Rabu, 12 Juni 2019

PAK GATOT, JANGAN LEBAY AH

Gatot Nurmantyo
Gatot Nurmantyo
"Buat purnawirawan TNI, dikatakan makar itu menyakitkan. Sama saja dikatakan pengkhianat.."
Begitu kata Gatot Nurmantyo, waktu diwawancara TVOne. Mantan Panglima TNI ini menanggapi penangkapan Mayjen TNI (pur) Soenarko, mantan Danjen Kopassus dan Mayjen TNI (pur) Kivlan Zen karena ditersangkakan makar.
Saya tidak punya kata-kata apalagi buat pernyataan pak Gatot ini, selain "Kok lebay sih, pak.."
Pak Gatot sebagai seorang mantan Panglima TNI tentu adalah orang yang cerdas. Dan orang cerdas sangat bisa membedakan mana TNI sebagai institusi dan mana oknum yang ada di dalam TNI. Institusi dan orang itu berbeda.
Sebagai institusi, TNI tentu tidak bisa disebut makar, karena TNI adalah pemerintahan itu sendiri. Masak makar terhadap dirinya sendiri ? Ya, gak mugkin toh, pak. Ada-ada saja..
Tetapi berbeda dengan oknum, atau orang-orang yang memanfaatkan nama besar TNI untuk kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya. Jika mereka berbuat kriminal, tentu itu adalah perbuatan dirinya sendiri dan tidak berhubungan dengan institusi. Meski ia ada dalam institusi atau pernah berada di dalam institusi itu sendiri.
Harusnya, pemisahan ini anakku yang SMP aja bisa menjawab..
Dan ketika ada seorang purnawirawan, yang dengan sadar membela seorang Capres dalam pemilihan pemimpin sipil, jelas dia sudah menjadi sipil bukan lagi tentara. Sehingga tidak layak ia disebut lagi bagian dari TNI, tetapi "pernah" menjadi bagian dari TNI.
Masak misalnya, seorang pemimpin daerah yang pernah berada di TNI dan dia korupsi, terus menjadi sebuah anggapan bahwa TNI itu koruptor semua ? Tidak, kan ? Itu logika sederhananya..
Jadi pak Gatot, jangan naif lah bahwa manusia tetap manusia, dia punya ambisi berdasarkan kehendaknya. Mau dia dari TNI,mau rakyat biasa, bahkan sekelas Presidenpun kalau dia salah, ya tetap salah.
Apa bedanya seorang purnawirawan dengan masyarakat biasa seperti saya ? Seharusnya tidak ada, kan ? Ya, jangan dibedakan dong, hanya karena alasan "purnawirawan itu pernah berjasa membela negara.."
Memang di dalam TNI ada yang namanya jiwa korsa, yang kalau diartikan secara lebar berarti saling menghormati dan gotong royong dalam senang maupun susah. Tapi itu jika masih berada dalam satu kesatuan, dalam institusi. Jika sudah keluar institusi tentu sudah tidak berada dalam satu tongkat komando lagi.
Pak Gatot, jangan malah menarik-narik institusi TNI dalam polemik Capres. Karena para purnawirawan yang menjadi timses seorang Capres sudah tidak mewakili TNI. Dia mewakili dirinya sendiri.
Apakah yang makar itu bisa dikatakan pengkhianat ? Tentu dong. Siapapun mereka yang ingin makar, membuat kerusuhan di dalam negara, dia adalah pengkhianat. Siapapun. Mau dia itu berbaju ulama ataupun berbaju tentara. Dan wajib ditindak secara hukum.
Seharusnya sebagai mantan Panglima TNI, pak Gatot ikut mengademkan situasi dengan menyerahkan semua masalah pada hukum yang berlaku. Bukan malah memanas-manasi menganggap ada pertentangan antara TNI dan Polri yang sedang menyelidiki kasus makar ini.
Enak banget dong kalau dibela terus mentang-mentang dari TNI, trus gak boleh kena masalah hukum ?
Pak Gatot, jangan lebay ah. Kenegarawanan bapak dipertaruhkan disini sebagai seorang purnawirawan yang pernah berjasa pada negara, memberi contoh yang baik pada rakyatnya. Bukan malah membela membabi-buta pada rekannya yang sama-sama pernah menjadi menjadi tentara.
Siapa yang bisa mengkritik tentara ? Ya, seharusnya tentara sendiri.
Ini persis seperti ketika saya membela agama Islam, yang notabene agama saya sendiri, dengan membongkar kebusukan mereka yang berbaju agamis.
Apakah itu karena saya benci Islam ?
Justru saya cinta pada agama saya, sehingga tidak rela jika agama saya dimanfaatkan untuk kepentingan perut mereka yang menyebut2 dirinya ulama, ustad ataupun habib, tapi perilaku mereka tidak beda dengan iblis..
Dan saya berani bilang, bahwa mereka yang merusak nama agama sendiri, itu adalah pengkhianat Islam..
Berani bilang begitu pada teman-teman yang sudah menciderai institusi kesayangan bapak itu, pak Gatot ?
Kalau berani begitu, saya pasti angkat secangkir kopi. Beneran..

Artikel Terpopuler