Minggu, 31 Maret 2019

PRABOWO DAN BAHASA PERANG

Prabowo
foto Prabowo
Perang, perang, itu saja yang mungkin ada dalam pikiran Prabowo..
Dalam debat kemarin malam, Prabowo merasa ia menemukan tema pembicaraan yang pas dengan dirinya saat berbicara pertahanan dan keamanan.
Prabowo menyoroti masalah alutsista, alat utama sistem senjata, militer kita. Ia juga membanggakan dirinya yang lebih TNI dari TNI sendiri. Ia mempertanyakan pengelolaan bandara dan pelabuhan komersial yang bekerjasama dengan asing.
Bahkan Prabowo sempat mengejek peran diplomasi para diplomat yang menurutnya "nice guy" atau hanya menyampaikan yang baik-baik saja, bukan sebagai penentu kebijakan. Prabowo bahkan membandingkan anggaran pertahanan Singapura yang mencapai 30 persen dari APBNnya.
Dari debat tadi malam, saya sebenarnya sudah bisa membaca arah pemikiran Prabowo yang hanya fokus pada "perang", baik itu perang untuk bertahan maupun perang untuk menyerang.
Bagi Prabowo, kata "invasi" atau aksi militer memasuki negara lain menjadi satu keharusan. Meski Jokowi sudah mengatakan, menurut intelijen Indonesia tidak akan diinvasi dalam waktu 20 tahun, Prabowo tetap tidak percaya. Bagi Prabowo, bahasa "senjata" adalah bahasa terbaik dalam diplomasi.
Mungkin ini berkaitan dengan pengalamannya di timor leste, dimana ia melakukan invasi dengan kekerasan militer selama bertugas disana.
Menurut catatan Tempo, Prabowo pernah menjadi Komandan Peleton para komando grup 1 Kopassandha dalam operasi Nenggala di Timtim (sekarang Timor Leste). Ia juga pernah memimpin pasukan Den 28 Kopassus yang ditugaskan untuk membunuh pendiri dan Wakil Ketua Fretilin, Nicolau dos Reis Lobato.
Dari pengalaman invasi dan jejak militernya ini, ia melakukan hal yang sama dalam menangani demonstrasi mahasiswa di tahun 98 dengan membentuk tim mawar untuk melakukan penculikan aktivis.
Rekam jejak penanganan melalui kekuatan militer inilah yang membuatnya selalu mengedepankan rasa curiga sehingga perlu membangun pertahanan sekuat-kuatnya dengan senjata atau jika perlu menyerang dulu.
Prabowo gagap jika berbicara tentang teknologi, pembangunan bahkan ekonomi. Ia tidak punya pengalaman apapun disana, karena ia hanya tahu perang, perang dan perang.
Ini yang saya takutkan sebenarnya.
Apakah nanti jika kelak ia berkuasa, Prabowo akan menggunakan bahasa "perang" dalam menangani kritik rakyatnya terhadap dirinya ?
Ouch... Temperamen Prabowo yang mudah meledak, tidak stabil dan tidak siap menerima kritikan, mungkin akan menjadi senjata berbahaya bagi permasalahan di dalam negeri. Kita akan selalu dikondisikan dalam bahasa "perang" supaya bisa mengontrol rakyat Indonesia seperti yang dilakukan Soeharto selama 32 tahun lamanya.
Bahkan mungkin saja, jika kelak menjadi Presiden dan ia gagal dalam masalah ekonomi, ia akan mengajak Indonesia perang dengan negara lain sekedar untuk menutupi kegagalan programnya dan mengalihkan ke masalah yang berbeda.
Saya sudah tidak mau ketawa lagi untuk urusan ini.
Secangkir kopi pun terasa pahit membayangkan kemungkinan-kemungkinan ini..

Artikel Terpopuler