Jumat, 14 Mei 2021

Sebatang Rokok Menjelang Tidur

Ilustrasi Kekayaan
Ilustrasi Kekayaan
Jadi teringat seorang teman..
Teman ini kalau cerita bisnis gada yang kecil. Harus ada judul miliarnya lah. Itu untungnya doang, belum nilai bisnis sebenarnya. Saya sempat tergoda dan ikut dia, "Hehe siapa tau dia benar.."

Dan mulailah petualangan mencari uang. Yang dicari memang uang, karena buat kami dulu uang adalah segalanya. Uang adalah tujuan, yang lain cuman kendaraan saja.

Ada yang goal dan hidup berlimpah ruah. Namanya anak muda pegang uang banyak, ya tersesatlah. Sudah sombong, kerjaannya pamer materi kemana2. Butuh pengakuan, karena nilai diri diukur dari banyaknya materi. Ya gimana lagi ? Cuman itu caranya biar diakui.

Karena terlalu berani, jatuh juga kita. Sakit rasanya dan butuh proses survival sekian lama. Dari plus jadi minus. Tetapi ternyata saat minus itu, muncul pemikiran baru. Bahwa uang memang banyak, tapi jiwa sejatinya kosong. Ada yang hilang di sudut terdalam diriku, yang aku juga ga tau apa.

Dari minus itulah, baru kutemukan passionku. Aku suka dengan apa yang kulakukan. Kesukaan ini menjadikan apa yang kukerjakan jadi seperti bermain. Gada beban kerja disana, yang ada selalu ingin hari cepat berlalu biar segera bisa memulai kesukaanku.

Karena suka dan terus konsisten dibidang itu, aku jadi profesional. Dan profesionalitas itu terbayar dengan uang. Ah, ini ternyata yang dulu hilang. Eksistensi diri. Aku diakui bukan karena materi, tapi karena apa yang kuberi. Uang ternyata bukan tujuan. Ia hanya dampak dari apa yang kukerjakan dengan rasa kesukaan.

Satu waktu bertemu lagi dengan temanku ini. Dan dia tetap pada mimpi yang sama, tidak berubah sama sekali. Bicara miliaran rupiah, tapi minta ketemunya di restoran fast food yang bayar sendiri2. Dia terjebak dalam mimpi indahnya, tanpa pernah bisa keluar dan menemukan jati diri. Dia bingung dengan dirinya, dan obatnya hanya mimpi.

Dari situ aku belajar, hidup itu sejatinya tentang pencarian siapa diri kita. Jika sudah menemukannya, setiap waktu pasti akan berisi. Ada yang hidup senang dgn angka, ada yang senang dengan bertani dan aku hidup dgn kreasi.

Udah lewat mimpi punya mobil Supercar itu, karena toh seperti cewe cantik, kalo udah bersama terus lama2 rasanya sama aja. Yang beda cuman gengsinya. Dan gengsi tidak pernah ada wujudnya, hanya nilainya saja yang makin lama makin bertambah..

Aku sekarang membantu temanku menemukan dirinya kembali. Menyadarkannya bahwa usaha itu seperti naik tangga, kita mulai dari anak tangga terbawah. Karena kalau tiba2 ingin loncat langsung ke anak tangga ke lima, jatuhnya sakit sekali. Tidak ada yang instan, semua butuh pengorbanan. Justru prosesnya itulah yang menjadikan kita kaya.

"Kekayaan terbesar itu sejatinya adalah rasa cukup.." begitu kata Imam Ali. Tanpa ada rasa cukup, hidup akan penuh dengan konsep mengukur dan diukur. Ketika bertemu yg lebih kaya, kita rendah diri dan ketika ketemu yg lebih susah, kita berbangga diri. Disitulah kita kehilangan jati diri..

Udah malam. Udah gak lagi seruput kopi. Tapi sebatang rokok bolehlah, sebelum tidur sampe pagi..

Artikel Terpopuler