![]() |
| Candi Borobudur |
Saya punya teman yang sejak kecil
menderita buta warna monokromasi, atau hanya bisa melihat semua dalam dua
warna, yaitu hitam dan putih.
Dia selalu bercerita tentang
betapa inginnya dia melihat warna lain, selain dua warna itu. Ia sering
mendengar warna hijau, biru, merah dan kuning tapi tidak bisa membayangkan
seperti apa warna-warna itu.
Saya sendiri tidak bisa
membayangkan bagaimana bisa hidup tanpa melihat warna-warna. Tentu hidup akan
terasa muram dan kusam. Hati sulit nenerima keindahan, yang ada hanya perasaan
marah dan tertekan.
Jadi ketika saya melihat teman
saya itu, saya berfikir bahwa dia orang hebat. Mampu mengalahkan emosinya dengan
begitu kuat. Saya jelas tidak akan sanggup berada pada posisi itu.
Karena itulah saya terus
bersyukur bisa melihat begitu banyak warna, begitu banyak keindahan yang -bagi
temanku- berani menghabiskan semua harta yang dia punya hanya untuk melihat sepertiku.
Apa yang dilihat temanku, mungkin
juga sama seperti perasaan mereka yang ada di Suriah sana...
Bertahun-tahun digempur perang
yang seperti tidak berkesudahan, mereka jelas kehilangan keindahan yang dulu
mengisi setiap ruang. Sekarang yang ada gedung-gedung rusak, debu tebal,
mayat-mayat tergeletak dijalan.
Belum lagi taman yang dulu indah,
sekarang menjadi onggokan kusam, rasa curiga berlebihan terhadap pendatang dan
yang pasti hidup dalam ketakutan menunggu giliran kapan saatnya mereka
didatangi teroris dan kehilangan kepala mereka.
Bagi warga Suriah sekarang, hidup
itu hanya hitam dan putih. Mereka berada pada persimpangan hidup atau mati..
Saya yakin jika warga Suriah
jalan-jalan ke Indonesia, ia akan menangis. Menangis melihat betapa surga itu sebenarnya
masih ada. Ia datang ke Jogya melihat malam nongkrong di pinggir jalan dengan
nasi gudeg daun pisang di tangan, ia tidak akan bisa berhenti menangis.
Tangisan bahagianya akan semakin
keras ketika ke Bali melihat betapa masih tradisional budayanya ketika mereka
sedang melakukan upacara adat. Apalagi ketika ia datang ke Raja Ampat melihat
surga sesungguhnya dalam bentuk laut yang jernih dan ikan-ikan menari warna
warni.
Sulit sekali bagi kita bersyukur
ketika kita sedang berada di surga. Kita jarang melihat sesuatu dari kacamata
orang lain yang lebih menderita dari kita. Mereka disana ingin berada di tempat
kita, tapi sebagian orang di sini malah ingin menjadikan negara kita seperti
tempat mereka.
Kebhinekaan di negeri kita adalah
mutiara bagi yang mengenalnya. Ia menghiasi leher ibu pertiwi dengan
warna-warna yang beragam dan indah. Tertaut kuat dalam benang kebersamaan dan
saling menghargai antar sesama anak bangsa.
Dan ketika ada yang ingin
merenggut dan mencampakkannya, apakah kita rela ?
Saya tidak dan tidak akan pernah.
Saya tidak mau seperti rakyat Suriah yang kehilangan semua keindahan yang dulu
pernah ada. Saya ingin mempertahankan rasa syukur ini sekuat tenaga. Dengan
darah dan jiwa saya.
Dan sambil mengangkat secangkir
kopinya, temanku yang terkena buta warna itu berkata, "Jangan sampai kamu
baru sadar apa yang kamu punya, sesudah kamu kehilangannya".
