Senin, 17 Juni 2019

Emang Enak Jadi Menteri di Era Jokowi?

Jokowi
Presiden Joko Widodo
"Saya gak kuat jadi Menteri kalau Presidennya Jokowi. Capeknya ampun, boss.."
Begitu kata Adian Napitupulu waktu ditanya, "Mau gak ditawari jadi Menteri Jokowi?". Nama Adian jadi pembicaraan waktu Jokowi bicara bahwa ia sedang melirik aktivis 98 untuk menjadi Menteri.
Adian benar. Ia realistis. Jadi menteri kalau Presidennya Jokowi memang ampun beibeh. Bukannya enak duduk tenang dapat jabatan, yang ada disiksa habis-habisan.
Jokowi emang gila kalau kerja. Dia bukan tipikal pemimpin dibelakang meja. Ia bukan hanya merencanakan, membangun visi ke depan, tetapi juga turun ke jalan untuk memastikan apakah kerja Menterinya beneran atau "Asal bapak senang.."
Bayangkan, dalam 4 tahun kepemimpinannya Jokowi diperkirakan sudah menempuh ribuan kilometer blusukan dari Sabang sampe Merauke. Ia meninjau jalan tol di Kalimantan, melihat progres pembangunan bendungan di NTT sampai balik ke Jakarta untuk ketemu dengan duta negara lain.
Bahkan ada saat dalam sehari Jokowi harus terbang ke tiga daerah yang berbeda karena padatnya jadwal. Herannya, itu badan tetap aja kuat dan senyumnya gak hilang kalau ketemu rakyat.
Saya sendiri pernah coba ngikutin gaya Jokowi selama 3 bulan keliling Indonesia dan akibatnya tepar di rumah. Belum lagi disorientasi tempat, lagi di Palu berasa di Manado. Error asli.
Jadi Menteri dibawah Jokowi memang edan. Semua harus kerja, kerja dan kerja. Dan semua harus ada ukurannya, gak asal teori doang.
Pernah ada Menteri urusan pendidikan, bagus di teori tapi eksekusi nol besar. Ada lagi Menteri disuruh ngurus kemaritiman eh malah sibuk ketemu wartawan keprat kepret gak jelas. Akhirnya di kepret Jokowi mencelat..
Jadi wajar kalau Adian Napitupulu agak gemetar kalau ditawarin jadi Menteri kalau Presidennya Jokowi. Hidupnya pasti penuh tekanan, gak bisa santai sambil ngopi dan ngerokok di pojokan lagi. Baru mau bakar sebatang, ada teriakan "Adiaann.. yang ini udah selesai belonn.." langsung rokok dibuang, "belon, pakkkk.."
Jokowi memang membangun budaya yang berbeda dari era sebelumnya. Dulu jabatan Menteri jadi kebanggaan, sekarang jadi tekanan. Itu karena Jokowi menerapkan konsep bahwa "jabatan itu amanah, bukan peluang.."
Coba bayangin misalnya Ferdinan Hutahaean jadi Menteri Jokowi. Lagi buka celana, tiba2 ada teriakan, "Ferdinannn.. Gua tunggu di ruangan untuk laporan sekarangg !!"
Ferdinan bisa gugup gak keruan, sambil teriak "Iya pak, saya datang.." Pake celana cepat-cepat trus lari kencang ke istana..
Sampai depan Jokowi, dia baru sadar ternyata pake celana dalamnya diluar..
Emang enak jadi Menteri di era Jokowi ? Gak enak, gak bisa lagi santai seruput kopi.

Minggu, 16 Juni 2019

KISRUH DI DEMOKRAT

SBY
SBY
Andi Arief meradang.. Politisi Demokrat yang pernah ke gep bersama wanita di sebuah apartemen ini, tiba-tiba mencuit garang, ""Kami sudah tahu kalau Mubarok, Max Sopacua akan mendatangkan kursi Ketum Demokrat kepada Sandi Uno, Gatot Nurmantyo dll".
Dia menambahkan, "Menjadi makelar memang kerap menguntungkan, tapi Sandi Uno atau Gatot Nurmantyo bukan orang yang bodoh yang bisa dibohongi," .
Ada apa di Demokrat ? Sejak meninggalnya bu Ani Yudhoyono, partai ini adem saja sampai tiba-tiba ada api kecil yang berpotensi membesar.
Api itu datang dari dalam Demokrat sendiri. Max Sopacua dan kawan-kawannya, membentuk Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD). Panjang amat ya nama gerakannya, kayak kereta Surabaya-Jakarta.
Gerakan moral ini disebut Max untuk menyelamatkan Demokrat dari orang-orang yang merusak partai ini dari dari dalam. Tertuduhnya yaitu Andi Arief, Ferdinan "Superman" Htutahaean dan Rachland Nashidik. Kata Max, ketiga orang ini cuitan2nya malah merusak nama partai.
Tapi gerakan Max dan kawan-kawan ini dicurigai malah sedang menyiapkan kursi ketua umum Demokrat bukan kepada AHY, tapi justru kepada Sandiaga Uno dan Gatot Nurmantyo.
Untuk menuju ke arah itu, kabarnya Max cs mendorong Kongres Luar Biasa KLB di partai Demokrat. Ini yang membuat sebagian orang di Demokrat meradang.
Pilpres 2024, masih 5 tahun lagi. Tetapi persiapan dan genderang perang sudah ditabuh mulai sekarang.
Sandiaga dan Gatot, jika ingin maju harus punya kendaraan partai. Kalau minta dicalonkan, maharnya bisa sangat besar. Angkanya triliunan. Itu juga bisa aja cuma jadi sapi perahan. Jadi mungkin lebih hemat rebut saja partai orang.
Tentu SBY tidak akan terima. Dia sudah berkorban banyak anaknya AHY sampai harus keluar dari tentara untuk menjadi calon Presiden kelak, kok malah pengen ditendang. "Apa kata dunia?" Begitu mungkin keluhnya sambil mengambil gitar dan membuat satu album lagi yg berkesan
Demokrat memang lumayan seksi. Dengan perolehan suara 7,7 persen meski selalu turun setiap 5 tahun, Demokrat masih punya gigi. Dan sebagai partai keluarga, tentu sang ayah tidak akan rela anaknya hanya menjadi penonton dalam pertandingan lima tahunan.
Demokrat sedang hangat-hangatny sekarang.
Dan mungkin ini bisa jadi memunculkan ide dari Bambang Wijojanto dan Deny Indrayana, siapa tahu bisa jadi bahan gugatan di MK minggu depan? Judulnya bisa, "Demokrat sedang perang, dan ini pasti karena Jokowi yang curang.."
Kata Jokowi di kejauhan, "Enak aja. Gua suap kalian nanti.. happ.. haaapp" sambil manyun-manyun mengikuti mulut Jan Ethes yang mangap mencari es krim di sendok kakek tersayang.
Udah sore ya? Mau seruput kopi dulu ah.

Kamis, 13 Juni 2019

RADIKALISME DALAM TUBUH KPK

KPK
KPK
Radikalisme bisa ada dimana saja. Radikalisme itu bukan hanya berupa tindakan, tetapi lebih berbahaya adalah ideologi, terutama ideologi sekarang yang ingin menjadikan Republik ini sebagai negara agama.
Jauh sebelum peristiwa Pilgub DKI, saya sudah sering mengingatkan, "Hati-hati, radikalisme di tempat ibadah kita.."
Dan akibatnya saya diserang habis-habisan karena dianggap mendeksakralisasi Masjid yang sudah terpersepsikan sebagai rumah Tuhan dan suci. Masak di tempat suci ada radikalisme?.
Dan peristiwa Pilgub DKI 2017, mengajarkan banyak pada kita bahwa radikalisme sangat mungkin bersembunyi dan menjadikan rumah ibadah sebagai tameng. Sebagai tempat berlindung supaya tidak terlihat bahwa ada oknum yang punya "agenda besar".
Masjidnya tidak salah, tetapi orang yang menjadikan tempat ibadah sebagai gerakan politik itulah yang salah..
Dan ketika saya mencoba berbicara bahwa di Komisi Pemberantasan Korupsi ada kemungkinan radikalisme berkembang, kembali saya dicerca.
"Kamu mau melemahkan KPK ya ??" Teriak temanku keras. Dia dulu dan saya sama-sama pendukung KPK saat pertarungan Cicak vs Buaya.
Tidak, saya bilang. Saya justru mau menyelamatkan KPK. KPK adalah lembaga yang dibangun dengan kredibilitas tinggi oleh para pendahulunya. Sebagai komisi pemberantasan korupsi, KPK sangatlah efektif dan keras. Sudah banyak yang jatuh karena korupsi mereka dibongkar KPK.
Tetapi dengan semua prestasi itu, apakah orang-orang di dalam KPK suci semua?
KPK tidak salah, tetapi bisa saja ada oknum yang memanfaatkan pedang tajamnya untuk kepentingan politik mereka.
Jejak kubu di dalam sebuah institusi bukan hal baru bagi negeri ini. Ingat dulu berita ada kubu hijau dan kubu merah di tubuh tentara jaman orde baru ? Kenapa tidak mungkin situasi yang sama ada dalam tubuh KPK?
Yang pasti, bagian dari perang Jokowi terhadap radikalisme di tubuh KPK, bukan ingin melemahkan institusinya. Tetapi justru ingin mensucikannya kembali, supaya tidak ada yang menunggangi KPK demi kepentingan ideologi dan politiknya. Tetapi kembali pada relnya..
Pembentukan Pansel KPK untuk mencari pemimpin yang bebas jejak radikalisme tentu harus kita dukung. Dan faktor "bebas radikalis" itu bukan sekedar ucap saja, karena tidak ada asap tanpa ada api. Tidak ujug-ujug, pasti ada jejaknya..
Kecurigaan itu disampaikan dengan berani oleh Neta S Pane dari Indonesian Police Watch, bahwa di tubuh KPK ada kubu yang bermain, yang disebutnya sebagai Polisi Taliban dan Polisi India.
Jelas polisi Taliban itu mengacu pada ideologi sebagian anggota yang bersifat keras. Bahkan ada kabar juga, di dalam kantor KPK sekarang sudah sangat "syari".
Bagaimana seandainya pedang tajam KPK sekarang dipakai untuk menghantam orang-orang yang tidak sevisi politiknya? Atau dengan alasan membongkar kasus lama, tetapi mempunyai agenda politik untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah ?
Bukan paranoid, tetapi potensinya sangat memungkinkan untuk itu. Karena KPK adalah lembaga superbody, yang tidak punya pengawasnya. KPK bisa lebih besar dari pemerintahan itu sendiri karena hanya dialah lembaga yang berdiri sendiri.
Kewaspadaan tidak perlu ditanggapi berlebihan, justru harusnya membuat kita mawas diri. Negeri ini sudah terlalu dalam virus radikalismenya yang ingin menghancurkan demokrasi. Mereka ada dimana-mana, bahkan ada di lembaga yang memegang hukum sebagai panglimanya..
Mari dukung Jokowi untuk bersih-bersih KPK dari unsur radikalisme. KPK punya kita, dan kita harus menjaganya bersama..
Markibong, mari kita bongkar. Salam seruput kopi.

KPK, PISAU BERMATA DUA

Neta S Pane
Neta S Pane
KPK ini seperti pisau bermata dua. Jika ditangan yang tepat, dia bisa sangat berguna. Tetapi jika ditangan yang salah, dia bisa jadi senjata yang mematikan sesama.

ADA "TALIBAN" DI DALAM KPK? Ketua Pansel, Yenti Ganarsih, kemudian menggandeng BIN dan BNPT untuk meneliti rekam jejak calon pimpinan KPK. Poin utamanya adalah rekam jejak ideologi radikalis.
Awal KPK didirikan, ada niat bersama untuk membersihkan negeri ini dari korupsi. Tetapi ketika ada unsur radikalisme menyusup masuk, sontak bau-bau amis mulai tercium dari dalam bahwa ada yang ingin memanfaatkan lembaga ini sebagai senjata untuk kepentingan politik yang besar.
Pedang KPK pasti sangat tajam, karena mereka punya hak dalam penyadapan. Tidak ada lembaga yang mengawasi kinerja KPK, ini juga menjadikan institusi ini bisa jadi senjata berbahaya..
Ketika ada satu lembaga sangat super, maka ia berpotensi digunakan utk kepentingan lain.
Banyak yang marah ke saya atas tulisan "ada taliban di dalam kpk", karena KPK sudah tercitra bersih dan suci. Tapi kata Iwan Fals, "Orang-orang harus dibangunkan.."
Habis bangun, seruput kopi biar segar dan jernih.

ADA "TALIBAN" DI DALAM KPK?

Novel Baswedan
Novel Baswedan
Baca-baca berita pagi ini ada yang menarik perhatian saya. Jokowi sudah memilih panitia seleksi atau pansel untuk mencari pimpinan KPK baru. Yang menarik, Pansel diharapkan untuk mencari pimpinan KPK yang tidak terpapar radikalisme.
Ketua Pansel, Yenti Ganarsih, kemudian menggandeng BIN dan BNPT untuk meneliti rekam jejak calon pimpinan KPK. Poin utamanya adalah rekam jejak ideologi radikalis.
Kriteria ini baru saya dengar, dan ikut senang membacanya. Pertanyaannya, kenapa tiba-tiba faktor radikalisme menjadi pokok perhatian apalagi dalam memilih pemimpin KPK?
Saya mendengar desas desus sejak lama, bahwa di dalam KPK sendiri, perlahan berkembang ideologi radikalisme. Bahkan Neta S Pane dari Indonesia Police Watch pernah menyinggung masalah ini. Di dalam KPK ada dua kelompok yang dikenal dengan nama "polisi Taliban" dan satunya "polisi India".
Saya kurang tahu yang dimaksud dengan polisi India. Mungkin mirip dengan polisi India yang baru datang ketika kejadian sudah selesai. Sedangkan polisi Taliban dimaksud adalah kelompok agamis dan ideologis.
Dan kelompok Taliban ini dikabarkan punya posisi sangat kuat di dalam KPK, sehingga merekalah yang menentukan kasus apa yang harus diangkat ke permukaan dan kasus mana yang harus dikandangkan.
Jika benar, ini menarik sekaligus menakutkan. Karena KPK adalah lembaga superbody, atau tidak ada yang mengawasi. Bahkan keuangannya saja tidak pernah diaudit dan ditampakkan ke publik saking tertutupnya.
Dengan bahasa "hukum", KPK sangat bisa memainkan pedangnya ke arah mana yang mereka mau. Bahkan bisa mengancam siapa saja yang mereka tidak suka. Wong namanya Superbody, tidak ada yang mengawasi mereka.
Nah menariknya lagi, ketika beberapa orang KPK mulai tampak ke permukaan, seperti Bambang Widjojanto dan Novel Baswedan, ternyata mereka condong menjadi musuh politik Jokowi. Apakah ini kebetulan ? Bisa iya bisa tidak..
BW kita tahu sekarang menjadi kuasa hukum BPN Prabowo, sekaligus kerja untuk Anies Baswedan. Dan Novel Baswedan, sepupu Anies, dicalonkan sebagai Jaksa Agung oleh Prabowo di calon kabinetnya. Cucok, kan?
Saya sejak lama menjadi pendukung KPK dalam menuntaskan masalah korupsi. Tetapi ketika melihat yang keluar dari sana tiba-tiba pada jadi kampret, saya agak curiga.
Ada apa di internal KPK sebenarnya sampai faktor radikalisme menjadi perhatian utama? Apa sudah berkembang paham itu di dalam KPK seperti halnya di ASN dan BUMN?
Rasanya pengen seruput kopi. Genderang perang terhadap radikalisme ternyata sudah ditabuh kencang. Saatnya kencangkan sabuk pengaman..
Markibong, mari kita bongkar.

ADA YANG INGIN BENTURKAN TNI-POLRI?

TNI
TNI
Semakin terungkap siapa-siapa dalang dalam kegiatan makar 22 Mei, membuat situasi menjadi lebih hati-hati..
Banyak teman yang menyayangkan kenapa polisi tidak berani mengungkap siapa saja yang lebih tinggi dari seorang Kivlan Zen, yang memerintahkan pembunuhan 4 tokoh nasional. Padahal penyelidikan begini, harus ekstra hati-hati..
Kasus makar atau percobaan kudeta, bukan perkara kriminal biasa. Mereka biasanya melibatkan "orang-orang berpengaruh" yang tentu akan membawa kasus ini ke ranah politik. Dan ini sangat berbahaya..
Lihat saja, baru dua orang purnawirawan TNI yang ditangkap karena terduga makar, sudah ada gerakan politik untuk membenturkan dua alat negara, yaitu TNI dan Polri. Seolah-olah ada perseteruan kedua institusi itu, padahal yang ditangkap adalah oknum purnawirawan TNI.
Situasi dipanaskan oleh lebih dari 100 orang purnawirawan TNI dan Polri, yang mempersoalkan kecurangan Pemilu 2019. Bahkan ketika Soenarko dan Kivlan Zen ditangkap, beberapa purnawirawan TNI segera membela mereka menyesalkan penangkapan itu.
Dan penyesalan ini tentu diarahkan ke Polri karena institusi ini yang berwenang menyelidiki kejadian makar.
Bahkan bulan Mei lalu, Danjen Kopassus Mayjen TNI Nyoman Cantiasa, memerintahkan pasukannya untuk tidak bertindak diluar garis komando, karena nama Kopassus terbawa pasca ditangkapnya mantan Danjen Kopassus karena pemilikan senjata api ilegal.
Apalagi dengan munculnya nama "Tim Mawar" dalam pusaran yang notabene beberapa adalah mantan anggota Kopassus.
Dan baru saja beredar hoaks lewat media sosial, bahwa Wakadensus 88 memerintahkan penangkapan anggota TNI aktif. Hoaks ini lagsung diklarifikasi oleh Polri.
Jadi tidak mudah memang untuk mengungkapkan siapa dalang diatas Kivlan Zen yang sudah menjadi tersangka itu, karena sang dalang tentu tidak ingin hancur sendirian. Bisa-bisa dia memainkan politik bumi hangus, kemudian "merampok rumah tetangganya yang terbakar.." ehm.
Meski polisi sudah mengantongi nama-nama yang terlibat, harus juga ekstra hati-hati untuk mengumumkannya supaya resiko minimal. Jangan sampai digoreng habis bahwa terjadi "perang" TNI dan Polri.
Tentu Polri tidak bekerja sendirian dalam mengungkap kasus makar ini. Mereka bekerjasama dengan TNI supaya kasus ini tuntas.
Tindakan makar memang harus dihajar sampe ke akar. Karena ini preseden buruk yang bisa menjadi contoh kejadian yang lebih besar ke depan, jika tidak ditangani dengan tepat dan keras. Jangan sampai pemerintah dianggap lemah, sehingga kejadian yang sama akan terulang..
Ketika para purnawirawan TNI ramai-ramai mempermasalahkan penangkapan rekan mereka karena dituduh makar, jujur saya menunggu counter dari para purnawirawan juga untuk mendorong Polri dan TNI supaya mengungkap kasus makar ini dan tidak segan-segan untuk menangkap mereka yang terlibat meskipun dia pernah berada di kesatuan..
Karena sangat berbahaya manuver pembelaan terhadap tersangka makar yang pada ujungnya ingin menyeret institusi TNI secara keseluruhan..
Yang bisa membela marwah TNI, adalah TNI sendiri, bukan orang lain. Saya rasa, itulah sejatinya penjabaran dari jiwa korsa, menyelamatkan marwah TNI, jangan sampai diseret oleh mereka yang punya kepentingan politik praktis. Bukan pembelaan membabi buta hanya karena satu dua orang ditangkap karena berniat jahat..
Salam secangkir kopi.

Rabu, 12 Juni 2019

PAK GATOT, JANGAN LEBAY AH

Gatot Nurmantyo
Gatot Nurmantyo
"Buat purnawirawan TNI, dikatakan makar itu menyakitkan. Sama saja dikatakan pengkhianat.."
Begitu kata Gatot Nurmantyo, waktu diwawancara TVOne. Mantan Panglima TNI ini menanggapi penangkapan Mayjen TNI (pur) Soenarko, mantan Danjen Kopassus dan Mayjen TNI (pur) Kivlan Zen karena ditersangkakan makar.
Saya tidak punya kata-kata apalagi buat pernyataan pak Gatot ini, selain "Kok lebay sih, pak.."
Pak Gatot sebagai seorang mantan Panglima TNI tentu adalah orang yang cerdas. Dan orang cerdas sangat bisa membedakan mana TNI sebagai institusi dan mana oknum yang ada di dalam TNI. Institusi dan orang itu berbeda.
Sebagai institusi, TNI tentu tidak bisa disebut makar, karena TNI adalah pemerintahan itu sendiri. Masak makar terhadap dirinya sendiri ? Ya, gak mugkin toh, pak. Ada-ada saja..
Tetapi berbeda dengan oknum, atau orang-orang yang memanfaatkan nama besar TNI untuk kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya. Jika mereka berbuat kriminal, tentu itu adalah perbuatan dirinya sendiri dan tidak berhubungan dengan institusi. Meski ia ada dalam institusi atau pernah berada di dalam institusi itu sendiri.
Harusnya, pemisahan ini anakku yang SMP aja bisa menjawab..
Dan ketika ada seorang purnawirawan, yang dengan sadar membela seorang Capres dalam pemilihan pemimpin sipil, jelas dia sudah menjadi sipil bukan lagi tentara. Sehingga tidak layak ia disebut lagi bagian dari TNI, tetapi "pernah" menjadi bagian dari TNI.
Masak misalnya, seorang pemimpin daerah yang pernah berada di TNI dan dia korupsi, terus menjadi sebuah anggapan bahwa TNI itu koruptor semua ? Tidak, kan ? Itu logika sederhananya..
Jadi pak Gatot, jangan naif lah bahwa manusia tetap manusia, dia punya ambisi berdasarkan kehendaknya. Mau dia dari TNI,mau rakyat biasa, bahkan sekelas Presidenpun kalau dia salah, ya tetap salah.
Apa bedanya seorang purnawirawan dengan masyarakat biasa seperti saya ? Seharusnya tidak ada, kan ? Ya, jangan dibedakan dong, hanya karena alasan "purnawirawan itu pernah berjasa membela negara.."
Memang di dalam TNI ada yang namanya jiwa korsa, yang kalau diartikan secara lebar berarti saling menghormati dan gotong royong dalam senang maupun susah. Tapi itu jika masih berada dalam satu kesatuan, dalam institusi. Jika sudah keluar institusi tentu sudah tidak berada dalam satu tongkat komando lagi.
Pak Gatot, jangan malah menarik-narik institusi TNI dalam polemik Capres. Karena para purnawirawan yang menjadi timses seorang Capres sudah tidak mewakili TNI. Dia mewakili dirinya sendiri.
Apakah yang makar itu bisa dikatakan pengkhianat ? Tentu dong. Siapapun mereka yang ingin makar, membuat kerusuhan di dalam negara, dia adalah pengkhianat. Siapapun. Mau dia itu berbaju ulama ataupun berbaju tentara. Dan wajib ditindak secara hukum.
Seharusnya sebagai mantan Panglima TNI, pak Gatot ikut mengademkan situasi dengan menyerahkan semua masalah pada hukum yang berlaku. Bukan malah memanas-manasi menganggap ada pertentangan antara TNI dan Polri yang sedang menyelidiki kasus makar ini.
Enak banget dong kalau dibela terus mentang-mentang dari TNI, trus gak boleh kena masalah hukum ?
Pak Gatot, jangan lebay ah. Kenegarawanan bapak dipertaruhkan disini sebagai seorang purnawirawan yang pernah berjasa pada negara, memberi contoh yang baik pada rakyatnya. Bukan malah membela membabi-buta pada rekannya yang sama-sama pernah menjadi menjadi tentara.
Siapa yang bisa mengkritik tentara ? Ya, seharusnya tentara sendiri.
Ini persis seperti ketika saya membela agama Islam, yang notabene agama saya sendiri, dengan membongkar kebusukan mereka yang berbaju agamis.
Apakah itu karena saya benci Islam ?
Justru saya cinta pada agama saya, sehingga tidak rela jika agama saya dimanfaatkan untuk kepentingan perut mereka yang menyebut2 dirinya ulama, ustad ataupun habib, tapi perilaku mereka tidak beda dengan iblis..
Dan saya berani bilang, bahwa mereka yang merusak nama agama sendiri, itu adalah pengkhianat Islam..
Berani bilang begitu pada teman-teman yang sudah menciderai institusi kesayangan bapak itu, pak Gatot ?
Kalau berani begitu, saya pasti angkat secangkir kopi. Beneran..

Minggu, 09 Juni 2019

INDONESIA BUKAN TALIBAN

INDONESIA BUKAN TALIBAN
Tata Tertib Perumahan
Ada setahun lalu, saya menemukan berita kemarahan Sultan Johor di Malaysia.. Sultan Johor, Ibrahim ibn Sultan, mengkritik keras tentang adanya Laundry "khusus muslim" di daerahnya. "Ini gaya-gaya Taliban !" katanya. Taliban adalah kelompok garis keras di Afghanistan yang sempat menguasai negara itu dan menerapkan aturan keras mengatasnamakan Islam..
Ia lalu mengumumkan ke publik, "Ini Johor, dan itu milik semua ras dan kepercayaan. Ini adalah negara progresif, modern dan moderat.."
Laundry itu kemudian dilarang beroperasi jika tidak menanggalkan eksklusifitasnya. "Semua demi kesucian.." kata pemilik yang akhirnya pasrah harus mengikuti aturan pemerintah Johor.
Malaysia memang sedang berperang keras dengan aliran Islam berpaham Salafi Wahabi ini. Bahkan Menteri Agama Malaysia sendiri berkata, "Tidak ada tempat bagiIslam salafi di Malaysia!"
Dan polisi diraja Malaysia juga sudah menganggap bahwa ajaran Islam wahabi adalah ajaran terorisme.
Malaysia memang patut khawatir dengan maraknya aliran Islam garis keras seperti Salafi Wahabi yang mempengaruhi penduduk muslim disana yang berjumlah lebih dari 60 persen dari total penduduk Malaysia. Malaysia sedang berusaha menyatukan berbagai suku bangsa disana.
Apalagi banyak teroris internasional berasal dari Malaysia, seperti Noordin M Top dan Dr Azhari bin Husin. Mereka semua menganut konsep Islam Salafi Wahabi.
Bagaimana dengan Indonesia ?
Negeri ini belum punya aturan keras untuk Islam berpaham keras. Mereka masih bebas merdeka dengan semua "keyakinannya" dan menyuruh orang lain untuk menghormati mereka.
Mereka membangun konsep-konsep eksklusif di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti kemarin kita membaca sebuah pamflet di desa Temanggung Jawa Tengah, bahwa untuk masuk desa itu semua wajib berjilbab.
Dan saya menemukan lagi di Bekasi bahkan lebih ekstrim. Sebuah perumahan "Muslim" didalamnya ada peraturan selain wanita wajib berhijab juga dilarang ada musik disana..
Bagi mereka yang moderat memang situasi itu agak lucu dan terbelakang sehingga sering menjadi guyonan di media sosial.
Tetapi belajar dari Malaysia, mereka sudah tidak menganggap lagi situasi itu lucu-lucuan sehingga harus menerapkan dengan keras bahwa dilarang eksklusif dalam pemanfaatan usaha di area publik, karena ini akan memicu kekerasan dalam jangka panjang berdasarkan agama seseorang.
Indonesia kapan belajar dari Malaysia? Atau nunggu ada pecah perang antar saudara berbeda agama?
Sudah saatnya pemerintah Indonesia menerapkan aturan ruang publik berdasarkan kebhinekaan antar umat beragama. Membiarkan ada komunitas yang mendagangkan agama, sama dengan menghina agama itu sendiri. Dan negara jangan pernah hanya diam dan berusaha tutup mata atas apa yang terjadi.
Pak Jokowi, ini PR besar ke depan dan perang yang panjang. Masa depan negeri ini sedang dipertaruhkan. Mulailah dari menerapkan aturan yang berdasarkan kebhinekaan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati luka yang semakin lama semakin dalam.. Salam seruput kopi.

SECANGKIR KOPI & SEDIKIT GULA

Kehidupan
Kehidupan
Lama gak ketemu dengan saudaraku. Lebaran ini kami kumpul dan silaturahmi seperti dulu. Tapi ada yang berubah darinya.
Tiga tahun lalu kami pernah berada pada situasi yang sama seperti ini. Aku bertemu dia dalam kondisi berbeda. Wajahnya kusut tanpa cahaya. Aku tahu dia punya masalah besar. Kuajak dia ngopi di sebuah tempat yang sepi dan enak.
Entah kenapa aku ingin mendengar ceritanya. Setidaknya dengan mendengarkan cerita orang lain, aku bisa belajar darinya.
"Ada apa ?" Tanyaku membuka pembicaraan. Tidak butuh waktu lama dia mengeluarkan segala keluh kesahnya. Hutang yang melilit bagai ular berbisa, pendapatan yang minim dan kehilangan tempat bekerja. Sebuah masalah yang biasa dalam perjalanan hidup, tetapi menjadi luar biasa ketika sedang berada pada titik pusarannya.
Dia lelaki yang sedang kehilangan harga dirinya..
Aku teringat diriku yang pernah berada pada posisi yang sama. Hancur, patah dan merasa tak berharga. Semua yang kulakukan salah. Bahkan apa yang kuanggap potensi rejeki malah berbalik menjadi musibah.
Hingga pada satu waktu aku membaca sebuah nasihat yang menyentuh diriku. "Perbaikilah akhiratmu, maka Tuhan akan memperbaiki duniamu.." Imam Ali yang berkata, manusia terbijak yang pernah ada. Dan aku tiba-tiba paham, bahwa yang dimaksud akhirat bukan hanya syariat, tetapi jauh lebih dalam maknanya.
Selama ini manusia selalu terpaku pada sudut pandang dunia. Ketika dia terluka, dia menganggap itu petaka. Padahal sudut pandang akhirat bisa saja berbeda. Itu adalah sebuah kenikmatan hanya kita tidak pernah menyadarinya. Karena kita terlalu sombong dan bodoh untuk mencari artinya.
Dan aku sadar sesudah itu, bahwa setiap langkah dan keputusanku selalu dipenuhi nafsu. Nafsu membentuk takdirku dan aku jatuh karena ambisiku. "Tuhan, bantu aku.." begitu pasrahku ketika lututku sudah tidak berdaya dan kepalaku tertekan ke tanah dalam posisi menyerah.
Penyerahan diriku itu membawa dampak menyakitkan. Aku dihajar habis-habisan dalam situasi yang jauh lebih menekan. Bukannya membaik malah semakin menghantam. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan.
Akhirnya ada saat dimana akalku akhirnya terisi cahaya. Apa yang dulu kuanggap penghalang, ternyata adalah peluang terbuka. Satu persatu benang kusut masalah terurai. Aku sadar, tidak bisa menyelesaikan satu masalah dengan sekali tepukan. Manusia harus melalui semua proses untuk pembelajaran. Bahwa dirinya bukanlah apa-apa tetapi sombongnya melebihi Tuhan.
Inilah yang sebenarnya disebut hidayah..
Kuceritakan kepada saudaraku apa yang pernah terjadi pada diriku. Dia mendengarkan dengan penuh minat dan logika berfikirnya terbuka. Ketika ia sudah paham, yang dibutuhkannya hanyalah kesabaran.
Tiga tahun berlalu dan kamipun bertemu kembali. Dia tersenyum melihatku. Wajahnya bercahaya, menandakan masalahnya satu persatu terurai. Dia tampak lebih tenang, bijak dan dewasa. Masalah itu mengajarinya.
Dan sempat kudengar ia menasihati seorang saudara yang saat ini sedang terkulai. "Jangan cemaskan masa depanmu, itu urusan Tuhan. Cemaskanlah masa lalumu, dengan cara apa kamu bisa membayar kesalahan yang pernah kamu lakukan?"
Secangkir kopi datang. Kuseruput dengan pelan.
Kopi selalu mengingatkanku melalui ujung lidahku. Bahwa sejatinya hidup ini sangat pahit dan kita harus menambahkan sedikit rasa manis supaya semua seimbang.

Sabtu, 08 Juni 2019

ISLAM ITU SALAH

Mo Salah
'Setiap kali dia bikin gol, saya langsung menjadi muslim.."
Begitu teriakan seorang suporter Liverpool, klub sepakbola profesional dari Inggris ketika berbicara tentang Mo Salah. Ini hanya ungkapan metafora saja dengan perasaan euphoria, bukan secara nyata suporter Inggris yang terkenal beragama bola itu langsung jadi mualaf.
Mo Salah dengan sadar menjadi pendakwah Internasional dengan keahliannya menggiring bola. Ia tidak perlu memakai gamis dengan jenggot panjang dan jidat menghitam beserta seruan ayat-ayat untuk mengenalkan agamanya kepada dunia. Ia cukup bermain cantik dan produktif sehingga siapapun akan bangga terhadapnya terlepas dari apapun agamanya
Mohamed Salah Ghaly atau Mo Salah memang menakjubkan. Striker kebanggaan Mesir dan sekarang merumput di Liverpool ini sudah menjadi ikon bagi para penggila bola disana.
Orang Liverpool sangat tahu Mo Salah beragama Islam, dan itu ternyata mempengaruhi mereka. Hasil riset dari Stanford University menunjukkan, sejak Mo Salah gabung di Liverpool tahun 2017, kriminalitas terhadap muslim disana turun sampai hampir 19 persen.
Bahkan menurut Stanford, kebencian terhadap Islam (Islamophobia) dari fans Liverpool di Twitter, turun drastis menjadi 50 persen.
Stanford University menemukan bahwa faktor kebanggaan warga Liverpool terhadap pemain berusia 26 tahun dengan skor 71 gol dari 104 pertandingan itu menjadi penyebab utama turun drastisnya kebencian terhadap Islam disana.
Kebencian terhadap agama Islam sebelumnya tinggi sekali di Liverpool. Itu karena dipengaruhi oleh kejahatan ISIS dan para radikal yang malas dan berisik meski minoritas dan sibuk mengkafir-kafirkan penduduk sana. Tetapi sejak ada Mo Salah yang bahkan membawa Liverpool juara, kebencian itu turun drastis.
Mo Salah membawa kecintaan kepada mereka. Hilang sudah stereotip bahwa Islam sebagai agama teroris dengan gol-gol indahnya Mo Salah dan kemampuannya merendahkan hati di depan para pengagumnya.
Mo Salah dengan sadar menjadi pendakwah Internasional dengan keahliannya menggiring bola. Ia tidak perlu memakai gamis dengan jenggot panjang dan jidat menghitam beserta seruan ayat-ayat untuk mengenalkan agamanya kepada dunia. Ia cukup bermain cantik dan produktif sehingga siapapun akan bangga terhadapnya terlepas dari apapun agamanya..
Apa yang dilakukan Mo Salah seharusnya menampar keras mereka yang menamakan diri mereka "ustad" atau "ulama" yang sibuk menjual ayat demi kepentingan sesaat. Apalagi mereka yang menjual jargon "cucu Nabi" supaya bisa membeli Rubicon dan bisa dapat empat istri supaya orang mau mengakui.
Apa yang bisa kita ambil dari pelajaran diatas?
Bahwa berdakwah bisa dengan cara apa saja, bahkan tidak perlu banyak kata apalagi pake teriak-teriak dengan toa. Cukup dengan menunjukkan siapa diri kita maka mereka akan menghargai dari apa yang kita lakukan.
Agama Islam sempat dipandang tinggi pada masa Ibnu Sina, Al Khawarizmi yang mengenalkan konsep Aljabar dan Algoritma, Ibnu Khaldun dan banyak lagi ketika para ilmuwan itu memperkenalkan agama mereka dengan keilmuan, bukan dengan teriakan caci maki, mata memerah dan hidung mendengus layaknya sapi yang sudah lama dikebiri.
Sekarang masa kejayaan itu sudah hilang diganti dengan banyaknya bom bunuh diri. Agama Islam masa kini pemeluknya semakin besar, tetapi -sialnya- banyak yang otaknya semakin mengecil, karena jarang dipakai untuk mengkaji.
Kalau Mesir punya Mo Salah, Indonesia punya Mo Kabur.. Sama2 berprestasi di dunia Internasional. Cuman satu di Liverpool, satunya di Saudi. Satunya pemain bola, satunya lagi pelari.. Pengen seruput kopi..

Selasa, 04 Juni 2019

AKU BUKAN SEORANG MUSLIM

Jejak Kaki

"Benarkah kamu seorang muslim ?"
Pertanyaan lama seorang teman ini pernah menghantui pikiranku. Ada ego yang mendadak mendesak keluar ketika pertanyaan itu pertama kali dilontarkan, "Ya. Aku muslim.." Ingin kujawab seperti itu.
Tapi tunggu dulu. Temanku ini selalu mempunyai jawaban yang lebih dalam dari sekedar sebuah keilmuan, yaitu pemahaman.
Kata Imam Ali dalam sebuah nasihat indahnya, "Periwayat ilmu itu banyak, tetapi yang memahaminya sedikit.." Dalam artian, siapapun bisa menyampaikan sebuah ilmu. Pertanyaannya, apakah ia paham apa yang ia sampaikan ?
Dan berbulan-bulan aku mencari jawabannya. Bahkan butuh tahunan.
Sampai akhirnya secara tidak sengaja aku bertemu seorang pendeta. Kami berdiskusi melintasi ruang-ruang keagamaan. Bagi kami, agama itu adalah sebuah petunjuk, sebuah kompas yang harus dipegang dalam perjalanan di dunia, jika tidak manusia akan tersesat di rimba belantara hidup yang penuh dengan jebakan..
Ia berkata, "Kita ini sejatinya bodoh, tetapi sombongnya luar biasa. Kita menganggap diri kita tahu segalanya, tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa. Kita merasa diri kita benar, tetapi sejujurnya kita ini salah..."
Ia menyeruput kopinya. "Semua petunjuk itu mengandung kebenaran, manusianyalah yang salah mengartikan. Petunjuk-petunjuk itu mengarahkan kita pada kebaikan, tetapi kita menafsirkannya dengan arogan. Kamu benar, aku salah. Padahal, benar dan salah bukan manusia hakimnya.."
Pada titik itulah aku sadar dan mulai paham...
Petunjuk tetaplah petunjuk. Ia membutuhkan pemahaman, bukan sekedar pengetahuan.
Islam mempunyai arti yang dalam, yaitu kepasrahan total kepada Tuhan dengan mengikuti petunjuk RasulNya. Bukan sekedar sebuah simbol atau aksesoris yang disematkan dengan kebanggaan.
Petunjuk itu harus dipahami dengan nilai kemanusiaan dan kerendahan hati yang luar biasa, karena kesombongan menutup fakta yang ada. Mereka yang mempelajari Islam biasa disebut sebagai muslim. Tapi benarkah aku seorang muslim ?
Diriku mulai mengecil. Tidak aku sama sekali bukan seorang muslim. Petunjukku, jalan yang kupilih dengan sadar adalah Islam memang benar. Tetapi untuk bisa pasrah hanya kepada Tuhan, aku sama sekali tidak berdaya..
Mulut munafikku selalu bilang, aku percaya padaNya. Tetapi ketika datang kenikmatan berupa kemiskinan, aku menganggapnya musibah. Kemunafikanku berbicara aku pasrah padaNya, tetapi ketika diuji dengan sedikit kekurangan, aku bergetar ketakutan.
Dimana arti kata "pasrah kepada Tuhan" yang selalu kujadikan slogan kebenaran jika aku sendiri tidak pernah punya keyakinan yang benar terhadapNya ?
Mengakui diriku sebagai seorang muslim, sejatinya seperti seorang pelari yang masih berada di garis start tetapi sudah merasa menjadi pemenang.
Aku menjadi orang sombong tanpa kusadari, hanya karena mengklaim bahwa akulah pemenang. Bodoh tanpa kusadari. Dan aku hidup dalam kebanggaan tanpa pernah paham bahwa sebenarnya aku ditertawakan banyak orang..
Kuambil handphoneku, kukirim pesan pada temanku itu..
"Bukan aku bukan seorang muslim. Aku sedang berusaha menjadinya dan mencapainya. Muslim atau bukan diriku, bukan aku yang menentukan.."
Lama kemudian temanku membalas pesanku. "Kamu sudah mulai paham.."
Kuseruput secangkir kopi malam ini. Bahkan untuk pengetahuan sesederhana itu, aku harus berjalan sangat jauh. Sungguh aku sejatinya tidak mengerti apa-apa.

Artikel Terpopuler