Selasa, 14 Mei 2019

PARA PENJAGA NEGERI

Polisi
POLISI
"Bagaimana situasi? Aman?".
Tanyaku pada seorang teman. Malam ini aku dipanggil ke sebuah tempat di ujung Jakarta. Temanku baru kembali dari operasi senyapnya. Ia tampak segar dan dikelilingi beberapa rekan seprofesinya.
Dia tersenyum menenangkan. "Tenang saja. Aman.." Katanya.
Aku masih tampak gelisah. Situasi politik menguat akhir-akhir ini ketika salah satu konstestan Pilpres kalah dan terus membangun narasi kecurangan pada penyelenggara Pemilu. Ada yang tidak puas dengan hasilnya dan memainkan drama supaya terjadi "people power". Segala kemungkinan bisa saja terjadi, termasuk kemungkinan kerusuhan.
Temanku tampak paham dengan kegelisahanku. Dia tertawa. "Kami tidak bisa menjamin 100 persen situasi aman, tapi kami siap menghadapi segala kemungkinan..."
Memang dari berita akhir-akhir ini terjadi banyak penangkapan. Pasutri pedagang bubur di Karawang diamankan. Bom rakitan ditemukan di kebun singkong di Sukabumi. Di Bantar Gebang Bekasi, seorang teroris yang menyamar menjadi pengemudi ojol ditangkap.
Bahkan di Bekasi mereka menggerebek sebuah toko handphone yang menyimpan bom berdaya ledak besar yang dikenal dengan nama "Mother of Satan".
"Ada gerakan ingin mengacaukan situasi dengan meledakkan bom bunuh diri di tengah massa yang akan berdemo menuntut kecurangan pemilu.." Bisiknya. "Sel sel tidur teroris dari JAD tiba-tiba bereaksi untuk memainkan skenario peledakan menunggangi hasil pemilu. Ini fenomena yang tidak biasa. Kemungkinan ada yang menggerakkan.."
Pola ini mirip dengan awal terjadinya kerusuhan di Suriah, dimana ada demonstrasi menuntut Presiden Bashar Ashad untuk turun dari kursi kekuasaannya, berakhir dengan adanya bom ditengah mereka.
Dan jatuhnya korban mengakibatkan kemarahan rakyat yang akhirnya menyalahkan pemerintah dan menuding rezim Bashar lah yang mengirimkan bom itu. Dan kita tahu kemudian situasi merembet ke pemberontakan yang meluas disana.
"Tanggal 22 Mei saat pengumuman hasil Pemilu, apa ada kemungkinan seperti itu ?" Tanyaku lagi.
Dia mengaduk kopinya. "InsyaAllah tidak. Kita sudah menangkapi banyak teroris dan sudah memetakan jaringan mereka. Kalau ada demo, biarkan saja. Yang penting tidak ada usaha yang akan merugikan saat demo. Lagian demo juga diperkirakan tidak akan besar karena selain rakyat sudah bosan dengan pemilu, mereka juga sedang sibuk persiapan mudik lebaran ke kampung halaman masing-masing.."
Sambil menyeruput kopinya dia melanjutkan, "Polisi sekarang jauh lebih siap dari sebelumnya. Kita sudah banyak belajar dari pengalaman. Kalau perlu sikat ditempat tanpa keraguan. Jangan ada yang coba-coba bermain di negeri ini. Kami ada di garis paling depan.."
Ucapannya menenangkan hatiku. Kuseruput kopiku sebagai tanda terimakasih kepada mereka yang bekerja tanpa tepuk tangan dan ucapan selamat juga tepukan di pundak. Mereka bekerja dalam gelap, dalam kesunyian, hanya untuk memastikan bahwa semua aman.
"Sekarang kami sedang mencari, siapa yang bermain mengatur semua ini.." Sambungnya. Nada bicaranya mendadak dalam dan serius. Ia lalu terlibat pembicaraan dengan rekan-rekannya.
Selintas kulihat sebuah lambang burung hantu di dalam tas mereka yang sedikit terbuka. Di lingkaran luarnya tertulis "Detasemen Khusus Anti Teror".
Aku tersenyum dan mengangkat secangkir kopiku untuk mereka semua. Sudah dekat sahur, aku harus pulang. Aku pamit pada mereka.
Selamat berjuang, kawan.

Artikel Terpopuler