Senin, 01 April 2019

GATOT NURMANTYO DAN ILUSI PKI VERSUS ISLAM

Foto Gatot Nurmantyo dan Hendropriyono
Sejak masih menjadi Panglima TNI, saya jujur heran dengan gerak gerik Gatot Nurmantyo.
Gatot pada masa-masa mendekati akhir jabatannya, begitu gencar membangun narasi kebangkitan PKI, seolah-olah partai komunis yang sudah dibubarkan sejak 1966 itu masih ada dan ingin bangkit kembali.
Bahkan pada bulan November 2017, saat masih menjabat, ia gencar mempromosikan nobar film PKI yang dibuat pada tahun 1984. "Kalau itu perintah saya, mau apa memangnya??" Begitu kata Gatot saat diwawancarai oleh media dengan nada yang condong arogan.
Yang menarik, pada bulan November 2018, meski sudah tidak menjabat sebagai Panglima TNI, ia menantang KSAD yang waktu itu dijabat Jenderal Mulyono, untuk melepas pangkatnya jika tidak berani menggelar nobar PKI.
Ada apa sebenarnya dengan beliau?
Nah, kejadian ini tambah menarik perhatian saya ketika Gatot Nurmantyo mengomentari pernyataan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono bahwa Pemilu kali ini bukan tentang Jokowi dan Prabowo, tetapi pertarungan ideologi Pancasila melawan Khilafah.
Gatot komentar di laman Instagramnya membalas pernyataan Hendropriyono, "Jangan mau dipecah belah sama orang-orang yang haus kekuasaan !!"
Ia juga menambahkan dengan mengupload potongan surat kabar lama yang berisi pernyataan almarhum Jenderal AH Nasution, bahwa "PKI secara menipu mempertentangkan Pancasila dan Islam".
Bagi Gatot, yang pernah diberi gelar "Jenderal Islam" oleh para pendukungnya, PKI adalah biang segala masalah, termasuk permasalahan saat ini saat munculnya teori ada gerakan Khilafah di belakang kubu Prabowo yang menguat pasca dibubarkannya HTI oleh Jokowi pada tahun 2017.
Gatot seolah-olah "buta" bahwa tanpa ada PKI, di Timur Tengah gerakan pendirian negara Islam sudah memecah Suriah menjadi berkeping-keping dengan pertarungan ISIS dan Alqaeda, yang sama-sama beragama Islam dan mengusung agenda khilafah versi mereka masing-masing.
Kedua organisasi teroris itu selain berhadap-hadapan dan saling memenggal, mereka juga sama-sama bertempur melawan pemerintahan Suriah yang sah.
Lalu, apa yang salah dari pernyataan AM Hendropriyono, bahwa Pemilu kali ini adalah pertarungan Pancasila melawan Khilafah?
Hendropriyono sebagai mantan Kepala BIN tentu punya bukti kuat adanya gerakan untuk mengganti sistem Republik ini menjadi negara Islam, oleh gerakan transnasional yang diusung oleh salah satunya bernama Hizbut Thahrir.
Yang salah mungkin adalah ilusi Gatot Nurmantyo yang menganggap bahwa Islam di Indonesia itu satu, dan pecahnya mereka adalah karena gerakan PKI yang mengadu domba. Padahal, tanpa ada yang mengadu domba, apalagi oleh PKI yang jejaknya saja sudah tidak ada, Islam di Indonesia sudah terpecah.
"Mana buktinya Islam di Indonesia terpecah ??" Kata seseorang dengan ngototnya.
Lah, selama ini Banser NU sedang menghadang siapa ??
Gesekan-gesekan antara Banser NU dengan simpatisan HTI terjadi dimana-mana. Di Surabaya, di Sidoarjo bahkan terjadi pembakaran bendera simbol HTI di Garut oleh Banser bulan Oktober 2018, adalah bukti bahwa sudah ada dua kekuatan yang mengusung agama "Islam" yang terjadi di arus bawah.
Bahkan Rizieq Shihab waktu di Madinah pun di videonya yang beredar mengatakan, bahwa ada dua gerakan besar Islam yang saling menguasai yaitu Islam fundamental dan Islam tradisional. Islam tradisional tentu diwakili oleh Nahdlatul Ulama, dan fundamental adalah para pengusung negara Islam, atau yang sekarang ini mereka perhalus dengan nama NKRI bersyariah.
Terus, dimana PKI nya? Gak ada. Sama sekali tidak ada. Kalaupun ada potongan koran lama tentang pernyataan almarhum Jenderal AH Nasution bahwa PKI menipu dengan mempertentangkan Pancasila dan Islam, tentu itu beda konteksnya dengan sekarang.
Dulu memang begitu ketika PKI sedang kuat-kuatnya dan berhadapan dengan partai Islam Masyumi. Tapi sekarang, PKI nya saja sudah punah. PKI punah bukan saja di Indonesia, tapi juga di Rusia, yang dulu dikenal dengan Uni Sovyet.
Jadi, pak Gatot Nurmantyo sudah salah menempatkan kondisi dulu dengan situasi sekarang. Sekarang medan perangnya sudah berbeda, yang ada sekarang - mengacu pada apa yang terjadi pada beberapa negara di Timur Tengah seperti Suriah - adalah ideologi untuk mendirikan negara Islam melawan sistem negara yang sudah ada.
Pak Gatot "sang Jenderal Islam" hadapilah kenyataan di masa sekarang, bahwa yang terjadi di Indonesia mirip dengan awal-awal terjadi di Suriah.
Menguatnya ormas-ormas Islam fundamental yang hadir dengan model kekerasan seperti persekusi dan intimidasi, juga gerakan jangka panjang untuk mendirikan negara Islam, sudah tampak jelas di depan mata.
Jangan ditutup sebelah matanya, dengan ilusi PKI mengadu domba. Hadapilah kenyataan bahwa Islam sedang ditunggangi oleh kekuatan politik mengatas-namakan agama demi kekuasaan.
Bapak mantan Panglima TNI, tentu jauh lebih mengerti karena mendapat asupan informasi yang lebih detail dan akurat. Masak masih sibuk dengan pocong PKI yang melompat-lompat pun sudah tidak bisa?
Jika ingin mengatasnamakan "Islam" kenapa bapak tidak berdiri bersama Banser NU yang secara sadar bersama 4 juta anggotanya, bangkit untuk menghadapi ancaman pendukung khilafah yang memanfaatkan momen Pilpres ini untuk kembali eksis disini?
NU kan Islam juga? Dan kalau masalah dengan PKI, NU jugalah yang berhadapan langsung dengan mereka saat tahun 1965.
Semoga pak Gatot Nurmantyo segera melek dengan perkembangan yang ada dan tidak sibuk dengan ilusi masa lampau yang sejatinya sudah punah. Sekarang jamannya iCore pak, bukan lagi mesin ketik yang harus di tipeX karena ada salah kata.
Semoga secangkir kopi, bisa kembali menyegarkan suasana..Seruput.

Artikel Terpopuler