![]() |
| Ekonomi |
Sudah puluhan tahun kapal bernama
Indonesia ini berlayar ke arah yang salah. Pembangunan negeri kita tampak
megah diluar, tapi sebenarnya keropos di dalam. Perekonomian hanya terpusat di
Jawa dan lebih spesifik lagi di Jakarta. Kendali ekonomi dipegang oleh hanya 1
persen masyarakat dari seluruh penduduk Indonesia.
Kita seperti Titanic, yang
mengagumkan ketika terlihat dari kejauhan tetapi sebenarnya punya masalah besar
di lambung kapal yang lemah. Hutang konsumtif terus menerus, tanpa memikirkan
membangun sumber pendapatan baru.
Lihat saja pendapatan belanja
negara atau APBN kita di tahun 2017 hanya 1.700an triliun rupiah. Sedangkan
pengeluaran kita bengkak mencapai 2.100 triliun. Itu berarti setahun kita minus
400 triliun rupiah. Mengerikan..
Ini adalah masalah yang sudah
sangat lama dan dipelihara dengan berbagai kepentingan. Ada yang ingin
Indonesia terus berhutang supaya mendapat komisi dari bunga hutang luar negeri,
ada juga yang menghutangi dengan jaminan penguasaan sumber daya alam.
Pada masa Gus Dur dan Megawati,
mereka sudah menyadari hal itu. Karena itulah Megawati membuang beberapa
"sekoci" dalam bentuk penjualan aset negara, hanya sekedar
menyelamatkan diri dari tenggelamnya kapal ini karena beratnya hutang jangka
pendek yang jatuh tempo.
Masa sepuluh tahun kemudian
adalah masa PHP, pemberi harapan palsu.
Hutang satu dibayar dengan hutang
yang lain, lalu dicitrakan "sudah pernah melunasi hutang". Hutang
konsumtif dalam bentuk bantuan langsung tunai yang malah menambah beban negara.
Bunga hutang kita semakin tinggi
diikuti dengan semakin perkasanya dollar terhadap rupiah. Bunga hutang kita
sudah mencapai 250 triliun rupiah per tahun yang harus dibayar.
Nahkoda kapal kemudian dipegang
oleh Jokowi, mantan tukang kayu..
Ia berusaha membelokkan kapal ini
ke jalur yang benar sesuai arah kompas. Belokan tajam yang dilakukannya
menimbulkan banyak korban, mereka yang selama ini bergelimang hasil sebagai
perantara.
Petral -si mafia migas-
dihancurkan. Mafia pupuk diberantas. Mafia pangan disikat. Ia juga membangun
jalur distribusi di semua titik kepulauan Indonesia yang disebut sebagai
"tol laut" untuk memangkas biaya transportasi yang selama ini
dipegang perantara.
Jalan tol dan jalur kereta api
dirancang dan dibangun secepatnya. Daerah-daerah baru di wilayah timur
Indonesia dibuka untuk menarik minat investasi luar.
Jokowi membangun sumber
pendapatan baru supaya pendapatan negara meningkat. Dengan begitu, ia ingin
mengembalikan neraca keuangan kita yang selalu minus supaya kembali ke posisi
seimbang antara pendapatan dan pengeluaran.
Inilah yang disebut dengan
equilibrium atau titik keseimbangan baru. Pasar bergeser, dari yang semula
dikuasai oleh para perantara yang terpusat di Jawa, meluas ke berbagai provinsi
di Indonesia. Ekonomi tumbuh secara merata membangun pondasi-pondasi baru.
Bisnis distribusi online melaju cepat sedangkan bisnis retail melalui toko dan
mall anjlok dengan hebat.
Banyak pengamat meramalkan, tahun
2020 adalah tahun emas Indonesia. Sebagai negara besar dengan banyaknya sumber
daya alam ditambah jumlah sumber daya manusia, Indonesia bisa kembali menguasai
ASEAN, bahkan berpeluang menjadi negara ke 8 dengan ekonomi terbesar di dunia..
Hanya mereka yang siap berubah
yang bisa menyambut situasi ini. Sedangkan yang selalu nyinyir akan kalah dan
terpinggirkan.
Secangkir kopi pahit memang tidak
enak di ujung lidah awalnya. Tetapi mulai banyak yang sadar, bahwa pahitnya
kopilah sumber kenikmatan yang sebenarnya. Seruput...
