Jumat, 19 April 2019

PARA PENGAWAL DEMOKRASI

Demokrasi
Monas
"Situasi aman terkendali, bang.."
Begitu laporan dari seseorang yang kukenal ketika kutanyakan bagaimana situasi saat ini. Saya dua hari ini memang terus memantau dengan cermat apa yang akan terjadi pasca pencoblosan.
Teori saya pada waktu itu, ada skenario yang memang dijalankan untuk menciptakan chaos seusai pencoblosan. Skenario ini memanfaatkan situasi panik usai kekalahan dengan membangun propaganda berulang-ulang bahwa mereka menang.
Dan malam ini, baliho-baliho kemenangan dipasang di beberapa titik di Jakarta, sebagai penguat bangunan propaganda itu. Tiitk-titik kumpul sudah dibangun, pesan-pesan hoax disebarkan, tujuannya untuk memancing kubu lawan bergerak dan terjadilah benturan di lapangan. Jika tidak terjadi benturan, ciptakan seolah-olah ada benturan.
Tetapi kali ini pihak aparat sudah sangat siap. Polisi bekerjasama dengan TNI terus memantau lapangan. Densus sampai Satgas anti teror juga terjun dan masuk ke kantung-kantung yang diduga akan terjadi bentrokan. Perintahnya jelas dan tegas, "Tembak ditempat siapapun yang membuat kerusuhan pasca penghitungan.."
Nama-nama provokator sudah ditangan. Beberapa sudah dicokok ditempat dan diamankan. Aparat sudah menguasai keadaan. Mereka yang tadinya siap membuat kerusuhan, tiarap dan menghilang.
Tugas saya sederhana, menghancurkan bangunan propaganda ancaman mereka dengan lelucon. Propaganda mereka bahwa situasi saat ini genting, harus dilawan dengan humor. Humor adalah cara yang efektif ketika aksi teror beraksi.
Jadi, untuk yang selalu kasih nasihat, "Jangan diketawain dong mereka, menang jangan jumawa.." kalian sesungguhnya tidak paham, bahwa tertawa itu obat dari perasaan ketakutan yang dibangun pihak lawan.
Tertawakanlah hoax dan ancaman mereka, supaya situasi menjadi netral. Urusan lapangan serahkan pada aparat yang sudah profesional.
"Tahu orang gila kan, bang?" Kata temanku itu.
"Orang gila itu biasanya suka bicara sendiri, membangun theatre of mind dalam pikirannya sendiri. Mereka tidak berbahaya, asal jangan ada yang merusuhi mereka. Jadi biarkan kelompok itu berkoar-koar sendiri, jangan dilayani. Kami yang kawal mereka, pihak berseberangan jangan ada yang ikut turun ke jalan. Nanti juga mereka capek, dan tidur sendiri.."
Aku tertawa mendengar analogi temanku itu. Memang benar, biarkan mereka onani dengan pikiran mereka sendiri, kita cukup duduk dan tertawa melihat tingkah laku mereka yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Kalau meladeni, kita ikut gila juga..
Secangkir kopi terhidang malam ini. Malam yang panjang dan kutemani temanku yang masih sibuk bekerja mengamankan situasi ini.
Selamat bertugas. Seruput...

Artikel Terpopuler