Rabu, 16 Desember 2020

TERIMA KASIH, KARNI ILYAS

#RIPILC
Ilustrasi, Karni Ilyas (ILC)
Jakarta, DennySiregar.id - Malam itu ada chat.. "Bang, kami minta abang hadir di ILC.." begitu bunyi pesannya. Kalo gak salah itu Desember 2017. Sesudah ada acara demo besar 411.

Saya oke saja, apalagi mereka bilang disana ada Guntur Romli. Setidaknya kalo ada yang salah, kan ada Gunrom. Dia lebih pengalaman di acara itu. Datang sendirian dengan tas di punggung. Kaget. Lha, Gunrom ternyata gak diundang. Yang ada malah Permadi. Kami sama-sama newbie. Kacau nih, pikirku waktu itu.

 

Baca Juga: DPR ITU TAMAN KANAK KANAK

 

Masuk ke dalam ruangan, melewati gerombolan baju putih bertuliskan "Bang Japar". Ini salah satu ormas binaan 212. Mayoritas ruangan dipenuhi mereka. Badanku disenggol-senggol dengan gaya intimidasi dan tatapan penuh amarah, "Awas lu ya.."

Aku senyum-senyum aja, "Apaan sih, kayak anak kecil mereka.." Dan ternyata 80 persen yang hadir dipenuhi mereka. Berdiri dengan tangan sedekap di dada. Bang Jago rupanya..

Benar saja, ajang pembantaian terjadi. Dikasi bicara pertama sekian menit, sesudah itu microphone gak dikasih-kasih lagi. Pihak lawan seperti Fadli Zon malah ngoceh jauh dari tema yang diberikan. Ada lagi namanya al Khotot, pake ngancam, "Hati-hati nanti di jalan..". Tambah Felix Siaw malah cerita ngalor ngidul di Turki, padahal temanya tentang "Dana demo darimana?".

 

Baca Juga: SECANGKIR KOPI UNTUK KOMANDAN

 

Gak beres, nih. Benar saja. Di medsos ribut semua, "Denny dipecundangi.." Mereka ketawa karena menang. Bahkan masih ada yang jadikan peristiwa 3 tahun lalu itu sebagai bahan bullyan.

ILC memang bukan ruang debat yang objektif. Disana itu ring tinju. Siapa yang mukul duluan, dia yang menang. Gak penting kesimpulannya apa, acara itu lebih kepada panggung saja untuk menaikkan nama seseorang. Lihat saja Rocky Gerung. Kita baru kenal dia dari ILC, sebelumnya dia nobody. Pokoknya asal ngomong ngawur, sorak sorai pasti terjadi.

Tadi ada teman menyapa, "Den, ILC hari ini tayangan terakhir.." Aku kaget, "Lho, ILC masih ada toh ?" Maaf, jarang banget nonton tipi. Sekarang tayangan banyak opsi, dan saya lebih suka maen di internet dengan pilihan yang kusuka, bukan yang dihidangkan apa adanya.

 

Baca Juga: PERINTAH TEMBAK MATI

 

Tapi dari kejadian di ILC itulah ada sedikit dendam pribadi. Ketika uda Karni Ilyas menyindir, "Kalau tidak mampu menari, jangan lantainya kamu salahkan.."

Saya tidak marah. Malah ketawa. Saya bilang dalam hati, "Baiklah uda.. Akan kubuat panggung sendiri, tempat sebebasku menari. Dengan gayaku sendiri..."

Dan akhirnya, lahirlah Cokro TV. Kubangun susah payah dengan teman-teman, sekarang sudah 1 juta subscriber dengan views rata2 500 ribuan orang setiap tayangan.

Dunia sudah berubah. Cokro TV terus berkibar. Aku terus berjalan. Uda Karni harus istirahat. Panggungnya ILC sudah tamat.

 

Baca Juga: INDONESIA, AYO BELAJAR DARI SURIAH

 

Terimakasih, uda Karni. Hantamannya dulu sangat memotivasi. Sekarang giliranku terbang. Istirahatlah, uda. Kelak kita akan duduk dan cerita, sambil seruput kopi dan ngudud bersama.. Seruput..

Artikel Terpopuler