Jumat, 15 November 2019

AKUILAH, TERORIS DISINI BERAGAMA ISLAM

Terorisme
Densus tangkap Teroris
DennySiregar.id, Jakarta - Saya pernah punya teman keteknya bau banget.. Tapi gada yang mau mengingatkan. "Sungkan.." kata mereka. Akhirnya, karena pusing setiap dekat dia, saya tegur ketika lagi berduaan, "Pake deodoran dong, kasian yang lain jadi kebauan.."
Eh, dia tersinggung. Saya dimusuhi dan dijauhi. Padahal apa yang kukatakan benar dan itu nasihat baik, ternyata bagi dia itu seperti mempermalukannya.
Denial atau menyangkal. Itulah yang dia lakukan. Dia tidak merasa bahwa dirinya bermasalah, sehingga tidak pernah mau memperbaiki dirinya.
Inilah yang terjadi pada beberapa penganut agama Islam di negeri ini, dan mungkin di banyak negara.
Banyaknya teroris yang meledakkan dirinya, jelas-jelas mereka menganut agama Islam, terlihat dari rekam jejak mereka. Tapi banyak yang menyangkal dengan kata, "Mereka tidak beragama.."
Bahkan seorang Busyro Muqoddas, Ketua PP Muhammadiyah dan mantan Ketua KPK pengganti Antasari Azhar, dengan sengit membantah dan tidak mau dikaitkan dengan Islam.
Ia bahkan berhalusinasi bahwa teroris di Medan itu aktornya negara. Dan ia menyerang pemerintah karena selalu mengaitkan teroris dengan simbol agama. "Guru ngaji itu simbol agama.." katanya protes, saat Densus 88 mengkonfirmasi seorang guru ngaji sebagai otak bom Medan.
Kenapa menyangkal? Jelas-jelas teroris di Medan rajin datang ke pengajian, celananya cingkrang dan istrinya bercadar. Itu sudah simbol di mereka yang menganut agama Islam.
Seharusnya kita yang beragama Islam mulai instropeksi, ada yang salah dengan situasi ini. Dan mulai berbenah, diawali dengan menyisir para penceramah radikal di masjid dan pengajian, bukannya sibuk cari alasan sana sini.
Akuilah, bahwa banyak teroris disini itu beragama Islam. Tidak perlu dibilang mereka tidak beragama segala. Orang juga tahu kok, yang salah bukan agamanya, tetapi oknum yang menjalankan agama. Kenapa mesti malu?
Anggap itu sebagai pelajaran, supaya para ulama, para kyai, para habaib di negeri ini mulai mengatur barisan kembali supaya nama Islam tidak tercoreng disini. Selalu menyangkal, menunjukkan kita bodoh. Tidak pernah belajar apapun dari situasi yang terjadi.
Saya sendiri tidak merasa malu. Bahkan sejak beberapa tahun lalu memerangi oknum yang menyalahgunakan nama agama yang saya anut. Kalau bukan orang Islam sendiri yang memperbaikinya, lalu siapa lagi?
Entar kalau yang Kristen, Hindu atau Budha menyinggungnya, ngambek lagi. Trus demo bersilid-silid, nuding penista agama. Kapan dewasanya?
Seperti teman yang bau ketek itu, akhirnya menjadi bahan omongan disana sini dan ia dijauhi, karena tidak mau mendengar nasihat orang lain. Padahal nasihat itu biasanya datang dari orang dekat, kalau orang jauh pasti gak mau negur, cuman meludah saja.
Ayo dewasa, supaya kita sama-sama bisa mencari solusinya. Tinggal mengakui, apa susahnya? Jangan usia doang yang tua, kelakuan kayak ABG yang pertama kali datang bulan.
Akhirnya jadi bahan ejekan dan bahan sindiran oleh agama lain. Lebih malu-maluin kan?
Ya sudah, kalau tetap gak mau, anggap saja teroris itu tidak beragama. Berarti orang yang tidak beragama, dia athletis. Karena kalau beragama, dia pasti tesis..
Puas? Seruput koncinya.

Rabu, 06 November 2019

DEMO MAHASISWA TURUNKAN ANIES BASWEDAN

Demo
Aksi Demo
DennySiregar.id, Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa mengadakan rapat karena ada isu mendesak.
"Kita harus turun ke jalan! Ada yang ingin mainkan anggaran. Uang rakyat dipakai untuk kegiatan gak berguna. Kita harus membela rakyat supaya uang pajak mereka gak sia-sia!!". Teriak Ketua salah satu BEM. Sorak sorai menggema diseluruh ruangan.
Besoknya ribuan mahasiswa turun ke jalan membawa berbagai macam spanduk. "Anies, kamu tidak becus jadi Gubernur!" begitu bunyi salah satu spanduknya. Ada lagi spanduk, "Selamatkan uang rakyat!!".
"Masak bolpen aja sampe 123 miliar!!" Teriak seorang mahasiswa. "Untuk apa lem aibon 126 miliar ???". Teriak orator dari atas mobil dengan speaker besar.
Mereka kemudian mengepung balai kota DKI, meminta Anies keluar atau perwakilan dari mereka masuk ke dalam. Tetapi Anies tetap ada di dalam. Dan mahasiswa pun mulai gelisah, menggoyang-goyangkan pagar.
Semakin siang kerumunan semakin besar dan mulai ada kerusuhan. "Anies turun. Anies turun.." begitu nyanyian mahasiswa kompak. Mereka benar-benar gemas karena uang rakyat dipermainkan lewat anggaran yang nilainya tidak masuk akal.
Polisi mengepung mahasiswa dan mulai mengaktifkan water canon. Mahasiswa semburat apalagi gas airmata mulai dikeluarkan. Terjadi bentrokan di jalan.
Begitu seorang kakek bercerita pada cucunya kelak di tahun 2085, menceritakan situasi dirinya saat menjadi mahasiswa yang ikut turun ke jalan.
"Itu cerita beneran kek?" Tanya cucunya. Si kakek bangga, "Iya dong, cu. Kakek ada dibarisan terdepan.." katanya menepuk dada.
"Tapi, kek.." kata si cucu. "Di buku sejarah, demo besar hanya ada waktu Jokowi sama Ahok jadi pejabat aja. Gada itu demo mahasiswa waktu Anies Baswedan jadi Gubernur??"
Si kakek marah, "Cucu sialan!! Sana minggat. Diceritain ma kakek gak percaya. Dasar anak cebong!!!!".
Si cucu minggat sambil mencuri seruput kopi kakeknya yang sudah dingin.

Jumat, 01 November 2019

SURAT UNTUK ADEK-ADEKKU DI PSI

Partai Solidaritas Indonesia
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
DennySiregar.id, Jakarta - Saya ingat sekali waktu Pemilu legislatif diundang oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Saya didaulat untuk bicara dipanggung. Saya setuju, dengan satu syarat tidak ingin memuji mereka.
Dan di panggung saya bicara dengan nada keras, "Saya akan mendukung PSI bukan karena suka, tetapi justru saya ingin membuktikan bahwa kursi DPR akan membantai kalian, menjadikan kalian lemah seperti banyak aktivis seperti kalian sebelumnya.
Dan saya akan puas dgn mencaci kalian, menyerang kalian karena karena sudah berbohong kepada rakyat dengan janji-janji kalian!".
PSI memang tidak lolos ke Senayan karena suaranya tidak mencukupi. Tetapi di beberapa kota besar, mereka ada. Di Jakarta sendiri bahkan mereka menempatkan 8 kadernya menjadi anggota dewan.
Baru saja duduk, PSI Jakarta langsung bekerja. Mereka membongkar rancangan APBD DKI Jakarta yang dibuat dengan seenak udelnya. Ada buzzer dibayar 5 milyar rupiah. Ada lem aibon 82 miliar rupiah. Ada bolpen 124 miliar rupiah.
Tanpa ragu, adek2 PSI di Jakarta, yang bahkan ada yang berumur 23 tahun, harus melawan pembuat anggaran. Tradisi Ahok mencoret anggaran fiktif diteruskan.
Lawan adek-adek ini bukan saja dari eksekutif, tetapi juga dari dalam ruang DPR yang didominasi orang-orang tua dan lama. Wakil Ketua Komisi A DPRD DKI dari Gerindra, Inggard Joshua, menegur PSI Jakarta karena membongkar temuan itu lewat media sosial.
"Anda orang baru.." katanya. Seolah mengingatkan PSI bahwa gaya mereka merusak budaya diam dan kongkalikong selama ini antara eksekutif dan legislatif. PSI menjadi musuh bersama karena tidak bisa diajak bersenang-senang seperti mereka dulu kala.
Dan saya yakin, tekanan di dalam yang tidak diungkap ke publik pada PSI Jakarta pasti lebih keras. "Masih bayi sudah sok semua.." begitu pasti ejekan mereka.
Jangan menyerah, adek-adekku di PSI. Lawan mereka. Biar mereka belajar bahwa generasi baru dalam politik sudah muncul dan akan menyapu mereka. Bersuaralah keras, jangan hanya diam. Yang kalian lawan itu bukan lagi serigala, tetapi sampai predator di jaman purbakala.
Jadikan Jakarta dan kota lain sebagai etalase kalian, bahwa di 2024 nanti kalian layak duduk di Senayan. Semua tekanan itu akan menguji kalian, apakah memang kalian bermental pejuang atau pecundang?.
"Mental itu terbuat dari baja, maka selayaknya kalian tempa.." begitu kata saya mengakhiri pidato di panggung.
Dan tempaan pertama sudah datang dengan kerasnya. Awalnya memang sakit. Tapi yakinlah, sesudah kalian terbiasa, kalian akan berdansa dengan cantiknya..
Salam seruput kopi dari kami yang menunggu gebrakan selanjutnya..

Minggu, 27 Oktober 2019

Jalan Panjang Melawan Radikalisme

Radikalisme
Kasus Ahmadiyah Cikeusik
DennySiregar.id, Jakarta - Tahun 2011, terjadi penyerangan di rumah jamaah Ahmadiyah oleh sekumpulan orang di Cikeusik Banten.
Tiga orang jamaah Ahmadiyah tewas. Mirisnya, proses pembunuhan mereka direkam lewat video handphone dan diupload di media sosial. Tubuh yang sudah mati masih dilempar batu besar oleh para "binatang" yang sudah kehilangan akal.
Dan yang lebih miris lagi, polisi yang ada disitu hanya jadi penonton tanpa usaha membubarkan mereka apalagi menyelamatkan korban.
Pertama kali menonton video itu, hati saya tersentak. Begitu kejinya sekelompok orang yang menganggap diri mereka pembela agama dan menuduh Ahmadiyah kafir, melakukan perbuatan yang mungkin diatas level kekafiran.
"Ada apa bangsaku ?" Pikirku sedih waktu itu.
Dan itu salah satu momen penting, bisa juga sebagai titik balik, untuk bicara tentang bahaya radikalisme disekitar kita. Kutinggalkan tulisan tentang spiritualitas dan berjuang mengingatkan bahaya ini ke siapa saja yang mau menerima.
Tahun 2019, sesudah pengumuman Kabinet, terlihat hasil itu mencapai puncak ketika Jokowi menempatkan para Menterinya dengan agenda radikalisme yang utama. Aku lega, butuh waktu yang panjang dan sekian banyak ancaman hanya karena sekadar berbicara.
Dulu orang takut menyinggung umat beragama. Sekarang semua bahu membahu membersihkan oknum didalam agamanya, dan mulai kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Saya mengenal banyak teman di media sosial ini yang sejak lama bersuara mengingatkan pemerintah untuk turun tangan. Tanpa kenal lelah. Kami mungkin tidak pernah bertemu muka, tetapi kami saling mengenal ketika menyebut nama..
Saya menyebut mereka para pejuang media sosial, bukan lagi penggiat. Karena saya tahu mereka mempertaruhkan semua kenyamanan di dunia nyata mereka, untuk terus bersuara di dunia maya.
Sampai sekarang, saya terus mengingat para pembunuh jemaah Ahmadiyah itu yang hanya dihukum beberapa bulan saja. Betapa murahnya nyawa manusia di dunia.
Tapi saya yakin, Tuhan akan memperhitungkan semuanya. Saya membayangkan, para pembunuh atas nama agama itu, selalu ditemani mimpi buruknya setiap saat. Mereka tidak akan pernah lepas dari apa yang pernah mereka perbuat.
Sambil seruput kopi pagi ini, saya sedang mempertimbangkan untuk mundur pelan2 dari media sosial yang sudah menjadi pedang saya selama 8 tahun ini
"Tugas sudah selesai..." Kata seorang teman. Dan saya berdoa untuk arwah2 para korban yang mungkin sedang tersenyum di alam sana, karena nyawa mereka hilang tanpa sia-sia.
Seruput..

Jumat, 25 Oktober 2019

Surat Untuk Sahabat-sahabat NU

Banser
Banser
DennySiregar.id, Jakarta - Selama beberapa tahun ini, saya selalu disamping Nahdlatul Ulama berjuang bersama menghadapi kelompok radikal, utamanya di media sosial.
Bedanya, NU punya massa yang sangat besar. Mulai dari Pemuda Anshor dan Banser sampai Fatayat NU bergerak di lapangan sampai harus berbenturan dengan mereka dimana-mana.
Saya sejak dulu yakin, tanpa NU, negara ini sejak lama habis. Hanya NU yang bisa menghadang gerakan mereka ketika bahkan aparat negara belum sadar bahwa ada kelompok radikal berbaju agama sedang menyusup dan berusaha membangun kekuatan.
NU punya slogan yang bikin merinding, "hubbul wathon minal iman", cinta tanah air sebagian dari iman. Inilah doktrin terpenting yang dibangun lewat syair "yaa lal wathan" ciptaan KH Wahab Hasbullah dan selalu dikumandangkan teman2 Anshor dan Banser di lapangan.
Saya kagum dan hormat dengan kalian. Dengan besarnya massa kalian, ada yang bilang 40 juta, ada yang bilang 60 juta anggota, NU tetap menjadi organisasi massa yang rendah hati. Setiap ngobrol dengan kalian, saya menemukan suasana Indonesia di hati. Ketawa, bercanda, sambil saling cela tanpa menyakiti.
Agama dimata kalian, sesuatu yang sakral, sehingga tidak boleh dihina dalam bentuk kekerasan terhadap umat agama lain. Itulah kenapa dibanyak tempat, saya selalu terharu ketika umat agama lain juga terlihat bergandeng tangan dengan NU. Mereka seperti saya, sangat menghormati NU.
Dan pada waktu Pilpres, kita mempunyai slogan yang sama, ini bukan tentang Prabowo dan Jokowi. Tetapi ini tentang NKRI. Jangan sampai kelompok radikal itu menguasai negeri ini dengan ada di pemerintahan. Garis kita tegas dan akan kita perjuangkan sampai mati.
Karena itu, saya yakin, kita tidak akan merendahkan diri dengan jabatan dunia apalagi sampai menjual diri dengan kata, "kita sudah membela negara kenapa tidak diberikan tempat di pemerintahan?".
Bagi saya, itu narasi yang melecehkan. Dan dibangun pihak lawan dengan propaganda yang massif untuk membenturkan. Urusan jabatan itu amanah, bukan peluang.
Urusan membela tanah air adalah urusan dengan Tuhan dalam memperoleh kemuliaan dan kelak akan kita bawa sebagai pertanggung-jawaban. Tidak ada yang utama selain itu. Tidak ada apapun yang sebanding didunia ini, jika diukur dengan itu..
NU, saya dan banyak teman lain di nusantara, akan terus berjuang supaya negara ini tegak, sebagai bentuk menjaga warisan dari para kakek nenek kita yang sudah bertaruh nyawa. Dan akan tetap seperti itu sampai nyawa kita kembali ke pencipta.
Saya kangen kumpul lagi dengan teman-teman Ansor dan Banser dengan candaan, seruput kopi dan kepal kepul sampe mantul, bicara tentang banyak hal.
Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah ketika kita duduk bersama. Kita sama. Karena kita Indonesia. Salam kangen, sahabat-sahabatku di NU yang tercinta.. Seruput kopinya..

Rabu, 23 Oktober 2019

SUSI PUDJIASTUTI HILANG

Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti
DennySiregar.id, Jakarta - Sebenarnya sejak awal saya sudah menduga bahwa bu Susi Pudjiastuti tidak akan lagi masuk kabinet, hanya perasaan suka saya padanya yang mencoba menjauhkan bayangan itu.
Kenapa saya suka? Mungkin lebih karena kepribadian bu Susi yang bebas dan merdeka. Dia adalah satu-satunya Menteri yang tidak perlu jaim dengan penampilan. Lah, ngapain harus jaim? Dia pengusaha sukses jauh sebelum jadi Menteri.
Dan bu Susi yang pertama kali mendobrak dengan menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan asing. Ia menjadikan penenggelaman itu sebagai show pribadinya.
Bu Susi memang punya tim PR yang ciamik. Berita itu heboh dan muncul slogan baru, "Tenggelamkan!".
Ia juga ahli memainkan twitternya. Dikelolanya sendiri akun pribadinya, sehingga rakyat semakin dekat padanya.
Tetapi apakah yang terjadi di perikanan sama cantiknya dengan apa yang dilihat masyarakat luas?
Suara keluhan datang dari Kamar Dagang Industri atau Kadin yang mengeluhkan lambatnya ijin operasi kapal sehingga nelayan tidak bisa maksimal beroperasi. Bagi nelayan itu kerugian besar, karena mereka lebih sibuk mengurus administrasi daripada mendapat keuntungan di lautan.
Selain itu, keluhan datang dari nelayan yang susah menjual ikannya. Disisi berbeda, pabrik pengolahan perikanan mengeluh kekurangan bahan baku.
Dalam artian sederhana, secara pembangunan infrastruktur di sektor perikanan, Susi dinilai gagal sehingga terjadi gap antara satu daerah dengan daerah lainnya. Daerah yang banyak ikan ga bisa jual ikan, daerah yang kurang ikan makin tidak sejahtera.
Ketimpangan itu membuat pendapatan kita dari sektor ikan tidak optimal. Padahal, di sektor inilah salah satu kekayaan Indonesia.
Selain itu, bukan rahasia lagi bahwa Susi tidak bisa bekerjasama dengan LBP sebagai Menko. LBP minta Susi setop penenggelaman kapal dan fokus pada peningkatan kesejahteraan nelayan, tapi Susi masih tetap asyik disana.
Dan inilah yang jadi kelemahan Susi, karena lebih suka memainkan PR bagi dirinya daripada bekerja lebih luas mensejahterakan sektornya.
Dan puncaknya adalah ketika Susi membatalkan reklamasi teluk Benoa. Kebijakan ini dilakukan Susi saat masa transisi, dimana Jokowi sudah mengeluarkan larangan untuk membuat kebijakan apapun. Susi dinilai membangkang dan ini tidak baik bagi koordinasi yang membutuhkan kerjasama tim.
Intinya, Susi sukses di fase pertama dalam menangani pencurian, tapi gagal di fase berikutnya dalam masalah kesejahteraan. Ditambah koordinasi yang kurang karena Susi terlalu independen, merah di rapor Susi terlalu banyak.
Jadi akhirnya saya harus bisa memisahkan kesukaan saya pada pribadi Susi dengan catatan hasil kinerjanya. Susi itu Menteri yang Instagrammable, tapi penilaian hasil kerja berbeda.
Meskipun begitu, saya tetap kehilangan pribadinya yang ceria yang menjadi hiburan ditengah kesibukan. Sudah tidak ada lagi foto Susi ditengah laut sendirian, ataupun ia dengan sebatang rokok ditangan, ataupun ketika ia sedang nongkrong dengan tato di kakinya yang kelihatan.
Saya kehilangan Susi secara pribadi...
Bu Susi, salam cinta dari saya yang mengagumi kepribadian anda. Seruput kopinya..

Salam Hormat Untuk Bapak Tito Karnavian

Tito Karnavian
DennySiregar.id, Jakarta - Sejak dilantiknya Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri, saya mendadak jadi fans beliau.
Tidak lama sesudah beliau menjabat, gelombang demo langsung mengujinya. Demo besar yang ingin menjatuhkan Ahok dengan tudingan "penista" agama pada bulan November, menjadi ujian pertamanya.
Meski sempat rusuh, tetapi demo itu berhasil diredam. Dan baru demo kedua dengan nama 212, yang diklaim umat Monas sebanyak 8 juta orang itu, langsung mandul gondal gandul. Saya sempat berdiri dan bertepuk tangan panjang untuk beliau.
"Luar biasa.." Itulah pujian terendah untuk dirinya.
Tito Karnavian mantan KaDensus 88 itu, mampu menjadi dirijen handal membuktikan kapabilitas dirinya sebagai penjaga negeri. Pengalaman memburu teroris selama belasan tahun, menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat ditakuti oleh kelompok radikal karena ia selalu selangkah di depan mereka.
Bahkan saking pusingnya, Rizieq Shihab sampe kabur gak pulang-pulang ke rumah. Dia kalah main "poker" dihadapan Tito. Meski teorisme tetap ada, di tangan Tito Karnavian dan jajarannya, Indonesia masih tetap terjaga sampai sekarang dan kita masih bisa menikmati secangkir kopi dengan tenang.
Tito Karnavian adalah "Guardian Angel" yang ada pada posisi yang tepat dan waktu yang tepat. Dan tampaknya Jokowi pun sayang padanya karena Tito adalah rekan yang bisa dipercayainya.
Hari ini terdengar kabar bahwa Kapolri diberhentikan oleh Jokowi. Saya sedih sekaligus senang mendengarnya. Prediksi saya, beliau akan menjadi salah satu Menteri mungkin di Polhukam, karena keahlian beliau masih dibutuhkan negeri ini.
Semoga Kapolri masih dijabat oleh mereka yang pernah bertugas di Densus 88, karena fokus kita masih pada terorisme dan radikalisme. Hanya Densus 88 yang punya penciuman yang tajam dalam mendeteksi mereka.
Untuk pak Tito Karnavian, terimakasih pak atas semua dedikasinya.
Dengan rasa hormat setinggi-tingginya, saya ingin memberikan secangkir kopi untuk bapak. Ini bukan secangkir kopi biasa, tetapi secangkir kopi penuh cinta.
Seruput, bapak... Kapolri terbaik yang pernah ada. Dari anak bangsa yang mencintai negeri ini dengan segenap hati.

Fachrul Razi, Calon Menteri Agama yang Ahli Militer

Fachrul Razi
Fachrul Razi
DennySiregar.id, Jakarta - Saya sempat kaget juga melihat berita bahwa Fachrul Razi, senator Aceh, dicalonkan jadi Menteri Agama.
Si senator ini yang dulu melaporkan saya ke polisi karena merasa saya menghina rakyat Aceh. "Wah, kalau orang ini jadi Menteri Agama, kacau.." Pikir saya. Ya gimana gak kacau, wong doi tidak bisa membedakan antara kritik pada parlemen Aceh dengan menghina rakyat Aceh. Bisa kacau Departemen Agama dipimpinnya..
Tapi kabar baru datang, katanya bukan Fachrul Razi yang botak itu. Rambutnya lebat, kata seorang teman. Saya pun teringat seorang Jenderal TNI Purnawirawan Fachrul Razi, Ketua tim Bravo 5, salah satu organ terkuat Jokowi saat Pilpres.
Jenderal Fachrul Razi adalah inisiator yang mengumpulkan para Purnawirawan Jenderal saat kampanye Jokowi. Strategi Fachrul Razi ini sangat efektif menepis isu kalau Purnawirawan TNI semua ada dibelakang Prabowo.
Fachrul Razi dulu adalah mantan Wakil Panglima TNI saat era Gus Dur. Karena jabatan Wakil dihapus, akhirnya Fachrul Razi pun tersingkir.
Nah, yang menarik, Fachrul Razi ini dikenal sebagai ahli strategi militer. Dia juga dikenal sebagai salah satu arsitek militer di kabinet Jokowi.
Pertanyaannya, ada apa seorang ahli strategi militer dicalonkan jadi Menteri Agama? Apa hubungannya militer dengan agama?
Saya sempat bingung beberapa saat sebelum menyadari bahwa agenda utama Jokowi dalam pemerintahan keduanya adalah RADIKALISME. Dan bicara radikalisme di Indonesia, tentu juga harus bicara agama karena agama itu menjadi bungkusnya.
Ada kemungkinan besar, Jokowi ingin membersihkan unsur-unsur radikalisme di tubuh departemen agama yang sudah kronis.
Departemen ini memang salah satu sarang tempat berkembang biaknya virus zombie itu dan untuk membersihkannya harus dengan penanganan dan strategi khusus, bukan lagi dengan pendekatan persuasif tetapi harus dengan cara "keras".
Keras yang dimaksud disini tentu bukan untuk memukul, tetapi bagaimana mengkanalisasi kelompok radikal itu, sehingga ruang mereka akan menjadi sangat sempit.
"Wah, menarik kalau gini.." Pikir saya. Saya pasti akan menantikan dan sangat mendukung gebrakan out of the box yang dicanangkan Jokowi. Penusukan Wiranto ternyata sangat membekas sehingga perlu ada strategi khusus untuk melawan mereka.
Semoga Jenderal Fachrul Razi menjadi Menteri Agama dan kita akan melihat perang strategi melawan radikalisme. Perang yang sama yang dilakukan Jokowi di tubuh Perguruan Tinggi yang sudah dilakukannya sebelumnya. Seruput kopi dulu, Pakde. Saya jadi semangat kalo gini..

Senin, 21 Oktober 2019

Gerindra Bisa Jadi Duri Dalam Daging

Prabowo-Sandi
Prabowo-Sandi
DennySiregar.id, Jakarta - Kabar yang sudah bisa dipastikan kebenarannya adalah Gerindra akan mendapat kursi dalam kabinet.
Ini bagian dari komitmen Jokowi untuk menyatukan semua perbedaan dalam satu lingkup kekuasaan. Tujuannya supaya sama-sama berfikir untuk kemajuan Indonesia ke depan.
Pertanyaannya, apakah Gerindra dengan perolehan suara terbesar ketiga akan menjadi partner yang baik atau justru menjadi duri dalam daging pemerintahan ?
Mungkin kasus gabungnya PAN dalam kabinet Jokowi di periode pertama lalu bisa menjadi acuan. PAN pada Pilpres 2014 adalah lawan politik Jokowi. Tetapi ketika Jokowi menang, PAN merapat supaya mendapat kursi di kabinet. Jokowi meluluskannya.
Mendekati Pilpres 2019, PAN berulah. Mereka ternyata tidak bisa menempatkan diri sebagai bagian dari koalisi. Mereka punya kesetiaan tersendiri sebagai oposisi. Dan pada akhirnya, mereka menjadi duri dalam daging sampai mereka keluar dan benar-benar bergabung bersama oposisi.
Situasi yang sama bisa saja terjadi pada Gerindra.
Mental oposisi akan sulit hilang dari diri Gerindra. Apalagi mereka punya perasaan bahwa diri mereka pernah menjadi oposisi terbesar dalam melawan koalisi pemerintahan. Perasaan ini akan sulit hilang, apalagi model orang2nya sama dengan mereka yang ada di Pilpres 2019. Nyinyir tanpa solusi.
Bisa bayangkan ketika orang-orang model Fadli Zon dan Andre Rosadie yang sulit berfikir positif dan terbuka, duduk bersama dengan mereka yang selalu berfikir ke depan. Tentu akan ada tumbukan pemikiran.
Kenapa ? Ini karena konsep pemikiran elit2 politik kita masih terkonsentrasi pada kekuasaan, bukan pada kerjasama. Jadi yang diributkan nanti hanyalah masalah "siapa yang berkuasa" bukan "apa yang bisa kita lakukan bersama"?
Jokowi mungkin punya harapan sempurna supaya semua elemen bisa bekerjasama untuk kemajuan bersama. Tapi realitas politik akan membuatnya tersadar, bahwa hal itu akan sulit dilakukan. Yang dia lakukan kemudian adalah kembali mereshuffle kabinetnya dan itu akan membuat perbedaan kembali meruncing lebih tajam.
Butuh waktu lama dan generasi baru untuk mewujudkan harapan seorang Jokowi. Sementara ini kita nikmati saja dulu kekurangan kedewasaan elit2 politik kita.
Ibaratnya, mengubah Gerindra menjadi koalisi yang sempurna dan bisa bekerja bersama, sama sulitnya seperti mengubah Rocky Gerung menjadi seorang sufi yang bicara tentang ilmu kerendahan hati.
Lebih mudah mengubah Johnny Sins dari seorang dokter menjadi astronot, meski kalau dia buka baju bentuknya sama aja.
Seruput kopi dulu ahhhh....

THE LAST SAMURAI

Jokowi
Presiden Jokowi 2019-2024

DennySiregar.id, Jakarta - Akhirnya Presiden Joko Widodo sah menjabat untuk kedua kalinya.
Bahkan untuk menuju proses itu saja, keributan demi keributan harus dilalui. Banyak kelompok yang tidak suka Jokowi menjabat lagi karena itu berarti ruang mereka untuk memperkosa negeri ini seperti yang dulu pernah mereka lakukan, semakin sempit.
Sejak Jokowi diumumkan oleh KPU sebagai pemenang, sama sekali tidak ada jiwa ksatria dari lawan-lawan politiknya bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat saja. Mereka terus menerus menekan dengan demonstrasi besar yang bahkan menghilangkan banyak nyawa yang dikorbankan.
Usaha kudeta dengan percobaan pembunuhan direncanakan. Yang terlibat adalah mantan militer berpangkat tinggi dengan kemampuan tempur yang hebat. Tetapi usaha itu berhasil digagalkan dengan pendekatan yang sempurna oleh Kapolri Tito Karnavian.
Dan tidak selesai sampai disitu. Gelombang kekerasan melalui demo terus dilakukan dengan niat untuk memperbesar api. Kelompok separatis dan kelompok radikalis menekan dari dua sisi. Papua dan Jakarta dibakar supaya apinya merambat kemana-mana.
Langkah Jokowi untuk menuju periode kedua jabatannya, jauh lebih sulit daripada saat dia ada menjabat pertama kali.
Kenapa? Karena saat menjabat pertama, banyak yang meremehkan Jokowi dan menganggap dia bisa diatur sebagai anak bawang. Tapi semakin kesini, ternyata Jokowi bukan lagi lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Ia jauh lebih kuat daripada yang dikira.
Mata lawan membuka dua-duanya dan mulut mereka menganga, "Sial. Presiden sekarang ini bukan tipikal melambai ! Kita bulak balik gagal !!"
Dan mereka tahu, periode kedua ini Jokowi tidak akan semakin melemah. Justru ini saat Jokowi bersikap "nothing to lose", tidak ada yang ditakutkan lagi karena ini periode terakhirnya.
Kalau sebelumnya Jokowi hanya bertempur dengan granat, senjata semi otomatis sampai bazoka saja, periode kedua ini pesawat tempur dan tank lapis baja dikeluarkannya.
Saya selalu percaya dengan Jokowi. Sejak dia menjabat pertama kali. Permainan politiknya benar-benar mengajarkan banyak hal tentang pertarungan sesungguhnya. Bagaimana lawan bisa mati dengan luka dalam, beberapa lama sesudah Jokowi menikamnya. Tanpa rasa sakit. Tapi mematikan..
Dan sekarang petarung itu dilantik kembali. Ia sudah menyiapkan pedang katananya. Baju tempurnya. Ia the Last Samurai. Pejuang terbesar yang terakhir yang pernah ada. Kita mungkin tidak akan pernah mendapat momen yang seperti ini lagi..
Salam secangkir kopi..

Sabtu, 12 Oktober 2019

KISAH RINI, PELAKU BOM BUNUH DIRI

Mantan Polwan
Kisah Rini Mantan Polwan
DennySiregar.id, Jakarta - Rini adalah seorang Polwan.. Ia masuk menjadi anggota polisi dengan semua pemahaman tentang Pancasila dan keinginan membela tanah air.
Sesudah bertugas beberapa tahun, ia tertarik belajar agama. Maka ia datang ke sebuah masjid dan bertanya-tanya. Lalu ikutlah dia ke sebuah pengajian. Dari pengajian itu Rini berubah. Di rumah, Rini memakai cadar sesudah mengganti seragam polisinya.
Sesudah bercerai dengan suaminya, Rini semakin aktif ke pengajian. Ia lalu dimasukkan ke grup-grup WA dan Telegram untuk mengikuti kajian. Jaringan Rini semakin luas. Posisinya sebagai abdi negara menarik perhatian beberapa orang untuk menariknya "lebih dalam".
Rini dihubungi lewat private message oleh seseorang bernama, sebut saja Kumbang. Si Kumbang ini mengaku sebagai duda yang mencari istri. Perkenalan berlanjut dan si Kumbang mengajak Rini lari dari rumah dan memulai hidup baru bersamanya.
Mereka kemudian dinikahkah secara siri oleh seorang "ustad". Sejak itu, Rini tidak pernah lagi datang ke kantor dan memenuhi tugasnya. Semua komunikasi diputus dan hape dibuang.
Bersama suami siri yang baru dikenalnya, Rini kemudian disiapkan menjadi "pengantin" bunuh diri. Rini dipersiapkan untuk sebuah misi dengan janji akan masuk ke surga jika berhasil mengorbankan banyak nyawa. Terutama nyawa para petugas Polisi.
Tetapi kepolisian berhasil mencium jejak Rini. Ia kemudian diburu oleh pasukan khusus dan ditangkap dalam kondisi sudah siap secara mental untuk berangkat.
Rini hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun mulai ingin belajar Islam sampai siap menjadi bom manusia.
Mengerikan?
Jelas. Betapa mudahnya seseorang dari yang awalnya punya tekad untuk membela negara menjadi musuh negara. Ini karena kosongnya pengetahuan agama secara hakikat dan sibuk belajar ritual sehingga otaknya mudah dicuci.
Dan yang lebih mengerikan, disekitar kita banyak Rini Rini lainnya yang kerja di TNI, di BUMN, sebagai ASN. Itu belum terhitung yang kerja di sektor swasta atau yang mengundurkan diri dari Bank tempatnya dulu bekerja karena cuci otak bahwa ia melakukan riba.
Radikalisme di negeri ini sudah berada pada zona merah karena longgarnya pengawasan dan gamangnya pimpinan bertindak karena takut berbenturan dengan "agama". Atau mungkin pimpinan tempat ia bekerjalah salah satu anggota jaringan.
Radikalisme di Indonesia sudah harus dimasukkan sebagai "kejahatan luar biasa". Harus ada perhatian khusus dan team khusus juga komitmen kuat untuk memberantasnya.
Dimulai dari screening ditubuh aparat dan pegawai pemerintah. Harus dibuat payung hukum supaya mudah menjalankannya. Dan disini pemerintah dan DPR punya tanggung jawab besar untuk memikirkannya.
Apa harus tunggu "bom Bali" kembali meledak karena kita masih ragu dan lunak? Apa menunggu seorang pejabat terluka baru kita sibuk mencerca?
Semua peristiwa pasti ada pembelajaran di dalamnya. Kecuali kita tidak mau belajar dan rela menjadi bodoh sampai muncul korban-korban jiwa.
Seruput kopinya..

Jumat, 11 Oktober 2019

BRAVO, JENDRAL ANDIKA PERKASA

Andika Perkasa
Andika Perkasa
DennySiregar.id, Jakarta - ”Jangan cemen, pak.. Kejadianmu tak sebanding dengan jutaan nyawa melayang.."
Begitu bunyi status dari seorang wanita, yang belakangan diketahui ia adalah istri dari Dandim di Kendari. Status itu masih ditambah dengan emoticon ketawa dan ditujukan kepada Wiranto, Menkopolhukam yang menjadi korban penusukan.
Sontak status ini mendapat sorak sorai dari kadal gurun yang memang mencoba merapat ke TNI, dalam usaha mereka membenturkan institusi ini dengan pemerintah dan Polri.
TNI memang dikabarkan sebagai salah satu institusi yang terpapar radikalisme, dengan jumlah tidak main-main sekitar 3 persen anggota. Diduga keras, paparan radikalisme ini bukan pada saat perekrutan, tetapi justru di kelompok-kelompok pengajian umum yang dihadiri para istri tentara.
Ketika Menhan mengakui ada paparan radikalisme di TNI, saya cemas. Sangat berbahaya. Apalagi pola kelompok Hizbut Tahrir diseluruh dunia sama, yaitu menyusup ke dalam tubuh tentara dan kemudian melakukan kudeta disana. TNI menjadi kendaraan penting bagi Hizbut Tahrir karena mereka memegang senjata.
Dan ketika berhadapan dengan TNI, jelas polisi kita gagap. Mereka cenderung tidak mau dibenturkan dengan institusi.
Lihat saja saat penangkapan mantan Danjen Kopassus yang diduga kuat terlibat dalam usaha pembunuhan dengan sniper, saat demonstrasi di MK bulan Mei lalu.
Banyak purnawirawan TNI dengan pangkat tinggi membela rekannya yang tertangkap, padahal sudah jelas dia punya andil besar dalam usaha pembunuhan itu.
Situasi ini yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal dengan selalu memuji TNI sebagai pelindung mereka, sedangkan polisi adalah musuh besar mereka. Tujuannya apalagi selain membenturkan kedua institusi itu, dan mereka menari diatas puingnya
Melihat Jendral Andika Perkasa, KSAD, tampil dengan gagah di depan kamera televisi mengumumkan memberi hukuman dengan mencopot Dandim Kendari, karena perilaku istrinya yang mendukung terorisme dan tidak menghormati seniornya, duh, saya lega bukan kepalang.
Menantu Jenderal purnawirawan AM Hendropriyono ini bisa dengan tegas melihat masalah dalam institusinya. Dia tidak membiarkan bibit radikalisme tumbuh di jajarannya.
Langkahnya mengumumkan pencopotan Dandim Kendari karena postingan istrinya itu, adalah sebuah pesan kepada seluruh jajaran dibawahnya, bahwa dia tidak kompromi dengan radikalisme.
Dan pemikiran ini sesuai dengan pemikiran besar mertuanya, AM Hendropriyono yang memang sejak awal sudah mewaspadai gerakan radikal di negeri ini dan berjuang memerangi mereka.
Sungguh radikalisme di negeri ini sudah masuk zona merah. Perlu dicanangkan bahwa radikalisme adalah "kejahatan luar biasa". Mereka seperti racun yang kelak akan menghancurkan kita.
Dan siapapun yang mendukung radikalisme, seperti istri sang Dandim, wajib dihukum sepantasnya. Apalagi mereka yang makan dari negara, dari uang pajak rakyat, tetapi mendukung para musuh negara.
Bravo, pak Andika. Genderang perang terhadap radikalisme tabuhkanlah sekencang-kencangnya. Mulailah dari dalam institusi sendiri. Bersihkan jangan dipelihara.
Semoga kelak Jenderal bisa menjadi Panglima TNI dan memimpin kami dalam perang melawan kejahatan luar biasa ini..
Seruput kopinya..

Artikel Terpopuler