacara di sebuah perusahaan multinasional.

Tapi FPI jadi berbahaya ketika ada kelompok ideologis dan strategis menyusup ke dalamnya dan mengembangkan FPI sebagai salah satu alat perang mereka. Siapa kelompok itu? Tentu Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI.

Hizbut Tahrir bukan kelompok kemarin sore. Jaringan dan dana mereka kelasnya internasional. Dan mereka ada sudah sejak lama, sejak tahun 1953. Jejak pemberontakan mereka ada dimana-mana, di banyak negara.

Baca Juga:

ISIS COMPANY

KAPAN MUNARMAN DIJEMPUT, PAK POLISI?

Inilah yang berbahaya. HT bahkan jauh lebih berbahaya ketika organisasinya di Indonesia dibubarkan. Seperti virus, mereka butuh inang untuk berkembang. Dan ketika mereka menclok dan berkembang di FPI, sekejap FPI menjadi lebih ganas dan liar dari sebelumnya.

Memangnya pemikiran siapa yang menjadikan Rizieq sebagai imam besar untuk "menyatukan umat Islam" di Indonesia? Rizieq sendiri? Ya ngga lah. Doi orator ulung, itu benar. Tapi punya pemikiran yang strategis seperti itu, jauh api dari panggangnya.

Saya bersyukur atas dibubarkannya FPI, tapi tidak akan berarti banyak jika pentolan-pentolan HTI masih bebas berkeliaran seperti Bachtiar Nasir dan Ismail Yusanto.

Sudah selayaknya selain dibubarkan, pentolan-pentolan organisasi yang dilarang itu juga ditangkap. Dan ini butuh komitmen kuat dari seluruh jajaran pemerintahan supaya negeri ini bisa mulai membangun ekonominya kembali.

Rabu, 30 Desember 2020

ORANG HEBAT DI BALIK JOKOWI


AM Hendropriyono
AM Hendropriyono
Jakarta, DennySiregar.id - Sejak pertama kali kenal dengan AM Hendropriyono, saya kagum sekali. Usia beliau sudah diatas kepala 7 tapi semangatnya membela negara seperti anak muda usia 30.

Pak Hendro lah yang mengajarkan ke saya untuk mencintai negeri ini, dengan darah tertumpah jika harus begini. Beliau menasehati, mengajarkan strategi, mengubah cara berfikir sehingga bisa melihat sesuatu dengan luas, tidak dari dalam kotak.

Baca Juga:

Mereka Bilang Jokowi Lemah, Mereka Salah Besar 

PAKDE JOKOWI, API SUDAH SAMPAI DI PINTU GERBANG RUMAH KITA

Yang menakjubkan, pak Hendropriyono bukan hanya memberi nasehat untuk bangsa pada usianya yang sepuh, ia juga bergerak, memberikan motivasi, pemikiran, bahkan menggerakkan banyak hal.

Beliau pernah bercerita sama saya, paling bosan kalau diajak makan siang sama pak Jokowi. "Menunya tempe lagi tempe lagi.." Katanya yang bikin saya ngakak.

Salah satu penasehat Presiden di urusan keamanan yang tidak ingin tampil ke muka publik, dia ada di belakang layar karena buatnya, di usianya yang sekarang, harus banyak berbuat bukan lagi sibuk mengumpulkan materi.

Pernyataan beliau yang paling berani, "WNI keturunan arab jangan jadi provokator di negeri ini.." Dan semua ribut, menganggap beliau rasis. Padahal yang dimaksud tentu kepada beberapa pihak, seperti Rizieq dan kroni-kroninya, bukan kepada semua keturunan Arab, karena beliau juga berteman dengan mereka semua. 

Baca Juga:

SEGERA TANGKAP RIZIEQ SHIHAB 

INDONESIA, AYO BELAJAR DARI SURIAH

Tapi itulah pernyataan paling berani buat saya, supaya banyak orang sadar, jangan pernah menyembah-nyembah orang hanya karena dia mengaku cucu Nabi dan dimanfaatkan buat membuat rusuh negeri ini.

Beliau jaringannya luas mulai rakyat sampai pejabat. Dan pak Hendro lah, setahu saya, yang memberikan banyak masukan kepada Presiden bagaimana bersikap dan menghadapi FPI. Beliau punya pengalaman dalam menghadapi kelompok radikal berbaju agama pada masanya.

Satu nasihatnya yang paling saya ingat, "Kamu boleh lebih muda dari saya. Tapi apakah kamu bisa tetap semuda itu pada saat usiamu setua saya nantinya?".

Sehat-sehat ya, Jenderal. Profesor intelijen Indonesia. Bangsa ini masih membutuhkan pemikiranmu yang sangat strategis untuk bisa tetap berdiri..

Salam hormat dan salam secangkir kopi.

Mereka Bilang Jokowi Lemah, Mereka Salah Besar

Mereka Bilang Jokowi Lemah, Mereka Salah Besar
Jokowi
Jakarta, DennySiregar.id - Membubarkan sebuah ormas yang sudah berakar di masyarakat itu gak gampang, gak semudah membubarkan kumpulan kerbau.

FPI selama ini berlindung dibalik elit-elit beberapa partai dan pengusaha besar yang juga menggunakan jasa mereka, mulai jasa keamanan sampai menggoyang pemerintahan. Ada simbiosis mutualisma diantara mereka. Jika waktu dan kondisinya tidak tepat, goyang negara.

Baca Juga: 

Pemerintah Resmi Bubarkan Ormas Front Pembela Islam “FPI”

JOKOWI ITU ORANG SOLO

Lihat saja aksi yang mereka galang di 212 dan 411 dulu. Dengan dana besar, mereka memobilisasi warga-warga di luar Jakarta untuk berkumpul bersama, membangun tameng supaya orang tak berdosa bisa jadi korban kekerasan aparat. Kalau dulu ketika mereka kuat dipukul, jelas guncang kita. Bisa jadi tragedi 98 kedua, dan ormas-ormas radikal itu akan dapat simpati masyarakat awam.

Jokowi sebenarnya sudah geram sejak lama dan dia sampaikan di depan para penasehatnya. Bukan karena dia dendam pada FPI, tapi karena setiap demo yang mereka lakukan, negara harus mengocek duit puluhan sampai ratusan miliar rupiah untuk pengamanan. Dan ini berarti uang terbuang sia-sia, padahal banyak yang harus dia bangun supaya ekonomi kita bisa sehat.

Karena itu mereka dibiarkan dulu, kemudian dipisah-pisah satu demi satu, disusupi dan dipecah dari dalam, lalu dilokalisir mana yang paling membahayakan. Pemerintah belagak bego dan lemah, supaya mereka sangka mereka menang.

Baca Juga:

LANGKAH KUDA YANG SEMPURNA

Giliran FPI di Preteli

Ibarat main catur, jalan dibuka supaya tampak gampang diserang. Musuh lengah dan terus mainkan buahnya ke depan, sampai rajanya ikut turun menyerang. Penonton ikut teriak-teriak, "Woii, kalian bisa skak mat. Bodoh. Bego. Pemerintah lemah. Jokowi plin plan. Planga plongo.." dan segala macam cacian buatnya. Sabar. Ada waktunya..

Negara tampak seperti tidak punya wibawa. Bahkan pendukung Jokowi pun ikut memaki sampai menyesal sudah memilihnya kembali. Emosional. Semua harus sesuai keinginan mereka, tanpa mengerti apa yang bakalan terjadi.

Dan waktu yang tepat itu datang. Pandemi memudahkan semua. Ketika Rizieq melanggar aturan dan menantang-nantang negara, simpati orang padanya berubah jadi kebencian. Gema teriakan dimana-mana, "Tangkap Rizieq! Bubarkan FPI!".

Ini saatnya. Maka dipanggillah malam-malam para Panglimanya. "Saya gak mau tahu. Hajar mereka, atau kalian yang saya ganti dengan orang yang lebih tegas!". Perintah malam itu jelas dan keras. Cukup sudah main bertahan, sekarang main keras.

Baca Juga:

FPI dan Permainan Catur Jokowi 

KAPAN MUNARMAN DIJEMPUT, PAK POLISI?

Lalu gelombang demi gelombang hajaran dimainkan. Posisi catur yang tadi terbuka mulai merapat dan mengunci sehingga lawan sulit bergerak. Dijemput satu satu karena kebodohan mereka sendiri. Sebagian dilepas kembali dengan ancaman, "Kalian mainkan dari dalam barisan kalian, kalau gak kalian saya hajar sendiri.."

Meraunglah lagu Metallica, "Searching.. Seek and destroy!!".

Gugurlah pion, benteng, kuda, peluncur satu persatu. Kaget lawan, "Lha, kok jadi gini ?" Mereka teriak-teriak cari simpati, tapi masyarakat sudah kadung benci. Tinggal Raja dan Ratu, dan beberapa pion lagi.

"Tunggu dulu.." Perintah datang lagi. "Kita jadikan ini momen paling diingat orang, dan untuk kita menghormati seseorang.."

Kapan waktu yang tepat?

Haul Gus Dur yang ke 11. Orang yang paling dibenci FPI dan Rizieq Shihab. Ini seperti piala yang dipersembahkan untuk orang yang sangat dihormati.

Lalu dijalankanlah langkah terakhir. Skak, ster! Bukan skak mat. Ratunya rubuh. Raja lawan gak bisa jalan. Pura pura sibuk dengan urusan tali ban.

Semua bahagia. Masyarakat senang. Selamat Tahun baru 2021 diucapkan dari dalam istana, dengan hadiah yang dikemas sangat indah.

Papan catur dibereskan. "Mau main lagi? Ayo, silahkan. Atur kembali papannya.." Tantangan diberikan. Ini negara demokrasi. Siapapun boleh main berkali-kali. Tapi yang harus disadari, setiap kekalahan, itu pasti menguras finansial banyak sekali. Investasi besarnya hangus seketika. Seruput kopinya.

Sabtu, 26 Desember 2020

ISIS COMPANY

ISIS COMPANY
Narkoba
Jakarta, DennySiregar.id -
Ada kejadian menarik saat ISIS menguasai separuh Suriah di tahun 2012an..

Dua orang teroris ISIS kedapatan oleh tentara Suriah sedang menyerang sebuah tiang listrik. Sesudah ditangkap, mereka kemudian diinterogasi. Kedua teroris itu sedang halusinasi, mereka menganggap bahwa yang mereka serang itu tentara Suriah.

Ternyata mereka mengkonsumsi narkoba berupa pil yang dikenal dengan nama pil captagon. Ini pil yang dulu digunakan untuk pengobatan narkolepsi, depresi dan hiperaktif. Dan sudah dilarang edar sejak tahun 1980an.

Temuan yang mengagetkan, pil captagon ini diproduksi kembali oleh ISIS dalam bentuk massal.

Keuntungan mereka produksi kembali pil ini ada dua. Satu, untuk dijual sebagai pembiayaan terorisme di Suriah. Dan kedua, untuk dipakai perang karena ketika minum pil ini, mereka tidak ada rasa takut apalagi rasa berdosa. Ketika mereka menyembelih manusia, mereka merasa yang disembelih adalah seekor babi atau sapi.

Pil Captagon ini juga dikenal disana sebagai "Pil jihad". Karena ditemukan disarang2 ISIS yang sudah dibombardir tentara Suriah.

Penemuan 200 kilogram sabu di Petamburan, mengingatkan saya dengan cerita lama itu. Bahwa terorisme punya benang merah dengan narkotika. Dipopulerkan oleh Pablo Escobar di Kolombia, yang menyuruh anak buahnya semua harus pake heroin supaya mau jadi tameng hidup buat dirinya.

Pada intinya, teroris dan radikalis butuh "Doping" supaya mereka berani menghadapi lawannya. Pada dasarnya mereka itu pengecut dan cinta dunia, sehingga butuh pendorong untuk melakukan pengrusakan.

Jujur saya menganalisa, dibentuknya laskar di area Petamburan sebenarnya hanyalah benteng supaya ada kelompok yang bisa melaksanakan kejahatan tanpa ketahuan dari dalam. Petamburan harus terus dianggap berbahaya dan terjaga supaya orang segan kesana, dan disanalah produksi besar-besaran narkotika dikerjakan.

Saya tidak menuduh ormas itu yang meproduksi narkotika disana. Mereka tidak sepintar itu. Paling mereka cuman dijadikan "anjing penjaga" untuk menjaga pabriknya.

Lalu siapa Godfathernya ? Itulah yang lagi dicari.

Karena perilaku radikalis sekecil apapun butuh logistik, yang dikemas sebagai bagian dari "jihad" dan perjuangan jangka panjang.

Mirip ISIS, yang dikenal dengan nama perusahaan ISIS inc dengan nilai asset total 20 triliun rupiah dari perdagangan minyak hasil rampasan, penjualan benda seni dan narkoba juga jasa preman.

Masih menganggap mereka membela Tuhan dan agama ? Maka otak anda yang perlu diperiksa.. Seruput kopinya.

Selasa, 22 Desember 2020

SELAMAT BEKERJA, KAWAN

SELAMAT BEKERJA, KAWAN
Gus Yaqut dan Denny Siregar
Jakarta, DennySiregar.id -
Menteri agama sebelumnya memang sangat mengecewakan Presiden.

Sebelumnya Presiden mendapat jaminan bahwa Fachrul Razi adalah orang yang tepat. Mantan tentara dan tegas. Namanya harum sebagai Komisaris utama di ANTAM.

Tapi ANTAM bukanlah Indonesia. Apalagi menyangkut masalah agama. Carut marutnya sudah sejak lama. Radikalisme dan intoleransi di banyak daerah sudah banyak berbuah. Alih-alih tegas, eh Fachrul Razi malah blunder mendukung FPI. Kaget pasti Jokowi, "Loh kok jadi gitu??".

Blundernya Fachrul Razi akhirnya jadi menyerang Jokowi, karena dia Presidennya. Hilang sudah "Tegas-tegas"nya. Yang ada malah kelompok intoleran makin berjaya. Beberapa kasus marak di Indonesia, dan tidak ada tindakan apa-apa. Kalaupun ada, sudah telat banget.

Jadi, saya yakin Menteri pertama yang akan diganti Jokowi pasti dia. Benar saja.

Hanya saya juga kaget, ketika tiba-tiba Jokowi angkat Ketua umum Ansor, Gus Yaqut jadi Menteri Agama. Menarik, pikir saya.

Saya sempat berjalan bersama Gus Yaqut ke beberapa daerah bicara tentang masalah radikalisme ini. Disana kami saling mengenal. Beliau humoris. Penuh dengan celetukan spontanitas khas NU. Tapi tidak kehilangan wibawanya dalam memerangi kelompok garis keras.

Dan ini mungkin yang diinginkan Jokowi. Menteri agama dikembalikan ke NU, tapi lewat barisan mudanya. Sekaligus sebuah test case, apakah bisa anak muda NU menyelesaikan masalah negeri ini? Jika bisa, keren sudah..

Saya berharap banyak pada Gus Yaqut. Meski saya tahu, bahwa Indonesia bukanlah Banser dan Ansor yang semuanya satu komando, seragam dan satu keyakinan. Indonesia jauh lebih complex dan semua keyakinan ingin diperhatikan.

Permasalahan paling mendasar adalah elemen-elemen di pemerintahan dan pendidikan agama sudah lama dikuasai kelompok radikal. Bahkan sekolah negeri sekarang sudah jadi sekolah agama, karena ada kewajiban yang tidak tertulis yang dipopulerkan guru agamanya.

Semoga ini bisa menjadi perhatian Gus Yaqut lewat kerjasama dengan Menteri Pendidikan.

Akhir kata, saya harus ucapkan "Selamat bekerja, kawan.."

Tetaplah pada amanah, karena jabatan itu bukan peluang. Suarakan sekeras-kerasnya supaya Indonesia kembali ke jati dirinya. Ubahlah persepsi bahwa Islam bukan lagi marah, tetapi ramah ke banyak daerah.

Saya yakin anda mampu. Dan sesudah tugas itu selesai, semoga kita bisa kumpul lagi sambil seruput secangkir kopi..

TEMPO, MAJALAH SALAH PASAR

TEMPO, MAJALAH SALAH PASAR
Foto Majalah Tempo
Jakarta, DennySiregar.id - Saya tuh bingung disentil-sentil terus untuk bahas "Anak pak lurah".

Penasaran saya cari-car berita, siapa sih yang dimaksud anak pak lurah? Oo, saya baru tahu ada isu yang diangkat majalah Tempo tentang keterlibatan Gibran Rakabuming dalam kasus korupsi Bansos Juliari Batubara.

Baca Juga:

TEMPO PINGSAN DIHAJAR NETIZEN +62

TEMPO: PERLU DIBACA KALAU ENAK

Kata Tempo, ada info kalau Gibran dengan kode anak pak Lurah, maksudnya mungkin Jokowi, yang punya akses melibatkan PT Sritex Tbk dalam pengadaan kantong bansos.  PT Sritex tentu membantah ada urusan sama Gibran. Apalagi berita Tempo hanya berdasarkan "Katanya".

Jadi kocak. Mereka yang bikin berita sendiri, asumsi sendiri, ribut-ribut juga sendiri. Orang lain pada ngakak.

Yang menarik buat saya sebenarnya adalah majalah Tempo ini. Saya dulu pembaca Tempo, bahkan almarhum bapak selalu membundelnya. Asyik memang dibacanya. Tapi itu dulu. Sekarang, Tempo kayak koran gosip pinggir jalan. Berita belum jelas, dimainkan dgn klik bait untuk dapat pelanggan.

Saya orang Marketing, jadi paham bagaimana cara jualan. Kalo saya jual mobil Ferrari, tentu saya akan pasarkan ke kelas yang mampu beli mobilnya, bukan kepada para pedagang kaki lima misalnya. Untuk apa? Mereka tentu gak mau beli.

Nah, majalah Tempo dulu itu begitu. Target pasarnya jelas. Kelas berpendidikan dan punya penghasilan tetap. Harga langganannya aja lumayan. Pemasang iklan juga senang pasang iklan di Tempo, karena pembaca Tempo adalah orang yang bisa beli produk yang mereka iklankan disana.

Baca Juga:

KISAH PERANG PRABOWO DAN MEDIA

Benarkah Zaman Soeharto Itu Enak?

Tempo sekarang bikin ketawa. Target pasarnya orang-orang yang suka berita gosip dan kelas menengah bawah. Mirip koran kuning, yang judulnya bombastis tapi isi beritanya gada mutunya. Lah, siapa yang mau pasang iklan disana? Wong pembacanya gak punya daya beli..

Udah gitu, orang harus berlangganan lagi untuk baca Tempo sekarang. Kalo sasaran pasarnya masih seperti dulu sih, oke aja. Mereka gak masalah keluar uang sekian rupiah untuk langganan.

Lha, pembaca Tempo sekarang -yang banyak kadrunnya- makan aja harus nunggu demo dulu. Gimana bisa langganan?.

Baca Juga:

ADU KUAT DI MEDIA SOSIAL

SEKELAS JAWA POS, MEN?

Jadi akhirnya, boro-boro langganan. Berita Tempo di upload oleh satu orang yang punya duit sedikit, trus disebarkan gratis ke ribuan orang. Bangkrut gak tuh? Baca aja patungan..

Sudah saatnya pemilik Tempo mulai pecatin redaktur-redakturnya. Perjelas lagi segmennya, mau buat majalah utk orang terdidik atau kelas gosip? Mending sekalian Tempo berubah jadi majalah otomotif misalnya, lebih jelas pasarnya daripada kayak begini..

Baca Juga:

PERANG MEDIA SOSIAL

SENJATA PENGHANCUR MASSAL ITU BERNAMA HOAX

Sebagai mantan pecinta Tempo dulu, ini mungkin saran terbaik yang bisa saya berikan. Saya hormat sama om Goenawan Mohammad karena tulisan-tulisannya. Duh, sayang banget kalo orang-orang muda di Tempo sekarang gak punya arah yang jelas.

Kalo gini terus, kelak Tempo akan seperti Nokia. Cuman jadi sejarah. "Dulu pernah ada majalah namanya Tempo. Isinya bagus-bagus. Kakek suka sama ceritanya tentang Johan ma Tante Sonya..".

Lho, kek ? Itu bukannya Enny Arrow?.

Artikel Terpopuler