![]() |
| AIB |
Membuka fesbuk pagi ini, saya
melihat banyak status yang beredar tentang sang motivator nasional yang sedang
dibongkar aibnya karena tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri.
Menarik melihat reaksi para
pembuat status yang melampiaskan kekecewaannya dengan kata-kata, "Munafik!".
Mereka menuding sang motivator yang dianggap tidak sesuai antara kata motivasi
dan perbuatan.
Bahkan seorang teman mengirim
pesan, "Ada berita panas tuh.." yang mengarah pada peristiwa itu.
Saya juga kurang sreg terhadap
sang motivator, karena ia seperti kehabisan bahan dalam acaranya. Ia lebih
banyak bicara tentang cinta dengan lebay -menurut saya- daripada berbicara
tentang kiat-kiat menarik seperti ketika awal menjadi pembicara dahulu.
Tapi hal itu tidak lantas membuat
saya bergembira diatas masalahnya. Saya paham itu aib baginya -jika memang
seperti apa yang dikatakan oleh anak itu. Dan saya yakin, semua dari kita pasti
mempunyai aib yang hendak kita tutup serapat mungkin karena itu sama saja
berjalan di depan umum dengan tubuh telanjang.
Kesalahan banyak orang dalam
melihat status saya adalah mengira saya selalu berbicara subyek atau orang
dalam fisiknya. Padahal saya lebih senang berbicara tentang "pola pikir"
seseorang dan membedahnya untuk mendapatkan pelajaran dari sudut pandang yang
berbeda, bukan orangnya.
Jad ketika saya berbicara tentang aib, sungguh saya tidak mendapat pelajaran apapun di dalamnya. Karena "munafik" sejatinya adalah sifat dasar manusia dalam hal sekecil apapun. Yang membedakan adalah bobot kemunafikan dan seberapa terkenal figurnya.
Mungkin sikap saya akan berbeda
ketika yang menutupi aib itu seorang pemuka agama yang selalu berbicara
seolah-olah dirinya paling suci di dunia. Tetapi seorang motivator tidak
berbicara tentang hukum agama. Ia berbicara tentang ilmu dunia, pengetahuan yang
didapat dari pengalaman profesinya.
Jadi ketika ada aib yang terbuka
atas namanya, saya tidak ingin menjadi hakim dalam kehidupan pribadinya. Buat
saya, masalah pribadi tidak selayaknya diumbar ke publik begitu rupa apalagi
kita kemudian mencacinya seolah kita lebih benar dari dia dalam kehidupan
pribadi kita.
Di dunia media, seperti televisi,
tentu mereka mengejar rating pemirsa. Dan untuk itu, mereka dengan lahap akan
mengejar dan memakan "bangkai-bangkai" untuk kepentingan komersial
mereka. Mereka tahu, bahwa banyak pemirsanya juga yang suka memakan bangkai
yang mereka sajikan. Ada hukum supply and demand.
Tidak temanku, itu bukan gayaku..
Cukuplah kasus Sandiaga Uno
menjadi pembelajaranku. Bahwa ada hal-hal yang bisa kita bicarakan dengan
semangat -terutama strategi kampanyenya yang agak-agak basi gitu- dan ada hal
yang tidak, semisal ketidak-tahuannya menutup aib yang tidak sengaja terbuka.
Semua ada batasnya.
Seperti secangkir kopi yang bisa
kita seruput sesuai batas wadah yang mampu kita terima, bukan dengan kalap kita
menenggaknya.
Saya menolak menjadi pemakan bangkai atas aib yang seharusnya menjadi masalah pribadi seseorang.
"Dan janganlah kalian saling
menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..." (QS 49:12)
