Sabtu, 14 November 2020

Negeri yang Kehilangan Figur

Presiden Suriah, Bashar Assad
Jakarta, DennySiregar.id - Sejarah hidup manusia tidak pernah lepas dari adanya figur.

Mulai zaman para Nabi sampai munculnya Hitler, mereka adalah figur-figur yang muncul atau dimunculkan ditengah sebuah prahara negeri.

Kenapa figur itu begitu penting? Karena manusia membutuhkan perwakilan dari pemikirannya yang abstrak, yang hanya bisa diwujudkan dalam sebuah sosok yang sesuai harapan mereka. Figur itu memiliki sifat emosional, daripada rasional.

Dalam hal begini, dunia barat emang jagonya. Mungkin karena mereka sudah melewati ratusan tahun sejarah perang, sehingga mereka lama-lama tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka jago menciptakan sebuah figur dengan gaya komunikasi yang elegan.

Bahkan untuk menguasai Suriah, barat menciptakan tokoh "Ulama" yang dikenal dengan nama Abu Bakar Al-Baghdadi. Dia memimpin ISIS dan barat berhasil membangun persepsi para radikalis di seluruh dunia, bahwa al Baghdadi adalah khalifah umat Islam yang dinantikan.

Siapa lawan yang akhirnya mengalahkan al Baghdadi?

Ya, figur juga yang muncul dari prahara Suriah, yaitu Bashar Assad, Presiden Suriah.

Seandainya Bashar tidak bangkit melawan dengan keras, niscaya ISIS akan berhasil menguasai seluruh Suriah dan membangun kerajaan teroris disana. Bangkitnya Bashar melawan ISIS, membuat rakyatnya berani bangkit dan berperang.

Dari sini kita bisa paham, kenapa kelompok Islam garis keras di Indonesia ini, membangun citra Rizieq Shihab, sebagai figur utama mereka. Pelabelan "Imam besar" umat Islam adalah bagian dari branding sebagai pengikat.

Mirip dengan apa yang dilakukan barat lewat Al-Baghdadi untuk menguasai Irak dan Suriah.

Situasi inilah yang gagap ditangkap 2 ormas besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Mereka punya massa besar, tapi tidak punya figur yang kuat. Kyai-kyai NU cenderung menyembunyikan diri dari keramaian dan menghindari benturan, sedangkan ulama Muhammadiyah yang kuat seperti Buya Syafii Maarif sendirian dan tidak punya pasukan.

Jadi wajar saja, kalau dari gerbong NU dan Muhammadiyah ini mulai terkikis dan ada generasi mudanya terbawa ke arus kelompok fundamental, karena disana ada figur yang bisa mereka jadikan patokan.

Sesuatu yang mudah mereka terima, semudah mereka makan mie instan. Gak disuruh mikir dan buat pilihan. Di kelompok sana gampang, adanya cuman surga neraka dan halal haram.

Dari pihak pemerintah juga begitu.

Tidak ada figur yang punya pengaruh kuat dan menjadi patokan. Jokowi sempat menjadi figur yang dominan, meski sekarang pelan-pelan sinarnya bagi sebagian orang mulai padam. Bukan salah Jokowi, karena dia sekarang sudah menjadi bapak untuk semua, baik yang radikal fundamental maupun yang moderat dan liberal.

Mulai berangsur-angsut padamnya figur Jokowi, membuat kelompok moderat akhirnya seperti mencari signal wifi yang kuat. Dan ketika muncul signal sedikit kuat bernama Nikita Mirzani, merekapun bersorak seperti ada pahlawan. Meskipun mereka sadar, itu cuma signal sesaat yang lewat dan bentar lagi juga hilang.

Ahok? Sejak menikah kedua kalinya dan ia selalu sibuk membicarakan kekurangan mantan istrinya, respek militannya dulu udah jauh berkurang

Ini sebenarnya peluang buat mereka yang punya massa besar untuk muncul menjadi figur para kaum moderat yang haus dengan harapan, sekaligus ketakutan kemungkinan kaum konservatif berkuasa.

Cuma gak jelas siapa, karena sekarang ini banyak tokoh moderat yang lebih sibuk cari aman dan uang proyekan, daripada muncul sebagai pelepas keresahan.

Figur ini harus muncul sekarang, entah dari partai atau dari ormas, karena jika tidak, figur kaum konservatif seperti Rizieq akan semakin kuat. Dan ada saatnya kekuatan mereka sulit dikalahkan, karena terlalu besar. Seperti halnya figur Mullah Omar, pemimpin Taliban.

Melawan figur harus dengan menciptakan lagi sebuah figur. Tanpa itu, maka dominasi satu figur akan terbuat. Iya kalau dia baik orangnya, lha kalau jahat??

Figur. Kita butuh sosok kuat yang bisa menyatukan dalam satu barisan.

Seruput kopinya..

Artikel Terpopuler