Minggu, 31 Mei 2020

SECANGKIR KOPI PAHIT

Kesuksesan
Jakarta - Enaknya jadi penulis gini, saya punya kekayaan baru.. Bukan materi, karena saya tidak punya banyak. Apalagi sampai 2 triliun rupiah. Kekayaan saya adalah pengalaman ketemu dgn banyak orang dan banyak karakter.

Pernah saya diundang ngopi salah satu orang terkaya di Indonesia. Hanya untuk ngobrol tentang situasi Indonesia. Saya diundang ke kantornya. Gara2 diundang orang terkaya itu, saya harus beli baju dan celana baru, supaya gak malu2in saat ketemu.

Sesudah ketemu, akhirnya nyesel. Ternyata salah kostum. Penampilan beliau jauh lebih sederhana. Bicaranya merendah, humble, dan selalu banyak bertanya hal yang tidak diketahuinya. Dia tidak pernah bicara berapa hartanya, media seperti Forbes lah yang membuka dia itu siapa..

Ada juga seorang purnawirawan Jenderal yang sukses berbisnis. Seorang konglomerat. Sangat humble. Bahkan saya dipeluknya seperti ayah dengan anaknya, padahal saya itu itu siapa. Remah rengginang didalam kotak biskuit ternama.

Dari bertemu dengan mereka2 itulah saya akhirnya paham pemeo, bahwa langit tidak pernah bicara bahwa dirinya tinggi. Oranglah yang membicarakan ketinggiannya.

Saya akhirnya paham benar perbedaan antara mereka yang benar2 kaya dan mereka yang mengaku kaya. Yang benar2 kaya sibuk membaktikan hidupnya, yang ngaku2 kaya sibuk menjual dirinya.

Mungkin sejak itu, saya berhenti bicara materi. Karena langit tidak berbatas akhirnya.

Dan disanalah saya akhirnya paham, bahwa kekayaan terbesar manusia sejatinya hanyalah rasa cukup. Tanpa rasa cukup, kita akan miskin selamanya meski materi berlimpah.

Semua apa yang saya alami dan saya temui, membuat mata menjadi tidak silau ketika melihat kemewahan dan membuat rasionalitas pun berjalan.

Hidup itu sesungguhnya perjalanan. Dan kadang kita duduk sebentar, sekadar mampir ngopi dan menyerap banyak pengalaman yang membentuk kita sekarang.

Nikmatnya...

 

Artikel Terpopuler