Sabtu, 18 Januari 2020

INDAHNYA GUBERNUR SEIMAN

Monas
Monas
Jakarta - Kebetulan saya lagi jalan-jalan ke ChristCurch, Selandia baru. Udaranya segar banget. Di musim yang mereka sebut panas, suhunya berkisar 17 derajat. Sebagai manusia tropis, saya harus pake jaket tebal dan jadi aneh karena orang yang lalu lalang banyak yang pake kaos untuk jalan2.
Mirip dengan kota2 lain di negara maju, kota ini penuh dengan taman kota dan ruang publik untuk duduk santai. Meski juga penuh dengan gedung beton, pohon tumbuh dimana2. Paru2 rasanya jadi lega menghirup udara yang - Naudzubillah - segernya..
Lalu saya buka facebook untuk melihat kota dengan Gubernur yang katanya "tercerdas" didunia. Dan membaca berita ratusan pohon di Monas ditebang untuk diganti dengan beton.
Gubernur "cerdas" ini saya yakin jalan lebih jauh dari saya. Dia sudah keliling dunia kemanapun. Tapi anehnya, keputusannya seperti keputusan orang udik yang wawasannya jauh lebih sempit dari orang-orang yang nongkrong di warkop kecil bu Satiyem di dekat rumah.
Jakarta adalah kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia sesudah Hanoi. Itu saja sudah naik 2 peringkat dari sebelumnya yang juara 4.
Dan bukannya menambah taman kota dengan menanam pohon dimana2 untuk memperbaiki kualitas udara, malah sibuk menebangi pohon yang bertugas mengganti udara buruk kita.
Jakarta jelas akan makin panas dan kualitas udaranya tambah hancur. Mungkin dalam waktu dekat, Jakarta akan jadi juara dalam lomba kualitas udara buruk. Dan itu bagi Gubernur mungkin prestasi, yang penting juara.
Entah azab apa yang menimpa kota besar itu. Keunggulan Gubernur cuman "seiman" doang dengan rasa "pribumi". Selebihnya sibuk renovasi dan revitalisasi dengan biaya miliaran. Kayak aji mumpung jadi pimpinan, buat proyek sebanyak2nya utk kumpulkan dana buat pilpres mendatang.
Pantas dulu ketika dipecat Presiden, saya sempat kaget dan menelpon seorang teman yang ada di dalam istana. "Kenapa ??" Tanya saya. "Gak bisa kerja.." kata teman itu. "Seberapa gak bisanya, dari skala 1 sampe 10 ??" Tanya saya lagi penasaran.
Temanku ketawa ngakak, "Nol, bro. Nol. Jokowi ngamuk karena sempat yakin kerjanya seindah presentasinya.."
Dan baru saya sadar beberapa waktu ini. Yang dibangun hanya emosi para pendukungnya, bukan dampak kinerjanya. Karena doi tahu, emosi berkaitan dengan suara pemilih kelak, sedangkan dampak pembangunan tidak ada korelasinya dengan suara yang dibutuhkan..
Azablah Jakarta. Tapi itu yang dimaui oleh pemilihnya. Yang penting santun dan seiman. Lain-lainnya, "Serahkan Tuhan saja.."
Sambil seruput kopi terbaik di dunia, saya kebayang memikirkan hancurnya Indonesia kalau seandainya kelak doi memimpin negara. Karena masih banyak orang bodoh yang lebih memikirkan emosi daripada memilih dengan kesadaran diri.
Ugh, enaknya kopi disini. Pantas Starbuck gak laku, karena kalah bersaing dengan cafe kopi lokal yang menjamur dimana-mana..

Kamis, 16 Januari 2020

BU RISMA MELANGGAR SUNNATULAH

Banjir Surabaya
Banjir Surabaya
Jakarta - Saya kesal sama bu Risma.. Hujan berjam-jam menghantam Surabaya.. Berita dimana-mana, "Surabaya tenggelam!" Foto-foto bersliweran menunjukkan fakta, ada mobil terendam, banyak motor mogok di jalan.
Dan senyum di wajah beberapa teman pendukung Anies Baswedan langsung terpampang lebar, "Tuh kan.. mana Walikota Surabaya yang dibanggakan? Anies lagi yang disalahkan?" Dan mereka ketawa hebat memenuhi media sosial sambil upload foto-foto banjir di Surabaya.
Sialnya, air di Surabaya cepat surutnya. Mulut mereka langsung tertutup rapat. Diam. Dan foto-foto banjir itu menghilang.
Saya tahu, mereka menunggu "perahu karet" yang jadi pemandangan biasa waktu Jakarta banjir menghiasi koran dan media online. Perahu karet yang membagikan makanan seliweran berhari-hari ke warga yang terjebak dan kelaparan.
Dan berita dari media, "Banjir sudah sedada, tadinya sepaha.." ternyata gak ada. Mereka kecewa..
Ini memang salahnya bu Risma.
Bu Risma tidak mampu membahagiakan orang Jakarta. Di Jakarta, setiap hujan besar, bahkan ada orang yang dengan gembira main perahu kayak di depan Universitasnya. Malah ada video secangkir kopi panas diatas kayu, jalan-jalan ditengah aliran air.
Bu Risma ternyata belum mampu berdiskusi dengan air supaya mampir lama di Surabaya. Air tidak diajak komunikasi dan pelan2 diresapkan ke dalam tanah, malah disalurkan ke gorong2 dan dibuang ke laut.
Jelas ini melanggar Sunnatullah !!
Bu Risma tidak membuka diri untuk dibully, seperti Gubernur Jakarta. Padahal, kata seorang ustad terkenal yang sempat heboh karena kawin diam2, dibully itu menggugurkan dosa2.
Bu Risma gak mau masuk surga apa ??
Bu, harusnya diamkan dulu airnya berhari-hari. Contoh Jakarta, disini banjir itu katanya membawa berkah. Kalau cuman terendam sedikit, terus dalam hitungan jam banjirnya hilang, berkahnya juga hilang bu..
Bu Risma gak pandai sih memanfaatkan banjir untuk pencitraan. Harusnya biarkan banjir lama, trus sewa orang2 untuk teriakkan, "Hidup Walikota !" padahal air sudah sehidung mereka.
Makanya bu, jadi Walikota itu harus pandai menata kata, jangan menata kota. Beginilah jadinya..
Untuk kali ini saya kecewa sama bu Risma. Padahal ada nasihat, "membahagiakan orang itu berpahala.." Kalau Surabaya banjir, berapa juta orang bahagia di Jakarta ? Berilah mereka bahagia sedikit saja, biar ibu banyak pahalanya..
Karena itu saya menyarankan Google untuk membuat kata pencarian, "Walikota tercerdas.." biar ibu kapok. Biar itu sebagai hukuman..
Kali ini saya bilang, "Banjir di Surabaya gak rame !!"
Padahal saya sudah buat kopi hanya untuk meladeni meme2an.
Sial ! Kuseruput aja kopinya sekalian..

Kamis, 09 Januari 2020

TIDAK MAU BERJILBAB


Hijab
Berita Rohis Paksa Siswi Pakai Hijab
Jakarta - Jadi inget waktu putriku awal masuk SMA negeri.. Setiap hari dia pulang sekolah mengeluh karena selalu disindir teman - bahkan gurunya, "Muslim kok gak pake jilbab ?". Dia terus bertanya, "Memangnya aku harus pake jilbab? Kenapa kalau aku gak pake jilbab?".
Aku ketawa aja setiap dia nanya gitu. Jadi ingat teman2 wanitaku dulu SMP dan SMA tahun 80-90an tidak ada satupun yang pake jilbab. Mereka teman bermain yang asyik.
Sekarang rata-rata sudah pada berjilbab, karena udah pada ibu-ibu. Ada yang masih asyik, ada yang udah agak ekstrim2 gitu.. 
Asyiknya dulu itu, ga kelihatan mana teman yang muslim, mana yang Hindu, mana yang Kristen. Semua sama, seragam putih biru dan putih abu-abu.
Tapi zaman sekarang beda. Mulai kelihatan ada eksklusifitas, terlihat apa agamanya dari pakaiannya. Dari situ mulai terkotak-kotak pergaulannya. Yang non muslim menghindar dan masuk sekolah swasta, karena rasanya itu sudah bukan sekolah negeri, tapi sekolah agama.
Aku tahu putriku resah, karena tekanan sosial. Sindiran bagi anak seusia dia memang beban yang berat.
Jangankan dia, banyak yang udah ibu-ibu juga pake jilbab karena tekanan sosial, setiap arisan disindiri "semoga dapat hidayah..". Akhirnya pake, "biar sama.." katanya. Dan, "biar gak ribet harus jawab kalau ditanya-tanya.."
Aku ajak putriku duduk disampingku, lalu kuajak ngobrol.
"Manusia itu harus punya prinsip.." Kataku. "Kamu jangan pernah jadi karakter pengikut, yang hanya jadi buntut. Terombang-ambing karena tidak punya pengetahuan, dan akhirnya ikut-ikutan tanpa dasar. Pakailah jilbab, kalau kamu nyaman. Tidak usah pakai kalau kamu tidak berkenan.. "
"Aku diketawain mereka.." Keluhnya.
Aku senyum. "Mereka ketawa karena kamu berbeda. Ketawalah, karena mereka semua sama.." Putriku dapat poinnya.
Akhirnya dia tidak berjilbab sebagai bagian dari pemberontakan terhadap tekanan sosial. Dia menjadi satu-satunya siswi muslim yang tidak pake jilbab di sekolah. Dimarahin gurunya, dia cuek. Disindir teman2nya, dia mana perduli.
Dan itu berpengaruh besar pada perkembangan karakternya. Dia jadi mandiri, tangguh, dan leader dalam kelompoknya. Orang yang punya prinsip, tidak sekedar ikut arus dan tampil beda.
Dan itu terbawa sampai dia dewasa. Masuk Universitas Negeri terkenal dan sibuk mendaki gunung mencari jati dirinya. Putriku yang dulu manja, terbentuk oleh situasi disekitarnya.
Dan ketika saya membaca berita, seorang bapak bernama Agung Purnomo, orangtua seorang siswi di SMA Negeri Sragen, yang mendatangi sekolah anaknya karena diteror oleh rohis sekolah hanya karena tidak mau berjilbab, saya bertepuk tangan..
Kalau bukan kita sebagai orang tua yang melindungi anak kita dari serangan tekanan sosial seperti itu, siapa lagi yang bisa?
Melawanlah. Kita orang tua yang punya hak memasukkan konsep-konsep kehidupan pada anak kita. Bukan rohis. Bukan orang-orang yang tidak kita kenal konsep berfikirnya. Jadi seperti apa anak kita kelak, tergantung cara kita mendidiknya..
Seruput kopinya?

Jumat, 03 Januari 2020

THE SHADOW COMMANDER

Qassem Soleimani
Shadow Commander
Jakarta - Ketika Bashar Assad Presiden Suriah menghadapi pemberontakan di negaranya, seorang Jenderal datang ke Suriah.
Dia Qassem Soleimani, seorang Jenderal dari Iran, yang ditakuti sekaligus dihormati oleh Amerika. Qasem dijuluki The Shadow Commander oleh militer Amerika karena selalu ada dimana-mana menghalangi pergerakan mereka.
Bashar menolak bantuan dari Iran, karena khawatir isu sektarian Sunni vs Syiah akan semakin dimanfaatkan musuhnya untuk kobarkan perang di negara itu.
Ketika ISIS masuk dengan bantuan pasokan dari negara barat dan negara teluk, Bashar mulai kewalahan. Dia lalu menghubungi Qasem.
Pintarnya, untuk menghindari konfrontasi sektarian, Qasem datang ke Rusia, menghubungi Vladimir Putin, menawarkan Rusia untuk berada didepan perang melawan ISIS.
Putin setuju, karena dia dan Rusia sedang butuh citra dimata dunia. Maka dikirimkanlah pasukan dari Rusia, menghalau ISIS. Dan Amerika terdiam menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia karena berbahaya.
Tanpa strategi Jendral Qassem Soleimani, mungkin ISIS berhasil menguasai Suriah dan akan melebarkan sayapnya sampai ke Asia.
Peran besar Qassem Soleimani inilah yang membuat petinggi di Amerika marah besar karena menghalangi langkah besar mereka. Qatar juga ngamuk karena merekalah yang mengeluarkan uang ribuan triliun rupiah demi perang Suriah supaya bisa menguasai jalur pipa gas disana.
Gagal di Suriah, Amerika mulai ingin menguasai Irak kembali.
Sebelumnya mereka berhasil menghancurkan Saddam, tapi tidak berhasil menguasai Irak, karena - sekali lagi - peran Qassem Soleimani.
Kali ini AS tidak mau kecolongan seperti di Suriah. Mereka mengincar pergerakan Qasem di Irak, dan ketika berhasil menemukan keberadaannya - tentu dengan bantuan penghianat - AS meluncurkan misil jarak jauh.
Qassem Soleimani tewas. Kesedihan membara di seluruh Iran dan Irak.
Dan ini berita yang mengkhawatirkan bagi AS, terutama bagi Israel. Israel langsung bersiap diri menghadapi serangan Hezbullah, faksi Iran yang berlokasi di Lebanon.
Timur tengah akan makin membara. Sesudah Suriah, Irak bisa jadi medan perang besar kedua antara dua kubu, barat dan timur. Dan suasana panas ini akan juga didominasi isu Sunni vs Syiah di Indonesia.
Lalu beberapa pihak akan sibuk dgn tagar #saveIrak dan donasi bertebaran dimana-mana. Kadal gurun akan kembali demo dimana-mana terprovokasi propaganda..
Fiuh.. Tahun 2020 dimulai dan kita dihadapkan pada situasi perang global sekaligus cuaca ekstrim yang akan melanda..
Seruput kopinya..

TIAP TAHUN BANJIR, TAPI KITA SEMAKIN BODOH

Banjir Jakarta
Banjir Jakarta
Jakarta - Jepang hampir setiap tahun gempa. Mulai dari yang kecil sampai kuat tak terhingga.
Tapi ternyata "cacat" itu malah menjadikan Jepang ahli. Karena gempalah, Jepang mampu membangun struktur gedung tinggi anti gempa. Ilmuwan2 mereka menjadi ahli yang dipakai dibanyak negara.
Indonesia seperti Jepang juga sebenarnya dalam masalah bencana. Cuman disini banjir. Setiap tahun, pasti ada saja banjir. Bedanya dengan Jepang, banjir di Indonesia cuman jadi komoditas doang, yang ribut pengamat, ahlinya gak pernah ada.
Kenapa ? Mungkin karena otonomi daerah..
Otonomi daerah membuat kepala daerah harus menjadi Superman. Dia harus jadi ahli mensejahterakan masyarakat, sekaligus ahli bencana. Mana bisa ? Banyak hal yang membutuhkan spesifikasi khusus dan harus ahlinya yang bicara.
Saya jadi ingat waktu Jokowi jadi Gubernur Jakarta dulu, begitu sulitnya menyatukan persepsi antara Jakarta, Bogor dan Bekasi. Saling salah menyalahkan antara para kepala daerah dan pusatnya lemah.
Sampai-sampai Jokowi sempat bersumpah, "Kalau jadi Presiden lebih mudah mengatasi banjir Jakarta.."
Ternyata tidak mudah juga. Kenapa? Karena konsep otonomi daerah yang luas itu. Kepala daerah tidak mudah diperintah oleh pusat.
Akhirnya terjadi silang pendapat seperti yang barusan terjadi antara Menteri PUPR Basuki dengan Anies Baswedan selaku Gubernur DKI. Masing-masing sibuk dengan pendapat sendiri. Beda kalau Kepala Daerahnya mau kerjasama dengan pusat kayak dulu jaman Ahok jadi Gubernur DKI.
Jika pejabatnya berantem, siapa yang paling menderita? Ya, rakyatlah. Rakyat adalah korban nyata. Mereka tidak tahu gimana solusinya, karena sibuk menyelamatkan diri dari kepungan air.
Seharusnya ini menjadi tugas DPR RI, untuk mulai merevisi UU Otonomi daerah. Harus ada bagian khusus dimana pusat punya otoritas sangat kuat dan daerah tidak bisa menolak, cukup koordinasi saja.
Dari hasil revisi itu, muncul lembaga khusus penanganan banjir. Didalamnya diisi para ahli. Tugasnya khusus memetakan dan menyelesaikan masalah banjir di semua wilayah. Baru pelaksanaan pembangunannya bisa diambil pusat atau daerah, tapi perencanaan penanggulangannya sudah jelas.
Ya, jujur saya lucu aja lihat video Anies Baswedan bicara tentang rencana penanggulangan banjir. Emang dia ahli banjir? Jelas tidak. Jadinya kan kelihatan sok tahu. Dan pas ada masalah, dia juga gak tahu apa-apa. Akhirnya untuk menutupi kelemahannya, dia mainan kata-kata.
Kasihan sebenarnya..
Dalam Islam saja ada hadits, "Segala urusan, serahkan pada ahlinya. Kalau tidak, tunggu saja kehancuran.." Anies jelas bukan ahli banjir, disuruh ngurus banjir. Ya hancur Jakarta...
Dan ada berapa lagi Anies-anies lain di daerah yang tidak ahli dalam penanggulangan bencana tapi dipaksakan untuk menjadi ahli hanya karena UU Otonomi daerah?
Bencana banjir itu seharusnya menjadi berkat, karena dengan ada masalah kita seharusnya menjadi lebih pintar. Bukan bodoh terus selamanya. Diketawain Jepang kita..
Tahun ini pasti banjir lagi. Mungkin akan jauh lebih besar. Siapkah kita? Atau masih sibuk dengan bully-bullyan tanpa pernah ada jawabannya?
Harusnya kelak kita bisa ekspor ahli-ahli banjir ke banyak negara. Masak negeri sebesar ini yang banyak cuman ahli agama aja? Entar pas banjir besar, palingan cuman disuruh doa dan pasrah..
Seruput dulu ah...

Rabu, 01 Januari 2020

2019, PERANG TERBESAR

Demo Anarkis
Demo Anarkis
Jakarta - 2019 memang tahun yang berat.. Seperti dalam film serial Game of thrones, tahun itu adalah tahun penentuan bagi kelompok radikal untuk mengambil alih pemerintahan. "Winter is coming.." kata mereka.
Mulai dari menunggangi Pilpres, ketika kalah mereka kemudian mengamuk pasca Pilpres.
Gelombang demo dimainkan untuk membuat kerusuhan. Pokoknya tahun itu bagi mereka Jokowi harus jatuh, karena jika tidak, dalam waktu 5 tahun Jokowi akan merombak banyak sarang yang selama ini jadi tempat perlindungan mereka.
Saya ngeri mendengar laporan ada 4 triliun rupiah dana beredar untuk merebut pemerintahan yang sah. Titik kerusuhan ada di Jakarta dan akan disebarkan ke beberapa daerah yang rawan konflik. Kelompok massa bayaran datang ke ibukota. Korban jiwa berjatuhan.
Untungnya polisi sigap, terimakasih untuk pak Tito dan jajarannya waktu itu yang berjuang ekstra supaya kondisi tetap aman. Saya dan banyak teman lagi bermain di udara, mengontrol narasi supaya tidak dikuasai mereka.
Ancamannya ? Bukan main-main. Propaganda "dicari anak STM" adalah sebuah sinyal dari mereka untuk menggerakkan massa mencari para "pasukan dunia maya" untuk dibungkam selamanya.
Tahun 2019 adalah juga tahun hancurnya sarang terpenting kelompok garis keras itu, di dalam KPK. Dahsyat pusaran arus baliknya, sempat goyang juga dihajar sana sini oleh media2 yang selama ini menjadi partner mereka.
Tapi pada akhirnya, sesudah gelombang besar itu dikuasai, lautpun kembali tenang. Jokowi menang. Kita semua menang. NKRI berada di tangan yang tepat untuk dikendalikan ke arah yang lebih benar.
Lega akhirnya bisa seruput kopi dengan nikmatnya. Kalaupun masih ada percik-percik masalah, biarlah, toh tidak ada yang sempurna. Yang penting pusaran bahaya sudah kita lewati bersama.
Tahun 2020 pun kelihatannya laut akan bergolak, meski tidak sekencang tahun sebelumnya.
Keputusan Jokowi untuk dengan berani menantang Uni Eropa perang Nikel bukan tanpa resiko. Kita tahu, negara barat dan sekutunya mainnya licik. Mereka bisa kembali menggerakkan kelompok radikal untuk menggoyang kembali Indonesia.
Tapi kita sudah siap. Kita sudah punya pengalaman untuk menghadapi mereka.
Setidaknya dalam perang narasi di media sosial, jangan anggap remeh kami-kami yang kemarin menjadi musuh terbesar kelompok yang memainkan firehose of falsehood yang gagal.
Mau berapa cangkir kopipun, tidak ada masalah. Demi Indonesia. Demi anak cucu kita.
Selamat tahun baru, sahabat-sahabat semua. Berterimakasihlah pada Tuhan yang masih sayang pada negeri ajaib Nusantara tercinta.. Seruput.

Senin, 30 Desember 2019

HATI-HATI, API PANAS PERANG NIKEL

Kerjasama Indonesia-China
Kerjasama Indonesia-China
Jakarta - “Hati-hati, mulai 2020 nanti Indonesia bisa bergolak.." Begitu kata seorang teman mengingatkan. Ia lalu bercerita tentang rencana "perang" Jokowi dengan negara Uni Eropa, yang akan dikenal dengan perang Nikel.
Nikel ? Ya, Nikel. Nikel adalah salah satu sumber alam terbesar Indonesia. Kita bahkan punya cadangan sampai 200 tahun ke depan. Terbesar ke 6 di dunia.
Apa hebatnya Nikel?
Nah, ini dia. Nikel adalah salah satu unsur penting untuk membuat baja. Tanpa Nikel, tidak ada yang namanya stainless steel yang sekarang sudah masuk ke kebutuhan pokok manusia.
Selama ini kita selalu mengekspor bahan mentah Nikel ke seluruh dunia. Di negara sana Nikel diolah dan diekspor kembali ke Indonesia dalam bentuk silet, peralatan dapur, sampai bahan konstruksi.
Kita ekspor mentahnya murah, tapi kita impor barang jadinya mahal. Negara lain yang dapat keuntungan, bukan kita. Kita cuman "diperah" susunya saja, dagingnya mereka yang makan.
Inilah yang buat Jokowi murka. Dia lalu memerintahkan, "Stop ekspor Nikel! Bangun industri pengolahan disini dan ekspor barang jadinya bukan mentahnya!"
Niat Jokowi ini mendapat momen ketika Uni Eropa melarang perdagangan sawit yang menjadi komoditi andalan Indonesia. "Sekalian saja, kita stop ekspor Nikel ke mereka.." kata Jokowi.
Ngamuklah Uni Eropa. Industri baja yang selama ini jadi andalan mereka akan runtuh dan itu akan mempengaruhi ekonomi mereka. Ratusan ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Dan ini berbahaya untuk kestabilan politik mereka.
Jokowi memang gila. Dengan cueknya dia bilang, "Suka suka kita, wong kita yang punya.."
Makin ngamuklah Uni Eropa.
Tapi mau ngamuk giman? Dibelakang Jokowi ada China yang lebih santun dalam berdagang. China butuh Nikel untuk mobil listrik mereka yang akan mereka produksi besar2an tahun 2035.
Untuk apa Nikel di mobil listrik? Untuk batere lithium lah. China memastikan mereka akan investasi di Indonesia membangun pabrik batre lithium besar. China masukin duit kesini, sedangkan Uni Eropa cuman main perah saja.
"Terus bahayanya Indonesia dalam situasi seperti itu dimana?" Tanyaku.
Kalau melihat pola dari yang apa yang sudah dilakukan Uni Eropa dan sekutu mereka Amerika, kemungkinan mereka akan menggoyang Indonesia lewat kelompok radikal.
Kelompok radikal - yang sering dijuluki kadrun - sudah tumbuh subur di negeri ini sejak jaman SBY, akan dipake sebagai senjata. Demo besar akan digerakkan supaya chaos.
Musuh politik akan dibangun sebagai kekuatan baru yang bersahabat dengan negara barat. Sedangkan Jokowi akan dicap "komunis" karena lebih dekat dengan China seperti Soekarno dulu.
Bisa jadi Rizieq di Saudi juga sedang dipersiapkan untuk memimpin revolusi dgn konsep revolusi Islam seperti yang pernah terjadi di Iran.
Itulah kenapa pemerintahan Jokowi ini seperti sangat berhati2 dalam menangani kelompok radikal. Terlalu keras, bisa memunculkan isu baru yang akan digoreng keluar seperti etnis Uighur di China. Terlalu lunak, mereka akan berkembang biak lebih banyak.
Cara yang lebih baik adalah biarkan mereka ada, tapi diawasi terus dan dilokalisir. Kalau mulai bandel, jitakin kepalanya sampe benjol tapi jangan mati, nanti jadi senjata api.
Tahun depan, siapkan cangkir kopi yang banyak karena perang kita akan semakin luas. Seperti kata pepatah, "kampret hilang, kadrun terbilang". Seruputt.

Rabu, 25 Desember 2019

PERJAMUAN TERAKHIR

Natal
Perjamuan Terakhir
Jakarta - “Di ruangan ini, ada seseorang yang akan menghianatiku.." Semua terdiam saat Yesus berkata seperti itu.
Adegan perjamuan terakhir ini dikenal dengan nama The Last Supper karena dilukis oleh Leonardo da Vinci. Makan malam terakhir antara Yesus dan murid-muridnya ini awalnya berlangsung ceria, dan mendadak suram.
"Siapakah yang engkau maksud ?" Tanya Yudas Iskariot, sang bendahara, seorang murid setia yang selalu mengikuti perjalanan Yesus.
Yesus terdiam. Dia lalu menyobek roti dan mencelupkannya dalam anggur. "Dialah orang yang kuberikan roti sesudah kucelupkannya.." Kata Yesus. Ia lalu memberikannya pada Yudas, yang tertegun tanpa mengira itu adalah dirinya.
Yesus benar.
Yudas Iskariot lah yang kemudian melaporkan keberadaannya kepada Caiaphas, Imam besar Yahudi yang mengincar Yesus karena takut kebesaran namanya akan mempengaruhi posisinya sebagai Imam yang berkuasa di Yerusalem.
Yudas kemudian membawa pasukan Caiaphas ke taman Getsemani, tempat Yesus biasa berdoa, dan menciuminya sebagai tanda bahwa itulah orang yang harus ditangkap. Ciuman Yudas ini biasa disebut sebagai "ciuman kematian".
Perjalanan para manusia suci sebenarnya penuh dengan kisah seperti kita menonton film seri Game of Thrones. Disana ada pelajaran tentang kepasrahan, penghianatan, ketamakan, kebencian dan cinta.
Ini drama hidup manusia, penggambaran sifat-sifat asli manusia dalam sebuah balutan peristiwa sejarah. Dan selalu berulang dalam waktu dan tokoh yang berbeda, tetapi inti pesannya sama.
Dan dalam kisah Yudas Iskariot ini, kita melihat bahwa salah satu pembunuh Yesus bukan saja lawannya, bahkan orang terdekatnya. Yang selalu mengikutinya kemana-mana, makan bersamanya dan menderita bersamanya.
Orang yang merasa sudah mengenalnya..
Sebuah pesan yang sangat dalam bahwa musuh terbesarmu sesungguhnya bisa berada didekatmu.
Agama dan kisah sejarah para manusia suci sesungguhnya menarik untuk diceritakan dalam bentuk nilai. Tapi kita malah sibuk bertentangan masalah-masalah sepele, seperti "ajaran siapa yang paling benar"?
Ironis memang. Nilai ajarannya sendiri seperti hilang tak berbekas, berganti dengan baju kebanggaan bahwa ia paling beriman dari semua orang.
Selamat hari kelahiran untukmu, manusia suci yang berkorban untuk umat manusia di bumi ini.
Maafkan kami yang masih sulit menangkap inti dari pengorbananmu selama ini..

Minggu, 22 Desember 2019

DAN NABI PUN MENANGIS

Natal
Berita Larangan Natal
Jakarta - Pada tahun 628M, seorang utusan datang kepada Nabi Muhammad Saw di Najran.
Utusan ini membawa surat minta perlindungan kepada Nabi terhadap gereja mereka, St Catherine Monastery dan semua biarawan didalamnya. Alkisah, gereja itu selalu diganggu oleh mereka yang beragama muslim disana.
Dan dengan tegas, Nabi Muhammad Saw menulis maklumat kepada seluruh masyarakat disana, bahwa umat Kristen yang berada diwilayahnya, mendapat perlindungan khusus dari beliau.
Nabi juga secara khusus menyatakan melindungi kegiatan dan tempat ibadah umat Kristen. Dan menjadi tameng terhadap siapapun yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada mereka. Jelas dan tegas, dan tidak ada seorangpun penduduk disana yang berani melawan keputusan Nabi.
Umat Kristen pun melaksanakan semua kegiatan rohani mereka dengan tenang dan terjalin persaudaraan antar agama tanpa paksaan.
Surat perintah Nabi Muhammad Saw itu sekarang ada di Museum Topkapi, Istanbul Turki. Disimpan sebagai sebuah bukti dan seharusnya menjadi hukum yang ditaati pengikutnya.
Tapi pada masa sekarang, khususnya di Indonesia, sebagian umat Muhammad Saw malah sibuk mempersekusi mereka yang berbeda keyakinan. Mirip dengan penduduk Najran yang mengganggu biara St Catherine sebelum ada perintah Nabi.
Bahkan di Dharmasraya Sumbar, dengan alasan sudah ada perjanjian, umat Kristen disana dilarang melakukan perayaan Natal bersama-sama. Dan Menteri Agama, Bupati, bahkan kepolisian mengaminkan perjanjian itu tanpa ada usaha keras supaya umat Kristen disana bisa melakukan perayaan dihari besar mereka.
Seharusnya Menteri Agama, Bupati dan pihak Kepolisian mengikuti apa yang sudah dilakukan Nabi Muhammad Saw. Bahwa semua orang berhak menjalankan ibadahnya tanpa tekanan dan intimidasi, meski itu berbentuk surat perjanjian.
Kalau bukan pemerintah yang melindungi, terus siapa lagi? Disini terlihat lemahnya aparat terhadap situasi yang terjadi. Padahal umat Kristen disana sudah mengirimkan pemberitahuan bahwa mereka terintimidasi meski sudah ada perjanjian.
Saya membayangkan Nabi Muhammad Saw menangis, melihat umatnya yang satu bangga sudah berhasil mengintimidasi umat lain, dan satunya lagi lemah memberi perlindungan pada umat lain.
Padahal kedua-duanya sibuk bicara "sunnah", mengikuti apa yang dikatakan dan dilakukan Nabi. Sunnah mana yang sudah mereka lakukan? Tidak satupun. Mereka hanya mengatasnamakan Nabi, tapi perbuatan mereka menyelisihi.
Mau sembunyi rasanya karena rasa malu. Ternyata konsep "mayoritas" hanya ada di mulut saja, tapi sama sekali tak ada gunanya. Pemerintah dan aparat terlalu memberi angin dan tak berdaya menghadapi kelompok yang merasa benar sendiri.
Kelak umat Kristen yang tertindas akan menghadap Nabi dan mengadukan perlakuan umatnya terhadap mereka.
"Sesungguhnya saya membela mereka karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya, dan karena ALLAH ! Jika ada yang mengganggu mereka, maka dia merusak perjanjian Allah dengan tidak menaati RasulNya.." Begitu sebagian isi surat Nabi Muhammad Saw.
Ah, berat rasanya mengaku "muslim" jika harus sesuai dengan definisinya. Karena muslim berarti pasrah kepada Tuhan dengan menaati RasulNya, bukan aksesoris belaka.
Tanyakan pada diri kalian sendiri, benarkah kalian sesungguhnya muslim atau hanya klaim dimulut saja?
Mari merenung sambil seruput kopinya.

Memanggul Salib Minoritas

Kebersamaan
Kebersamaan
Jakarta - Sebenarnya tidak ada negara yang bebas dari kelompok intoleran. Dimanapun ada, termasuk di negara yang katanya mbahnya hak asasi manusia. Disana, yang katanya bebas melakukan apa saja, berpendapat apa saja, ternyata juga sama dengan di Indonesia.
Poinnya, dimanapun disebuah wilayah ada kelompok mayoritas, selalu ada kelompok minoritas yang teraniaya. Meskipun tidak banyak, pasti ada kejadian.
Tahun 2013, pada era pemerintahan SBY, situasi intoleransi di Indonesia adalah masa paling mengerikan buat saya. Tahun itu pernah ada kejadian beberapa warga Ahmadiyah dipersekusi sampai mati oleh warga yang mengaku mereka "penghuni surga". Dan polisi diam saja, hanya bisa menonton tanpa sedikitpun mampu mencegah.
Di era Jokowi ini, intoleransi memang masih ada. Tetapi sudah jauh berkurang. Jokowi sudah melakukan banyak hal, termasuk membersihkan kampus-kampus negeri dari kelompok radikal. Meski belum masuk ke kampus swasta.
Penanganan terhadap kelompok radikal juga lebih keras dengan penangkapan para teroris lewat revisi UU anti terorisme yang disahkan tahun 2018. Dengan UU itu Densus 88 bisa bergerak bebas untuk menangkal potensi terorisme.
Tapi apakah mungkin penanganan intoleransi itu berjalan sempurna?
Tentu tidak. Apalagi dengan konsep otonomi daerah di Indonesia, dimana pemimpin daerah menjadi raja di wilayahnya. Bahkan ada indikasi beberapa pemimpin daerah memelihara kelompok radikal untuk menjaga suara mereka.
Jadi saya senyum saja ketika seorang teman yang menasbihkan dirinya dari kelompok minoritas, selalu menyalahkan Jokowi kalau ada masalah intoleransi, meski itu ada di ujung negeri seperti Dharmasraya.
Jokowi harus salah, meski disana ada Bupatinya. Seolah selain jadi Presiden, Jokowi juga harus jadi bupati, jadi polisi, jadi lurah sampe jadi ketua RT.
Mereka berharap ada tindakan keras dari Jokowi untuk menghadapi intoleransi dimana saja. Keras? Contoh saja China. Mereka keras sekali menghadapi etnis Uighur yang radikal di Xinjiang, tapi apa yang di dapat pemerintah? Protes, sampe Amerika campur tangan..
Penanganan intoleransi di Indonesia yang sudah berakar tidak semudah membalikkan serbet diatas meja. Perlu penanganan khusus karena ini berkaitan dengan masalah ideologi dan budaya.
Jokowi tidak selalu benar, dia juga manusia biasa. Tapi selalu menyalahkannya untuk semua kesalahan di negeri ini juga salah.
Intoleransi hanya 1% PRnya diluar korupsi, mafia, kemiskinan, kebodohan dan ekonomi negara. Dalam arti, jadi Presiden itu tidak mudah. Kalau mudah, Prabowo aja pasti bisa.
Adil melihat sesuatu itu penting. Menjelaskan sesuatu itu juga penting, meski selalu dituding selalu membela Jokowi. Padahal saya hanya mencoba memberikan gambaran lebih luas dari masalah yang ada.
Jangan selalu bergantung pada pemerintah, kita juga harus terus berjuang untuk meneriakkan situasi yang ada. Kita tahu masalahnya tidak sederhana, jadi jangan berharap penyelesaian masalahnya juga sederhana.
So, lawan terus intoleransi dengan apa yang kita punya dan kita bisa. Meski suara serak, perlawanan itu membuktikan kita ada.
Selamat menyambut Natal untuk teman-teman Kristen. Memanggul salib itu tidak semudah yang diucapkan, tetapi disanalah nilai sebenarnya, yaitu perjuangan.
Salam dari saya dan teman-teman muslim lainnya yang juga berjuang supaya tidak ada lagi muslim yang bodoh dan radikal.
Entah kapan itu bisa terlaksana, biarlah Tuhan yang menentukan. Urusan kita hanya berusaha. Di kafir-kafirkan oleh mereka adalah resikonya.. Seruput kopinya.

Jumat, 20 Desember 2019

Hati-hati, Hoax Uighur di Indonesia

#Uyghur
Demo Bela Uighur
Jakarta - Seperti yang sudah-sudah model menggunakan isu agama, masih menjadi tren global.
Sesudah perang Suriah, Amerika masih merasa butuh narasi agama sebagai bagian dari perangnya. Terutama sekarang menghadapi musuh besarnya China, saingan ekonominya dalam perang dagang.
Isu penindasan etnis Uighur dipropagandakan Amerika ke seluruh dunia. Media-media besar mereka menggunakan kata "muslim" untuk etnis Uighur supaya tekanan terhadap narasi agama semakin kuat. Persis seperti "muslim" Cechnya waktu Amerika ingin menekan Rusia.
Gambar hoax bertebaran dimana-mana, persis seperti di Suriah. Kelompok radikal garis keras yang di Indonesia populer dengan julukan "kadal gurun", memang mangsa utama gambar hoax. Mereka kaum sumbu pendek yang mudah dibakar demi kepentingan.
Indonesia sebentar lagi bisa mengalami situasi yang sama..
Sekarang ini, Indonesia sedang menghadapi "perang" dengan Uni Eropa. Sebelumnya, Uni Eropa sudah melarang ekspor biofuel dari Indonesia dan Malaysia dengan alasan lingkungan hidup.
Indonesia berang. Negeri ini pengekspor minyak sawit terbesar di dunia. Dan larangan dari Uni Eropa itu mempengaruhi ekonomi Indonesia.
Jokowi sendiri langsung membalas dengan melarang ekspor biji nikel ke Eropa. Perintah Jokowi ini membuat Uni Eropa panik. Pabrik-pabrik baja mereka yang butuh biji nikel sebagai bahan dasar, bisa bangkrut dan ekonomi mereka runtuh.
Amerika dan Uni Eropa mempunyai persekutuan bersama dalam menghadapi ancaman global. Persekutuan yang sangat jelas, terlihat saat mereka bersama-sama mengorganisasi kelompok teror bernama ISIS di Suriah.
Tujuannya adalah merebut jalur pipa minyak dan gas yang sudah dikerjasamakan antara Suriah dan Rusia. Mereka memakai isu agama dengan menciptakan ISIS sebagai boneka. Dari perang Suriah, Amerika juga mendapat keuntungan dari penjualan senjata kepada kelompok teroris.
Dan isu agama ini masih efektif untuk dipakai di Indonesia. Disini banyak kelompok radikal berbaju agama yang bisa di remote dari jauh.
Uni Eropa bisa berbuat hal yang sama dengan bantuan Amerika untuk menguasai Indonesia. Apa yang mereka lakukan terhadap China dengan isu Uyghur bisa dijadikan sebuah contoh, jika mereka ingin melakukan hal yang sama.
Caranya ??
Buat isu yang berkaitan dengan agama. Kemudian bangun demo besar-besaran. Lalu muncul korban jiwa. Dan kemudian propagandakan ke seluruh dunia, bahwa rejim Indonesia menindas "muslim" di Indonesia.
Pola yang sama waktu Pilgub 2017 dan pasca Pilpres 2019. Masih efektif, karena kelompok garis keras itu masih ada yang memelihara.
Karena itu, lawan hoax isu Uighur. Jangan biarkan berkembang disini seolah-olah itu kebenaran. Karena jika kita diam saja, satu waktu, isu itu akan dipakai di Indonesia.. Seruput kopinya.

Artikel Terpopuler