Jumat, 09 Agustus 2019

MEMAHAMI RADIKALISME

Radikalisme
Radikalisme
DennySiregar.id, Jakarta - Saya membagi radikalisme itu dalam empat tingkatan.
Tingkatan paling tinggi adalah produsen.
Produsen ini adalah pencipta, penggerak termasuk penyandang dana gerakan radikal.
Ini kelompok kecil yang menciptakan model khilafah untuk kepentingan ekonomi dengan bahasa ideologi. Mereka sudah punya tujuan besar dan jangka panjang dengan dana yang tidak terbatas. Produsen ini bukan hanya perorangan, bisa juga negara. Tujuannya untuk membangun negara khilafah bisa macam-macam, mulai dari penguasaan sumber daya alam sampai jualan senjata.
Tingkatan menengah adalah distributor.
Pendistribusian konsep khilafah ini menarik. Mereka menggunakan banyak elemen mulai "ustad" "ulama" bahkan sampai lembaga donasi dan NGO seperti White Helmet di Suriah. Mereka melakukan perekrutan, pengkaderan sampai penempatan orang-orang mereka yang sudah masuk pada level menengah atau disebut sebagai agen. Distributor ini berfungsi sebagai pihak yang menghubungkan antara Produsen dan agen.
Dibawah distributor ada agen.
Agen-agen ini biasanya kader matang yang sudah mendapatkan pelatihan dan juga pendanaan. Biasanya bajunya agamis dan mentasbihkan diri sebagai tokoh agama. Mereka inilah yang bergerak di lapangan. Infiltrasi kepada lembaga negara termasuk TNI melalui agen-agen ini dan dilakukan lewat pengajian, jumatan dan hal-hal yang berbau keagamaan.
Agen ini biasanya ideologis. Sudah sulit diubah pemikirannya karena merekalah pembawa pesan di lapangan. Tujuan mereka merekrut dan menjual produk agama sebanyak-banyaknya melalui komunitas sekaligus menciptakan jaringan-jaringan di masyarakat, bisa melalui ormas-ormas.
Tingkatan paling bawah dan "paling banyak" adalah konsumen.
Mereka adalah orang-orang awam yang tertarik dengan konsep khilafah melalui propaganda di tempat-tempat ceramah. Pengetahuan mereka tentang agama biasanya minim, karena itu menjadi sangat fanatik.
Saya sebenarnya lebih suka menyebut konsumen dalam konsep ini sebagai korban. Mereka inilah yang disebut sebagai orang yang "terpapar".
Ideologinya terbatas dari ilmu yang mereka dapat dari "ustad"nya atau orang yang digelari "ulama" atau "habib". Ada yang sekedar ikut-ikutan trend, gagah-gagahan dan ada yang juga yang niat awalnya ingin memulai hidup lebih baik dengan konsep "hijrah".
Dalam melawan radikalisme, saya selalu mengajak banyak pihak untuk merangkul para korban ini dan memberikan mereka pemahaman yang benar. Mereka hanya dimanfaatkan oleh pihak tertentu saja karena kekurangan pengetahuan.
Banyak dari mereka yang sebenarnya sudah kembali kepada NKRI melalui gerakan ustad dan ulama yang cinta negeri, juga melalui program deradikalisasi. Mereka punya kesempatan yang sama hanya butuh waktu pendewasaan dalam memahami agama. Kelak dengan pendekatan yang tepat dan pergaulan yang luas, para konsumen ini akan kembali ke masyarakat biasa.
Sebagian lagi malah menjadi militan karena menjauhkan diri dari pergaulan. Mereka inilah yang potensial menjadi pengantin bom bunuh diri.
Membasmi radikalisme akan berhasil jika kita semua memahami tingkatan-tingkatan ini.
Kita hantam habis-habisan tiga tingkat diatas konsumen dan simbol-simbol mereka, dan merangkul para konsumen atau korban supaya tidak menjadi bagian dari radikalisme.
Kalau kita menghantam semua, maka kelak negeri ini akan pecah berantakan karena itu sama saja dengan memerangi saudara sebangsa sendiri.
Semoga paham, teman. Seruput kopinya..

Artikel Terpopuler