| Agama |
Berhala paling mengerikan itu
memang berhala yang mengatas-namakan agama. Berhala atas nama agama itu
mengacaukan pola pikir antara kebenaran dan kesalahan. Mereka yang tidak siap
dalam beragama, akan banyak terjebak pada situasi ini.
Kenapa tidak siap?
Karena sejak dalam pendidikan
dasar ketika mereka ingin mempelajari agama lebih dalam, yang dicekokkan di
dalam pemikiran mereka adalah singkirkan akal, karena akal berpotensi mengakali
sesuatu. Mereka bahkan tidak mampu membedakan akal sebagai kata benda dan
mengakali sebagai kata kerja.
Akal adalah mahluk paling mulia
yang diciptakan untuk mendampingi manusia. Karena itu di dalam kitab suci
banyak sekali firman Tuhan yang menyuruh kita untuk berfikir. Iman ada, sesudah akal bekerja.
Semakin sempurna akal, maka iman semakin sempurna. Tidak akan beragama orang
yang tidak berakal.
Lalu apa fungsi dari kitab suci
dan perkataan Nabi?
Itulah petunjuk bagi akal. Akal
menyerap, mencari hikmah, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan ketika akal
sudah mampu memilah mana kebenaran dan kesalahan, maka akal akan mengikuti
kebenaran dengan kelegaan.
Ketika akal disingkirkan dari
mencari kebenaran, maka manusia akan menjadi buta, hilang akal. Ketika manusia
buta, maka ia menjadi bodoh. Ketika bodoh, maka ia menjadi fanatik. Ketika
fanatik, disinilah akar radikalis disemaikan.
Apa bedanya dengan hewan?
Hewan hanya mengikuti siapa yang
kuat, bukan siapa yang benar.
Salah satu ciri orang berakal
dalam beragama adalah ketika outputnya menjadi benar dan output yang benar
dalam agama adalah ahlak. Seperti mesin dimanapun ketika settingannya benar, maka
seluruh sistemnya bekerja dengan benar.
Jadi paling mudah melihat mana
pemuka agama yang benar adalah lihat bagaimana akhlaknya. Kalau dia mencontoh
Nabi, maka lihatlah apakah akhlaknya Nabi yang dia pakai, bukan pakaiannya,
bukan jenggotnya. Karena pada zaman Nabi, siapapun berpakaian dan berjenggot
seperti Nabi bahkan musuh besar beliau. Tapi yang membedakan Nabi dengan mereka
adalah akhlaknya.
Pernahkah mendengar bahwa Nabi
adalah seorang pedagang yang handal? Pernahkah mendengar bahwa bunda Khadijah
istri beliau adalah konglonerat pada masanya yang mempunyai 70 ribu ekor unta?
Hitung saja jika harga unta kita samakan dengan 300 juta rupiah pada masa
sekarang, berapa harta beliau? Lalu apakah beliau bermewah-mewah dalam
hidupnya?
Beliau bahkan mencontohkan berpuasa
sebagai pengingat dan kesempurnaan jiwa dalam mengingat Tuhan. Beliau bahkan
berpakaian sangat sederhana, kalah mentereng dengan yang menamakan diri sebagai
sahabat2 yang menjulurkan pakaian ke tanah karena ingin terlihat kaya. Seluruh
hartanya dipergunakan dalam kebaikan.
Berapakah yang diwariskan beliau
kepada keluarganya? Hampir tidak ada.
Lalu bagaimana dengan sikap para
penjual ayat sekarang? Mereka bermewah-mewah dalam hidupnya. Mulut mereka
berbicara ikuti Nabi, tapi apa yang mereka ikuti? Apakah motor gede itu berarti
mengikuti Nabi? Apakah mobil Hummer yang miliaran rupiah itu mengikuti Nabi?
Apakah sikap "harga pas tancap gas" dalam memberikan ceramah
mengikuti Nabi ? Apakah sikap menjadi budak dunia adalah sikap Nabi?
Lalu dimana akal ketika mereka
malah menjadi berhala ? Dimanakah akal ketika mereka dijadikan panutan? Akal
dimana ketika kata-kata mereka dijadikan sebagai pondasi kebenaran?
Dan betapa hebatnya ketika saya
menyentil mereka, saya disuruh melihat diri sendiri apakah sudah benar. Saya
sudah pasti belum benar, tetapi saya tidak melabeli diri sebagai ustad, ulama,
dai atau apapun gelar yang bersifat keagamaan. Hukumnya sangat berat jika label
tidak sesuai dengan sikap, yang terjadi adalah fitnah.
Lalu kenapa mereka menjadi lebih
mulia daripada seorang pelacur? Seorang pelacur tidak pernah memfitnah atas
nama agama. Mereka jelas tahu bahwa apa yang dia lakukan kotor. Tapi seorang
pemuka agama melabeli diri mereka bersih, meski dirinya sangat kotor.
Dan lihatlah apa yang terjadi
ketika Tuhan membuka aib mereka dengan sangat hina. Ditangkap karena korupsi,
ditangkap karena memperkosa santri, ditangkap karena menipu umat. Dan kalian
masih menjadikan gelar itu sebagai berhala yang bahkan tidak boleh dibicarakan
dengan terbuka?
Oh, come on... Singkirkanlah
berhala itu, ini dunia nyata di akhir zaman. Fanatisme buta adalah kehinaan.
Kalian itu beragama. Kalian itu bukan Leonardo di caprio di film Titanic yang
berkata, " You jump, I jump.."
Hidupkan mesin di akal kalian dan
mulailah mencari kebenaran dari penimpin agama yang benar. Cara melihat
benarkah dia, lihat akhlaknya dalam setiap perbuatan. Amati terus sekecil-kecilnya
sikapnya. Jika terlihat itu hanya tipuan semata, tinggalkan.
Kalau belum bertemu, duduklah
sejenak. Minum kopi sambil luaskan pandangan dan rendahkan hati.
Catat, ilmu itu seperti air dan
air tidak mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Carilah mereka yang ilmunya
tinggi dengan kerendahan hati yang tidak tertandingi.
Jika belum dapat, minta bantuan
teman. Jika masih belum dapat juga, kenapa tidak jadi guru bagi diri sendiri?
Itu jauh lebih berguna daripada menjadi sapi, yang dengan rela dibawa ke tempat
penjagalan.
Sudah pahamkah, kau teman?