Rabu, 06 Mei 2020

Surat Terbuka untuk Partai Demokrat

Denny Siregar
Denny Siregar
Jakarta - Jujur sejak awal saya tidak paham apa yang dipermasalahkan Annisa Pohan dan Partai Demokrat..
Kalau dituduh saya membully seorang anak, mereka juga tidak menunjukkan bukti bullyan seperti apa. Apakah saya membully fisiknya? Atau bully isi tulisannya? Atau bully bahasa Inggrisnya?
Tiba-tiba aja, seperti angin topan saya dituding membully anak. Padahal twit saya jelas-jelas saya tujukan kepada Demokrat yang sibuk dengan narasi lockdown dari bapak, ke anak, trus ke cucu dan bisa juga ke cicit. Bukan bully anaknya.
Itu framing jahat..
Lalu saya katanya mau dilaporkan ke Bareskrim. Eh, laporan ditolak karena gak memenuhi bukti kuat. Demokrat balik badan, lalu bikin narasi ancaman, dalam waktu 3x24 jam saya harus hapus twit saya itu.
Ketika saya bilang, "Silahkan ke jalur hukum.." mereka teriak, "Lha, anda nantang?" Gimana sih? Masak menghormati hak orang mau somasi, dibilang nantang.
Sebenarnya saya tidak mau memperpanjang masalah ini, karena saya harus paham reaksi ibu seperti Annisa Pohan yang gak paham politik. Tapi kayaknya karena dia ngamuk, orang-orang Demokrat langsung cari muka supaya dianggap loyal. Hihi..
Kenapa saya bersikeras tidak mau menghapus cuitan dan siap berhadapan dengan mereka di jalur hukum?
Bukan saya berani atau sok berani.
Pertama, karena saya tidak salah.
Kedua, karena saya ingin menghajar kearoganan mereka.
Jangan mentang-mentang sebagai partai kaya dan pernah berkuasa, jadi seenaknya mau menindas orang seperti saya. Saya tidak akan mundur dari tekanan apapun.
Ini juga biar jadi pelajaran buat kita semua, jangan pernah takut menghadapi ancaman jika kita benar.
Saya tidak dibekingi siapapun. Saya sendirian, mungkin jika perlu, saya didampingi pengacara yang siap pasang badan bukan karena uang, karena saya tidak mampu bayar mereka. Tapi karena dia juga punya prinsip yang sama dengan saya.
Mungkin saya seperti Daud melawan Goliath. Mungkin saya akan kalah dan masuk penjara karena saya tidak punya pegangan orang berkuasa.
Tapi ketika itu terjadi, saya tinggal bilang ke anak saya kelak, "Papa sudah melawan, nak. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya."
Salam secangkir kopi..

Artikel Terpopuler