| Jokowi |
"Apa dampak terburuk dari
keluarnya Perppu pembubaran ormas radikal itu, bang?". Tanya seorang teman di kotak
pesan.
Terus terang, ketika membaca
pesan itu, ingatan saya melompat kembali ke pilgub DKI. Dalam peristiwa itu,
lawan politik Ahok mencari celah yang tepat untuk menjatuhkannya sekaligus
menggoyang pemerintah Jokowi.
Satu celah saja seperti
"Almaidah 51", lalu bammmm gerakan demo besar bergerak mengurung Jakarta.
Dan ketika Perppu keluar, saya
melihat inilah celah yang mereka nanti-nantikan selama ini. Perppu pembubaran ormas radikal
ini seperti sebuah kunci yang menyatukan beberapa kepentingan yang ujungnya ada
di Pilpres 2019.
HTI jelas adalah pihak yang
tersudut dengan keluarnya Perppu itu, karena pemerintah sudah mengumumkan
pembubaran kelompok mereka sebelumnya. Dan selain HTI, ada beberapa ormas Islam
radikal lain yang juga merasa terancam dengan adanya Perppu itu.
Mereka akan bergabung menjadi
satu kekuatan dengan nama "Umat Islam" dan akan membentuk koalisi
seperti ketika mereka membentuk GNPF-MUI. Dan ini adalah kendaraan Rizieq
Shihab yang dia nanti-nantikan dengan konsep "Revolusi Putih"nya.
Oke, sesudah semua gabung dan
berkoalisi, temanya apa dong?
Tema yang dipakai adalah
"Umat Islam melawan pemerintah zolim yang sudah dikuasai PKI". Wah,
tema bagus ini karena hantu PKI masih jadi momok bagi sebagian masyarakat awam
yang tidak paham sejarah.
Kalau tema sudah di dapat, lalu
siapa pendananya?
Demo besar -apalagi berjilid-jilid-
pasti butuh dana besar juga, karena mengerahkan massa dari luar Jakarta pasti
butuh transportasi. Belum lagi nasi bungkus di TKP - yang mahal yang pake
rendang - dan uang saku buat jalan-jalan keliling Jakarta..
Lalu mulai bergeraklah
"seseorang yang tidak boleh disebut namanya yang berjanji jalan kaki Yogya
Jakarta" menghubungi kelompok lawan politik Jokowi...
"Ini ada momen nih buat
Pilpres. Lu keluar duit dong, biar kita yang kerja.."
"Oke, gua hubungi dulu
beberapa mafia dan kartel yang sudah gak bisa cari makan lagi di era ini. Tapi
nanti dukung gua jadi Presiden ya ? Gua udah bosan main kuda2an.."
"Trus, gua jadi wakil
?"
"Kita lihat aja hasil kerja
lu gimana.."
Maka mulailah gerakan silent
operation yang mengumpulkan para aseng yang proyeknya banyak dibatalkan di era
Jokowi.
Dengan keluarnya Perppu ini,
Jokowi tanpa sadar sudah mengumpulkan lawan dalam satu barisan. Mereka - dengan
latar belakang berbeda - bergerak dengan kepentingan yang sama, jatuhkan Jokowi
atau paling tidak hadang dia supaya kalah telak di 2019..
Dan jika ini terjadi, kita
kembali akan melihat gerakan besar menuntut turunnya Jokowi karena
berseberangan dengan "umat Islam".
Dan gerakan mereka akan
difasilitasi oleh orang dalam Istana yang punya niat untuk bergabung dengan
kelompok lawan karena selama bersama Jokowi tidak pernah mampu menungganginya
untuk kepentingan kelompok bisnisnya..
Jika analisa ini benar, tahun
2017-2018 akan menjadi ajang demo besar berturut-turut yang diharapkan akan
menggerus suara Jokowi dalam Pilpres nanti..
Pertanyaannya, apakah pemerintah
sudah mengantisipasi dampak ini?
Kita tahu, lolosnya kita dalam
demo besar berangka kemarin, tidak luput dari kepiawaian komunikasi dan
negosiasi aparat-aparat intelijen dan pemerintahan. Tanpa kemampuan itu, niscaya kita
sudah chaos.
Tetapi mengandalkan model
komunikasi dan negosiasi seperti kemaren, menjadi riskan. Karena lawan juga
sudah belajar dari situasi yang terjadi dan kemungkinan besar mereka merubah
strateginya.
Dan yang paling mengerikan - semoga
ini tidak terjadi - pasukan bom panci yang bersimpati dengan ISIS, akan
menyusup ke dalam demo dan meledakkan diri mereka ketika dekat dengan anggota
kepolisian. Suasana akan tambah chaos dan Jokowi dituntut harus bertanggung
jawab dengan situasi ini.
Mereka adalah pemain
"Playing Victim" yang layak dapat Oscar.
Dengan gambaran itu, seharusnya
kita menjadi waspada akan apa yang terjadi di depan. Harus dipikirkan
langkah-langkah efektif menyambut situasi terburuk yang akan dihadapi. Kita
harus ingat, yang ingin menjatuhkan Jokowi banyak dan mereka punya uang..
"Lalu apa strategi supaya
bisa mencegah itu ?" Tanya temanku lagi. Aku menghela nafas. Kuseruput
kopiku yang mulai mendingin. Harus kutuang dalam satu artikel lagi..