Minggu, 23 Februari 2020

212, YANG TERLUPAKAN

212
212
Jakarta - Aduh saya sampe lupa membahas aksi 212 kemaren.. Habis beritanya sepi sih. Media sudah pada bosan dengan model tekanan massa seperti itu. Pesertanya juga sekarang cuman diklaim "ratusan ribu". Biasanya sih ada angka jutanya.
Tapi angka ratusan ribu itu juga sulit dipercaya. Karena mereka biasa bohong, suka menaikkan harga kayak pedagang curang. Kalau ribuan, mungkin lah.
Tuntutan mereka juga gak solid. Macam-macam. Mulai turunkan Jokowi, kesal sama Ngabalin sampe Harun Masiku segala. Pada intinya, itu demo sia-sia. Kayaknya sponsornya juga gak ada. Ada yang dipenjarakan, ada yang diancam dan ada yang juga yang dirangkul pemerintah.
Saya jadi ingat pembicaraan Ahok yang viral kemaren, yang bertanya kenapa pemerintah diam saja ketika ia dijadikan tersangka.
Antara diam dan strategi penyelamatan negara itu beda. Saya sejak lama sudah mengira bahwa apa yang dilakukan aparat pada waktu itu adalah menyelamatkan negara dari masalah yang lebih besar.
Bayangkan, seandainya waktu itu Ahok tidak "dilepaskan". Pasti situasi akan chaos, karena tekanan massa yang didorong oleh miliaran rupiah dana dari politisi dan pengusaha yang punya kepentingan.
Dan ketika itu terjadi, kelompok 212 dan Rizieq Shihab pemimpin mereka, akan mendapat legitimisasi kuat dari rakyat. Mereka akan jauh lebih besar dari sekarang. Dan situasi Indonesia belum tentu sebaik ini sekarang.
Sekarang si 212 sudah gembos kayak ban motor lama yang penuh lubang. Mau dibranding apa juga, masyarakat ketawa aja. Malah mereka dicemooh karena orang sudah pada bosan. Rizieq juga sampe gak pulang2.
Harus diakui, disinilah kehebatan mantan Kapolri Tito Karnavian.
Dia tidak menghajar kelompok rusuh itu, tapi membangun pipa yang menyalurkan aksi itu ke selokan. Hasilnya kita rasakan sekarang. Kita masih bekerja seperti biasa, dan kelompok itu terus menerus sibuk memikirkan, "jualan apa lagi yang bisa laku ya sekarang ?"
212 itu seperti Nokia. Mereka dulu sepertinya gagah perkasa, sekarang orang mau make aja udah ogah. Udah jadul, gak sesuai masa.
Sekarang kelompok itu seperti sendirian. Yang mau rangkul aja males, soalnya nasi bungkusnya sekarang minta karet dua, mau nambah rendang segala. Padahal biaya yang disediakan cuman buat nasi separuh sama sepotong kecil udang, tapi buntutnya aja. "Yang penting kenyang.." kata donatur.
Eh, gimana kabar 212 Mart?
Juga gak kedengaran suaranya. Mungkin udah mati diam2, gada yang beli karena harganya mahal. Mereka yang jualan agama itu gak paham, pasar hanya mengenal mana barang yang murah, bukan mana barang yang syariah.
212 bentar lagi akan tinggal kenangan. Akan diingat sebagai kelompok parodi dengan hiburan gratis dan menjadi lawakan.
Mungkin kelak akan ada film layar lebarnya, dengan judul, "212 SAMA DENGAN 5". Lumayanlah, biar mereka dianggap bisa berhitung. Masak selalu dianggap gak bisa apa-apa.
Seruput dulu ah, kopinya..

Artikel Terpopuler