Sabtu, 03 April 2021

FPI ORGANISASI TERORIS, Bagian 3: Densus 88

Densus 88 Polri Tangkap Teroris
Densus 88 Polri Tangkap Teroris
Minggu itu suasana misa berjalan dengan hikmad. Tiba2, BUM ! Sebuah bom meledak dari dalam Gereja Katedral. 27 orang meninggal ditempat sedang 77 lainnya luka. Ketika tim gegana Filipina datang, bom kedua di areal parkir meledak.

Otoritas Filipina mengatakan, pelaku bom bunuh diri itu adalah orang Indonesia. Telpon berdering di kepolisian Indonesia ajakan untuk bekerjasama menuntaskan kasus itu. Kepolisian Indonesia juga sedang sibuk memetakan jaringan teroris yang membom 3 gereja di Surabaya.

Dari hasil pemetaan, akhirnya didapatkan petunjuk bahwa para pelaku bom bunuh diri itu adalah sepasang suami istri yang pernah berbaiat kepada ISIS di komplek perumahan villa Mutiara, Makassar tahun 2015 lalu.

Disana juga pernah hadir Munarman.

Berdasarkan kepingan informasi itulah, Densus 88 bergerak ke Makassar. Mereka memantau situasi terus menerus. Dan pada bulan Februari 2021, puluhan orang diduga teroris ditangkap disana, 19 orang diantaranya adalah anggota FPI aktif.

Rumah di Villa Makasar itu dijadikan tempat perekrutan dan pelatihan. Yang direkrut adalah anggota keluarga dan pasangan suami istri muda. Mereka dibaiat menjadi anggota ISIS, dicuci otak dan disiapkan untuk menjadi pengantin bom. Sayang, satu pasangan lolos dan sempat meledakkan diri di Gereja Katedral Makassar.

Dari tertangkapnya anggota FPI terduga teroris itulah, didapat jejak Munarman yang diakui mereka sebagai ideolog, atau petugas yang mencuci otak mereka. Pada waktu proses pembaiatan kepada ISIS itu juga dihadiri 2 orang ustad, ustad Fauzan Anshori dan M Basri. Dua-duanya sudah meninggal.

Dari sini Densus 88 mendapat gambar besar, siapa Munarman dan jejak keterlibatannya. Munarman sendiri ketika ditanya selalu mengelak, bahwa ia hadir disana bukan sebagai ideologis tapi menyatukan umat muslim dengan niat baik.

Jaringan ISIS di villa Makassar ternyata sudah menyebar kemana2. Sebagian dari mereka adalah anggota FPI, sebagian lagi tidak terikat jaringan atau biasa disebut sebagai lone wolf, leaderless terrorist. Munarman terpojok. Tapi polisi belum cukup bukti untuk menangkapnya.

Menangkap Munarman memang tidak mudah. Dia pengacara, jaringan politiknya kuat. Juga jaringan akar rumputnya. Polisi harus mengumpulkan bukti kuat dulu, jangan sampai sesudah ditangkap akhirnya lolos karena bukti tidak cukup.

Sementara itu Munarman sudah gelisah. Gerak geriknya sudah dibatasi. Rekening FPI ditutup. Para oknum elit politikus, aparat dan pengusaha yang dulu dekat dengannya, menjauh karena tidak ingin dikaitkan dengannya. Faksi didalam FPI yang menolak Munarman, semakin keras ingin mengeluarkannya. Rizieq juga sedang dipenjara dan tidak bisa apa-apa.

Yang masih dekat dengan Munarman cuma laskar jihad FPI, dimana dia adalah Panglimanya. Laskar yang bisa berbuat apa saja. Mati pun tidak apa-apa. Apalagi ada "orang dalam" yang sudah memberi kode dengan mimpi bertemu Nabi, sebagai satu sinyal untuk bergerak.

Dan kali ini di satu tempat, beberapa anggota laskar jihad pimpinan Munarman merencanakan sesuatu yang jahat. Tujuannya, membuat kerusuhan dengan melakukan pemboman dimana-mana..

Situasi semakin genting. Polisi harus bergerak cepat. Jika terlambat, selesai sudah..

Bersambung.

Artikel Terpopuler