Rabu, 13 Mei 2020

PARA PENJUAL AYAT

Film Hollywood
Film Hollywood
Jakarta - Sebelum buka tadi, saya iseng nonton lagi film Hollywood lama berjudul Mississipi Burning. Ini mungkin yang ke 30 kalinya saya nonton film ini, keren sih..
Film lama ini bertema "peperangan" rasial antara kulit putih dan kulit hitam di Mississipi, Amerika. Film ini sebenarnya adaptasi dari kisah nyata di tahun 1964, saat ada 3 orang aktivis sosial dibunuh oleh kelompok kulit putih rasis yang tergabung dalam Ku Klux Klan.
Menarik karena saya baru sadar, apa yang terjadi di tahun 1964 di Mississipi, mirip dengan yang terjadi di Indonesia sekarang.
Kelompok Ku Klux Klan atau KKK, mendasarkan pemisahan ras antara kulit hitam dan kulit putih karena -menurut mereka- kitab suci mengajarkan itu lewat kitab kejadian 9 ayat 27. Dan itu diajarkan di sekolah dan gereja mereka sejak usia 7 tahun, sehingga tumbuh orang yang fanatik pada rasnya.
KKK yang beragama Kristen Anglo Saxon, selain menolak kulit hitam, juga menolak Yahudi karena sudah membunuh Yesus dan Katolik karena berasal dr Roma. Tetapi yang paling mereka benci, ya kulit hitam itulah. Dan itu bisa mereka lakukan, karena mereka merasa merekalah mayoritas disana.
Mereka bukan hanya membenci. Mereka juga menindas, membakar rumah dan gereja orang kulit hitam, juga membunuh mereka jika ada kesempatan.
Pada sisi ini, saya merasa tertohok karena mirip sekali dengan yang terjadi di Indonesia, meski dengan agama berbeda.
Di negeri ini, konsep pribumi selalu digaungkan oleh banyak orang yang merasa lebih berhak dari ras lainnya. Padahal itu sebenarnya untuk menutupi kemalasan mereka saja.
Selain itu, ayat-ayat juga dikeluarkan untuk menjustifikasi kebencian mereka. Ustad-ustad dadakan dan mualaf karbitan juga memainkan peranan dengan membakar sentimen agama, karena kalau bicara keilmuan mereka sangat kurang.
Tapi di film Mississipi Burning ada juga kelompok yang menolak pemisahan warna kulit itu. Merekalah yang membuka kelakuan bejat KKK dan membongkar pembunuhan yang dilakukan mereka.
Mirip dengan di Indonesia, ada orang seperti saya, anda dan banyak warga lainnya yang toleran dan menolak kebencian atas nama suku, ras dan agama.
Pada akhirnya, di semua agama, semua suku dan semua ras, tentu ada orang-orang bodoh dan fanatik yang suka memaksakan kehendaknya.
Jadi kita tidak bisa menyalahkan sesuatu atas apa agamanya, karena semua manusia bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya..
Dialog yang keren dari film itu, "Kebencian tidak dilahirkan, dia diajarkan.."
Kalau sepakat, mari kita seruput kopi dulu..

Artikel Terpopuler