Sabtu, 09 Mei 2020

Partai Nyonya Besar

Partai Nyonya Besar
Foto Film Kungfu Hustle
Jakarta - "Dalam waktu 3x24 jam, kami minta Denny Siregar untuk menghapus twitnya, atau kami akan membawa ini ke ranah hukum.."
Begitu pernyataan juru bicara sebuah partai yang dulu besar, di depan wartawan dengan gagahnya.
Hari itu hampir semua petinggi partai "keluar kandang" dan langsung menyerang, karena nyonya besar ngamuk sampe mau ngulek cabe karena merasa anaknya disentil.
Sehari sebelum konpers, saya dengar grup WAG beranggotakan para petinggi partai itu ribut. Pro kontra terjadi, apakah mereka harus melaporkan atau tidak.
Sebenarnya ada beberapa yang mencegah, tapi suara mereka tenggelam ditengah gemuruh petinggi lain yang ingin mencari muka ke atasan. Mereka berlomba-lomba menyerang lewat twitter menyuarakan dukungan pada nyonya besar.
Kegiatan "cari muka" inilah yang jadi blunder terbesar partai itu, karena pada akhirnya mereka tercatat dalam sejarah bagaimana sebuah partai harus melawan satu orang warga biasa, yang bahkan tidak punya kekuatan, kekuasaan, dan kekayaan untuk melawan mereka.
Bayangkan, mereka berada pada posisi maju kena mundur kena. Kalau menang, malu. Kalah, lebih malu. Jadinya stuck ditengah-tengah, tidak tahu apa yang diperbuat.
Satu orang mantan petinggi, mencoba membuat tulisan panjang untuk menjelaskan posisi partai mereka. Tapi yang baca cuman puluhan orang, itupun mungkin kader2nya mereka saja. Sudah kadung kehilangan muka, seranganpun membabi buta.
Akhirya saya paham, kenapa si partai itu pengaruhnya terus turun setiap pemilu. Dulu berjaya di angka 20 persen, turun 10 persen, sekarang di 7 persen, hampir gagal masuk Senayan.
Ternyata karena petinggi-petinggi mereka tidak taktis, sibuk pencitraan, terlalu gemuk dan lamban, arogan, merasa masih jadi pemenang. Padahal dunia berubah, mereka tidak mampu beradaptasi dengannya.
Ditengah kompetisi ketat ini, kemungkinan besar 2 kali Pemilu lagi, partai ini tinggal sejarah. Itu karena sejak dulu langkah mereka adalah langkah peragu, mau ke kanan mikir, ke kiri nambah mikir.
Akhirnya berdiri ditengah-tengah tanpa kawan. Maksud hati mau main dua kaki, apa daya tak ada yang mau dipijak lagi.
Batas waktu 3x24 jam berakhir hari ini. Kita lihat saja, apakah mereka tetap jadi peragu seperti biasanya dan hanya gagah di konperensi pers saja, atau mencoba melawan dengan sisa-sisa tenaga yang ada..
Kita tunggu saja, sambil seruput kopi. Ah, nikmat sekali..

Artikel Terpopuler