Jumat, 17 Mei 2019

INDONESIA DISERBU TERORIS


Polri
Div Humas Polri
Mendadak sel-sel tidur teroris aktif bergerak kembali. Mereka bergerak ke arah yang sama yaitu tanggal 22 Mei, yaitu saat pengumuman hasil Pemilu. Diperkirakan, ada kelompok massa yang akan berkumpul di depan gedung KPU dan Bawaslu menuntut pemilu ulang, dan para teroris itu akan bergabung dengan peserta demo dan meledakkan diri di dalam gerombolan.
Rencana itu diungkap oleh salah seorang teroris yang ditangkap Densus 88. Dia mengaku sudah menyiapkan bom dengan remote jarak jauh yang dia kendalikan. Dan bom bunuh diri ini adalah bagian dari gerakan menolak Pemilu karena dianggap syirik besar.
Di bulan Mei saja, Densus sudah menangkap 29 teroris. Mereka berasal dari berbagai daerah yang akan datang ke Jakarta dan membuat kerusuhan disana. Pada saat penangkapan, polisi menyita mulai bom rakitan sampai pisau lempar dan anak panah. Total teroris yang ditangkap oleh Densus sejak bulan Februari sudah 68 orang.
Ini peringatan besar untuk mereka yang punya rencana demo di KPU dan Bawaslu.
Perlu diingat, aksi terorisme bukan hanya dengan bom bunuh diri saja. Aksi terorisme bisa dilakukan dengan penusukan, gorok leher di lokasi, sampai penembakan dengan senjata rakitan. Dan buat mereka, model aksi dalam bentuk apapun adalah sah karena yang penting pesan mereka diliput dunia internasional.
Kedutaan AS juga sudah mengeluarkan peringatan supaya warganya menjauhi gedung KPU dan Bawaslu. Dan peringatan ini menandakan bahwa aksi terorisme tanggal 22 Mei nanti bukan main-main lagi, siapapun yang ada di lokasi bisa jadi korban.
Teroris tidak mengenal siapa pendukung 01 ataupun 02. Buat mereka yang penting ada korban jatuh. Kalau ada korban dari polisi itu lebih bagus, sebagai bonus. Karena polisi dan alat negara lainnya mereka anggap sebagai bagian dari musuh yang harus diperangi.
Jadi, saran saya, lebih baik tanggal 22 Mei, jangan mendekati kawasan di KPU dan Bawaslu. Jauhi keramaian karena bisa saja anda yang niatnya hanya menonton saja, malah menjadi korban digorok lehernya. Lebih baik beraktivitas seperti biasa atau diam di rumah saja.
Dengan tidak bercampurnya teroris dan masyarakat sipil, Polri dan TNI akan lebih mudah menindak para teroris dengan korban seminim mungkin.
Tapi memang masyarakat Indonesia ini unik. Berita akan adanya teroris di sekitar gedung KPU dan Bawaslu, bukannya membuat mereka lari menghindar tapi justru datang mendekat. Tukang sate, pedagang ketoprak, tukang bakso malah akan datang merubung.
Buat mereka, teroris bisa jadi adalah sumber pendapatan karena akan mendatangkan kerumunan. Malah kalau boleh, mereka akan membuka tenda hiburan keliling. Kalau perlu, disana akan digelar atraksi tong setan.
Bagi sebagian rakyat Indonesia, teroris bukan hal yang mengerikan. Karena "kondisi mengerikan" sudah menjadi teman akrab kita. Mulai dari didatangi debt collector sampai naik bus sumber kencana yang ugal-ugalan sudah menjadi makanan.
Dan teroris ternyata tidak ada apa-apanya, dibandingkan suara istri dari dapur yang berseru keras, "Pa, password handphone berapa? Kok sekarang pake rahasia-rahasiaan ???".
Hiii.. Serammmmmm...

Artikel Terpopuler