Minggu, 29 November 2020

Pembantaian di Sigi dan Operasi Tinombala

Teroris
Teroris
Jakarta,
DennySiregar.id -
Operasi Tinombala dibentuk tahun 2016. Tujuan operasi yang melibatkan 3000-an personil gabungan mulai Brimob, Kostrad, Marinir, Raider dan Kopassus, adalah menangkap teroris bernama Santoso.

Santoso pada waktu itu adalah kepala Mujahidin Indonesia Timur atau MIT. Santoso mantan peserta pelatihan militer Jamaah Ansharut Tauhid atau JAT yang didirikan oleh Abu Bakar Baasyir. Sesudah pelatihan militer itu digerebek pemerintah, personilnya menyebar kemana-mana termasuk Santoso ke Poso, Sulawesi Tengah.

 

Baca Juga: INDONESIA DISERBU TERORIS 

 

Di Poso inilah, Santoso mendirikan MIT. Dia tinggal dalam hutan dan membangun pasukan disana. Dia dan kelompoknya berbaiat kepada ISIS dan melancarkan perang pada pemerintah Indonesia.

Pengaruh Santoso sangat kuat dan dia juga sangat kejam. Santoso tidak segan-segan menggorok leher warga sekitar jika mereka dicurigai sebagai informan, ataupun tidak memberi makan kepada anggotanya. Pembunuhan yang dilakukan Santoso dan kawan-kawan itu bagian dari pesan teror, supaya jangan ada warga yang berpihak pada pemerintah.

 

Baca Juga: AKUILAH, TERORIS DISINI BERAGAMA ISLAM

 

Pernah Santoso menyebarkan video penggorokan seorang kakek petani yang dilakukan anak buahnya. Tehnik teror ini memang mereka pelajari dari ISIS, untuk membangun ketakutan.

Juli 2016, Satgas Tinombala berhasil menembak mati Santoso. Bisa dibilang ini keberhasilan luar biasa, karena untuk memburu Santoso, Satgas harus masuk ke hutan lebat, ini daerah yang dipilih Santoso sebagai medan perangnya.

 

Baca Juga: POLISI VS ISIS

 

Kalau pengen tahu seberapa sulitnya, sering-sering aja nonton film perang waktu pasukan Amerika masuk ke hutan Vietnam. Sulit dan sangat berbahaya. Bahkan korban gugur dari pihak aparat juga ada beberapa.

Santoso mati, tapi MIT tidak. Pemimpinnya sekarang bernama Ali Ahmad atau biasa dipanggil Ali Kalora. Sama dengan Santoso, Ali Kalora hidup di dalam hutan lebat.

Kerjaan mereka juga meneror warga sekitar yang mayoritas petani. Mereka memaksa petani mengumpulkan makanan buat mereka. Dan kalau ada yang dicurigai, ditembak mati.

 

Baca Juga: JALAN SENYAP UNTUK NEGERI

 

Pembantaian keluarga di Sigi, diyakini dilakukan oleh Ali Kalora dengan jaringan MIT-nya. Polanya sama. Mereka memenggal dan membakar. Hasil laporan sementara ini, karena keluarga itu melawan tidak mau memberi makan kepada kelompok teroris itu maka mereka semua dibantai.

Jadi, ini bukan urusan agama. Sama sekali bukan. Karena korban-korban Santoso dan Ali Kalora bukan hanya warga Kristen, petani-petani disana yang mereka gorok dan bunuh banyak juga yang Islam.

 

Baca Juga: Hancurnya Bangsa Karena Politik Agama

 

Kejadian itu membuat Satgas Tinombala aktif kembali. Mereka kemudian mengejar Ali Kalora dan gerombolannya masuk ke dalam hutan.

Semoga kepala Ali Kalora bisa dibawa pulang, sama dengan ketika Satgas membawa kepala Santoso untuk dihinakan.

Satu lagi. Jangan sebar foto-foto pembantaian. Itu memang yang teroris inginkan. Supaya ketakutannya menyebar dan nama mereka makin besar.. Seruput kopinya dulu, kawan.

Artikel Terpopuler