Minggu, 30 Desember 2018

KRITIK AKHIR TAHUN UNTUK TIMSES JOKOWI

Jokowi
Demo
Saya pernah menulis "Jokowi bukan lagi kita". Ini adalah kecemasan terbesar saya ketika melihat "api" Jokowi sekarang berbeda dengan api Jokowi saat ia bertarung di 2014 lalu.

2014, terjadi fenomena dukungan yang begitu besar kepada seorang Jokowi mulai dari pelosok desa sampai ke luar negeri. Ada nuansa "revolusi" disana, dimana kita ingin ada pembenahan di negeri ini setelah sepuluh tahun korupsi terjadi di lingkungan pemerintah sendiri.

Tetapi jujur saya bilang bahwa api itu meredup perlahan-lahan. Masih menyala sedikit, tapi rentan padam. Meliuk-liuk ketika bertiup sedikit angin dan goyah ketika tatakannya bergoyang. Adapun teriakan-teriakan mendukung banyak terjadi karena kecemasan, bukan karena kepercayaan diri yang begitu kencang.

Apakah ini salah Jokowi? Maaf, saya bisa bilang "bukan". Jokowi sudah berusaha keras dengan membubarkan Petral, membangun infrastruktur dimana-mana, membubarkan HTI, merebut Freeport dan banyak prestasi lainnya.

Yang salah besar bagi saya adalah timsesnya, yang gagap dan condong reaksional terhadap isu, defensif dan terlena karena merasa sudah menang. Dan ini kelemahan terbesar..

Kapitalisasi isu terhadap keberhasilan Jokowi hanya dilakukan melalui trending tagar di twitter.

Dan. Apa gunanya tagar? Apa tagar punya pengaruh terhadap keputusan seseorang? Perang tagar mungkin cocok di 2014 dimana twitter masih menjadi rujukan banyak media. Tapi -come on- ini sudah mau 2019, sudah banyak perubahan. Mau trending kek, mau nggak kek, sapa yang mau peduli??

Yang saya takutkan, perang tagar ini hanya bagian dari laporan supaya "Bapak Senang". Karena dari twitter inilah, angka-angka di media sosial bisa dibuat dalam bentuk laporan angka. Padahal antara statistik dan situasi di lapangan bisa terjadi perbedaan besar.

Coba lihat kubu lawan. Mereka memang menggaungkan tagar #2019gantiPresiden. Tapi mereka tidak berhenti di tagar atau sibuk dengan laporan kemenangan tagar kepada bossnya.

Mereka menjadikan tagar itu sebagai sebuah gerakan sosial. Mereka gerak kemana-mana dan membangun brand melalui kejadian-kejadian kontroversial. Memang disana muncul ketidaksukaan terhadap sosok Neno Warisman sebagai pengusung tagar karena terlalu over, tapi perlu diperhitungkan tumbuh juga cinta kepadanya dan gerakannya karena ia membawa api revolusi baru.

Dan kita hanya sibuk mengejeknya yang malah menambah jumlah pecintanya. Lalu perang tagar kembali, sedangkan lawan sudah gerak dimana-mana.

Saya heran, kenapa tidak ada gerakan sosial mendukung keberhasilan Jokowi yang diorganisir dari timsesnya?

Sebagai contoh Freeport.

Seharusnya pengambil-alihan Freeport ini adalah keberhasilan yang patut dirayakan oleh segenap bangsa Indonesia. Digerakkan seperti gerakan "lilin untuk Ahok" sebagai sebuah perlawanan dan kebanggaan atas kedaulatan Indonesia sekarang. Ini prestasi besar dengan narasi besar.

Tapi apa yang terjadi?

Prestasi itu adem-adem saja. Malah sibuk mengcounter narasi-narasi lawan yang sibuk mendowngrade keberhasilan Jokowi. Sibuk perang data, padahal ini permainan rasa. Tidak ada gerakan apapun yang mendukung keberhasilan Jokowi ini. Jangankan gerakan besar seperti di Monas, gerakan kecil aja angin-anginan.

Kemudian.. seperti biasa, maenan tagar lagi. Seperti malas karena "yah Jokowi sudah pasti menang lagi.."

Padahal memang itu tujuan lawan, membangun narasi yang melemahkan supaya tidak ada gerakan besar dari pendukung Jokowi yang menguatkan.

Saya sempat tersentak mendengar perkataann Adian Napitupulu ketika kami nongkrong bersama. "Pendukung Jokowi itu hanya ada di sekitaran Menteng saja, tidak kemana-mana dan tidak berada dimana-mana. Jokowinya yang kerja, mereka santai-santai saja..."

Jokowi padahal sudah menyindir, "Ingin di demo tapi mendukung gitu lho. Mendukung agar Freeport diambil oleh pemerintah. Mahakam sudah diambil 100 persen, tapi pada diam. Padahal, saya tunggu-tunggu tapi pada diam,".

Kan tidak mungkin dia yang nyuruh karena kapasitasnya sebagai Presiden, tapi mbok ya ngerti o gitu lohhh..

Tapi sama sekali tidak ada sense dari timses, karena banyak dari mereka hanya sibuk gerakan counter mengcounter saja melalui media. Ditambah deklarasi-deklarasi semu di ruang-ruang berAC dan teriakan-teriakan yang itu-itu saja dari pendukung garis keras yang orangnya itu-itu juga.

Masih ada waktu untuk merombak total pemikiran yang jadul dengan gerakan yang lebih modern dan bisa jadi dikenang dalam sejarah sebagai fenomena baru kemenangan Jokowi yang mungkin akan dijadikan standar bagaimana memenangkan pemilu, seperti yang dilakukan Amerika dengan kemenangan Donald Trump.

Kopi ini memang pahit karena tanpa gula sama sekali. Tetapi mudah-mudahan menyadarkan..

Seruput.

Artikel Terpopuler