![]() |
| Ilustrasi Penulis |
"Menjadi penulis itu siap
miskin.."
Begitu kata seorang teman ketika
saya bilang kepadanya saya ingin jadi penulis.
"Ah, masak ?" Pikir
saya waktu itu. Buktinya Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi malah kaya raya.
Apalagi JK Rowling penulis Harry Potter sudah menjadi multijutawan. Dan saya
menampik pandangan teman saya - yang penulis - bahwa penulis itu susah kayanya.
Ketika penerbit datang hendak
menerbitkan tulisan saya, saya pun girang bukan kepalang. "Asek, saatnya
tiba untuk menjadi kaya..". Kebayang berapa pendapatan ketika buku laku
puluhan ribu eksemplar. Saya pun menandatangani perjanjian dengan penerbit,
yang bahkan tidak saya baca lagi isi kontraknya.
Dan -Alhamdulillah- bukupun
laku. Mungkin karena saya sudah membangun kelompok pembaca sendiri di media
sosial, maka lebih mudah bagi saya untuk menjual buku.
Saya pun menagih kepada penerbit,
kebetulan lagi lapar dan hutang di warung kopi menumpuk semakin besar. Kalau
tidak bayar, saya disuruh nyuci gelas di warkop.
"Coba abang pelajari lagi
kontraknya, disitu dijelaskan bahwa royalti -yang sebesar 9 persen- baru akan
dibayarkan 6 bulan kemudian.." Saya tercengang. 6 bulan lagi? Waduh,
bagaimana ini hutang di warung kopi?
Barulah saya mulai mempelajari
kontrak dengan bahasa yang njlimet dan bikin pucing kepala berbie. Sesudah
pelan2 memahami baru saya ngeh bahwa memang royalti baru akan dibayar setiap
bulan ke enam dan bulan ke 12. Lemaslah sekujur rambut yang sudah keriting
papan..
Disitu disebutkan bahwa karya
saya mendapat royalti 9 persen. Ketika saya bertanya, kenapa sih penulis
mendapat royalti sangat sedikit? Dijawab, karena penerbit harus investasi
mulai dari editing sampai percetakan.
Dari harga buku yang dilempar ke
pasar, 50 persennya sudah buat diskon toko buku. Dan 30 persennya untuk
distributor. Baru yang 20 persennya dibagi antara penerbit dan penulis.
Ini belum masalah pajak seperti
yang diteriakkan Tere Liye dan Dee Lestari, yang termasuk dalam kategori
penulis buku laku.
Saya juga baru tahu bahwa selama
saya bekerja dengan penerbit, karya saya itu sudah bukan sepenuhnya milik saya
lagi. Hak ciptanya sudah milik penerbit. Baru bisa menjadi milik saya
sepenuhnya sesudah 1 juta kopi terjual atau sesudah 10 tahun dijual.
Betapa kecilnya saya waktu itu.
Saya baru sadar ucapan teman pada waktu itu, bahwa menjadi penulis itu siap
miskin. Karena dari sisi manapun penulis akan kalah, karena penulis membutuhkan
penerbit untuk menerbitkan bukunya dan membutuhkan toko buku untuk memajang
bukunya..
Pantas saja, teman-teman saya
yang penulis kebanyakan menjadi filosof. "Buku itu adalah karya kita dan
sebagai kebanggaan penulis. Bukan materinya yang kita kejar, tapi lebih kepada
meninggalkan jejak di dunia pustaka.." Kata-kata yang keluar dari mulut
yang bijak dengan perut yang lapar.
Perut lapar?
Ya jelas. Siapapun pasti
membutuhkan materi untuk menyambung hidupnya. Apalagi dia punya keluarga dengan
sekian anak yang selalu ribut minta makan dan mainan. Kebanggaan sudah tidak
ada artinya lagi ketika berhadapan dengan situasi ini.
Dan karena itulah, banyak teman
penulis yang tidak membanggakan profesi penulis sebagai pekerjaannya. Mereka
tetap bekerja di sektor riil, jadi pegawai atau jadi pengusaha. Lama-lama
menulis pun dilupakan karena tekanan hidup menuntut semakin besar.
Padahal karya mereka bagus-bagus,
dan mereka akhirnya hilang seperti debu tertiup angin kencang.
Saya tidak mau seperti mereka
yang menyerah pada keadaan. Saya ingin membalikkan situasi bahwa penulis harus
menjadi profesi. Untuk itu saya membuat eksperimen, bagaimana caranya saya menulis,
kemudian membuat buku sendiri dan menjualnya sendiri. Saya tidak ingin
ketergantungan pada jaringan besar penerbit dan toko buku.
Bagaimana hasilnya? Kita nanti
ketemu di tulisan kedua, PENULIS BISA JUGA KAYA. Saya mau seruput kopi dulu
untuk mengingat kembali memori lama..
