Jumat, 15 November 2019

AKUILAH, TERORIS DISINI BERAGAMA ISLAM

Terorisme
Densus tangkap Teroris
DennySiregar.id, Jakarta - Saya pernah punya teman keteknya bau banget.. Tapi gada yang mau mengingatkan. "Sungkan.." kata mereka. Akhirnya, karena pusing setiap dekat dia, saya tegur ketika lagi berduaan, "Pake deodoran dong, kasian yang lain jadi kebauan.."
Eh, dia tersinggung. Saya dimusuhi dan dijauhi. Padahal apa yang kukatakan benar dan itu nasihat baik, ternyata bagi dia itu seperti mempermalukannya.
Denial atau menyangkal. Itulah yang dia lakukan. Dia tidak merasa bahwa dirinya bermasalah, sehingga tidak pernah mau memperbaiki dirinya.
Inilah yang terjadi pada beberapa penganut agama Islam di negeri ini, dan mungkin di banyak negara.
Banyaknya teroris yang meledakkan dirinya, jelas-jelas mereka menganut agama Islam, terlihat dari rekam jejak mereka. Tapi banyak yang menyangkal dengan kata, "Mereka tidak beragama.."
Bahkan seorang Busyro Muqoddas, Ketua PP Muhammadiyah dan mantan Ketua KPK pengganti Antasari Azhar, dengan sengit membantah dan tidak mau dikaitkan dengan Islam.
Ia bahkan berhalusinasi bahwa teroris di Medan itu aktornya negara. Dan ia menyerang pemerintah karena selalu mengaitkan teroris dengan simbol agama. "Guru ngaji itu simbol agama.." katanya protes, saat Densus 88 mengkonfirmasi seorang guru ngaji sebagai otak bom Medan.
Kenapa menyangkal? Jelas-jelas teroris di Medan rajin datang ke pengajian, celananya cingkrang dan istrinya bercadar. Itu sudah simbol di mereka yang menganut agama Islam.
Seharusnya kita yang beragama Islam mulai instropeksi, ada yang salah dengan situasi ini. Dan mulai berbenah, diawali dengan menyisir para penceramah radikal di masjid dan pengajian, bukannya sibuk cari alasan sana sini.
Akuilah, bahwa banyak teroris disini itu beragama Islam. Tidak perlu dibilang mereka tidak beragama segala. Orang juga tahu kok, yang salah bukan agamanya, tetapi oknum yang menjalankan agama. Kenapa mesti malu?
Anggap itu sebagai pelajaran, supaya para ulama, para kyai, para habaib di negeri ini mulai mengatur barisan kembali supaya nama Islam tidak tercoreng disini. Selalu menyangkal, menunjukkan kita bodoh. Tidak pernah belajar apapun dari situasi yang terjadi.
Saya sendiri tidak merasa malu. Bahkan sejak beberapa tahun lalu memerangi oknum yang menyalahgunakan nama agama yang saya anut. Kalau bukan orang Islam sendiri yang memperbaikinya, lalu siapa lagi?
Entar kalau yang Kristen, Hindu atau Budha menyinggungnya, ngambek lagi. Trus demo bersilid-silid, nuding penista agama. Kapan dewasanya?
Seperti teman yang bau ketek itu, akhirnya menjadi bahan omongan disana sini dan ia dijauhi, karena tidak mau mendengar nasihat orang lain. Padahal nasihat itu biasanya datang dari orang dekat, kalau orang jauh pasti gak mau negur, cuman meludah saja.
Ayo dewasa, supaya kita sama-sama bisa mencari solusinya. Tinggal mengakui, apa susahnya? Jangan usia doang yang tua, kelakuan kayak ABG yang pertama kali datang bulan.
Akhirnya jadi bahan ejekan dan bahan sindiran oleh agama lain. Lebih malu-maluin kan?
Ya sudah, kalau tetap gak mau, anggap saja teroris itu tidak beragama. Berarti orang yang tidak beragama, dia athletis. Karena kalau beragama, dia pasti tesis..
Puas? Seruput koncinya.

Artikel Terpopuler