Rabu, 22 Mei 2019

NARASI PERANG SURIAH SEDANG DIMAINKAN

Demo depan Bawaslu
Demo depan Bawaslu
Ada dua kelompok aksi massa kemarin. Pertama, massa yang ditugaskan memainkan drama menangis dan relijius di siang sampe sore hari. Dan malamnya massa beringas untuk menghantam polisi.
Massa shift pertama bertugas untuk menarik simpati masyarakat awam, sedangkan massa malam tugasnya menarik kelompok militan.
Dari pantauan polisi juga ditemukan sebuah ambulans yang penuh diisi dengan batu. Dalam artian persiapan "perang" sudah direncanakan.
Dan ketika terjadi kerusuhan, tidak lama kemudian propaganda diluncurkan. "Ada yang mati.." itu provokasi standar ditambah menyebar foto-foto orang mati yang entah dicomot darimana dengan caption korban tadi malam.
"Polisi pake peluru tajam.." adalah narasi kedua untuk membangkitkan kemarahan.
"Pemerintah melawan umat Islam.." adalah narasi berlindung dibalik agama spy mendpt simpati masyarakat.
Yang terakhir, "Ada provokator, pihak ketiga yang memulai keributan.." ini narasi berlindung dari tuduhan bahwa mereka sebenarnya dalang.
Ada dua kelemahan dari aparat yang saya perhatikan tadi malam.
Yang pertama membiarkan stasiun televisi menayangkan siaran live secara terus menerus. Ini akan menaikkan tensi dan semangat dari para perusuh, sekaligus menarik militansi massa dr daerah utk datang ke jakarta. Televisi dijadikan panggung utama para perusuh untuk membangun efek berganda dr kerusuhan yg mrk ciptakan.
Kedua, diperbolehkannya organisasi berbaju kemanusiaan disekitar lokasi dgn membawa ambulans, dapur umum dan segala rupa bantuan. Seharusnya area dilokalisir dan hanya alat pemerintah yg berada disana. Jika banyak orang tdk jelas dengan bahasa "membantu", biasanya mereka adalah bagian dr perusuh yang disiapkan.
Situasi ini mirip dengan apa yang pernah terjadi tahun 2010 dalam gelombang yang diciptakan bernama Arab Spring. Arab Spring sukses menjatuhkan banyak pemimpin negara dengan memainkan tekanan massa. Dan kali ini dicoba dilakukan di Indonesia.
Coba nanti kita lihat. Ketika titik rusuh semakin membesar, tiba-tiba ada seruan dari perkumpulan ulama di luar negeri untuk segera melakukan jihad. Ini jaringan mereka yang sudah dipersiapkan sebagai rencana untuk melegitimasi aksi dan menaikkan tensi kerusuhan di negeri ini.
Saya yakin, Banser NU juga sudah tidak sabar untuk turun ke jalan. Dapat kabar ada seribu angoota Banser sedang bersiap dan puluhan ribu lainnya sedang menunggu perintah untuk menghantam perusuh dari ormas radikal yang semakin mengganas.
Semoga mereka bisa menahan diri untuk tidak turun ke arena, karena akan meluaskan skala. Percayakan dulu pada aparat untuk menghalau mereka. Meski - jujur - saya juga gemas dan tangan saya gatal untuk ikut menampar wajah dan menarik jenggot mereka yang tumbuhnya seperti semak liar, jarang dan tidak enak dipandang.
Semoga situasi malam ini berlangsung dengan aman dan para provokatornya segera diamankan. Hukum seberat-beratnya aktor-aktor utama yang ingin membakar Indonesia.

Artikel Terpopuler