| Beras Ayam Jago |
Di balik cacian dari mereka yang
mengaku para petani beras di inbox saya, saya harus kagum dengan kinerja
pemerintah kali ini.
Dalam kasus beras ini, pemerintah
benar-benar berusaha melindungi dua sisi dari para pelaku pasar, yaitu produsen
dan konsumen.
Produsen atau petani, dilindungi
dengan memberikan subsidi benih dan pupuk supaya mereka bisa menurunkan biaya
produksinya. Dengan turunnya biaya produksi, harga jual mereka juga terjangkau.
Dengan harga jual terjangkau,
maka konsumen pun mampu membelinya.
Karena itu pemerintah
mengeluarkan Perpres untuk penetapan dan penyimpanan bahan pokok dan penting.
Juga Permendag yang mengatur harga acuan bawah untuk melindungi petani dan
harga acuan atas untuk melindungi konsumen.
Pemerintah menjaga dua rantai ini
dari pihak ketiga, yaitu para makelar.
Para makelar seperti PT IBU yang
membeli beras dengan harga biasa dari petani dan menjualnya kembali dengan
harga sangat tinggi itu merusak program stabilitas harga pangan.
Apa yang terjadi ketika makelar
seperti PT IBU ini dibiarkan ? Jelas akan membentuk kartel pangan. Dengan modal besar mereka, mereka
membeli gabah atau beras dari tangan petani dengan harga yang
"sedikit" lebih tinggi dari harga Bulog. Mereka mengemasnya dan
menjual dengan harga selangit kepada konsumen.
Bayangkan, keuntungan mereka bisa
sampai 300 persen tanpa harus bekerja apa-apa, cuma modal duit dan mengontrol
pasar. Petani gak kaya-kaya, pembeli tercekik lehernya.
Jika model seperti PT IBU ini
dibiarkan, maka perusahaan sejenis akan berlomba-lomba melakukan hal yang sama.
Mereka akan membentuk asosiasi dan asosiasi itu menjadi kartel yang mengontrol
harga beras di negeri ini, mirip seperti harga daging.
Dan kalau itu terjadi, mereka
bisa menimbun beras sehingga terjadi kelangkaan dan harga beras naik ke langit
tinggi menimbulkan keresahan dimana-mana. Pemerintah juga yang disalahkan
nantinya.
Akhirnya karena langka, pemerintah
harus impor dan mulai lagi mafia impor bergerak. Siapa yang terlibat impor
nantinya ? Ya perusahaan2 seperti PT IBU itu lagi.
Pemerintah melakukan tindakan
pencegahan dengan membentuk Satgas Pangan. Dan inilah hasil kerja Satgas Pangan
yang sukses, meskipun bukan apresiasi mereka dapatkan tetapi caci maki.
Petani -maaf- banyak yang tidak
mengerti skema global ini. Buat petani, mereka cukup sibuk dengan proses tanam
sampai penggilingan. Mereka lalu mencari pembeli dengan harga tertinggi.
Dan ketika PT IBU yang mereka
identifikasi sebagai pembeli tertinggi di perkarakan, mereka seperti kehilangan
keuntungan. Wajar mereka marah, karena itu berarti kehilangan laba.
Tetapi konsumen senang, karena
harga beras kembali di stabilkan. Kebayang misalnya beras dikontrol oleh
kartel, maka setiap lebaran kita akan ribut dengan langkanya dan mahalnya beras
di pasar.
Mahalnya beras di pasar nantinya,
tidak serta merta membuat petani kaya, karena gabah atau beras petani tetap
dibeli dengan harga "secukup"nya.
Saya memang bukan petani -dan
tidak mengerti masalah produksi beras- tetapi saya berusaha memahami masalah
pada konteks global.
Supaya kita menjadi orang pintar
dan tidak mudah dibohongi makelar yang berlagak sinterklas, sembunyi dibalik
baju kesucian padahal sesungguhnya lintah yang penghisap darah demi gemuknya
perut mereka.
Biar secangkir kopi yang
mencerdaskan kita semua. Seruput.