| Seminar di PBNU |
"Datang dong ke markas
PBNU.." Temanku disana menelponku. "Ada apa ?" Tanyaku.
"Ada seminar nasional sarung nusantara.." Katanya.
Sarung? Diseminarkan? Wah,
sarung yang biasa kupake di rumah untuk ngadem dan membebaskan manuk-manuk
nakal dari segala keterikatan benang sintetik yang mencengkeram sumber
kehidupan, ternyata naik panggung juga toh. Kukira cuman properti ma trading
saham doang yang perlu seminar.
Maka datanglah saya ke markas
utama NU dengan semangat kemerdekaan. Dorongan semangat juga datang dari dalam
sarung yang selama ini tercekik tapi tak bisa menjerit dengan teriakan,
"bebaskan ! bebaskan !!"
Disana ternyata ada Kang Dedi
Mulyadi bupati Purwakarta juga yang didapuk sebagai budayawan. Semakin menarik
karena saya mengenalnya sebagai seorang yang mampu mengambil nilai filosofi
dari apapun yang ada disekitarnya.
Dan saya semakin mengenal si
sarung sebagai bagian dari sejarah Sunda dari penuturannya. Dari sejarah itu
saya bisa melihat bahwa sarung di Indonesia bukan hanya sebagai identitas
muslim saja, tapi sudah sebagai budaya.
Masyarakat Batak menggunakan
sarung dalam upacara adat mereka. Begitu juga Bali, Manado dan hampir seluruh
wilayah di Indonesia. Bermacam-macam model sarung menunjukkan bahwa budaya kita
sangat kaya.
Tapi saya agak curiga, ada apa
PBNU mengangkat sarung dalam seminar nasional di waktu ini ?
Ah, jangan-jangan ini sebagai
bentuk perlawanan dan pengingat bahwa kita bangsa Indonesia sebenarnya adalah
kaum sarungan. Ketika gamis menyerbu dan menjadi tren keimanan seseorang,
sarung harus muncul sebagai identitas bangsa.
Ada kata-kata menarik yang saya
tangkap dari pemikiran Kang Dedi. "Sarung itu sebenarnya ada
filosofinya. Masyarakat Sunda berpatokan pada legenda yang sampai sekarang ada,
dimana seorang raja harus tersesat dulu (sarung) sebelum ia akhirnya
menemukan jatidirinya. Dan cerita tentang itu ada dalam kisah Lutung Kasarung atau
Lutung yang tersesat.
Jadi, sarung bagi kita adalah
media untuk menemukan jati diri setelah lama kehilangannya.."
Wow, ternyata bahkan sarung pun
mempunyai filosofi yang dalam jika kita mengetahui sejarahnya. Padahal sarung
buat sebagian warga Indonesia sudah menjadi pakaian tradisi bahkan kadang
dibuat jadi ninja-ninjaan saat malam patroli.
Akhirnya aku pulang ke rumah dan
kupakai sarungku kembali. Sambil seruput secangkir kopi aku menyemangati adikku
yang sudah gelisah. "Sabar ya dek, kamu itu di dalam sarung karena masih
tersesat. Sekarang kan malam Jumat, mari kita mencari jati diri dengan membunuh
seribu Yahudi.."
Ada teriakan lemah dari dalam..
"Cemungud, kakaaaa..."