Sabtu, 28 Maret 2020

TEGAL LOCKDOWN? LOCKDRUN AJA

Tegal Lockdown?
Berita Detik
Jakarta - "Den, Tegal lockdown tuh. Presiden lu gak dipercaya lagi sama kepala daerah.."
Begitu seseorang mention saya dalam statusnya. Tegal lockdown? Ah, yang benar saja. Lockdown sebuah kota itu dampaknya besar, dan kepala daerah tidak akan sanggup menangani dampak sebesar itu. Makanya keputusannya harus ada di Presiden.
Dan ketika saya baca lagi, apa sih yang dimaksud lockdown di Tegal, ealaahhh... ternyata cuman penutupan akses sementara kendaraan dari luar kota. Itu bukan lockdown namanya. Mau ketawa, entar dosanya nambah.
Istilah Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo lebih sadis lagi, "Itu bukan lockdown, tapi isolasi kampung!" Ambyarrrr..
Tapi emang gagah sih istilah "Lockdown" itu. Biar dikutip media. Apalagi Walikota Tegal menambahkan narasi dramatis, "Tidak apa-apa saya dibenci.." Telenovela sekali, Ferguso.
Kalau bahasanya cuman isolasi doang, mana ada media yang mau ngutip? Kalau mengacu dari negara besar seperti China dan India, lockdown itu bukan saja menutup negara atau wilayah, tetapi mengunci masyarakat supaya tidak keluar rumah.
Tentara pun keluar. Negara seperti darurat militer. Di India malah disabet-sabetin warganya. Di Malaysia denda untuk yang keluar rumah. Itu baru lockdown. Mau gitu, saudara?
Makanya keputusan lockdown itu selalu bersifat nasional, bukan wilayah. Harus Presiden, karena imbasnya nanti Menteri-menteri mengatur urusan kiri kanannya. Di Indonesia, keputusan lockdown harus dikaji dulu oleh gugus tugas pencegahan Corona, yang diketuai Kepala BNPB.
Teriakan lockdown di Indonesia itu sifatnya gagah-gagahan doang. Biar keren dan kekinian. Apalagi di grup WA, biasanya postingannya gak dibaca teman grup, pas teriak lockdown, langsung jadi pembicaraan.
Di tingkat kepala daerah juga ada kegenitan politik. Biar gagah dan diliput media, maka harus teriak lockdown. Meski dia tahu, kepala daerah tidak punya wewenang untuk itu.
Eh, si teman yang mention baca gak ya kira-kira?
Kayaknya ngga. Dia cuman baca judul doang, terus berasa gagah share kesana kemari, seolah-olah dia adalah ahli daripada ahli, core of the core.
Sepertinya, daripada lockdown, pusat lebih baik lockdrun. Biar para kadrun di lock aja, soalnya komunitasnya kecil, tapi berisiknya seperti di pasar.
Setuju, drun? Seruput kopinya.

Jumat, 27 Maret 2020

Lihatlah, Kita Semua Sama

Donald Trump
Donald Trump
Jakarta - Akhirnya Amerika minta bantuan juga pada China.. Keangkuhan Donald Trump dan pernyataan-pernyataan rasisnya dengan perkataan "virus China" bukan Corona, akhirnya dia telan sendiri mentah-mentah.
AS sendiri sekarang berada di posisi pertama, sesudah China dan Italia, dari jumlah orang yang positif Corona. Lebih dari 85 ribu orang. Yang meninggal lebih dari 1.000 orang.
Mau nerapin Lockdown seperti di Wuhan, China, juga gak mungkin. Amerika negara demokrasi. Lockdown bisa menimbulkan kerusuhan dan penjarahan.
Atau mau maen sabet-sabet penduduk yang bandel kayak di India ? Juga gak mungkin. Sebagai negara HAM, pasti banyak LSM yang teriak-teriak memaki pemerintah tidak berperikemanusiaan.
Tidak ada negara, sekuat apapun dia, yang bisa bertahan dengan situasi ini. Ribuan trilyun rupiah dikucurkan untuk melawan virus dan membangun jaring pengaman ekonomi mereka. Sama seperti Indonesia. Kita semua ini sejatinya rapuh seperti jaring laba-laba, hanya merasa kuat saja.
Tapi dari sini kita bisa ambil hikmah yang terdalam..
Semua negara saling bantu, tidak perduli apa warna kulitnya, apa agamanya, apa tingkat sosialnya. Semua merasa lemah, dan ketika lemah kita condong meminta bantuan tanpa ada rasa kesombongan.
Tuhan mengajarkan kita sejenak, supaya saling berjabat tangan. Jika tidak bisa diingatkan, sebuah virus bisa jadi pelajaran.
Saya jadi ingat film berjudul Volcano, kalau tidak salah.
Di akhir cerita, ketika situasi terburuk sudah mulai mereda, seorang anak kecil yang seluruh badannya tertutup debu, melihat sekeliling dan melihat kenyataan bahwa semua orang sama seperti dirinya, bermandikan debu. Semua orang. Termasuk ayahnya.
Yang kulit putih, hitam, kuning dan coklat. Semua jadi berwarna abu-abu.
Dia lalu berbicara pada ayahnya, "Lihat, yah.. Kita semua ternyata sama.."
Seruput kopinya..

Kulihat Minang dari Wajah Buya Syafii

Denny Siregar dan Buya Syafii Maarif
Denny Siregar dan Buya Syafii Maarif
Jakarta - Seorang teman membuat status.. Dia bertanya, "Kenapa orang Minang sangat membenci Jokowi, ya?"
Pertanyaanya yang polos dan spontan, sebagai reaksi begitu banyaknya akun dengan nama "minang" yang menghujat Jokowi sejak Pilpres, dan memfitnah almarhumah ibunda Jokowi.
Saya harus sangat tidak setuju dengan teman saya itu. Meski ternyata fakta juga bicara berbeda.
Kata "minang" berasal dari Minangkabau, yaitu suku-suku yg bermukim banyak di Sumatera. Tapi semakin kesini pengertian awam semakin sempit, urang awak selalu disamakan dengan orang Padang, atau orang Sumbar.
Kalau kita memakai orang Padang dan Sumbar sebagai salah satu patokan, memang dalam sejarahnya di Pilpres, Jokowi kalah telak baik di kotanya maupun di provinsinya.
Saya tidak mau berteori konspirasi kenapa Jokowi kalah disana, karena bisa saja ketidaksukaan pada Jokowi akibat dari provokasi politik.
Ketidaksetujuan saya pada teman saya itu, karena saya juga banyak teman orang Padang atau orang Minang, yang sangat baik, jauh dari perilaku seperti yang muncul di medsos penuh caci maki itu.
Ada Jeffri Geovannie, pendiri PSI. Asal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Nasionalismenya jangan ditanyakan untuk negeri ini.
Ada lagi teman saya yang bandel banget, yaitu Ade Armando, dosen di UI. Dia orang Minang juga. Mau debat tentang Pancasila ma dia? Wah, dia ada di barisan paling depan melawan kelompok radikal di negeri ini.
Dan orang Minang yang paling saya kagumi dan saya jadikan panutan adalah Ahmad Syafii Maarif, atau biasa dipanggil Buya Syafii.
Beliaulah karakter asli orang Minang, yang relijius, terpelajar dengan ahlak yang luar biasa, sehingga ketika berdiri dihadapannya mendadak kaki kita terasa lumpuh ingin bersimpuh dan ingin mencium tangannya.
Tidak pantas jika kita ingin mendiskeditkan orang Minang dari akun-akun medsos tanpa nama itu, tanpa melihat siapa orang Minang sesungguhnya.
Di wajah Buyalah, saya melihat wajah asli Minang. Sosok sederhana, lurus, ulet dengan wawasan seluas samudera ketika berbicara tentang apa saja..
Ah, saya jadi kangen dengan beliau. Ingin seruput kopi lagi dan berbincang banyak hal dengannya.. Sehat selalu ya, bapakku.

Kamis, 26 Maret 2020

KEHILANGAN TERBESAR SEORANG JOKOWI

Jokowi dan Ibunda
Jokowi dan Ibunda
Jakarta - Saya masih ingat.. Pada waktu sedang membuat buku "Jokowi: The Art of War", saya banyak mendengar cerita tentang almarhum ibunda Presiden dari saudara dekat mereka.
Almarhum bunda Sujiatmi Notomihardjo diceritakan sebagai ibu yang keras dalam mendidik anaknya. Keras disini bukan dalam artian memukul atau kekerasan, tetapi punya keteguhan.
Keluarga Jokowi adalah keluarga miskin. Untuk memenuhi ekonomi mereka, ibunda beliau harus berjualan bambu dan kayu, kadang sampai malam hari.
Malah ada cerita ketika itu Jokowi kecil sedang iseng menggoda tukang jualan arang yang lewat rumahnya. Ibundanya pun dengan sigap membeli arang yang ada dan memarahi anaknya, "Ayo, arangnya dimakan !"
Itulah kenapa ketika Jokowi menjadi Presiden, apa yang dilakukan ibundanya sangat membekas dalam hati dan perilakunya.
Ia meluncurkan banyak program yang mengangkat harkat "wanita sebagai tulang punggung keluarga". Salah satunya dengan program Mekaar, utk membina ekonomi mereka.
Seperti kita semua, Jokowi sangat mencintai dan menghormati ibunya.
Anda bisa bayangkan, bagaimana sakit hatinya ketika ia difitnah habis-habisan oleh lawan politiknya, bahwa ibunda Sujiatmi bukan ibu kandungnya ? Sungguh keterlaluan fitnah mereka hanya karena syahwat politik dengan beraninya memfitnah orang baik-baik melalui ibunya..
"Diemin saja.. " kata bu Noto saat Jokowi menguatkan ibundanya ketika difitnah.
Sayang saya tidak sempat bertemu bunda Sujiatmi atau lebih dikenal dgn panggilan bu Noto itu waktu ke Solo. Saya lupa kenapa, kemungkinan ibunda tidak ada ditempat kalau tidak salah. Tapi cukuplah cerita-cerita tentangnya yang menggambarkan betapa kasih ibu sepanjang jalan dan kasih anak itu hanya sepanjang galah.
Saya tentu tidak bisa merasakan kesedihan besar yang dirasakan seorang Jokowi ketika harus berpisah dengan ibundanya. Apalagi ini terjadi disaat ia sedang dalam "perang akbar" melawan virus Corona yang sedang menyebar.
Tapi saya yakin, beliau kuat karena berasal dari rahim seorang ibu yang juga kuat. Dan khas Jokowi, dalam situasi apapun, dia selalu meminta restu ibunda tercintanya..
"Jalankan amanah itu sebaik-baiknya. Jalankan semua amanah itu dengan ikhlas dan hati-hati.." begitu pesan almarhum saat Jokowi datang dan minta restunya waktu akan maju menjadi Presiden pertama kali.
Turut berduka cita, Presidenku. Semoga ibunda dilapangkan kuburnya dan diampuni semua dosa-dosanya. Dan yang ditinggalkan tabah dan kuat menghadapi situasinya.
Selamat jalan, bu Noto. Terimakasih sudah mempersembahkan putramu untuk Indonesia.
Innalillahi wa inna ilaihi radjiun. KEHILANGAN TERBESAR SEORANG JOKOWI
Saya masih ingat..
Pada waktu sedang membuat buku "Jokowi : The Art of War", saya banyak mendengar cerita tentang almarhum ibunda Presiden dari saudara dekat mereka.
Almarhum bunda Sujiatmi Notomihardjo diceritakan sebagai ibu yang keras dalam mendidik anaknya. Keras disini bukan dalam artian memukul atau kekerasan, tetapi punya keteguhan.
Keluarga Jokowi adalah keluarga miskin. Untuk memenuhi ekonomi mereka, ibunda beliau harus berjualan bambu dan kayu, kadang sampai malam hari.
Malah ada cerita ketika itu Jokowi kecil sedang iseng menggoda tukang jualan arang yang lewat rumahnya. Ibundanya pun dengan sigap membeli arang yang ada dan memarahi anaknya, "Ayo, arangnya dimakan !"
Itulah kenapa ketika Jokowi menjadi Presiden, apa yang dilakukan ibundanya sangat membekas dalam hati dan perilakunya.
Ia meluncurkan banyak program yang mengangkat harkat "wanita sebagai tulang punggung keluarga". Salah satunya dengan program Mekaar, utk membina ekonomi mereka.
Seperti kita semua, Jokowi sangat mencintai dan menghormati ibunya.
Anda bisa bayangkan, bagaimana sakit hatinya ketika ia difitnah habis-habisan oleh lawan politiknya, bahwa ibunda Sujiatmi bukan ibu kandungnya ? Sungguh keterlaluan fitnah mereka hanya karena syahwat politik dengan beraninya memfitnah orang baik-baik melalui ibunya..
"Diemin saja.. " kata bu Noto saat Jokowi menguatkan ibundanya ketika difitnah.
Sayang saya tidak sempat bertemu bunda Sujiatmi atau lebih dikenal dgn panggilan bu Noto itu waktu ke Solo. Saya lupa kenapa, kemungkinan ibunda tidak ada ditempat kalau tidak salah. Tapi cukuplah cerita-cerita tentangnya yang menggambarkan betapa kasih ibu sepanjang jalan dan kasih anak itu hanya sepanjang galah.
Saya tentu tidak bisa merasakan kesedihan besar yang dirasakan seorang Jokowi ketika harus berpisah dengan ibundanya. Apalagi ini terjadi disaat ia sedang dalam "perang akbar" melawan virus Corona yang sedang menyebar.
Tapi saya yakin, beliau kuat karena berasal dari rahim seorang ibu yang juga kuat. Dan khas Jokowi, dalam situasi apapun, dia selalu meminta restu ibunda tercintanya..
"Jalankan amanah itu sebaik-baiknya. Jalankan semua amanah itu dengan ikhlas dan hati-hati.." begitu pesan almarhum saat Jokowi datang dan minta restunya waktu akan maju menjadi Presiden pertama kali.
Turut berduka cita, Presidenku. Semoga ibunda dilapangkan kuburnya dan diampuni semua dosa-dosanya. Dan yang ditinggalkan tabah dan kuat menghadapi situasinya.
Selamat jalan, bu Noto. Terimakasih sudah mempersembahkan putramu untuk Indonesia.
Innalillahi wa inna ilaihi radjiun.

Selasa, 24 Maret 2020

JIWA JIWA YANG TENANG

Pemakaman Korban Corona
Pemakaman Korban Corona
Jakarta - Tidak mudah menulis pesan tentang kematian, apalagi jika itu diperuntukkan bagi para pahlawan..
Sejak dulu saya meyakini, bahwa kematian adalah puncak dari kehidupan. Dan syahid adalah kubah emasnya.
Syahid, bukanlah kematian karena kecelakaan. Ia adalah kematian dengan penuh keinsafan, logika dan akal. Ia tidak datang, ia dijemput dalam kondisi penuh kesadaran.
Saya selalu iri dengan mereka yang mampu mewujudkannya. Karena saya belum tentu berani menjemputnya. Padahal di dalam kitab, kesyahidan digambarkan sebagai sesuatu yang indah dan nikmat.
Bayangkan, semua dosa di dunia dihapuskan, apalagi yang diharapkan oleh orang yang beriman ?
Saya meyakini, para dokter yang berjuang dan akhirnya meninggal dalam perang akbar melawan wabah adalah para syuhada.
Mereka pejuang digaris depan dengan keilmuan yang mereka punya. Mereka sangat sadar kematian dekat dengannya. Tapi, bukankah semua orang pasti mati ? Tinggal bagaimana caranya, dengan kemuliaan atau kehinaan ?
Karena itulah, ketika seorang teman memposting gambar jenazah seorang dokter yang terlihat tampak kesepian, karena tidak boleh diantarkan dan dijenguk keluarga, saya tersenyum melihatnya.
Entah kenapa bagiku gambar sepi itu terlihat riuh adanya. Para malaikat menjemputnya berbondong-bondong dan memujinya. Sang dokter diberikan mahkota yang terbaik dan piala kemenangan. Ia tersenyum dalam keriaan. Ia begitu mulia, sedangkan kita melihatnya dalam kehampaan.
Tinggal kita yang masih hidup yang perlu mengambil pelajaran. Bahwa bagi para syuhada, sesungguhnya tidak ada yang mati. Karena apa yang dia lakukan akan menjadi inspirasi. Dan sebuah inspirasi akan kekal di dalam akal dan hati.
Mungkin kita harus membuatkan mereka prasasti. Bertuliskan nama-nama para pejuang yang berani mati. Bukan untuk mereka, bukan. Tetapi untuk kita, bahwa dalam sebuah perjuangan tidak ada yang sia-sia.
Sungguh. Jika syahid adalah puncak dari puncak kehidupan, bukankah kita seharusnya mengantarkan mereka dengan tangis bahagia ?
Ah, malam ini sungguh aku butuh secangkir kopi..
Terimakasih untuk para dokter dan perawat, yang sudah berjuang dengan sepenuh hati..

Sabtu, 21 Maret 2020

KERJA GILA HADAPI CORONA

Ojek Online
Ojek Online
Jakarta - Saya pernah berada pada posisi ekonomi yang sangat sulit.. Kalau sehari tidak bergerak, keluarga gak makan. Makan pun terbatas sekali, hanya bisa beli telur dan telur setiap hari. Itu baru masalah makan, belum masalah bayar listrik, bayar air, bayar cicilan motor dan lain-lain.
Tabungan? Wah, jangan ditanya. Tiap ke ATM melas liat layar. Punya saldo Rp. 49.500 gak bisa diambil. Padahal saya butuh 40 ribu rupiah saja, buat makan hari ini.
Karena itulah saya empati sekali pada situasi sekarang ini. Terutama pada para pekerja harian yang jelas ikat pinggang mereka harus diketatkan lagi.
Pada titik seperti itu, virus sudah tidak menakutkan lagi. Jangankan virus, kalau perlu debt collector dihadapi sampe mati.
Bayangkan, itu terjadi pada puluhan juta pekerja harian yang bergantung pada kaki mereka sendiri. Puluhan juta orang dalam kesulitan, mereka bisa bergerak membuat kerusuhan. Penjarahan dimana-mana. Mata mereka gelap.
Tidak semua orang bisa disuruh, "tahan lapar !!" Apalagi mereka yang punya anak kecil, gak mampu melihat mata anaknya yang butuh susu, butuh pampers dan segala macam.
Beruntunglah Jokowi paham ini. Kenapa ? Karena dia juga pernah susah. Masalah dia bukan hanya virus saja, tapi bagaimana masyarakat kecil tidak terlalu keras kena dampaknya.
Saya lega ketika mendengar Jokowi melalui OJK merancang solusi dengan memberikan keringanan untuk driver online, supaya kredit kendaraan bermotornya bisa ditunda pembayaran sampai masalah virus ini selesai. OJK melobby Bank dan perusahaan leasing, dengan memberikan stimulus kepada mereka.
Begitu juga usaha kecil. Kementrian UMKM langsung bergerak, supaya mereka bisa mendapat keringanan kreditnya. Di tingkat masyarakat yang lebih kecil lagi, Menteri Keuangan siap mengeluarkan dana talangan untuk 89 juta orang.
Apa yang kita pelajari dari sini ?
Bahwa Jokowi dan jajarannya bekerja. Mereka berfikir, melihat dari berbagai sisi. Masalah Corona ini membuat kapal Indonesia bocor. Kalau fokus di virus saja, lubang ekonomi yang akan menenggelamkan kita.
Sudahilah gerutumu bahwa pemerintah tidak bekerja. Ngomel kok gak selesai-selesai, seperti sudah berbuat yang terbesar saja.
Berfikirlah yang lebih besar, untuk bangsa ini. Bukan hanya sibuk dgn ketakutanmu pada virus saja.
Kamu cukup duduk diam di rumah, pesan Gofood, itu sudah membantu driver online dan pedagang kecil rumahan supaya rejeki mereka tetap berputar. Kalau perlu, kasih makanannya ke drivernya.
Langkah kecilmu cukup membantu, daripada sibuk berkoar dan mengeluh.
Ayo, seruput kopinya dulu!

SIAP SIAP TSUNAMI EKONOMI

Corona
Covid-19 dan Krismon
Jakarta - Tadi ngobrol dengan driver taksi.. Dirinya risau dengan turun drastisnya ekonomi. Terutama pada orang kecil seperti mereka.
Hari-hari ini, mencari penumpang sulit sekali. Mereka yang biasanya setiap hari pulang membawa uang untuk anak istri, malah harus nombok ke perusahaan karena kurang bayar setoran.
Akhirnya, dia - dan banyak teman2nya - berencana untuk off dulu - entah sampai berapa lama - daripada harus hutang setoran, lebih bagus gak kerja.
Dampak Corona ini memang paling keras menghantam para pekerja harian. Kita mungkin masih enak kerja dan tinggal di rumah, paling cuman gimana menghabiskan kebosanan. Tapi buat pekerja harian, ketidak hadiran kita di jalan berarti bencana. Tidak ada uang yang bisa dibawa ke rumah.
Nasib kita pun bisa jadi ke depan seperti mereka...
Ketika perusahaan tempat kita bekerja akhirnya tidak bisa melakukan kegiatan jual beli, apalagi yang ekspor tidak bisa dagang lagi, maka bisa jadi perusahaan gulung tikar.
Dan kebayang berapa ratus ribu orang dirumahkan, mungkin akan termasuk kita juga.
Dan kebayang lagi, saat ekonomi lemah, maka suara ketidak-puasan akan semakin kencang, dan bisa jadi membentuk sebuah gerakan besar.
Inilah yang saya khawatirkan sejak awal, bukan di virusnya. Bencana Corona itu ibarat gempa besar, dan tsunaminya sebagai dampak sedang datang, yaitu resesi dunia.
Tidak lockdown saja seperti ini, apalagi kalau Jokowi menuruti seruan lockdown dari mereka yang tidak pernah membayangkan dampak dahsyat di ekonomi..
Mulai kencangkan ikat pinggang, kawan. Berhemat apa yang bisa dihemat. Goncangan di depan akan semakin kuat.
Ini bukan menakut-nakuti, hanya supaya kita mulai bersiap-siap.
Sepertinya, harus kembali ke kopi sachet lagi. Biar cuman 3 rebuan, yang penting tetap nikmat..

Jumat, 20 Maret 2020

CURHATAN SI BUZZER RP

Denny Siregar
Denny Siregar
Jakarta - Hari-hari ini kayaknya banyak banget yang sebel ma gua.. Dituding "BuzzerRp" lah, penjilat lah dan banyak lagi. Kalau kadrun yang bicara gitu sih, gapapa. Udah biasa.
Tapi kali ini juga banyak teman-teman yang biasanya sebarisan, terus ikut latah dengan sebutan bozar bazer, gara2 berita pemerintah rencana keluarkan dana 72 miliar rupiah untuk influencer. Padahal itu buat influencer luar supaya promo wisata Indonesia.
Sial, kan? Mending kalo kebagian. Udah uangnya gak dapet, makian terus yang kena..
Kalau pengen protes sama kebijakan Jokowi dalam menghadapi Corona, wah sebenarnya banyak. Pengennya merepet aja. Mulai dari cara komunikasi Menterinya sampai yang lain-lainnya.
Merepet itu memang mudah, semudah mengeluhkan sesuatu. Tinggal ngomong, selesai. Tahu yang sulit ? Yang sulit itu adalah memahami bahwa kita punya tanggung jawab menjaga negeri ini.
Salah satu hal yang tersulit adalah menjaga wibawa pemerintah.
Dalam situasi yang berpotensi kepanikan, masyarakat harus punya pegangan. Dan pegangan yang paling baik, apalagi kalau bukan pemerintah ?
Ya, mereka memang tidak sempurna. Dan ya betul, mereka juga banyak salahnya. Tapi ketika kita semua menyerang pemerintah dari sisi kesalahannya saja, kita menjadi orang yang tidak adil. Seolah mereka tidak berfikir keras, bagaimana menghadapi virus dan ancaman ekonomi secara bersamaan.
Kita mah enak. Kayak penonton bola dirumah, tinggal ngomel karena gak puas permainannya. Beda ma yang main di lapangan, fikirannya harus luas, melihat dari berbagai sudut, supaya bisa mengambil keputisan yang tepat.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kewibawaan pemerintah akhirnya tergerus, karena persepsi yang diciptakan media dan orang2 yang punya kepentingan. Kalau dibiarkan, orang jadi tidak percaya. Kalau sudah tidak percaya, maka akan muncul gerakan untuk menjatuhkannya.
Kalau sudah pada titik itu, potensi chaos besarnya luar biasa..
Karena itulah, dengan menutup mata terhadap banyak blunder dari pemerintah, saya harus membela mereka. Membangun kepercayaan terhadap mereka, disaat krisis menerpa.
Resikonya, ya dibilang BuzzerRp lah, penjilat lah. Narasi yang sama dengan mereka yang sejak dulu berseberangan dengan saya.
Tapi gapapa. Dan gak pengaruh juga. Hidup tetap seperti biasa, cari makan sendiri untuk anak istri, tanpa dapat pesangon miliaran rupiah, apalagi berharap - seperti kata orang2 - jabatan Komisaris.
Mencintai negeri memang harus tanpa syarat apapun, karena cinta itu seharusnya buta.
Setidaknya saya bertanggung jawab terhadap apa yang saya tulis, tapi tidak bertanggung jawab terhadap apa yang orang lain pahami.
Karena banyak kepala, banyak juga penafsirannya. Saya tidak mungkin menjawab tudingan mereka semua..
Sebagai warga yang baik, disaat situasi sulit, biarkan pemerintah bekerja. Percayakan pada mereka. Mereka juga pasti gak ingin banyak yang mati dan ekonomi kita runtuh. Sama seperti kita.
Bedanya, mereka harus jibaku, kita cukup menonton saja. Sambil seruput kopi sesekali sesuka kita..
Tapi percayalah. Kalau ada narasi yang berusaha ingin menjatuhkan kewibawaan pemerintah, terutama dalam situasi sekarang ini, saya sudah pasti ada di depan untuk mematahkan narasi mereka.
Karena api hanya bisa dilawan dengan api. Dan saya siap menghadapi segala resiko yang ada, termasuk diejek, dimusuhi bahkan dicaci maki. Jalan beginian emang terjal, tidak semua orang bisa melalui.
Seruput kopinya?

Ahli Dari Segala Ahli

Secangkir Kopi
Secangkir Kopi
Jakarta - Wabah Corona ini membuat teman gua yang dulu di IKIP, jadi ahli statistik.
Dia sibuk bahas prosentase pasien Corona seluruh dunia.
Yang dulu sekolah Pertanian, jadi ahli virus yang mumpuni. Bahas segala kemungkinan yang mencekam kalau virus tidak dihadang dan memaksa pemerintah mendengarkan.
Kayaknya bentar lagi, teman yang dulu sekolah di Farmasi, akan jadi ahli ekonomi. Soalnya share share berita "posisi dollar terhadap rupiah hari ini" terus..
Padahal dia, setahu gua, motornya masih kredit. Harusnya dia lebih fokus pada penempatan "posisi motor supaya gak ditarik debt collector".
Yang menarik dari semua teman gua, ada yang sekolah cuman sampe SMA.
Tapi kalo baca share2annya di WA, dia kayaknya lebih Presiden dari Presiden sebenarnya..
Hebat Indonesia. Orangnya pintar semua. Pantas negara ini gak pernah dijajah.
Belanda ma Jepang dulu, cuman bertamu sebentar aja.
Ngopi dulu, ah....

Tolong di Selotip Cangkemnya

Ijtima Ulama di Gowa
Ijtima Ulama di Gowa
Jakarta - Saya juga tidak takut dengan virus Corona.. Tetapi bukan karena tidak takut itu, saya melakukan hal yang membahayakan diri. Seperti berkumpul dalam jumlah besar di sebuah keramaian dengan resiko tinggi. Itu konyol namanya, bukan pemberani.
Saya bukan takut sakit karena virus Corona..
Saya hanya tidak mau menjadi PENYEBAR virus, ketika virus itu nempel di saya karena bersentuhan dengan orang lain.
Saya yakin dengan kesehatan diri sendiri, tapi saya tidak yakin dengan kesehatan orang yang lebih tua di sekitar saya, yang sistem kekebalan tubuhnya tentu sudah tidak sekuat dulu lagi.
Apalagi orang yang sudah tua biasanya punya riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit lama lainnya, yang ketika kemasukan virus Corona akan terjadi komplikasi. Bisa fatal jadinya..
Jadi, ketika saya akhirnya harus membatasi diri dari sosialisasi berlebihan di keramaian, itu bukan karena saya takut virus Corona. Apalagi bawa-bawa nama Tuhan, dengan berkata, "Kami hanya takut pada Allah.."
Bukan.
Itu adalah bagian dari TANGGUNG JAWAB, supaya saya tidak menjadi penyebar virus dan menularkannya ke orang yang lebih lemah.
Paham, kan ?
Dengan tidak berkumpul, bahkan pada waktu ibadah di luar rumah, berarti saya sebenarnya menjalankan perintah agama, bukan malah melanggarnya.
Bukankah agama menyuruh kita untuk tetap di rumah ketika ada wabah?
Bukan karena kita takut mati. Tapi kita wajib MENJAGA orang yang lebih lemah dari kita, dengan tidak menyebarkan virus itu kepada mereka.
Kalau masalah, "Ngapain takut, virus Corona kan juga ciptaan Allah ?". Ya, ular kobra juga ciptaan Allah, memangnya kamu mau sekandang ma dia ?
Mikir dong. Kalau mikir aja masih belum bisa, minimal bibirnya di selotip yang rapat. Karena selain virus, kebodohan itu juga resiko penularannya luar bisa.
Dan itu gada vaksinnya..
Kalau gak paham juga, sini gua ulek pake cangkir kopi gua. Tapi karena gak mau rugi, gua seruput dulu kopinya..
Seruput..

TSUNAMI

Covid-19
Virus Corona
Jakarta - Sehabis gempa, datanglah tsunami.. Ini mungkin kondisi yang tepat menggambarkan dampak Corona sekarang ini. Imbas dari penyebaran virus yang sangat massif ini, ekonomi lumpuh. Bukan hanya Indonesia saja, tapi dunia.
China sendiri sebagai pusat gempa dikabarkan kelabakan karena lebih dari 6 ribu triliun dana kabur dari pasar modal China. Selain itu pabrik banyak yang tutup sehingga ekonomi melambat. Ekspor juga turun drastis karena tidak ada negara yang bisa beli.
Singapura juga dikabarkan resesi, karena harus menutup negaranya, sehingga pendapatan dari sektor pariwisata terpukul keras. Juga perdagangan. Apalagi sejak Malaysia lockdown. Ada 400 ribu warga Malaysia yang ke Singapura setiap hari, sekarang mereka harus dirumah saja.
Jepang juga begitu. Apalagi kalau Olimpiade 2020 di Jepang batal, padahal mereka sudah investasi sekitar 172 triliun rupiah.
Iran, yang selama ini mengambil sikap bermusuhan dengan barat, akhirnya minta bantuan ke IMF senilai 70 triliun rupiah. IMF kabarnya siapkan dana bantuan untuk dunia sebesar lebih dari 14 ribu triliun rupiah.
Bahkan perusahaan penerbangan swasta di Inggris, langsung umumkan kalau mereka bangkrut total.
Tidak ada negara yang bebas dari tsunami ekonomi ini, karena gelombangnya sangat besar. Dan ini baru permulaan.
Indonesia sama. Rupiah hari ini terjun bebas ke angka 16 ribu rupiah dan terus terjun. Bank Indonesia sendiri dikabarkan harus keluarkan 100 triliun, untuk bentengi supaya rupiah tidak amblas.
Harga bahan pokok ikut naik, mulai telur sampe cabe rawit. Bukan saja naik, juga langka karena ada yang nimbun. Mirip masker.
Gerak ekonomi lambat, karena banyak sekolah dan universitas libur. Itu berarti pedagang makanan kecil tidak bisa cari uang. Aktivitas luar ruang pun dikurangi. Pariwisata anjlok. Hotel liburkan banyak karyawan. Uang tidak berputar, disimpan dirumah takut ada apa-apa. Barang ekspor gada yang beli, karena negara luar juga lagi batasi diri.
Ini belum lockdown. Bayangkan, kalau ditutup sebulan.
Mau tidak mau, kita harus mulai kencangkan ikat pinggang. Kita belum tahu, apakah awal bulan masih gajian atau sudah harus mulai lagi cari kerjaan. Karena situasi ekonomi ini tidak menentu.
Jokowi bilang, dampak ekonomi dari virus Corona ini akan terasa sampai 2021.
Sayapun terpaksa harus kurangi seruput kopi di cafe. Karena mahal sih sebenarnya, dari dulu juga begitu. Gada yang baru..
Ah, semoga badai cepat berlalu..
Bentar lagi puasa, kayaknya tahun ini lebih hikmat rasanya. Kalau akhirnya lebaran gak bisa pulang kampung karena gaji dikurangi, telepon aja orangtua, "Maaf, pak bu.. gak boleh keluar rumah. Ada Corona.."
Biar gagah kedengarannya..

JADILAH TERANG

Dokter Handoko Gunawan
Dokter Handoko Gunawan
Jakarta - Ketika dalam situasi sulit yang menekan, muncul dua karakter asli manusia.
Pertama, mereka yang selalu mengeluh dan terpenjara ketakutan. Mereka adalah pecundang. Kedua, mereka yang bangkit dan melawan. Mereka adalah pemenang.
Kisah Dr Handoko Gunawan, dokter ahli paru di Graha Kedoya ini adalah salah satu kisah bahwa superhero itu ada. Dia tidak berbadan tegap dengan dada bidang, berpakaian ketat dengan perut sixpack, apalagi pake celana dalam diluar.
Dia berusia hampir 80 tahun. Dia turun kelapangan saat negara membutuhkan. Tubuhnya boleh renta, tapi semangatnya menyala-nyala. "Mati juga tidak apa-apa.." katanya ketika anak-anaknya melarang dia terlibat dalam usaha menyembuhkan pasien yang kena Corona.
Saya menahan diri untuk tidak menulis sosoknya, karena takut berita itu hoax. Tapi tidak tahan juga jemari saya menulis tentang kisahnya, meski sedikit yang bisa saya ceritakan karena saya tidak mengenalnya.
Seakan semangat dia muncul dalam setiap huruf yang saya ketik, dan berkata, "Hei, anak muda, jangan mau kalah dengan saya. Jadilah pejuang dimanapun kamu berada.."
Dr Handoko Gunawan adalah lilin, disaat banyak orang lebih sibuk mengutuk kegelapan. Terangnya menembus sekat-sekat ras dan agama, karena jiwanya merdeka. Ia tahu, apa yang harus ia perbuat dengam hidupnya. Ia punya tujuan.
"Semua orang pasti mati, teman.. " begitu kata Kareem di film Vertical Limit. "Tapi apa yang kita perbuat semasa hidup, itulah yang diperhitungkan.."
Saya iri dengan orang-orang seperti Dr Handoko. Dia paham memfungsikan dirinya ketika dibutuhkan. Baginya, virus Corona bukan bencana, tetapi peluang. Peluang untuk mencari amal yang berguna, sebelum ia kelak berpulang.
Doa kami untukmu, Dokter. Entah bagaimana kabarmu sekarang. Maafkan kami yang muda-muda yang malah sibuk menyebarkan ketakutan, daripada berjuang. Engkaulah kabar positif, ditengah riuhnya berita negatif.
Semoga sehat, dokter. Engkau adalah kebanggaan keluarga, dan inspirasi bagi banyak orang.
Seperti secangkir kopi, dirimu hadir hanya untuk memberi kenikmatan. Seruput..
Sebarkan kabar ini, biar banyak orang -terutama untuk dokter ahli virus yang lebih sibuk ribut daripada bekerja dengan tenang- merasa tertampar.
Itu juga kalau merasa. Karena pecundang selalu menganggap bahwa dirinya adalah pemenang..

Artikel Terpopuler