| Hary Tanoe |
Tidak banyak sosok yang begitu
dicintai banyak orang seperti Hari Tanoe. Hari Tanoe memang contoh tauladan
bagaimana seseorang itu bersosialisasi lintas agama dan ras, sehingga ia
menjadi sosok yang dicintai bahkan dirindukan kehadirannya.
Kenapa ia bisa begitu?
Jawabannya adalah, Ahlak..
Ahlak seseorang memang menentukan
dalam pergaulan. Ahlak yang bagus tentu akan menempatkan seseorang itu dalam
pergaulan yang luas dan diterima siapa saja. Jika ahlaknya kurang, jangankan
diterima, bahkan bisa didemo berjilid-jilid sampai dipenjara..
Kemampuan HT dalam menggunakan
ahlaknya bisa terlihat dari bagaimana masyarakat bersikap padanya. Ketika ia
mendapat masalah besar, tiba-tiba kelompok yang mengatas-namakan pendeta
bersatu dan meneriakkan supaya ia dibebaskan.
Bahkan bermunculan pakar-pakar
hukum yang sudah jarang diundang ke stasiun televisi dan mengatakan, bahwa HT
sedang di kriminalisasi..
Malah kelompok yang
mengatas-namakan umat Islam dengan kode buntut 212, dengan garang berkata di
depan media, "Meski ia seorang kafir, tetapi ia wajib dibela karena dalam
Al-quran memerintahkan supaya umat muslim mesti berlaku adil bla bla dan
bla.."
Mereka bahkan melakukan long
march sekedar untuk menerapkan perintah Tuhan supaya berlaku adil kepada yang
bayar, eh kepada yang sedang dizolimi meskipun ia adalah seorang yang dicap
kafir..
Dahsyat memang buah dari ahlak
seseorang itu..
Namanya muncul di banyak media
sebagai seorang yang sedang melakukan perlawanan kepada pemerintah.
Bahkan beberapa stasiun tivi
terkenal -dengan rela dan tanpa dibayar- terus menerus menulis namanya di
running teks tanpa lelah, setiap menit bahkan setiap detik jika bisa. Seolah
tidak ingin ketinggalan berjuang bersama seseorang yang bekerja tanpa pamrih
untuk kesejahteraan umat itu..
Ketika saya mencoba googling
siapa saja yang membela HT, saya menemukan fakta yang mengejutkan. Dari Sabang
sampe Merauke, ternyata banyak sekali yang bersuara tentang keberadaannya.
"Hari Tanoe adalah korban hukum yang sewenang-wenang.." begitu kata
mereka dan hampir semua bernada sama.
Saya takjub melihat pembelaan
mereka yang begitu massif dan serentak. Sayang saya tidak mencatat siapa saja
nama mereka semua karena mereka dari berbagai daerah, hanya yang saya tahu
marga mereka semua sama yaitu marga Perindo.
Seharusnya kita mencontoh apa
yang sudah dilakukan HT dalam pergaulannya. Ia bisa dengan tenang berdiri di
samping Donal Trump yang menunjukkan kelas dirinya. Tetapi ia juga mampu
berdiri di mimbar gereja memberikan ceramah tentang keselamatan hidup.
Yang menakjubkan, ia bahkan turun
bersafari Ramadhan ke pesantren-pesantren dan disambut dengan sukacita layaknya
seorang mualaf yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Felix Siauw dan Jonru Ginting
seharusnya belajar seperti beliau yang tidak memandang ras dan agama dalam
bergaul dengan sesama manusia. Bahkan seorang Irena Handono harusnya malu
menjelek-jelekan agama sebelumnya, jika melihat bagaimana HT bisa merangkul semua
pihak yang berbeda dengannya..
Dan itu karena ahlak. Ahlak yang
mulia akan mendapat balasan perlakuan yang mulia pula..
Sudah saatnya pulang, sudah
malam..
"Bu, tadi saya kopi dua,
tahu isi dua dan bakwannya satu. Berapa semua ?"
"Kalau dengan kemaren, semua
jadi dua puluh ribu. Besok sudah gak boleh ngutang, modal saya habis. Kalau gak
punya ahlak, gak usah ngopi deh.." si ibu warung cemberut.
Oh maaf, saya belum kasih tahu.
Ahlak itu artinya "uang" di kampung saya..