Sabtu, 12 Oktober 2019

KISAH RINI, PELAKU BOM BUNUH DIRI

Mantan Polwan
Kisah Rini Mantan Polwan
DennySiregar.id, Jakarta - Rini adalah seorang Polwan.. Ia masuk menjadi anggota polisi dengan semua pemahaman tentang Pancasila dan keinginan membela tanah air.
Sesudah bertugas beberapa tahun, ia tertarik belajar agama. Maka ia datang ke sebuah masjid dan bertanya-tanya. Lalu ikutlah dia ke sebuah pengajian. Dari pengajian itu Rini berubah. Di rumah, Rini memakai cadar sesudah mengganti seragam polisinya.
Sesudah bercerai dengan suaminya, Rini semakin aktif ke pengajian. Ia lalu dimasukkan ke grup-grup WA dan Telegram untuk mengikuti kajian. Jaringan Rini semakin luas. Posisinya sebagai abdi negara menarik perhatian beberapa orang untuk menariknya "lebih dalam".
Rini dihubungi lewat private message oleh seseorang bernama, sebut saja Kumbang. Si Kumbang ini mengaku sebagai duda yang mencari istri. Perkenalan berlanjut dan si Kumbang mengajak Rini lari dari rumah dan memulai hidup baru bersamanya.
Mereka kemudian dinikahkah secara siri oleh seorang "ustad". Sejak itu, Rini tidak pernah lagi datang ke kantor dan memenuhi tugasnya. Semua komunikasi diputus dan hape dibuang.
Bersama suami siri yang baru dikenalnya, Rini kemudian disiapkan menjadi "pengantin" bunuh diri. Rini dipersiapkan untuk sebuah misi dengan janji akan masuk ke surga jika berhasil mengorbankan banyak nyawa. Terutama nyawa para petugas Polisi.
Tetapi kepolisian berhasil mencium jejak Rini. Ia kemudian diburu oleh pasukan khusus dan ditangkap dalam kondisi sudah siap secara mental untuk berangkat.
Rini hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun mulai ingin belajar Islam sampai siap menjadi bom manusia.
Mengerikan?
Jelas. Betapa mudahnya seseorang dari yang awalnya punya tekad untuk membela negara menjadi musuh negara. Ini karena kosongnya pengetahuan agama secara hakikat dan sibuk belajar ritual sehingga otaknya mudah dicuci.
Dan yang lebih mengerikan, disekitar kita banyak Rini Rini lainnya yang kerja di TNI, di BUMN, sebagai ASN. Itu belum terhitung yang kerja di sektor swasta atau yang mengundurkan diri dari Bank tempatnya dulu bekerja karena cuci otak bahwa ia melakukan riba.
Radikalisme di negeri ini sudah berada pada zona merah karena longgarnya pengawasan dan gamangnya pimpinan bertindak karena takut berbenturan dengan "agama". Atau mungkin pimpinan tempat ia bekerjalah salah satu anggota jaringan.
Radikalisme di Indonesia sudah harus dimasukkan sebagai "kejahatan luar biasa". Harus ada perhatian khusus dan team khusus juga komitmen kuat untuk memberantasnya.
Dimulai dari screening ditubuh aparat dan pegawai pemerintah. Harus dibuat payung hukum supaya mudah menjalankannya. Dan disini pemerintah dan DPR punya tanggung jawab besar untuk memikirkannya.
Apa harus tunggu "bom Bali" kembali meledak karena kita masih ragu dan lunak? Apa menunggu seorang pejabat terluka baru kita sibuk mencerca?
Semua peristiwa pasti ada pembelajaran di dalamnya. Kecuali kita tidak mau belajar dan rela menjadi bodoh sampai muncul korban-korban jiwa.
Seruput kopinya..

Jumat, 11 Oktober 2019

BRAVO, JENDRAL ANDIKA PERKASA

Andika Perkasa
Andika Perkasa
DennySiregar.id, Jakarta - ”Jangan cemen, pak.. Kejadianmu tak sebanding dengan jutaan nyawa melayang.."
Begitu bunyi status dari seorang wanita, yang belakangan diketahui ia adalah istri dari Dandim di Kendari. Status itu masih ditambah dengan emoticon ketawa dan ditujukan kepada Wiranto, Menkopolhukam yang menjadi korban penusukan.
Sontak status ini mendapat sorak sorai dari kadal gurun yang memang mencoba merapat ke TNI, dalam usaha mereka membenturkan institusi ini dengan pemerintah dan Polri.
TNI memang dikabarkan sebagai salah satu institusi yang terpapar radikalisme, dengan jumlah tidak main-main sekitar 3 persen anggota. Diduga keras, paparan radikalisme ini bukan pada saat perekrutan, tetapi justru di kelompok-kelompok pengajian umum yang dihadiri para istri tentara.
Ketika Menhan mengakui ada paparan radikalisme di TNI, saya cemas. Sangat berbahaya. Apalagi pola kelompok Hizbut Tahrir diseluruh dunia sama, yaitu menyusup ke dalam tubuh tentara dan kemudian melakukan kudeta disana. TNI menjadi kendaraan penting bagi Hizbut Tahrir karena mereka memegang senjata.
Dan ketika berhadapan dengan TNI, jelas polisi kita gagap. Mereka cenderung tidak mau dibenturkan dengan institusi.
Lihat saja saat penangkapan mantan Danjen Kopassus yang diduga kuat terlibat dalam usaha pembunuhan dengan sniper, saat demonstrasi di MK bulan Mei lalu.
Banyak purnawirawan TNI dengan pangkat tinggi membela rekannya yang tertangkap, padahal sudah jelas dia punya andil besar dalam usaha pembunuhan itu.
Situasi ini yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal dengan selalu memuji TNI sebagai pelindung mereka, sedangkan polisi adalah musuh besar mereka. Tujuannya apalagi selain membenturkan kedua institusi itu, dan mereka menari diatas puingnya
Melihat Jendral Andika Perkasa, KSAD, tampil dengan gagah di depan kamera televisi mengumumkan memberi hukuman dengan mencopot Dandim Kendari, karena perilaku istrinya yang mendukung terorisme dan tidak menghormati seniornya, duh, saya lega bukan kepalang.
Menantu Jenderal purnawirawan AM Hendropriyono ini bisa dengan tegas melihat masalah dalam institusinya. Dia tidak membiarkan bibit radikalisme tumbuh di jajarannya.
Langkahnya mengumumkan pencopotan Dandim Kendari karena postingan istrinya itu, adalah sebuah pesan kepada seluruh jajaran dibawahnya, bahwa dia tidak kompromi dengan radikalisme.
Dan pemikiran ini sesuai dengan pemikiran besar mertuanya, AM Hendropriyono yang memang sejak awal sudah mewaspadai gerakan radikal di negeri ini dan berjuang memerangi mereka.
Sungguh radikalisme di negeri ini sudah masuk zona merah. Perlu dicanangkan bahwa radikalisme adalah "kejahatan luar biasa". Mereka seperti racun yang kelak akan menghancurkan kita.
Dan siapapun yang mendukung radikalisme, seperti istri sang Dandim, wajib dihukum sepantasnya. Apalagi mereka yang makan dari negara, dari uang pajak rakyat, tetapi mendukung para musuh negara.
Bravo, pak Andika. Genderang perang terhadap radikalisme tabuhkanlah sekencang-kencangnya. Mulailah dari dalam institusi sendiri. Bersihkan jangan dipelihara.
Semoga kelak Jenderal bisa menjadi Panglima TNI dan memimpin kami dalam perang melawan kejahatan luar biasa ini..
Seruput kopinya..

MELAWAN ZOMBIE DI NEGERI INI

Bela Negara
Bela Negara
DennySiregar.id, Jakarta - ”Korea Selatan itu negara yang selalu merasa terancam.." Kata temanku waktu kami ngopi bersam
"Di bidang ekonomi, mereka merasa terancam pada Jepang. Mereka dijajah oleh banyak produk Jepang, mulai dari mobil sampai alat rumah tangga. Karena itu mereka berfikir keras, bagaimana caranya supaya bangsa mereka tidak terjajah oleh bangsa Jepang.
Korsel lalu menciptakan industri hiburan, bernama K-Pop. K-Pop diproduksi secara serius, dan pengaruhnya disebarkan ke seluruh Asia.
Lewat terkenalnya K-Pop, nama Korsel terangkat. Dan saat orang-orang mengenal Korsel, maka produk-produk merekapun diluncurkan, seperti Samsung, Hyundai dan segala macam produksinya.
Industri K-Pop itulah yang membuka jalan produksi Korsel mendunia. Begitulah pertarungan Geo Politik berjalan.."
Dia melanjutkan.
"Di bidang militer, Korsel sangat takut pada Korea Utara. Karena itu, mereka mewajibkan remajanya pada usia tertentu untuk wajib militer, supaya berjaga-jaga dari ancaman perang.
Wajib militer di Korsel kemudian berkembang menjadi semacam pembentukan karakter, kecintaan pada tanah air, budi pekerti dan menjadi pekerja keras. Remaja yang lulus, ketika dilepas menjadi remaja mandiri dan tidak mudah mengeluh..."
Aku menyeruput kopiku. Asik juga pembicaraannya.
"Banyak bangsa di dunia yang sukses karena mereka punya lawan, atau membangun ketakutan akan kemungkinan perang. Singapura punya wajib militer, karena tidak yakin akan stabilitas keamanan di sekitar wilayahnya.
Israel membangun karakter bangsanya melalui wajib militer, karena takut pada serangan negara arab disekitarnya..
Mereka punya lawan, punya ketakutan, sehingga membentuk self defense atau pertahanan diri yang kuat.."
Temanku senyum lebar.
"Bangsa Indonesia yang agamis ini gak ada yang ditakuti, kecuali pada Tuhan. Padahal Tuhan tidak punya ukuran. Karena tidak punya lawan yang jelas inilah, Indonesia jadi tidak membangun pertahanan diri.
Pada akhirnya, kita tidak berkembang karena tidak punya ukuran. Berjalan apa adanya, tanpa konsep yang pasti karena tidak tahu yang dilawan siapa dan bagaimana.."
"Seharusnya dengan maraknya kekerasan ini, Indonesia sudah punya lawan yang menakutkan, yaitu RADIKALISME. Dengan begitu, negeri ini membangun sistem pertahanan diri supaya tidak hancur.
Salah satunya dengan membangun konsep wajib militer seperti Korsel dan Singapura. Tapi namanya bukan wajib militer karena kita trauma dengan yang namanya militer.
Konsepnya namakan saja BELA NEGARA. Pendidikan ala militer tapi tanpa senjata.
Remaja yang lulus sekolah menengah, wajib ikut pelatihan bela negara yang diselenggarakan Kementrian pendidikan kerjasama dengan TNI dan Polisi. Toh dana pendidikan kita besar sekali..
Disana dibangun karakter cinta tanah air, menjadi mandiri, pekerja keras dan budi pekerti. Bela negara fokus pada pembangunan karakter manusia saat transisi dari remaja menjadi pekerja.
Malam semakin larut..
"Sekarang ini di Indonesia, peran negara hilang total, digantikan kelompok agama.
Akhirnya kaum fundamentalis yang mengisi kekosongan ini dengan memasukkan budaya arab yang keras dan doyan perang, untuk menghilangkan karakter asli bangsa Indonesia.
Negara harus mengambil alih peran ini. Waktu yang tepat adalah sekarang, saat Presidennya punya visi dan parlemennya mayoritas dari koalisi.
Bikin perangkat hukum darurat, melawan radikalisme dan negara ikut campur dalam penanganan karakter bangsa dalam konsep Bela Negara.
Kalau tidak, rasakan dalam waktu 10 sampai 20 tahun lagi, negaramu akan penuh dengan kelompok radikal usia muda yang ingin menghancurkan negeri ini karena hilang rasa cinta pada tanah airnya.."
Aku merenungkan perkataan temanku dulu itu. Prediksinya terbukti sudah. Pahit seperti secangkir kopi.
Apakah perlu jatuh korban lagi karena kita tidak pernah menganggap radikalisme itu "kejahatan luar biasa" yang harus ditangkal dan dicegah sejak dini?
Kuseruput kopiku, semoga ada jawaban atas kegelisahanku sekarang ini.

Kamis, 10 Oktober 2019

PAK JOKOWI, TOLONG KAMI

Radikalisme
Anak Kecil ikut Demo
DennySiregar.id, Jakarta - Dalam sebuah acara televisi, seorang panelis bertanya kepada saya, "Apa keresahan terbesar anda?" Dan saya jawab, "Radikalisme.."
Jujur, sejak melihat situasi Suriah tahun 2012 lalu, keresahan itu terus menghantui saya. Dan saya terus menulis tentang bagaimana kemungkinan api Suriah akan dibawa ke Indonesia. Dan teori itu terbukti dengan adanya gerakan demo besar dengan mengusung "umat" dan "agama".
Diluar itu, Densus 88 terus menerus menangkapi para pelaku teroris diberbagai tempat. Dan para politikus berselingkuh dengan kaum radikal untuk mencapai tujuan jabatan.
Terakhir, Menkopolhukam ditusuk oleh mereka yang terpapar ISIS. Dan di twitter, banyak sekali para pendukung teroris hanya karena kebencian pada pemerintahan sekarang yang tidak mereka sukai.
Mau dibawa kemana negara ini?
Saya tahu bahwa banyak gerakan senyap dilakukan pemerintah untuk menangkal radikalisme dan terorisme. Gerak BIN dan BNPT di banyak instansi, mulai BUMN sampai perguruan tinggi, dilakukan terus menerus karena radikalisme ini sudah masuk ke pori-pori negeri ini.
Gerakan itu mungkin berguna sekarang.
Tapi bagaimana 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Atau 20 tahun lagi? Apakah kita harus begitu terus, menangkapi para teroris, menghantam ASN yang terpapar sambil terus mencaci kelompok radikal tanpa ujung pangkal?
Masalah ini tidak akan pernah selesai dan kita seperti berputar di labirin sambil terus menggelontorkan dana triliunan rupiah yang dibakar habis untuk penangkapan kelompok radikal.
Akar masalah radikalisme ini, jika kita mau berfikir out of the box, sebenarnya sederhana. Yaitu, karena peran negara sekarang ini banyak diambil alih kaum agama.
Minimnya pengetahuan tentang pentingnya cinta tanah air, diisi oleh kelompok agama dengan konsep membangun mimpi negara Islam.
Akar kecintaan kita pada Republik ini, yang diwarisi oleh para pejuang yang mengorbankan darah mereka supaya kita merdeka, hilang dalam semua mata pelajaran yang ada.
Malah mata pelajaran agama yang terus menerus menjadi doktrin, sehingga tanpa sadar terbentuk cluster-cluster berupa manusia fanatik berdasarkan apa agamanya dan apa mazhabnya.
Dan disinilah sumber masalah selama ini. Kebudayaan hilang, pendidikan hanya diukur berdasarkan nilai, bangsa kehilangan akar, karakter manusianya tanpa pegangan.
Dan kekosongan ini kemudian diisi oleh para kelompok fanatik dengan budaya luar, terutama budaya arab yang keras dan gila perang. Hilang sudah karakter bangsa Indonesia yang santun dan penuh etika pada orang tua dan sesama seperti sebelum tahun 1998..
Tidakkah ini menakutkan?
Pak Jokowi dan para anggota dewan yang terhormat yang baru mengisi kursi dan mayoritas dari koalisi, tolong kami...
Kembalikan peran penuh negara dalam mendidik anak kami. Kami tidak ingin kelak anak kami menjadi zombie, jika negara abai terhadap situasi ini.
Isi anak kami dengan kecintaan pada negeri ini. Berlakukan hukum darurat dalam melawan radikalisme agama dengan konsep pendidikan BELA NEGARA.
Biarkan negara yang mendidik anak kami, bukan "ustad-ustad" dan "guru agama" yang sudah dicuci otak untuk mendirikan negara agama sesuai kepentingan mereka.
Negara punya tanggung jawab penuh menyelamatkan masa depan anak bangsa dari racun khilafah yang sekarang sedang mewabah.
Pak Jokowi, tolong kami. Tolong anak kami. Tolong masa depan bangsa ini. Biar kelak kami sebagai orang tua bisa duduk dengan tenang dan percaya diri melihat kemajuan bangsa ini, sambil seruput kopi.

Selasa, 08 Oktober 2019

HARI INI NINOY, ENTAH BESOK SIAPA

Teroris ISIS
Teroris ISIS
DennySiregar.id, Jakarta - Belasan orang dieksekusi. Tangan mereka diikat ke belakang dan kepala mereka satu persatu dihunjam timah panas. Ada juga yang digorok lehernya.
Kejadian ini dilakukan di sekitar masjid di Raqqa, Suriah oleh kelompok Islamic State atau ISIS. Korban adalah warga sekitar yang tak berdosa, yang diambil secara acak karena dianggap tidak mau berbaiat. Ada juga yang karena kesalahan sepele dianggap menyinggung anggota mereka.
Mayat-mayat mereka dikumpulkan di halaman masjid dan divideokan dengan narasi bahwa inilah korban Presiden Suriah Bashar Assad. Video itu kemudian diupload ke Youtube untuk memperbesar kebencian pada pemerintahan yang sah.
Membaca apa yang terjadi pada Ninoy S Karundeng, pegiat medsos sekaligus pendukung Jokowi, saya bergidik. Teringat sekian tahun lalu saat ISIS masih berkuasa di Suriah.
Ninoy dipersekusi, dipukuli habis-habisan bahkan oleh ibu-ibu pengajian disana.
Belum selesai, datang seseorang yang dipanggil "habib" kemudian berbicara untuk membunuh Ninoy dengan kapak. Mayat Ninoy rencananya akan diangkut oleh ambulans dan dibuang ditengah-tengah kerumunan demonstran. Narasi yang dipersiapkan apalagi kalau bukan korban kekerasan polisi.
Untung ambulans tidak datang. Rencana itu gagal karena tidak terpikir bagaimana nanti mengangkut mayatnya.
Semua pembicaraan dan rencana itu dilakukan dalam sebuah masjid. Tempat yang seharusnya menjadi tempat ibadah yang tenang dan khusuk. Ninoy juga muslim, sama seperti mereka. Sama-sama shalat, sama-sama puasa. Bedanya adalah Ninoy pendukung Jokowi, sedangkan mereka adalah pembencinya.
Pihak Dewan Keluarga Masjid DKM tempat Ninoy dianiaya buru-buru membantah. Mereka bilang "menyelamatkan" Ninoy dari amukan massa. Sebuah cerita yang tidak masuk akal, karena Ninoy disiksa di dalam masjid berjam-jam, bahkan tidak ada seorangpun yang tergerak untuk menelpon polisi.
Sadis dan barbar. Itulah yang ada dalam pikiran kita semua membaca kisah penculikan dan penganiayaan Ninoy S Karundeng itu. Pola-pola ISIS itu dikembangkan disini, di sebuah masjid di ibukota Indonesia bernama Jakarta.
Ini sudah bukan lagi intimidasi dan persekusi. Ini sudah mengarah ke potensi pembunuhan berencana. Sebuah aksi terorisme untuk menimbulkan dampak ketakutan dan kepanikan dengan mengorbankan nyawa.
Dan dari para pelaku yang ditangkap termasuk menjadi saksi, kita mengenalnya dengan nama organisasi yang selama ini mereka kibarkan, yaitu FPI dan PA 212. Mereka mereka lagi. Para preman yang bersembunyi dibalik jubah agama. ISIS juga begitu. Sembunyi dibalik jubah agama supaya tampak sedang berjuang di jalan yang suci.
Dan mereka tidak berada jauh disana, di Suriah. Tapi ada di halaman rumah kita sendiri. Menjadi tetangga bahkan mungkin karyawan di pabrik kelompok yang mereka benci.
Sekarang Ninoy. Entah besok siapa. Mungkin anda. Mungkin saya. Mungkin anak kita.
Tanpa gerakan sosial untuk membubarkan kelompok mereka, menghukum seberat-beratnya para pengancam yang ingin menghilangkan nyawa manusia dan tanpa pernah dilabeli sebagai organisasi teroris, mereka akan tetap ada.
Dan tetap mereka merasa tidak bersalah. Terus berkelit seolah-olah tangan mereka bersih dari darah.
Hari ini Ninoy. Entah besok siapa. Apakah menunggu negeri ini dikuasai mereka seperti yang pernah terjadi di Suriah?
Mau seruput kopi, tetapi gigi ini gemeletuk. Geram rasanya..

Jumat, 04 Oktober 2019

TEMPO: PERLU DIBACA KALAU ENAK

Buzzer
Cover Majalah
DennySiregar.id, Jakarta - Entah sudah keberapa kali majalah Tempo menulis tentang "Buzzer".
Buzzer atau bahasa Indonesianya disebut pendengung ini adalah sebuah kegiatan aktivitas di media sosial yang banyak menyuarakan "apa yang mereka pikirkan" lewat akun-akun mereka.
Ada juga akun-akun robot yang memang kegiatannya hanya memviralkan tagar supaya trending di media sosial.
Saya dulu adalah pembaca Tempo yang bisa dibilang fanatik. Ini warisan dari almarhum ayah yang senang mengkliping majalah Tempo setiap akhir tahun. Membaca Tempo itu asyik, tulisannya bertutur dan memang enak dibaca.
Tapi semakin kesini, bagi saya Tempo semakin kehilangan ke"Tempo"annya.
Berita di Tempo cenderung tendensius, ketara sekali unsur pesanannya dan tidak objektif lagi dalam membicarakan masalah. Sehingga ketika membaca Tempo, saya seperti bukan membaca sebuah majalah, tetapi tabloid dari sebuah organisasi tertentu yang sedang berkampanye dan ingin merusak citra lawannya.
Bagi saya, jurnalistik itu adalah seni. Jurnalistik bukan saja kemampuan menggali, mencari kepingan berita, tetapi juga mampu menuangkannya dengan gaya yang enak dilahap dengan enaknya, pada waktu sore hari sambil ngopi dengan camilan singkong goreng tipis-tipis.
Tempo pernah menyajikan itu di tahun 80-90an, saat idealisme jurnalismenya masih tinggi. Sekarang, anak-anak baru di Tempo menjadikan majalah ini sebagai sudut penuh sampah dengan berita-berita yang miring ke kiri.
Contoh saja masalah Taliban di KPK..
Tempo tidak pernah mencoba mendalami kebenaran isu adanya Taliban di KPK dengan laporan mereka yang biasanya dalam dan tajam. Tempo malah menjadi seperti "jubir tidak resmi" KPK dan sibuk menepis isu-isu yang ada.
Seorang yang pernah ada di KPK ketawa ketika saya bertanya tentang ini, "Ah, mereka berdua punya hubungan simbiosis mutualisma..". Yah, akhirnya saya paham ketika antara teman seiring sejalan tidak mau saling sikut-sikutan karena jadi tidak menguntungkan.
Dan karena sibuk menjadi juru bicara, Tempo yang biasanya menjadi lokomotif dalam membongkar sesuatu yang mencurigakan, malah jadi seperti gerbong yang tertinggal di belakang. Media sosial lah yang akhirnya menjadi garda terdepan dalam menguliti apa yang terjadi.
Dalam masa senjanya, Tempo akhirnya ngamuk karena kejumawaannya yang selalu dibanggakan dengan slogan "enak dibaca dan perlu", dirontokkan di depan mata pembacanya. Orang beralih ke media sosial yang mampu menawarkan sudut pandang berbeda dalam sebuah masalah.
Marahnya Tempo mirip seperti orang tua dulu yang selalu mengambil ikat pinggang untuk melibas anaknya. Lalu dilibaskanlah sabuk itu dengan tudingan "buzzer, buzzer" dengan membabi buta.
Beda dengan orang tua sekarang yang lebih merangkul dan mengajak anaknya bersahabat dan bertukar pikiran.
Apa yang terjadi? Tempo menjadi bahan tertawaan di media sosial. Ratingnya dianjlokkan dalam waktu 3 hari saja jadi bintang 1 doang. Sahamnya pun sempat berantakan dan dengan ngos-ngosan berusaha dipulihkan.
Pada akhirnya, Tempo lebih sibuk mengurusi tentang "buzzer" daripada menghadirkan berita yang lebih bermutu dan membuatnya enak dibaca. Seperti misalnya tentang agenda memecah belah Papua lewat peristiwa Wamena.
Tempo lebih sibuk menyerang, seperti orang tua yang semakin kekanak-kanakan. Dan si anak pun dengan senang berlompatan seperti menggoda dengan gayanya yang bebas dan merdeka.
Entah begitu pentingnya "buzzer" bagi Tempo sampai mereka tidak sadar, pembacanya yang dari kalangan berpendidikan tidak butuh itu. Seperti seorang teman yang kerja dibidang finansial bicara, "Mau buzzer kek, mau ngga kek, apa perdulinya dibahas sampe segitu?"
Yah, orang bilang di dunia ini semua berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Tempo dulu memang "enak dibaca dan perlu". Tapi sekarang "perlu dibaca kalau enak". Sayangnya, banyak gak enaknya.
Jadi ya, dibaca seperlunya dan seenaknya..
Seruput kopi dulu ah. Mana singkong tipisnya?

Sabtu, 28 September 2019

AMBULANS SEBAGAI SENJATA PERANG

Mobil Ambulans
Mobil Ambulans
DennySiregar.id, Jakarta - Alih fungsi ambulans sebagai bagian dari senjata perang itu bukan barang baru.
Dalam perang Suriah, ambulans bukan saja mengangkut batu dan bom molotov seperti disini, tetapi bahkan difungsikan sebagai pengangkut senjata berat untuk kelompok pemberontak.
Ambulans adalah penyamaran yang sempurna, karena ia dilindungi oleh Konvensi Jenewa tahun 1949 sebagai objek yang tidak boleh diperangi oleh kedua belah pihak. Selain itu ia juga berfungsi sebagai "tempat aman" bagi para pemberontak untuk berlindung dan mengungsi ke tempat lain.
Di Suriah, model penyamaran dengan menggunakan medis ini dilakukan oleh organisasi propaganda berbaju kemanusiaan bernama White Helmets.
Dalam beberapa demo di Indonesia, kita melihat model penyamaran yang sama dengan menggunakan ambulans.
Saat aksi 22 Mei lalu, polisi menangkap ambulans dengan logo Gerindra yang membawa batu. Supirnya mengaku dibayar 1,2 juta untuk mengangkut batu, membagikan amplop berisi uang ditengah kerumunan massa bayaran.
Itulah kenapa saat demo aksi 22 Mei lalu saya menulis untuk mengawasi petugas medis swasta yang sudah standby di sekitar lokasi.
Ada ACT yang setahu saya pernah melakukan demonstrasi kekejaman perang Suriah dengan membawa bendera pemberontak Suriah atau FSA. Ada juga dompet dhuafa yang sudah ada disana. Ngapain dompet dhuafa ngurusin demo segala, bukannya sibuk membantu fakir miskin?
Dari sini kita bisa lihat bahwa bukan salah polisi ketika mencurigai ambulans berlogo Pemprov DKI dan PMI membawa batu - dan molotov.
Pengakuan PMI sih, kardus berisi batu dan molotov itu titipan demonstran. Dan dari situ saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa ambulans disaat tidak mengambil orang sakit, bisa juga dipakai untuk membawa barang titipan saat senggang.
Sejenis JNE lah gitu..
Dan dari video ini kita bisa melihat fungsi lain ambulans saat ada di aksi demo..
Saya seruput kopi dulu. Mumpung masih pagi.

Rabu, 25 September 2019

SURAT UNTUK MAHASISWA YANG SUKA DEMO

Ojol
Driver Online
DennySiregar.id, Jakarta - “Lewat sono macet, bang.. ada demo mahasiswa, jalan ditutup."
Begitu kata driver ojol kepadaku. "Ya, sudahlah. Lewat mana aja terserah yang penting nyampe.." Kataku. Dan kamipun meluncur membelah jalan Jakarta menuju sebuah tempat.
"Adek-adek mahasiswa itu gak tau susahnya nyari kerja.." Kata driver ojol itu membuka pembicaraan. Ah, menarik nih. Daripada bengong sendirian, lebih baik dengar cerita sang driver.
"Gua juga dulu kayak mereka, bang. Ada demo, kita jalan. Ya maklumlah anak muda. Kuliah cuman buat hura hura doang. Pokoknya demo itu bikin senang. Bisa seru-seruan. Lagian gagah, kan ? Bisa pamer foto ma cewe..." Dia ketawa sendiri.
Saya jadi senyum. Mendengar cerita tentang kehidupan seseorang itu menyenangkan. Seakan bisa menyelami apa yang dia rasakan.
"Kuliah sih lulus. Gampang sih lulusnya. Cuman habis lulus ngelamar kemana-mana gak dapet kerja. Gua gak punya skill, nyesel juga dulu gak sibuk kerja sambil kuliah.
Kalau dulu gua kerja nyambi kuliah kan seenggaknya gua ada yang bisa ditawarkan. Lah, modal cuman ijazah doang kemampuan gak ada, mana mau perusahaan nerima?" Dia ketawa.
Saya paling kagum sama orang yang bisa menertawakan pahitnya kehidupan. Orang seperti ini tipikal orang yang survive di kerasnya jalanan.
"Makanya pas gua liat mahasiswa itu pada demo, apalagi sampe bakar-bakaran, gua ketawa. Gua bilang, bentar lagi lu lulus baru kerasa kerasnya hidup. Sekarang aja apa-apa dari orangtua. Gak kerasa.
Daripada mikir negara kejauhan, mending deh mikir masa depan lu entar gimana. Kalo yang ketua-ketua mahasiswa itu sih enak, nanti dapet banyak. Nah elu, mahasiswa setengah aja, sok belagu pake nuntut segala.." Dia mulai merepet dengan gayanya yang lucu.
Saya ketawa, "Kayaknya nyeritain diri sendiri ya, bang ?" Tanyaku.
Dia langsung ngakak. "Iye, bang. Gua nyesel juga. Coba gua bisa puter waktu kebelakang, asli gua pengen ngubah hidup gua.." Kamipun ketawa bersama dan tidak terasa sudah sampai.
"Gak ngisi Gopay, bang ?" Matanya berharap."Oke. Tolong isiin sekian.." Kulihat wajahnya berbinar karena poinnya nambah. Ada sesuatu yang bisa dia bawa ke rumah, untuk anak istrinya.
Kamipun berpisah dan satu pelajaran lagi kudapat.
Waktunya seruput kopi. Kutulis apa yang kudapat tadi supaya pesannya bisa sampai, siapa tahu berguna buat sebagian orang..

DEMO KEREN INSTAGRAM

Demo
Poster Demo
DennySiregar.id, Jakarta - Melihat gambar demo adek mahasiswa yang lucu-lucu, saya jadi tidak khawatir demo akan rusuh..
Akhirnya saya paham, bahwa adek-adek mahasiswa ini memang pengen ambil momen untuk demo sekali seumur hidup mereka. Supaya masuk instastory. Mereka kreatif, menyenangkan, layaknya anak seusia mereka.
Beda dengan mahasiswa tahun 98 yang mukanya garang, lelah karena tirani dan represi 32 tahun lamanya..
Pantas saja mahasiswa milenial ini muak ketika tahu saat demo ceria mereka ditunggangi kadal gurun. Lha, itu menghina intelektualitas dan kreatifitas mereka. Apalagi ketika ada yang memanfaatkan demo ini supaya mendukung Prabowo. Mereka bingung, "Prabowo itu siapa?"
Lihat foto-foto ini, bukan seperti demo tapi malah tampak seperti karnaval dengan kreativitas mengagumkan dan mengundang tawa. Ya, mereka masih remaja jadi pesan yang dibawa juga harus dengan gaya remaja..
Mahasiswa yang rusuh-rusuh itu pasti bukan bagian dari mereka. Itu mahasiswa bayaran, ada agenda, bahkan ada yang pake jaket almamater tapi jenggotnya bergumpal bak sarang lebah..
Adek-adek mahasiswa, selamat berdemo nak penuh semangat. Rajinlah berdemo tentu kau dapat. Hormati polisi, sayangi polwan..
Itulah tandanya mahasiswa budiman!!!
Seruput..

DEMO NANO NANO

Demo
Demo Emak-emak
DennySiregar.id, Jakarta - Mungkin inilah demo terbingung yang pernah ada.. Agenda demo ini begitu banyak. Mulai dari tolak revisi UU KPK, tolak RKUHP, sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sampai Jokowi harus mundur.
Saya termasuk yang setuju bahwa RKUHP harus ditolak, karena pasal-pasalnya enggak banget.
Didalam pasal itu negara seperti kurang kerjaan ngurusin pribadi seseorang sampe sedetil-detilnya sehingga susah bernapas. Dan saya mendukung mahasiswa demo besar-besaran menekan DPR.
Jokowi pun setuju dan menyerukan DPR menunda mensahkan RUU. DPR sepertinya mengalah dan mau tidak mau akan menunda RUU yang buatnya males2an gitu.
Tetapi untuk revisi UU KPK, saya termasuk mendukung. Karena dengan adanya penguatan dalam KPK, maka lembaga ini tidak bisa lagi disetir oleh sekelompok orang dengan agenda politik, bukan agenda pemberantasan korupsi.
Jadi di dalam demo ada kelompok mahasiswa yg mendukung revisi UU KPK tapi menolak RKUHP dan ada yang menolak dua-duanya. Semua oke saja, karena aspirasi harus disampaikan meski memblokir jalan dan merusak pagar, tetap bukan sikap yang benar.
Nah, agenda jadi rancu ketika ada kelompok mahasiswa yang menuntut Jokowi mundur.
Ini apalagi?? Ternyata ada penumpang gelap dengan agenda Pilpres yang masih belum move on sampai sekarang.
Tuntutan acakadut ini berbaur jadi satu dan semua memakai jaket almamater. Sudah bingung mahasiswa mana menuntut apa dan bagaimana.
Malah saking bingungnya, seorang mahasiswi akhirnya merasa mending jualan saja. Dia pasanglah iklan di punggungnya, "Menerima pengetikan skripsi". Mungkin dia sangat tahu, yang demo ini kebanyakan mahasiswa kurang prestasi dan butuh bantuan untuk kerjakan tugas yang belum selesai.
Demo tambah kacau karena emak-emak pun ikut masuk dalam barisan.
Bukan. Ini bukan emak dari mahasiswa yang demo. Mereka punya agenda sendiri yaitu "Pulangkan Rizieq Shihab!"
Loh, kok malah pulangkan Rizieq? Apa hubungannya ma tolak semua RUU itu?
Ga ada. Pokoknya ada iklan yang dititipkan dari Saudi yang sudah rindu kampung halaman untuk makan soto betawi. Dan mumpung ada yang demo, doi titip pesan, "Ingat daku, ya. Tolong jangan lupakan. Siapa tau mahasiswa itu mau mengerti, kalau disini kontrakan mahal sekali.."
Pesan itu diakhiri dengan emoticon 😭😭😭😭😭.
Jadi bayangkan, demo yang berlangsung tadi bisa dibilang demo nano nano. Ada yang mahasiswa beneran, ada SJW yang dulu golput, ada FPI dan HTI, dan ada emak-emak.
Bahkan ada yang gak tahu ini demo apa, wong mereka datang dibayar 35 rebu rupiah. Sampe ditempat demo, mereka cengar cengir dengan wajah lugu tanpa akhir
Bahkan ada bapak tua kepala botak dengan jenggot seperti semak ikutan demo dengan jaket almamater warna kuning seperti jaket UI.
Pas ditanya, "Bapak sudah tua. Hebat masih demo. Dari Universitas apa, pak?"
"Dari UNB, nak.. "
"Universitas Nusa Bangsa, pak?"
"Bukan, nak. Universitas Nasi Bungkus. Pokoknya dimana ada demo, disitu saya pasti giat belajar.."
Tepok jidat pake cangkir kopi.

Kamis, 19 September 2019

TEMPO PINGSAN DIHAJAR NETIZEN +62

Tempo
Rating Tempo
DennySiregar.id, Jakarta - ”Ayo kita kasih pelajaran Tempo!!". Begitu tulisan di sebuah status di media sosial. Tulisan ini pun kemudian menjadi viral di grup-grup whatsapp, bagai sebuah komando pergerakan.
Pendukung Jokowi yang moderat yang biasanya hanya diam dan membaca, mendadak menggerakkan jempol mereka Google Playstore, lalu masuk ke aplikasi Tempo.
Mereka lalu ramai-ramai menguninstall aplikasi Tempo dan memberi bintang 1 pada penilaiannya. Belum puas, mereka komen sambil mengutuk ketidak-sopanan Tempo pada Presiden RI.
Hasilnya? Di Google Playstore dalam waktu 3 hari saja, aplikasi Tempo yang mendapat bintang 4,3 langsung drop ke angka 1,1.
Dahsyat!
Di Iphone sendiri, Tempo sekarang hanya mendapat bintang 1,2.
Situasi ini mirip yang terjadi pada perusahaan belanja online Bukalapak, yang diserbu oleh pendukung Jokowi saat menjelang Pilpres karena dianggap menghina. Dan kabarnya, Bukalapak sampai goyang dan investornya marah-marah karena brand mahal perusahaan yang sudah dikucuri dana triliunan rupiah, menjadi negatif.
Tempo sendiri tidak merasa salah dengan memasang cover majalah bergambar Jokowi dengan bayangan Pinokio berhidung panjang. Maksud Tempo menyindir janji Jokowi karena dianggap ingkar atas pemberantasan korupsi.
Dan pandangan Tempo ini juga diamini Dewan Pers, yang menganggap itu adalah bagian dari kebebasan pers dan tidak menghina.
Merasa tidak mungkin membawa kasus ini ke ranah hukum, gerakan rakyat pun dibangun untuk menghajar "kekurang-ajaran" Tempo.
Gerakan ini spontan, sebagai puncak kejengkelan karena mendengar kabar buruk sejak lama bahwa Tempo mendapat keuntungan dari hubungannya dengan internal KPK untuk melindungi oknum di dalamnya.
Dan Tempo seperti tidak menutupi kedekatan atas dasar kepentingan itu. Majalah itu seperti menjadi bumper bagi KPK dengan membangun framing pemberitaan untuk melindungi asset berharga mereka dengan selalu menempatkan pemerintah pada posisi yang salah.
Bagaimana nasib Tempo selanjutnya?
Ini kesalahan besar. Pembaca Tempo sebagian besar adalah para pendukung Jokowi dikalangan menengah dan terdidik. Merekalah pembeli majalah dan pembaca setia. Tempo malah mengkhianati segmen market terbesarnya. Dan mereka benar-benar tidak sempat berhitung apalagi mengantisipasinya.
Dengar-dengar punggawa Tempo mulai turun bersama para investor untuk mulai menyelidiki kasus ini. Mereka gerah dengan adanya citra negatif yang muncul akibat kasus ini.
Biar bagaimanapun sebuah media adalah entitas bisnis. Kalau investor dan iklan tidak mau suntik dana, habislah Tempo meninggalkan sejarah yang berakhir dengan jejak kurang baik.
Apalagi Tempo adalah perusahaan terbuka dengan kode perusahaan TMPO. Bisa jatuh harga sahamnya jika tidak secepatnya menyelesaikan masalah internal mereka.
"Tempo boleh menghina Jokowi atas nama kebebasan pers. Tapi kami juga berhak membela Presiden RI dengan memboikot mereka.." begitu tulisan disebuah status di media sosial.
Seorang teman bahkan bercanda, bahwa Netizen negara +62 adalah senjata pemusnah massal yang lebih mengerikan dari bom atom di Hiroshima.
Booom !
Seruput kopinya..

Artikel Terpopuler