![]() |
| Ilustrasi Penulis |
Lahirnya media sosial secara
tidak langsung merubah semua tatanan yang selama ini ada, bahwa penulis harus
menerbitkan buku melalui penerbit dan harus memajang bukunya di toko buku.
Memang masih ada sebagian penulis
yang memelihara kebanggaan bahwa ketika bukunya di pajang di toko buku besar,
itu adalah prestise. Media sosial pelan-pelan merubah kebiasaan itu.
Ketika buku kedua saya ditolak
oleh penerbit karena terlalu "politis" katanya, maka mau tidak mau
saya harus berjibaku sendiri.
Berbekal keyakinan dari buku
pertama yang laku, saya kemudian mencari editor dan disainer untuk buku kedua.
Sesudah itu saya mencari percetakan murah. Disinilah saya belajar bagaimana
menulis dan menjual buku sendiri.
Proses itu ternyata sangat
menyenangkan, karena saya akhirnya paham seluk beluk bagaimana menjual buku.
Saya bahkan belajar hitung menghitung dalam mencetak buku.
Dari pembicaraan dengan tukang
cetak yang akhirnya jadi seorang teman, saya menemukan rumus, modal mencetak
buku adalah seperempat dari buku yang akan dijual.
Sederhananya, saya mencetak buku
5 ribu eksemplar. Kemudian saya menghitung harga jual. Dari harga jual itu
terhitung, kalau seribu buku saja laku, maka modal pun kembali. Selebihnya adalah
keuntungan.
Tapi darimana modalnya?
Kembali lagi, terimakasih pada
media sosial. Dengan memanfaatkan media sosial yang ada saya melakukan
pre-launch bahwa buku akan terbit selama seminggu atau dua minggu lagi, dan
yang membeli pertama akan mendapat diskon.
Dari hasil pre-launch itulah saya
mendapat modal untuk mencetak buku. Modal yang saya keluar sendiri hanyalah
uang muka sebesar 20 persen dari harga cetak buku, selebihnya dilunasi oleh
para pembeli itu sendiri..
Disini memang unsur kepercayaan
antara si penjual dan pembeli buku harus sangat besar. Namanya media sosial,
kalau salah perhitungan sedikit, habislah dicaci-maki bahkan dituntut oleh
pembeli yang sudah mengeluarkan uang tapi bukunya gak dikirim-kirim.
Disinilah saya mulai bisa bicara
kepada teman yang tadinya meyakini bahwa penulis buku harus siap miskin, bahwa
penulis bisa juga kaya.
Dengan adanya media sosial, tidak
perlu lagi adanya penerbit dan toko buku, sehingga yang biasanya penulis hanya
menerima royalti 9 persen, kali ini dibalik bahwa penulis bisa mendapat
keuntungan dari hasil bukunya sebesar lebih dari 80 persen.
Dan tidak perlu lagi menunggu
sampai setahun baru bisa mencairkan royalti..
Perlahan-lahan peran penerbit dan
toko buku tersingkirkan. Media sosial membongkar tatanan yang selama ini
menjadi kerajaan monopoli jaringan toko buku, penerbit dan percetakan yang
biasanya ada dalam satu grup besar..
Akhirnya saya bisa juga merasakan
hasil dari karya saya, baik secara nilai materi maupun nilai spiritual.
Sekarang saya memikirkan
bagaimana memfasilitasi bakat-bakat menulis muda yang ada di wilayah pinggiran
Indonesia yang jauh dari penerbit sehingga mereka bisa menjadi penulis-penulis
baru yang selama ini didominasi orang-orang yang tinggal di kota.
Untuk itulah saya ciptakan Baboo,
aplikasi khusus untuk komunitas penulis. Dan revolusi di bidang bukupun terus
berjalan..
Sekarang sudah memasuki fase
nilai berbagi. Secangkir kopi pun ternyata bisa merubah pandangan lebih luas..
Seruput dulu, ah..
