Kamis, 18 April 2019

MARI KITA HORMATI PRABOWO SUBIANTO


Prabowo Sujud Syukur
Prabowo Sujud Syukur
"Bang, Prabowo sujud syukur lagi !!"
Seorang teman mengirimkan pesan dengan emoticon tertawa terbahak-bahak. Dia gembira dengan kemenangan Jokowi menurut quick count, ada perasaan senang campur bersyukur bahwa akhirnya "kewarasan" bisa menang kali ini.
Saya tidak mau tertawa. Senyumpun tidak. Saya sejujurnya malah menghormati Prabowo, daripada mentertawainya.
Saya mencoba berada pada situasinya. Empati, bahasa kerennya.
Saya terbayang, Prabowo sudah berkali-kali nyapres dan disaat terakhir ia gagal lagi. Ini bukan situasi yang mudah bagi Prabowo, dan juga buat pasukannya.
Sebagai seorang komandan, Prabowo harus menjaga semangat "prajurit"nya. Ia harus menjaga moral mereka supaya tidak jatuh dengan kenyataan bahwa semua lembaga survey menyatakan bahwa ia kalah dari Jokowi.
Ia tahu, bahwa semua kadernya sudah berjuang dengan sangat keras supaya ia menang.
Dan untuk menjaga moral itu, Prabowo harus menjatuhkan harga dirinya ke titik paling rendah dengan melakukan sujud syukur, yang ia tahu bahwa ia akan dihina-hina sepanjang hari.
Prabowo sadar akan hal itu. Sangat sadar bahkan.
Baginya dihina oleh pendukung lawan politiknya adalah hal biasa, karena selama kampanye ia sudah sering dihina. Tetapi di kalangan pendukungnya, ia akan tetap dipuja sebagai pahlawan karena menjaga moral mereka.
Prabowo akan tetap dikenang di kalangan pendukungnya, sebagai orang yang tidak menerima kekalahan begitu saja.
"Sampai peluit terakhir.." begitu kata seorang kapten di sebuah klub sepakbola papan atas, ketika anak buahnya sudah sangat lesu memandang papan skor dengan hasil yang sulit dikejar dalam waktu sekian menit lagi.
Begitulah Prabowo, ia akan berjuang sampai peluit terakhir, sampai ada hasil resmi dari KPU.
Saya yakin, di belakang, tanpa ada yang tahu, Prabowo akan menelpon Jokowi diam-diam mengucapkan selamat atas kemenangannya. Dan Jokowi akan menjaga kewibawaan Prabowo dengan merangkulnya.
Merangkul adalah sebuah cara supaya tidak terjadi penghinaan berlebihan yang membuat lawan politiknya gelap mata.
Begitulah seharusnya politik dan kepemimpinan. Tugas berat seorang kapten di kapal yang sedang tenggelam adalah ia harus sebagai orang terakhir yang terjun ke lautan. Bahkan jika perlu, ia akan tenggelam bersama kapal kebanggaannya.
Dan untuk itu, saya harus angkat secangkir kopi untuknya. Prabowo, biar bagaimanapun, sudah mengisi hari-hari kita dan menjadi lawan tanding yang patut diperhitungkan.
Kapan-kapan saya ingin ngopi dengan beliau, sambil cerita tentang apa yang pernah terjadi dalam pertandingan terketat sepanjang masa..
Seruput.

Artikel Terpopuler