Selasa, 19 Mei 2020

Bahar, Si Raja Singa

Bahar
Patung Singa
Jakarta - Mungkin banyak yang belum tahu kalau Front itu sekarang ini lagi goyang. Ibarat gigi mau lepas, sedikit lagi tanggal..
Rizieq yang gak pulang-pulang melemahkan mental seluruh pengikutnya. Padahal dulu skenario "Imam Besar" ditujukan untuk merapatkan barisan mereka dan mengundang massa lain untuk ikut bergabung bersama.
Mirip-mirip apa yang dilakukan Ayatullah Khomeini waktu direpresi oleh Syah Reza Pahlevi di Iran tahun 1980an.
Tapi yang tidak disadari Rizieq dkk, Indonesia sekarang bukan Iran pada masa kekuasaan Reza Pahlevi. Bangsa Indonesia cukup puas dengan situasi ini, beda dengan Iran pada masa itu yang situasinya mirip ketika kita berada dibawah rezim Soeharto.
Nah kelamaan ditinggal, warga Front itu makin goyah. Sedangkan Rizieq sendiri sudah nyaman disana. Mungkin karena usia, mungkin juga udah patah arang sejak Prabowo kalah dan tinggalkan dia, nafsu berkuasanya perlahan2 pudar.
Dia sudah gak begitu perduli lagi dengan situasi di Indonesia, apalagi dengan Front yang pernah dia dirikan. Hidupnya sekarang murni dari sumbangan jamaah haji dan umroh yang datang.
Beberapa pejabat teras Front itu melihat ini sebagai situasi berbahaya. Apalagi pihak intelijen sudah menyusup dan memecah belah situasi dari dalam. Di dalam sana, mereka saling mencurigai dan bingung siapa kawan dan siapa lawan. Meski diluar tampak tenang, tapi sebenarnya ada keributan-keributan kecil, utamanya di perebutan siapa yang akan jadi pemimpin front itu.
Memang menggiurkan jika jadi pemimpin disana. Jamaahnya banyak, dan mereka siap berkorban harta yang ada. Siapapun yang jadi pemimpin pasti kaya, karena bisa "jualan" dengan memanfaatkan bargaining politik karena punya massa.
Untuk menjaga barisannya, kadang2 poster besar Rizieq dipasang di beberapa tempat sekedar untuk menguatkan. Tapi pengaruhnya gak besar. Situasi tetap rusuh. Persis seperti masa jahiliyah, dimana klan-klan di arab saling berebut pengaruhnya.
Bahar melihat peluang ini. Dia sendiri sebenarnya bukan anggota Front, hanya simpatisan. Kebetulan ada hubungan saudara dari Rizieq. Sejak di penjara, Bahar sudah mendengar bagaimana situasi di dalam Front.
Itulah kenapa dia menerima program asimilasi dari pemerintah, meski diawal dia menolaknya supaya kelihatan gagah. Bahar butuh panggung lebih besar dari sekedar jamaahnya saja. Dan menguasai Front itu adalah agenda terpentingnya dia.
Makanya ketika dia keluar, panitia sudah membangun acara besar dengan mempertontonkan Bahar ke depan publik. Tujuannya tentu untuk menambah moril dari anggota Front yang lagi luluh lunglai itu..
Orasi2pun dibikin membakar. Video disebarkan. Pesannya adalah "Inilah Rizieq muda. Ayo kembali bergabung dan bersatu !"
Yang Bahar tidak perhitungkan adalah, bahwa klan-klan didalam belum tentu setuju. Ada yang menganggap bahwa Bahar adalah ancaman bagi dia untuk menduduki jabatan penting. Maka dengan berbagai cara laporan pun diluncurkan dengan pesan, "Tolong dia dimasukkan lagi ke dalam.."
Makanya ketika polisi menangkapnya juga mudah, karena tidak ada konsentrasi massa untuk memuluskan penangkapan.
Dan itulah yang terjadi. Sejarah sejak lama sudah mengajarkan, bahwa musuh terbesar sejatinya bukan ada di luar, tapi justru ada di dalam. Semua itu selalu berujung pada kekuasaan dan uang.
Kasihan sebenarnya Bahar, yang dijuluki pendukungnya si Raja Singa itu. Mirip nama penyakit kelamin. Dia masih terlalu muda dan hijau untuk paham, bahwa politik itu kejam.
Bahar tentu tidak mengerti bagaimana dia bisa masuk penjara lagi, yang dia tahu malam ini dia tidur sendiri lagi. Tanpa teman. Sorak sorai itu hilang, yang tinggal hanyalah mahkota tanpa kekuasaan..
Seruput dulu kopinya.. Boleh saya merokok dulu sebatang ?
Nb :
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Begitu juga patung singa dibawah.

Artikel Terpopuler