![]() |
| Pakde |
Pagi, pakde.. Pagi ini cuaca basah habis hujan
deras semalam. Aku sudah membuat secangkir kopi untuk teman sebelum memulai
kegiatan.
Tiba-tiba aku seperti melihat dirimu.
Duduk dihadapanku dengan wajah seperti memendam sesuatu. Tubuhmu bergetar
seperti ingin menyampaikan banyak hal yang tidak terpikirkan olehku.
"Kamu pernah merasakan
melihat kemiskinan yang benar-benar kemiskinan?". Bibirmu seperti ingin
mengungkapkan banyak rahasia kepadaku. "Bayangkan, disatu tempat bahkan
ada masyarakat yang harus berjalan kaki berhari-hari hanya sekedar untuk mencari
makan... ".
Aku terdiam. Tidak sanggup
membayangkannya, tetapi engkau sanggup melihatnya. Itulah mungkin kekuatan
terbesarmu sampai sekarang. Kau bangun jalan dari ujung utara ke selatan, hanya
supaya mereka yang menghancurkan hatimu itu bisa menikmati kemewahan yang
bernama "pembangunan".
Kau beri mereka listrik yang
selama ini buat mereka hanya mimpi yang tidak berkesudahan. Kau bangun waduk-waduk besar, hanya supaya mereka tidak menderita karena kekeringan.
Ah, sanggupkah aku berada di
posisimu sekarang?
Engkau pasti geram melihat hanya
satu persen dari rakyatmu yang serakah turunan menguasai separuh tanah di bumi
pertiwi ini. Engkau pasti marah melihat banyak serigala buas yang bertahun-tahun menguasai semua sendi mulai dari pangan sampai air bersih.
Rahangmu pasti berdetak kuat
karena mengetahui betapa tertinggalnya kita selama ini hanya karena perilaku
orang-orang yang mengaku mencintai ibu pertiwi tapi terus memperkosanya sampai mati.
Dan ketika engkau mulai mengusik
zona nyaman mereka, membakar sumber pangan mereka, menghancurkan komunitas
mereka, mereka menyerangmu balik dengan segenap tenaga...
Para serigala di migas yang
selama ini menikmati kekayaan dari selisih besar harga bensin di Papua, meraung
terluka. Para babi di pangan yang selama ini menentukan berapa yang harus kami
makan, menjadi sangat liar.
Para ular berbisa yang selama ini
berbagi proyek dengan tikus raksasa, menjadi kelaparan. Belum lagi serangan
hama dari negeri lain yang terusik karena engkau mengusir mereka. Dan
gerombolan binatang penjilat yang ingin memanfaakan kedudukanmu..
Mereka bersatu padu, bergelombang
menyerangmu. Engkau digoyang sejak awal memerintah. Difitnah, dicaci dan
diancam. Bahkan mereka sanggup membiayai ribuan kaum belalang bodoh untuk
menurunkanmu dari jabatan.
Menakjubkan, sama sekali tidak
kulihat wajahmu ketakutan. Engkau malah melihatku dengan
getir sambil berkata, "Betapa banyaknya energi kita terbuang sia-sia. Uang
yang seharusnya untuk pembangunan, malah tercurah untuk menghadapi mereka.
Waktu yang seharusnya kita kejar supaya tidak tertinggal dari bangsa lain,
terhambat hanya untuk meladeni nafsu mereka. Tenaga yang seharusnya digunakan
untuk membersihkan piring kotor dari pesta meriah yang ditinggalkan, harus
disisihkan untuk menahan mereka... ".
Engkah mengangkat pundak kurusmu
yang lelah menahan begitu besar beban yang ada. Dan entah kenapa - aku seperti
melihatmu berbicara kepada seseorang yang telah lama tiada. "Bung, anda
benar. Tugasku sekarang jauh lebih berat, karena dulu engkau berperang dengan
bangsa lain sedangkan aku harus berperang dengan bangsaku sendiri..".
Engkau berdiri dari dudukmu.
Ingin kubuatkan secangkir kopi untukmu. Tapi kurasa kau belum mau. Karena
secangkir kopi adalah kemewahan dan engkau masih belum bisa merasakan itu.
Belum. Sampai engkau bisa melihat anak-anak bangsamu merasakan kemewahan yang sama,
keadilan pembangunan yang sama dan kesetaraan hak yang sama.
Kulihat punggungmu yang hilang
dari pandanganku. Kucecap kopi hitamku. Ah, betapa bersyukurnya aku yang
hanya orang biasa dengan beban minimal saja. Merdeka dalam arti sesungguhnya
tanpa beban tanggung jawab yang begitu berat.
Selamat pagi, pakdeku. Jangan pernah lelah mencintai
kami. Kami berjanji akan terus melangkah bersamamu..
