Senin, 18 Maret 2019

LANGKAH MATI SANDIAGA UNO

Debat Capres
KH Ma'ruf Amin
Jujur, saya awalnya sangat ragu dengan penampilan KH Maaruf Amin dalam debat tadi malam.

Saya tidak mampu membayangkan bagaimana seorang Kyai berusia 76 tahun, harus melawan Sandiaga Uno yang baru berusia 49 tahun. Dari segi penampilan saja sudah jelas jatuh harga. Kyai Maaruf Amin saya bayangkan sebagai orang tua yang selalu ada di botol anggur merah, sedangkan Sandiaga akan tampil dengan gaya sangat muda.

Dalam pikiran saya KH Maaruf Amin akan menjawab dengan terbata-bata semua serangan ganas Sandiaga. Dan dari semua serangan itu, gol-gol tercipta yang membuat pendukungnya bersorak sorai bangga sesudah Capres mereka Prabowo Subianto dipecundangi Jokowi dalam semalam saja.

Ah, saya bahkan tidak tega untuk menontonnya..

Tapi ketika mereka berdua muncul, saya heran dengan Sandiaga yang muncul dengan jas formal. Saya pikir, "Kenapa dia tidak tampil milenial saja ya ? Pake jaket keren ditambah sneakers, tentu akan membuat emak muda dan milenial tergila-gila.."

Dari segi penampilan, ternyata Sandi sendiri tidak mampu membangun serangan frontal. Gayanya teredam oleh gaya anggun KH Maaruf Amin yang tampil bersahaja dengan surban dan sarungnya. Sang Kyai malah tergambarkan sebagai master shifu guru Po di Kungfu Panda daripada orang tua di anggur merah.

Dari penampilan pertama, Sandi sudah kalah. "Salah konstum.." Kata seorang teman disamping waktu kami nobar bersama.

Dan sesi selanjutnya, saya ketawa.

Debat Cawapres tadi malam, jujur tidak menarik bagi saya. Karena terlalu datar, teknis, tidak ada serangan tajam yang mengagetkan. Tapi itu justru kemenangan Kyai Maaruf Amin.

Sandiaga seperti teredam habis oleh sang Kyai. Permainan dia tidak berkembang dan dia seperti punya banyak beban. Hilang sudah kesempatan Sandiaga menampilkan permainan ganas menyerang. Ia seperti motor balap yang tidak kunjung panas. Loyo dan tidak bernas. Ia bahkan tampak lebih tua dari lawan debatnya.

Sandiaga terpancing permainan Kyai, yang bermain lamban dengan rally panjang. Sandiaga dipanggung malah tampak bosan dan tidak menggairahkan. Ia justru tidak menjadi bahan berita yang bisa mengangkat kembali nama Capresnya yang kemaren dibantai habis-habisan.

Debat tidak menarik dan tidak banyak yang bisa diangkat seperti saat Jokowi versus Prabowo yang banyak meme-memean. Sandiaga kehilangan dirinya dan tidak mampu memanfaatkan kesempatan. Sedangkan Kyai Maaruf Amin mampu memainkan perannya sebagai orang tua yang menasehati anaknya.

Saya hanya tertarik pada satu kata Sandiaga saja, yaitu tentang bu Lies.

"Dahsyat, Sandi ini.." pikir saya. "Dalam debat saja, dia masih sempat memikirkan Lieus Sungkharisma, si tokoh Tionghoa. Apakah ada cinta di antara mereka ?"

Biar secangkir kopi yang bisa menjawabnya.

Artikel Terpopuler