Rabu, 18 Maret 2020

Semua Akan Baik-baik Saja

Warga Italia
Warga Italia
Jakarta - "Ulanganku jelek, pa.." Anakku ketakutan waktu ngasih kertas ulangannya dengan angka spidol merah. Kuambil dan kuelus rambutnya. "Baguslah.." kataku.
Dia kaget, "Papa gak marah ?"Aku jawab, "Ngga, papa tau kamu belajar. Cuman mungkin soal yang ini kamu gak ngerti aja.."
Sejak lama saya punya prinsip tidak ingin membangun narasi negatif dalam pikiran anak. Karena kata-kata negatif yang kita benamkan ke otaknya, akan menjadikan dia juga berperilaku negatif nantinya.
Saya tidak ingin menjadi "agent of fear" untuknya. Saya harus jadi "agent of change" membantu dia membuka sudut pandang baru supaya dia lebih bisa memahami masalahnya.


Dan apa yang saya lakukan berhasil. Anakku tumbuh menjadi anak yang mandiri, berani dan kokoh. Pintar itu relatif, yang penting dia berhasil bersosialisasi dan punya prestasi di bidang yang dia senangi. Bukan yang saya senangi.
Kebiasaan itu ada sampai sekarang, bukan hanya kepada anak, tapi kepada siapa saja. Narasi positif itu penting sekali, karena itu akan membentuk perilaku orang disekitar kita.
Ketika wabah Corona menerpa kita, banyak sekali yang tidak sadar bahwa dia menjadi "agent of fear" buat orang sekitarnya. Dia membagikan berita2 buruk, senang membaca kabar2 yang buruk, sehingga dia ketakutan sendiri.
Dan karena dirinya ketakutan, dia lalu memprovokasi orang supaya sama takut dengan dirinya.
Berita yang dibagikan narasinya selalu "Tambah lagi pasien Corona", "Bahaya sekali negeri ini" dan model2 yang sama. Dia tidak pernah berusaha menyebarkan berita "Alhamdulillah, banyak yang sembuh" karena dia sendiri tidak percaya pada sekitarnya. Terpenjara oleh ketakutannya.
Begitu juga kalau memberi contoh, "lihat tuh Italia, berapa banyak yang mati ??". Bukan, "Wah, ternyata di Vietnam banyak yang sembuh..". Coba bedakan..
Semua masalah tergantung sudut pandang mana kita melihat, apakah itu menjadikan kita takut dan lemah atau malah menjadikan kita kuat dan melawan ? Semua itu pilihan kita sendiri.


Mungkin semua itu tergantung pendidikan yang didapat juga. Ada orang yang terbiasa dididik dengan ancaman dan ketakutan, sehingga besarnya selalu mengancam dan menyebarkan ketakutan.
Saya termasuk beruntung, dibesarkan dengan cara positif, membangun sudut pandang baru untuk tetap bertahan. Jadi teringat nasihat almarhum ayah, "Bukan besarnya badai yang seharusnya kamu takutkan, tapi mampukah kamu melewatinya dengan segenap keahlian?".

Jadilah agent of change. Bangunlah narasi positif dalam setiap masalah yang menekan. Sebarkan hal-hal yang membangkitkan semangat, bukan yang melemahkan.
Lagian, lebih baik kita menyalakan lilin daripada sibuk mengutuk kegelapan, bukan ?
Andra tutto bene. Semua akan baik-baik saja..
Saya bikin kopi dulu ya... Mau seruput soalnya.. 

Artikel Terpopuler